MANAGED BY:
MINGGU
22 JULI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 21 Juli 2017 17:12
Ini Alasan Mengapa Orang Banua Susah Menjadi Pramugari
KUNJUNGAN: Siswa Banua Avia Education berkunjung ke gedung biru Radar Banjarmasin.

PROKAL.CO, Pramugari masih menjadi profesi idaman. Gaji besar dan bisa terbang ke mana-mana membuat pendaftar sekolah profesi mulai diminati. Tapi, ada kendala khusus bagi pendaftar di Banua. Apa itu?

========================

MN ALAM M, Banjarbaru

========================

Di Kalimantan Selatan, peminat profesi ini cukup banyak. Setidaknya, itulah gambaran yang terjadi setiap Banua Avia Education bersosialisasi ke sekolah-sekolah.

"Banyak, Mas, begitu ditanyakan siapa yang berminat jadi pramugari, banyak yang mau," ucap Purnomo, pengelola Banua Avia Education yang beralamat di Benawa Indah, Banjarbaru.

Banua Avia Education adalah sekolah sekolah pelatihan pramugari dan ground Staff Airlines. Menjadi sekolah penerbangan yang relatif pertama dibuka, Banua Avia Education cukup diminati oleh mereka yang ingin berkarir di bidang penerbangan, khususnya menjadi pramugari. Para siswa dididik selama delapan bulan untuk kemudian dibantu penyaluran ke bandara dan maskapai-maskapai. Instrukturnya didatangkan dari luar daerah.

Namun, banyaknya pendaftar tak otomatis membuat Banua Avia Education bisa memuluskan langkah mereka ke karir yang cemerlang. Beberapa orang Banua khususnya yang datang dari Hulu Sungai punya kendala khusus. Apa itu?

"Dialek Banjar, Mas," gelak Purnomo. "Itu yang susah untuk dihilangkan."

Di maskapai-maskapai, para awak kabin memang diprasyaratkan untuk menguasai dua bahasa dengan baik: Indonesia dan Inggris. Penguasaan dua bahasa ini sangat vital demi terjalinnya komunikasi yang baik dan jernih dengan penumpang pesawat dari pelbagai suku dan bangsa.

Tak seperti orang luar daerah yang akses terhadap Bahasa Indonesianya lebih gampang, orang Banjar khususnya di Hulu Sungai punya hambatan khusus dalam berbicara karena dialek Banjar yang kental.  Menariknya, Purnomo mengatakan justru para pendaftar di sekolah penerbangan ini lebih banyak anak-anak dari Hulu Sungai. "Sekitar lima sampai sepuluh orang setiap angkatan," katanya.

Bagaimana sekolah bisa merubahnya?

"Ya, kita gak menjamin. Kalau cuma aspek fisik misalnya kecantikan saja, masih bisa diperbaiki, tapi kalau dialek ini kan sudah kebiasaan di lingkungan sehari-hari, itu yang susah," ucapnya seraya memperlihatkan salah seorang siswanya yang kini magang di sebuah maskapai bergengsi di Indonesia. "Ini dulu datang masih serba..yaaah, tapi sekarang sudah cantik, intinya kalau kurang memenuhi kecantikan aja masih bisa diperbaiki."

Ada cerita lucu tentang siswa yang tak biasa berbahasa Indonesia. Saat disuruh menuliskan cita-citanya, dia menuliskan "intil". "Mungkin, maksudnya intel," tawa Purnomo.

Dia mengatakan di awal pendaftaran, pihak sekolah memang sudah meminta kesiapan calon pramugari untuk membenahi dialeknya. Selama sekolah mereka dibiasakan untuk berkomunikasi dalam dua bahasa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Saking vitalnya penguasaan bahasa ini, Banua Avia Education juga membuka kursus bahasa secara khusus, dan menambahkan Bahasa Mandarin.

Selain perbaikan dialek dan bahasa, para pramugari juga dilatih kepribadian selama delapan bulan itu. Mereka harus serba tanggap, antisipatif, kuat tetapi juga sekaligus anggun sebagai wanita. Pembawaan yang hangat dan kepribadian yang ramah menjadi salah satu tolok ukur seorang calon pramugari bisa diterima di maskapai-maskapai penerbangan.

Banua Avia Education sendiri telah dibuka sejak tahun 2012 lalu dan telah mencetak para profesional di bidang penerbangan dan pelayanan maskapai. Sejak lima tahun ini, ada beberapa siswa Banua yang telah diterima di maskapai-maskapai di Indonesia. Sebagai sekolah penerbangan pertama yang dimiliki oleh Urang Banua, Banua Avia Education kini bersaing dengan sekolah-sekolah penerbangan lain yang mulai masuk dan membuka cabang di Banua. Setidaknya sudah ada lima sekolah profesi yang sama di Kalimantan Selatan.

Banyaknya sekolah serta peminat di bidang ini, tak membuat Purnomo cemas. Dia optimistis bisnis ini akan terus berjalan. Meski penyalur tenaga kerja di bidang penerbangan bersaing, tetapi bandara dan maskapai masih terus membutuhkan banyak tenaga kerja baru.

Setiap tahun, maskapai-maskapai dan bandara membuka pendaftaran untuk mereka yang ingin berkarir di dunia penerbangan. " Salah satu maskapai misalnya hanya membuka kontrak untuk pramugari selama empat tahun, setelah itu mereka cari lagi yang baru, wajah-wajah yang lebih segar," ucap Purnomo seraya mengatakan batas usia untuk menjadi pramugari berbeda-beda setiap maskapai. "Ada yang sampai 40 tahun karena maskapai itu mengincar pengalaman."

Salah seorang siswa Banua Avia Education, Nur Putria, mengatakan dia yakin bisa diterima di maskapai penerbangan sebagai pramugari. Alumnus SMK Penerbangan Banjarbaru ini sampai sekarang masih aktif di dunia modelling. "Ingin jadi Pramugari karena ingin tahu budaya-budaya lain di luar daerah kita,"ucap cewek kelahiran Tarakan, 18 tahun silam ini.

Selain itu, Nur Putria juga ngebet menjadi Pramugari karena banyak mendengar cerita-cerita orang tentang enaknya menjadi awak kabin yang terbang ke luar negeri. "Ada teman  yang cerita bisa jalan-jalan gratis, ya jadi ingin juga," kata finalis Model at Hunt 2015 ini. (ay/ran/ema)


BACA JUGA

Sabtu, 21 Juli 2018 15:20

Menabung Rp10-20 Ribu Sehari, Penjual Nasi Kuning Pergi Haji

Calon jemaah haji (CJH) kloter 02, Jumat (20/7) kemarin telah memasuki Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin.…

Sabtu, 21 Juli 2018 15:06

Mengenal Lebih Dekat Syekh Asal bin Yanto, Imam Masjid Birrul Walidain Mekkah

Sudah sepekan ini, Syekh Asal bin Yanto bin Jumri bin Bakri Al-Banjari, imam  Masjid Birrul Walidain…

Kamis, 19 Juli 2018 15:51

Fauzan Noor, Atlet Karate Kalsel yang Terbawa Dampak Euforia Zohri

Kisah perjuangan Lalu Muhammad Zohri yang jadi juara dunia lari di Finlandia, mengulang memori akan…

Rabu, 18 Juli 2018 16:58
Menyaksikan Pementasan Tim Kesenian Taman Budaya Kalsel di Yogyakarta (3-Habis)

Tak Ada Standar Harga

Pasar Kangen menjadi salah satu daya tarik gelaran Seni Tradisi yang digagas Taman Budaya Yogyakarta.…

Rabu, 18 Juli 2018 16:24

Kriya Ketupat Sungai Baru, Banjir Orderan, Berdayakan Single Parent

Kreativitas tak mengenal batas. Kain sisa pun dapat disulap menjadi karya. Ini dilakukan Elisa R Suryanah…

Selasa, 17 Juli 2018 13:36

Belajar Otodidak, Menangis Melihat Bulan Purnama

Tanggal 1 Desember mendatang, umurnya genap 10 tahun. Umar Ikhsan, menjadi satu-satunya anggota paling…

Senin, 16 Juli 2018 15:52

Perkenalkan Seni Banua dengan Kritik Eksploitasi Lingkungan

Menampilkan seni tari, musik dan teater, Tim Kesenian Taman Budaya Kalsel tampil di panggung sederhana…

Senin, 16 Juli 2018 14:46

Sisi Lain Raries Wijayanti, Pendiri Ikut Berbagi Community (IBC)

Kesadaran membantu sesama dimiliki Raries Wijayanti (28). Seorang Bidan di Puskesmas Pemurus Dalam.…

Senin, 16 Juli 2018 12:00

Mengunjungi Pengayuan, Kampung yang Warganya Hidup dari Kayu Galam

Di sisi kanan kiri Jln A Yani Km 26 Liang Anggang arah Pelaihari, banyak tumpukan dan olahan kayu galam…

Jumat, 13 Juli 2018 14:03

Membuat Olahan Bunga Berbahan Dasar Kain Jilbab

Bisnis crafting buket bunga kian berkembang di Banjarmasin. Tak melulu dari bunga segar atau olahan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .