MANAGED BY:
SELASA
21 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

BANUA

Selasa, 15 Agustus 2017 17:01
PT Silo Sekarang Mulai Menggeliat, Warga Dibuat Sekarat
TERANCAM TAMBANG: Anak buruh sawit di Gunung Aru di kawasan Bekambit dan sekitarnya yang masri asri.

PROKAL.CO, Lama tidak terdengar, nama PT SILO Group kembali ramai diperbincangkan. Perusahaan tambang raksasa ini mulai menggeliat untuk menambang perut bumi di Pulau Laut.

---

Pulau kecil yang terkenal dengan pesona keindahan alamnya ini terancam bernasib sama dengan tetangganya Pulau Sebuku. Pulau Sebuku sekarang tidak lebih dari sebuah daratan kecil dengan jejeran lubang menganga sisa kejayaan tambang batubara dan bijih besi.

Dari penelusuran Radar Banjarmasin beberapa hari tadi, warga di Kecamatan Pulau Laut Tengah dan Pulau Laut Timur, mengatakan SILO akan menambang dalam waktu dekat. "Katanya bulan sembilan ini," ujar Suparno warga Desa Bekambit Asri Kecamatan Pulau Laut Timur.

Dia dan warga lainnya pun resah. Bukan apa-apa. Bekambit Asri dan sekitarnya adalah sentra perkebunan, pertanian dan perikanan. "Gak mau kami kayak Sebuku. Hancur kan," ujarnya.

Kades Bekambit Asri, M Syamsir membenarkan hal ini. "Yang saya jengkel itu, mereka masuk desa gak pakai izin. Tiba-tiba saya dengar kabar ada orang SILO di desa," sungutnya.

Syamsir menegaskan dia dan warga tetap akan mempertahankan lahan mereka. Karena berkaca pada pengalaman sudah-sudah, menjual lahan membawa banyak kerugian. "Oke uang langsung dapat, tapi nanti apa? Lahan habis, uang habis," tegasnya.

Syamsir menjelaskan, Bekambit Asri dulunya adalah kawasan transmigrasi. Warga rata-rata bekerja sebagai petani, pekebun dan nelayan. Jika lahan dijual untuk ditambang, maka warga akan kehilangan mata pencaharian. "Mau kerja di tambang? Keahlian warga saya mana ada," keluhnya.

Syamsir mempertanyakan niat SILO menambang. "Memangnya mereka sudah dapat izin? Saya berkali-kali minta dikasih lihat surat izinnya tidak dikasih. Mereka bilang sudah, cuma gak ada buktinya," tandasnya.

Hal senada juga dikatakan Kades Bekambit Kampung Zulkipli. Namun kata Zulkipli, sudah ada warganya yang menjual lahan. "Murah dibeli SILO. Empat juta sehektare, kasihan warga kepelipitan (ada keperluan mendesak)," ujarnya.

Zulkipli juga mengaku tidak berdaya manakala warganya menjual lahan dengan alasan ekonomi. "Kurang tahu saya berapa hektare yang sudah dijual. Tapi ada memang yang jual," sebutnya.

Begitu juga dengan warga di Pulau Laut Tengah. Mereka mengaku sudah ada warga jual lahan. Harganya bervariasi. Namun berbeda dengan Pulau Laut Timur, di Pulau Laut Tengah harga jual tanah ke SILO mencapai puluhan juta per hektare.

"Tapi uang segitu cukup apa. Kalau nanam karet atau sawit kan dapat hasil per bulan. Kalau dijual, ya habis ai sekali pakai," ujar warga di sana.

Senada dengan di Pulau Laut Timur, sebagian warga juga menolak dengan rencana tambang batubara. Karena, mereka sudah mendengar bagaimana nasib Pulau Sebuku sekarang. Atau Desa Geronggang Kecamatan Kelumpang Tengah.

Dari pantauan wartawan di lapangan, perusahaan tambang sudah membuat jalan hauling di Pulau Laut Tengah. Perusahaan juga sudah membuat blok dan parit.

Jalan hauling dibuat untuk jalur batubara dari Pulau Laut Timur ke rencana pelabuhan di Pulau Laut Tengah.

Pulau Laut Tengah dan Pulau Laut Timur letaknya berseberangan. Jalan hauling dibuat membelah pegunungan Sebatung untuk menghubungkan dua kawasan pesisir ini.

Manajer PT Sebuku Tanjung Coal (SILO Group), Yohan, membenarkan. Kepada Radar Banjarmasin dia menegaskan, kalau perusahaan sudah mengantongi izin eksploitasi. Artinya dengan izin itu mereka sudah boleh menggali perut Pulau Laut.

Namun sayang hingga Senin (14/8) malam kemarin, Yohan tidak memperlihat bukti dokumen izinnya. Dia juga membenarkan perusahaan akan menambang di Bekambit dan batunya diangkut ke Selino Pulau Laut Tengah.

Karena Bekambit berada di pesisir, dia mengatakan sedang berkoordinasi dengan konsultan terkait teknik menambang. Ditanya soal tenaga kerja, dia tidak bisa menjamin akan menyerap tenaga kerja lokal.

"Mengenai tenaga kerja belum bisa kita janjikan tapi kita upayakan sesuai kebutuhan perusahaan dan disesuaikan kemampuan," ujarnya.

Sementara itu Bupati Sayed Jafar yang sejak awal Pilkada tadi mengatakan tidak setuju dengan tambang batubara belum bisa dimintai keterangannya, karena sedang berada di luar daerah. Sementara Sekda Said Akhmad, mengatakan dirinya belum bisa memberikan keterangan.

"Nanti aku konfirmasi dulu ke staf yang dulu menangani untuk legalitas kelengkapannya. Apalagi sekarang wewenang masalah tambang sekarang diambil alih Provinsi," ujar Sekda.
Hal senada juga dikatakan Ketua DPRD Alfisah.

"Itu sekarang wewenangnya provinsi. Ada juga DPRD Provinsi. Kalau saya nanti kasih komentar yang bukan wewenangnya jadi gak enak," kata Alfisah.

Anggota DPRD Hamka Mamang, menyarankan warga membuat laporan resmi. "Ya walaupun misalnya benar ada izinnya, kan tidak bisa langsung menambang. Harus sosialisasi dulu. Dan kalau warga menolak, ya berarti jangan ditambang, kan begitu," ujarnya.

Hamka tidak mau tahu izin wewenang siapa. Dia menegaskan, dimana tambang berdiri maka di wakil rakyat di sana yang harus proaktif. "Saya sangat tidak setuju dengan tambang. Sudah banyak buktinya, warga cuma ditinggalkan lubang-lubang saja," tegasnya.

Dan di bulan Juli tadi, DPRD kata Hamka sudah menyurat ke Provinsi agar izin SILO di Pulau Laut ditinjau ulang. "Kita total ada 9 fraksi, 7 fraksi setuju tinjau ulang. Cuma dua fraksi yang gak setuju, fraksi PKB dan gabungan Hanura dan PBB," ungkapnya.

Hamka berharap provinsi segera menanggapi rekomendasi mereka. "Karena sayang Pulau Laut ditambang. Yang kasihan masyarakat," tegasnya. (zal/ay/ran)


BACA JUGA

Selasa, 21 November 2017 14:05

Tiga Bulan, Sudah Dua Korban Meregang Nyawa di PT Conch

BANJARMASIN – Kasus kecelakaan kerja yang terjadi di lingkungan perusahaan semen PT Conch South…

Selasa, 21 November 2017 13:53

Tak Kunjung Surut, Warga Tolak Ajakan Mengungsi

AMUNTAI – Sudah sepekan banjir menggenangi wilayah Desa Danau Teratai, Kecamatan Banjang, Hulu…

Selasa, 21 November 2017 13:33

BOSDA untuk Sekolah Keagamaan, Disdik Minta Ditelaah Lagi

BANJARMASIN – Usulan DRPD Kalsel untuk membagikan Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA) kepada…

Selasa, 21 November 2017 13:30

Tak Ada Spanduk Atau Baliho, Pilkada Tabalong Sepi

TANJUNG – Pilkada Tabalong di depan mata, tapi kok sepi-sepi saja. Tidak ada geliat yang menunjukkan…

Selasa, 21 November 2017 13:24

Banjir di HSU, Pemerintah Daerah Segera Cari Solusi

BANJARMASIN – Curah hujan yang cukup tinggi belakangan ini membuat sejumlah kecamatan yang ada…

Selasa, 21 November 2017 12:29

Air Ledeng Seperti Susu, PDAM: Itu Air Masih Layak Digunakan

BANJARBARU - Warga Komplek Guntung Manggis Living Style, Kelurahan Guntung Manggis, dua hari terakhir…

Selasa, 21 November 2017 12:11

FAKTA, Kesadaran Warga Banjarmasin Membuang Sampah Masih Rendah

BANJARMASIN – Slogan Banjarmasin sebagai Kota Baiman (Barasih wan Nyaman) terus digaungkan Pemko…

Selasa, 21 November 2017 09:33

SMPC Batulicin Berlangsung Meriah

BATULICIN - Ratusan peserta ramaikan kegiatan Senam Minggu Pagi Ceria (SMPC) Batulicin yang dilaksanakan…

Selasa, 21 November 2017 09:32

Wings Air Dukung Peningkatan Pariwisata Tanbu

BATULICIN - Maskapai penerbangan Wings Air kini memasuki satu tahun operasional rute penerbangan…

Selasa, 21 November 2017 09:31

Pertandingan Olahraga Antar SKPD

BATULICIN - Dewan Pengurus KORPRI Kabupaten Tanah Bumbu akan menyelenggarakan pertandingan olahraga…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .