MANAGED BY:
SABTU
21 JULI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 05 Agustus 2017 19:01
Watimin, Pengembara Cinta Pancasila dan Indonesia dari Cilacap

Jalan Kaki Keliling Indonesia, Disangka Tak Waras

MERAH PUTIH: Watimin (36) jalan kaki berkeliling Indonesia kampanye cinta Pancasila dan Indonesia.

PROKAL.CO, Berbagai macam cara dilakukan sebagai wujud kecintaannya pada tanah air. Bahkan terkadang cukup ekstrem. Seperti dilakukan Watimin (36), warga asal Cilacap, Jawa Tengah. Membawa bendera Merah Putih serta spanduk bertuliskan NKRI Harga Mati, ia berkeliling Indonesia dengan jalan kaki.

WAHYU RAMADHAN, Landasan Ulin

Panas terik matahari serta debu jalanan tak membuat Watimin (36) mengurangi kecepatan langkah kakinya. Beralaskan sendal jepit berwarna biru, tangan kanan memegang batang bambu dengan bendera merah putih di ujungnya. Tas ransel besar disandang yang dihiasi pernak-pernik berupa bendera hingga sepanduk bertuliskan NKRI Harga Mati. Lelaki berpeci hitam itu terlihat mantap menapaki jalanan beraspal.

Watimin sudah berjalan kaki sejak tanggal 17 Agustus, tahun 2016 lalu. Rutenya berkeliling Indonesia. Tujuannya, mengingatkan pentingnya Pancasila kepada masyarakat dan menyatakan bahwa NKRI adalah harga mati.

Jumat (4/8) siang, kali pertama Watimin menginjakkan kakinya ke Banua. Ia mengaku baru saja datang dari Balikpapan, Kalimantan Timur. Sedangkan sebelumnya, juga sudah menjelajahi Pontianak, Aceh dan Makassar.

Duduk santai di depan pagar kompleks makam Syuhada Haji, Landasan Ulin, Banjarbaru, Watimin tampak antusias menceritakan pengalaman serta tujuannya berjalan kaki. Hatinya merasa miris melihat generasi sekarang yang seakan tak peduli dengan keadaan Indonesia. "Saya melihat Indonesia sekarang sedang sakit. Sakit karena perilaku generasinya yang belum bisa menerima perbedaan," tuturnya.

Menurut Watimin, Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi pedoman dalam bermasyarakat seakan dilupakan begitu saja. Terlebih pada generasi mudanya yang selalu saja mudah tersulut emosi dalam menyikapi segala permasalahan. "Sedikit-sedikit selalu diarahkan pada adanya perbedaan. Berbeda keyakinan didemo, berbeda pendapat juga didemo," cecarnya.

Semangat keindonesiaan yang dimiliki generasi muda pun menurut Watimin kian terkikis. Bahkan, seakan menjadi bahan olok-olokan saja. Sebagai contoh, Watimin mengibaratkan dengan begitu mudahnya seseorang diberi gelar sebagai Duta Pancasila.

Sementara, hampir semua masyarakat Indonesia tahu apa yang dilakukan bersangkutan. "Menyaksikan hal itu, saya hanya bisa berdoa dan optimis bahwa ke depan Negara ini bisa lebih baik," ungkapnya.

Watimin berharap, dengan berjalan kaki berkeliling Indonesia untuk mengingatkan kepada masyarakat yang ditemui tentang pentingnya Pancasila serta Indonesia. Ia bisa memberikan keyakinan lebih kepada masyarakat agar tak cepat terprovokasi hanya karena persoalan sepele.

"Indonesia, tak boleh tercerai-berai, NKRI Harga Mati," ucapnya, sambil mengepalkan lengan kanannya ke atas, bak Mahasiswa yang dengan lantang berorasi.

Perjalanan Watimin dalam mengkampanyekan Pancasila serta Indonesia, tentu tak mudah. Watimin seringkali menerima caci maki dari orang-orang yang ditemuinya. Bahkan tak jarang disangka orang yang tak waras. "Ya mau bagaimana lagi. Saya hanya berusaha dan menyikapi hal yang kurang berkenan dari orang-orang dengan tersenyum," ungkapnya.

Lantas, bagaimana Watimin bisa bertahan hidup serta menjalani hari-harinya selama di perjalanan? Watimin mengungkapkan bahwa support dari keluarga serta orang-orang di daerahnya membuat ia mampu bertahan.

"Salah satunya, Paguyuban Ngapak Cilacap Jawa Tengah," ungkapnya, sambil menunjukkan tulisan di kaos hitam yang dipakai.

Watimin tak punya target waktu terkait kapan perjalanannya akan selesai. Ia mengatakan hanya akan terus berjalan hingga seluruh wilayah di Indonesia sudah dijajaki. "Semoga dengan cara seperti ini, saya bisa menumbuhkembangkan semangat generasi muda untuk lebih mencintai Indonesia,” tuntasnya.(ma/dye)


BACA JUGA

Jumat, 20 Juli 2018 10:21

Kisah Kehidupan Tak Layak di Kolong Jembatan Antasari

Di bawah kolong Jembatan Antasari, tinggal menetap enam janda dengan keseharian sebagai pengemis. Memiliki…

Rabu, 18 Juli 2018 16:58
Menyaksikan Pementasan Tim Kesenian Taman Budaya Kalsel di Yogyakarta (3-Habis)

Tak Ada Standar Harga

Pasar Kangen menjadi salah satu daya tarik gelaran Seni Tradisi yang digagas Taman Budaya Yogyakarta.…

Selasa, 17 Juli 2018 13:36

Belajar Otodidak, Menangis Melihat Bulan Purnama

Tanggal 1 Desember mendatang, umurnya genap 10 tahun. Umar Ikhsan, menjadi satu-satunya anggota paling…

Senin, 16 Juli 2018 15:52

Perkenalkan Seni Banua dengan Kritik Eksploitasi Lingkungan

Menampilkan seni tari, musik dan teater, Tim Kesenian Taman Budaya Kalsel tampil di panggung sederhana…

Sabtu, 07 Juli 2018 16:07

Begini Proses Produksi Gulali Khas Amuntai yang Terkenal

Gula batu atau gulali merupakan permen tradisional khas Amuntai. Untuk membuatnya, diperlukan keterampilan,…

Kamis, 05 Juli 2018 15:06

WOW, Sebulan Paman Odong-Odong Bisa Nabung Rp 9 Juta

Kebahagiaan anak-anak itu sederhana. Cukup bisa naik odong-odong. Kebahagiaan operatornya tidak sesederhana…

Kamis, 05 Juli 2018 14:21

Sulitnya Kesempatan Kerja untuk Penyandang Disabilitas

Merekrut pekerja difabel bukanlah ide beken. Ongkos kerja yang mahal hingga sempitnya wawasan para pemberi…

Senin, 02 Juli 2018 15:06

Gerakan From Zero To Hero, Bina Anak Jalanan dan Pengamen

Membina anak jalanan dan pengamen bukanlah urusan enteng. Namun, sekelompok pemuda terpelajar memilih…

Sabtu, 30 Juni 2018 11:00

Mereka yang Bergerak Memerangi Polusi Udara

Ancaman polusi udara bukan isu populer untuk diperangi di Banjarmasin. Serbuan asap dari pabrik dan…

Minggu, 24 Juni 2018 11:27

Setelah Toko Kaset-CD di Banjarmasin Berguguran: Membeli Karya Orisinal adalah Perlawanan

Diserang aplikasi pemutar musik dan barang bajakan, sebagian orang memilih bertahan. Mengkoleksi kaset…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .