MANAGED BY:
KAMIS
23 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

BANUA

Minggu, 27 Agustus 2017 15:06
Menengok Kehidupan Anak-Anak Pengidap Penyakit Berat di Rumah Singgah Kanker

40 Kali Kemo, Jalan Kaki Demi Sembuh

RIANG: Meskipun mengalami penyakit berat seperti kanker dan tumor, anak-anak di Rumah Singgah Anak Kanker ‘Rumahku’ tetap riang gembira.

PROKAL.CO, Harapan membuat siapapun bisa melampaui keterbatasan. Harapan inilah yang membuat anak-anak Rumah Singgah Kanker “Rumahku” tahan bergelut dengan penyakit mematikan itu. Bagaimana cerita perjuangan mereka?

---------------------------------------------

Jarum pendek jam dinding di Rumah Singgah Anak Kanker "Rumahku" menunjukkan pukul dua siang. Cuaca sedang terik. Seakan tak peduli dengan cuaca dan kondisi tubuh, dua bocah penghuni rumah singgah malah asyik bermain kejar-kejaran di pelataran.

Rumah beton sederhana ini berlokasi di jalan Ahmad Yani kilometer 6,5. Tepatnya, di Komplek Bun Yamin I.  Sehari-harinya, rumah ini punya peran menampung dan memfasilitasi anak-anak pengidap penyakit berat seperti kanker dan tumor. Rata-rata, mereka berasal dari berbagai daerah di luar Kota Banjarmasin. Rentang usia penghuninya dari usia 0-17 tahun.

"Yang datang ke rumah singgah biasanya anak-anak yang berasal dari daerah pinggiran yang jaraknya puluhan sampai ratusan kilometer," kata Slamet. Pria tua berkumis ini menyambut penulis ketika sampai di rumah singgah. Perbincangan berlangsung hangat dengan ditemani dua gelas teh berwarna cokelat pekat.

 "Biasanya dokter mengarahkan ke sini. Alasannya, kondisi para pengidap tak memungkinkan bolak-balik untuk pulang," tambah pria yang sehari-harinya juga ikut mengurus rumah singgah ini.

Waktu itu (24/8), rumah singgah sedang sepi. Hanya ada empat orang anak yang sedang ditampung. Masing-masing ditemani oleh orang tua kandung. Kata Slamet, jika sedang ramai, rumah singgah bisa menampung 12 orang lebih.

Tak lama berbincang, bocah yang sedari tadi berlarian di pelataran masuk ke dalam ruangan tamu. Namanya, Udin. Umurnya 14 tahun. Bocah yang satu ini bisa dibilang yang paling senior lantaran sudah tujuh tahun pulang-pergi di rumah singgah. Selama tujuh tahun pula, Udin melawan penyakitnya: leukimia atau kanker darah.

"Tapi sekarang sudah mau sembuh total," ujarnya sambil cekikikan. Udin berasal Kurau, Tanah Laut. Ia tetap berada di rumah singgah karena harus melakukan check-up rutin untuk memastikan kanker yang menggerogoti tubuhnya sudah hilang.

Dahi bocah yang satu ini mengernyit ketika ia membawa ingatannya kembali pada masa-masa awal terserang kanker darah. Sesekali ia memejamkan mata sejenak untuk menyergap kembali ingatannya yang telah lewat.  Kala itu, ia sedang berumur 7 tahun. Udin masih ingat betapa parah kondisinya waktu itu.

"Ulun pada awal-awalnya mengalami muntah darah, buang air besar juga berdarah. Badan juga terasa sakit-sakitan. Soal pusing pada kepala, itu sudah jadi langganan rutin," kenangnya soal gejala-gejala yang pernah dialaminya.

Setelah melewati tahun pertama, kondisi Udin cenderung membaik meskipun gejala-gejala seperti badan yang sakit, pusing, dan mual muntah masih terjadi. Tentu, dibarengi dengan usahanya untuk giat melakukan kemoterapi secara rutin. "Kalau dihitung-hitung, kemoterapi sudah sampai 40 kali lebih," ungkapnya.

Kini, dokter sudah memastikan ia bakal sembuh total. Dengan catatan, harus rutin check-up selama dua bulan sekali. Udin sudah kembali riang.  "Nggak lagi bakal makan mie instan mentah-mentah," janjinya. Konon, sakitnya Udin disebabkan karena kebiasaan buruk yang satu ini.

Perbincangan terputus karena Udin kembali berlari dengan aktivitas bermain di pelataran. Ia dikenal dengan sosok bocah yang aktif di rumah singgah itu.

Sebuah pintu kamar yang terletak di samping ruang tamu terbuka. Ada seorang anak perempuan baru saja keluar. Anak tersebut mengalihkan perhatian kami yang sedari tadi memperhatikan tingkah Udin yang sangat aktif bermain.

"Nah, kalau ini namanya Diah Ariyanti," ujar Slamet menunjuk anak yang baru saja keluar dari pintu kamar tersebut. Badannya amat kurus. Rambutnya yang rontok menandakan bahwa ia sedang berjuang melawan penyakitnya. Slamet memintanya mendekat kepada kami.

"Kena penyakit tumor ginjal," ucapnya malu-malu. Sesekali Diah mengalihkan pandangan. Anak pemalu ini berasal dari Limbur, Kecamatan Hampang, Kabupaten Kotabaru.

Slamet menceritakan, tempat tinggal anak yang satu ini bisa dikatakan terpencil. Sebabnya, untuk sampai keluar dari Desa Limbur, Diah bersama orang tuanya harus berjalan kaki. "Selama delapan jam," ucap Slamet mengejutkan.

Bersama  orang tuanya, Diah harus berjalan kaki menapak bukit, jalan setapak, dan hutan yang penuh dengan lintah untuk sampai di pusat Kecamatan Hampang. Mereka akhirnya berhasil sampai di Kota Banjarmasin untuk pengobatan.

Slamet mengacungi jempol terhadap apa yang diperjuangkan Diah, Udin dan teman-temannya yang  ada di rumah singgah. Meskipun para anak-anak ini berasal dari latarbelakang yang berbeda dan terpaut oleh jarak,  ada satu hal yang menurut Slamet membuat mereka tak berbeda. "Semangatnya untuk sembuh," ucapnya   seraya mengatakan pada akhirnya harapan untuk sembuh membantu mereka berjuang melawan dan mengalahkan penyakit-penyakit yang mereka alami. (dny/ay/ran)


BACA JUGA

Rabu, 22 November 2017 19:58
Berita Tabalong

Bupati Anang Syakhfiani Wisuda 1.781 Santri TKA

TANJUNG - Bupati Tabalong H Anang Syakhfiani beserta istri Hj Syarifah Syifa Anang Syakhfiani,…

Rabu, 22 November 2017 13:06

Ini Poin-poin Kesepakatan Taksi Online-Konvensional di Kalsel

BANJARMASIN – Babak baru perselisihan moda transportasi di Banua menemui titik terang. Dalam rapat…

Rabu, 22 November 2017 12:42

AKHIRNYAA.. Angkutan Semen Conch Dilarang Melintas Jalan Tabalong

TANJUNG - Angkutan perusahaan semen dari perusahaan Conch akhirnya dilarang melintasi jalanan Tabalong.…

Rabu, 22 November 2017 12:32

Jalan Nasional Angkinang Longsor

KANDANGAN – Intensitas hujan yang terus menerus mengguyur Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS)…

Rabu, 22 November 2017 12:22

Warga Dibuat Susah, Harga Gas Melebihi HET

BANJARMASIN – Kelangkaan gas elpiji ukuran tiga kilogram di eceran masih sering terjadi di Banjarmasin.…

Rabu, 22 November 2017 12:17

Dinas PUTR Benahi Jalan Alternatif Banjarmasin-Martapura

BANJARMASIN - Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Provinsi Kalimantan Selatan tengah melakukan…

Rabu, 22 November 2017 12:13

Pilkades di Tala Disinyalir Ada Kecurangan

PELAIHARI – Buntut protes yang dilakukan Calon Kepala Desa Salaman Kecamatan Kintap Kabupaten…

Rabu, 22 November 2017 11:22

BPKP Kalsel Dukung SIMDA Perencanaan

BATULICIN - Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Kalsel mendorong Pemkab Tanbu yang…

Rabu, 22 November 2017 11:20

Mardani Inginkan Tata Kelola Pemerintahan yang Bersih

BATULICIN - Bupati Tanah Bumbu Mardani H Maming menyambut baik dengan dilaksanakannya launching SIMDA…

Rabu, 22 November 2017 11:17

HEBAT! Larang Kresek, Pemko Banjarmasin Diapresiasi Dunia

BANJARMASIN – Keberanian Pemko Banjarmasin melarang penyediaan kantong plastik atau kresek di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .