MANAGED BY:
JUMAT
22 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Minggu, 27 Agustus 2017 15:06
Menengok Kehidupan Anak-Anak Pengidap Penyakit Berat di Rumah Singgah Kanker

40 Kali Kemo, Jalan Kaki Demi Sembuh

RIANG: Meskipun mengalami penyakit berat seperti kanker dan tumor, anak-anak di Rumah Singgah Anak Kanker ‘Rumahku’ tetap riang gembira.

PROKAL.CO, Harapan membuat siapapun bisa melampaui keterbatasan. Harapan inilah yang membuat anak-anak Rumah Singgah Kanker “Rumahku” tahan bergelut dengan penyakit mematikan itu. Bagaimana cerita perjuangan mereka?

---------------------------------------------

Jarum pendek jam dinding di Rumah Singgah Anak Kanker "Rumahku" menunjukkan pukul dua siang. Cuaca sedang terik. Seakan tak peduli dengan cuaca dan kondisi tubuh, dua bocah penghuni rumah singgah malah asyik bermain kejar-kejaran di pelataran.

Rumah beton sederhana ini berlokasi di jalan Ahmad Yani kilometer 6,5. Tepatnya, di Komplek Bun Yamin I.  Sehari-harinya, rumah ini punya peran menampung dan memfasilitasi anak-anak pengidap penyakit berat seperti kanker dan tumor. Rata-rata, mereka berasal dari berbagai daerah di luar Kota Banjarmasin. Rentang usia penghuninya dari usia 0-17 tahun.

"Yang datang ke rumah singgah biasanya anak-anak yang berasal dari daerah pinggiran yang jaraknya puluhan sampai ratusan kilometer," kata Slamet. Pria tua berkumis ini menyambut penulis ketika sampai di rumah singgah. Perbincangan berlangsung hangat dengan ditemani dua gelas teh berwarna cokelat pekat.

 "Biasanya dokter mengarahkan ke sini. Alasannya, kondisi para pengidap tak memungkinkan bolak-balik untuk pulang," tambah pria yang sehari-harinya juga ikut mengurus rumah singgah ini.

Waktu itu (24/8), rumah singgah sedang sepi. Hanya ada empat orang anak yang sedang ditampung. Masing-masing ditemani oleh orang tua kandung. Kata Slamet, jika sedang ramai, rumah singgah bisa menampung 12 orang lebih.

Tak lama berbincang, bocah yang sedari tadi berlarian di pelataran masuk ke dalam ruangan tamu. Namanya, Udin. Umurnya 14 tahun. Bocah yang satu ini bisa dibilang yang paling senior lantaran sudah tujuh tahun pulang-pergi di rumah singgah. Selama tujuh tahun pula, Udin melawan penyakitnya: leukimia atau kanker darah.

"Tapi sekarang sudah mau sembuh total," ujarnya sambil cekikikan. Udin berasal Kurau, Tanah Laut. Ia tetap berada di rumah singgah karena harus melakukan check-up rutin untuk memastikan kanker yang menggerogoti tubuhnya sudah hilang.

Dahi bocah yang satu ini mengernyit ketika ia membawa ingatannya kembali pada masa-masa awal terserang kanker darah. Sesekali ia memejamkan mata sejenak untuk menyergap kembali ingatannya yang telah lewat.  Kala itu, ia sedang berumur 7 tahun. Udin masih ingat betapa parah kondisinya waktu itu.

"Ulun pada awal-awalnya mengalami muntah darah, buang air besar juga berdarah. Badan juga terasa sakit-sakitan. Soal pusing pada kepala, itu sudah jadi langganan rutin," kenangnya soal gejala-gejala yang pernah dialaminya.

Setelah melewati tahun pertama, kondisi Udin cenderung membaik meskipun gejala-gejala seperti badan yang sakit, pusing, dan mual muntah masih terjadi. Tentu, dibarengi dengan usahanya untuk giat melakukan kemoterapi secara rutin. "Kalau dihitung-hitung, kemoterapi sudah sampai 40 kali lebih," ungkapnya.

Kini, dokter sudah memastikan ia bakal sembuh total. Dengan catatan, harus rutin check-up selama dua bulan sekali. Udin sudah kembali riang.  "Nggak lagi bakal makan mie instan mentah-mentah," janjinya. Konon, sakitnya Udin disebabkan karena kebiasaan buruk yang satu ini.

Perbincangan terputus karena Udin kembali berlari dengan aktivitas bermain di pelataran. Ia dikenal dengan sosok bocah yang aktif di rumah singgah itu.

Sebuah pintu kamar yang terletak di samping ruang tamu terbuka. Ada seorang anak perempuan baru saja keluar. Anak tersebut mengalihkan perhatian kami yang sedari tadi memperhatikan tingkah Udin yang sangat aktif bermain.

"Nah, kalau ini namanya Diah Ariyanti," ujar Slamet menunjuk anak yang baru saja keluar dari pintu kamar tersebut. Badannya amat kurus. Rambutnya yang rontok menandakan bahwa ia sedang berjuang melawan penyakitnya. Slamet memintanya mendekat kepada kami.

"Kena penyakit tumor ginjal," ucapnya malu-malu. Sesekali Diah mengalihkan pandangan. Anak pemalu ini berasal dari Limbur, Kecamatan Hampang, Kabupaten Kotabaru.

Slamet menceritakan, tempat tinggal anak yang satu ini bisa dikatakan terpencil. Sebabnya, untuk sampai keluar dari Desa Limbur, Diah bersama orang tuanya harus berjalan kaki. "Selama delapan jam," ucap Slamet mengejutkan.

Bersama  orang tuanya, Diah harus berjalan kaki menapak bukit, jalan setapak, dan hutan yang penuh dengan lintah untuk sampai di pusat Kecamatan Hampang. Mereka akhirnya berhasil sampai di Kota Banjarmasin untuk pengobatan.

Slamet mengacungi jempol terhadap apa yang diperjuangkan Diah, Udin dan teman-temannya yang  ada di rumah singgah. Meskipun para anak-anak ini berasal dari latarbelakang yang berbeda dan terpaut oleh jarak,  ada satu hal yang menurut Slamet membuat mereka tak berbeda. "Semangatnya untuk sembuh," ucapnya   seraya mengatakan pada akhirnya harapan untuk sembuh membantu mereka berjuang melawan dan mengalahkan penyakit-penyakit yang mereka alami. (dny/ay/ran)


BACA JUGA

Kamis, 21 Juni 2018 15:52

Banyaknya Korban Berjatuhan, Saatnya Benahi Keamanan Objek Wisata

Gairah masyarakat Kalsel untuk berwisata begitu tinggi di musim libur. Sayangnya, hal ini tidak diiringi…

Kamis, 21 Juni 2018 15:40

PARAH..!! Banjir Lumpuhkan Transportasi di Angsana

BATULICIN - Antrean kendaraan mengular hingga 2 kilometer di jalan raya provinsi Desa Angsana Kecamatan…

Kamis, 21 Juni 2018 15:27

Banyak Jemaah Haul Datu Kelampayan Datang dari Tempat Jauh

Hujan tidak menyurutkan semangat jemaah untuk menghadiri agenda tahunan Haul Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari…

Kamis, 21 Juni 2018 14:36

Cara ini Dijamin Ampuh Cegah Wisatawan Duduk Diatas Kelotok

BANJARMASIN - Pada sejumlah objek wisata milik kabupaten tetangga, korban mulai berjatuhan. Liburan…

Kamis, 21 Juni 2018 14:34

Pemko Mengaku Dilema Atur Pasar Sentra Antasari yang Semrawut

BANJARMASIN - Sederet keluhan terus disampaikan warga. Terkait kondisi kawasan Sentra Antasari yang…

Kamis, 21 Juni 2018 14:28

Puncak Arus Balik, Pelabuhan Trisakti Malah Sepi

BANJARMASIN - H+5 Idulfitri, kemarin (20/6) disebut-sebut sebagai puncaknya arus balik. Pada kenyataannya,…

Kamis, 21 Juni 2018 13:25
BREAKING NEWS

Danlanud Syamsudin Noor Pamitan, Mengaku Berkesan di Kalsel

BANJARBARU - Setelah lebih kurang setahun dua bulan bertugas di Kalsel, Komandan Landasan Udara (Danlanud)…

Kamis, 21 Juni 2018 10:51

Saban Hari Bus Wisata Pemko Banjarbaru Layani Ratusan Orang

BANJARBARU - Libur Lebaran dimanfaatkan oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Banjarbaru, untuk kembali mengoperasionalkan…

Kamis, 21 Juni 2018 10:35
Parlementaria

Dewan Minta Pemko Banjarbaru Awasi TPS di Dekat Permukiman

BANJARBARU - Ketua komisi II DPRD Banjarbaru Syamsuri meminta, agar Pemko Banjarbaru melalui dinas terkaitnya…

Kamis, 21 Juni 2018 10:33
Pemko Banjarbaru

Bentuk Dewan dan Tim Pelaksana Smart City

BANJARBARU - Walikota Banjarbaru Nadjmi Adhani, baru-baru tadi menghadiri sosialisasi gerakan menuju…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .