MANAGED BY:
SENIN
11 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

HUKUM & PERISTIWA

Senin, 07 Agustus 2017 13:39
Menguak Bisnis Busuk Beras Oplosan di Kotabaru

Andalkan Beras Bulog, Demi Untung Besar

GEREBEK: Polres Kotabaru menggerebek rumah pembuatan beras oplosan, Senin (29/7).

PROKAL.CO, Terungkapnya praktik pengoplosan beras murah yang kemudian dikemas dalam merek premium di Kotabaru, beberapa waktu lalu sedikit menyingkap aksi para mafia pangan yang memanfaatkan kelengahan konsumen untuk mengambil keuntungan.

Selalu saja, konsumen yang menjadi korban makan beras oplosan. Sampai kapan?

Minggu (29/7) pagi tadi, Kapolres Kotabaru AKBP Suhasto memimpin anggotanya menggerebek sebuah rumah kayu besar di Desa Sungai Taib. Sekilas, tak ada yang mencurigakan dari rumah itu.

Lokasinya di tepi jalan raya membuat orang dan warga desa tak begitu menaruh curiga akan praktik curang pengoplosan beras yang terjadi di dalamnya.

Di dalam gudang beras itu, polisi menemukan beberapa macam merek karung beras jenis premium, juga beberapa karung bertuliskan Bulog. Di sana juga ada alat menjahit karung dan timbangan beras.

Saat digerebek, beberapa orang pekerja asyik mengarungi beras. Total beras yang ditemukan di dalam gudang itu mencapai 40 ton.

ST, pemilik gudang yang juga pengusaha beras terkenal di Kotabaru diduga memang melakukan tindakan mencampur beberapa jenis beras kualitas rendah, dan kemudian dijual dalam kemasan beras premium.

Sejak kapan praktik ini dilakukan? ST mengaku baru mengoplos sebulan yang lalu. ST sendiri dikenal warga sudah berdagang beras sejak puluhan tahun lalu.

Kepada Radar Banjarmasin, ST mengaku, beras dibeli dari Sulawesi dan Banjarmasin, yang diduga kualitas rendah karena menyasar pembeli kelas menengah ke bawah. Selain itu, ST membeli beras Bulog dari warga yang datang menjual kepadanya.

Berbagai macam beras itu kemudian dia campur dan dimasukkan ke dalam karung berbagai macam merek. Sekitar lima ton beras yang baru saja dikarungkan pekerja saat digerebek adalah untuk jatah buruh perkebunan kelapa sawit di Kotabaru. Perusahaan membeli berasnya dengan harga Rp8.700.

Harga yang miring ini punya ceritanya tersendiri. ST mengatakan pengoplosan beras yang disalurkan ke perusahaan-perusahaan ini dilakukan atas persetujuan perusahaan. Karungnya pun diberi oleh perusahaan. Atas dasar itulah dia menolak disebut sebagai pengoplos beras karena hanya menyalurkan beras ke pemesan.

Benarkah? Polisi sendiri masih menyelidiki sampai mana kebenaran pernyataan ST.
Meski demikian, ST bisa jadi benar. Pasalnya dari penelusuran Radar Banjarmasin, keuntungan menjual beras ke perusahaan sawit yang banyak berkantor di sana membuat banyak pengusaha tergiur.

Ketua Serikat Pekerja Minamas Sungai Durian, M Robiansyah akrab disapa Robi mengatakan, harga beras yang ditawarkan ke perusahaan berkisar Rp10.000 dan dalam sebulan, perusahaan seperti Minamas misalnya membutuhkan beras 65 ton dalam sebulan untuk dibagi kepada buruh secara cuma-cuma.

Artinya, dengan harga 8.700, dalam sebulan pengusaha beras bisa mengantongi margin mencapai puluhan juta rupiah bahkan hingga ratusan juta jika bisa menekan kualitas beras.

Robi membenarkan, dia pernah menemukan beras yang kurang layak. Namun, kata pria yang membawahi tidak kurang 5.000 orang buruh ini, dia dan rekan serikat pekerja akan menolak jika diberi beras tidak layak. "Kami tidak mau lihat kemasan. Kami lihat berasnya, kalau tidak layak kami tolak," tekannya.

Randi, salah seorang petani sawah di Pagatan Kabupaten Tanah Bumbu juga mengamini ada keuntungan khusus berjualan beras di Kotabaru.

"Keluarga saya juga memasok beras ke perusahaan kelapa sawit empat ton dalam sebulan. Hasilnya cukup buat hidup dan bayar angsuran pikap Rp2 juta," ucapnya.

Adanya beras Bulog membuat pengusaha bisa lebih licik dalam mengambil keuntungan. Mereka membeli beras Bulog dari penduduk dengan harga sangat miring.

Kepala Kantor Bulog Kotabaru, Sofiansyah, mengatakan dalam sebulan ada sekitar 112 ton beras untuk dibagi kepada 7.521 jiwa penduduk yang tersebar di 21 kecamatan di Kotabaru.

Beras itu dihargai Rp1.600 per kilogramnya dan diantar ke setiap desa. Nah, beras inilah yang diincar para pengusaha beras untuk dioplos karena harganya yang sangat murah.

Sofian sendiri mengaku tak mengetahui jika ada beras Bulog di gudang milik ST. Meski demikian, dia tidak menganggap itu sebagai hal yang janggal. "Ya, karena beras Bulog memang diperjualbelikan," ucapnya.

Dari penelusuran Radar Banjarmasin, warga menjual beras Bulog ke pengusaha beras seharga Rp3.500 ke atas per kilogramnya. Disetiap desa, biasanya ada yang mengkoordinir warga yang ingin menjual beras murah itu.

Dari data kantor Bulog, untuk Kecamatan Pulau Laut Utara misalnya, tidak kurang ada 18 ton jatah beras Bulog. Jika pengusaha beras hanya mendapat 10 ton misalnya dengan harga Rp3.500 dan menjualnya dengan harga di atas Rp.8000 maka pengusaha mendapatkan keuntungan yang sangat menggiurkan.

Pertanyaan, apakah beras oplosan ini juga dijual ke pasar? Jika benar, maka warga membeli lagi beras murahan yang dijual dengan harga berlipat-lipat karena tertipu merek.

Sayangnya, pemerintah sendiri terkesan tidak mau tahu. Kadisperindag Kotabaru, Dr Mahyudiansyah, mengaku beras oplosan di Kotabaru memang tak bisa dihindari. Bahkan dia pun pernah membeli beras yang diduga kuat hasil oplosan. "Rasanya itu lain sekali. Beda sama yang biasanya makan," akunya.

Namun kata Mahyudiansyah, mayoritas beras di pasar Kotabaru memang berasal dari Sulawesi dan Pulau Jawa. Beberapa distributor dari luar pulau itu katanya, mengirim beras dalam karung ukuran super besar. Biasanya beras kualitas rendah.Nah, oleh sebagian pedagang beras itu dipindahkan ke dalam karung kecil yang mereka pesan secara terpisah.

"Saya sudah hitung memang banyak untungnya. Apalagi kalau dicampur sama beras Bulog. Sepintas, sulit membedakan," paparnya.

Karena itulah dia mengaku kesulitan melakukan pencegahan dalam distribusi yang curang ini. Dia sendiri melempar hal ini ke pemerintah provinsi. "Kami sudah tidak ada lagi wewenang itu," akunya. (zal/ay/ran)


BACA JUGA

Senin, 11 Desember 2017 11:15

Razia Gabungan Obok-obok Empat THM di Banjarbaru, Hasilnya..

BANJARBARU - Personel gabungan dari Satpol PP Banjarbaru, TNI dan kepolisian Sabtu (9/12) malam tadi…

Sabtu, 09 Desember 2017 16:12

Akhirnya, Iray Kasfy Divonis Hakim

MARTAPURA – Majelis Hakim Pengadilan Negeri Martapura menjatuhkan kurungan badan selama 4 tahun…

Sabtu, 09 Desember 2017 16:05

Kapal Kargo Tenggelam di Sungai Barito, Ternyata ini Sebabnya

BANJARMASIN - Kapal MV KENEUKAI, pengangkut semen Cons, mengalami musibah di perairan Sungai Barito,…

Sabtu, 09 Desember 2017 16:01

Penimbunan Gas Melon Digerebek, Pelaku Sempat Mengelak

BANJARMASIN – Sebelum azan salat Jumat (8/12) kemarin, sebuah rumah di Jalan Gunung Sari Ujung…

Sabtu, 09 Desember 2017 14:47

Ini Penyebab Kebakaran di Kuin Utara

BANJARMASIN - Enam buah rumah luluh lantak di Jalan Kuin Utara RT 10,  Banjarmasin Utara, akibat…

Sabtu, 09 Desember 2017 14:43

Kebakaran di Kandangan, Seorang Nenek Tewas Terpanggang

KANDANGAN – Disaat kebanyakan orang sedang beristirahat, Jumat (8/12) dini hari lalu,  warga…

Jumat, 08 Desember 2017 18:47

Rp10 Juta untuk Pelicin Fasilitasi

BANJARMASIN – Kasus suap PDAM Bandarmasih yang melibatkan mantan Dirut PDAM Muslih dan Manajer…

Jumat, 08 Desember 2017 18:29

Ayah Perkosa Anak Kandung di Paringin Dituntut 15 Tahun Penjara

PARINGIN – Kisah seorang ayah yang memperkosa anak kandungnya yang masih gadis, memasuki babak…

Jumat, 08 Desember 2017 14:26

Trik Satpol PP Banjarbaru Cegah PSK Pembatuan Beroperasi Kembali

Selain membuka pos pengawasan di Pembatuan dan Batubesi, anggota gabungan terdiri dari Satpol PP Banjarbaru,…

Kamis, 07 Desember 2017 15:10

Pesta Lem, Empat Remaja Kelayan Diamankan

BANJARMASIN - Empat orang remaja tertangkap tangan sedang berpesta lem Fox dan minuman keras oplosan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .