MANAGED BY:
JUMAT
22 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

BANUA

Minggu, 27 Agustus 2017 15:06
Menengok Kehidupan Anak-Anak Pengidap Penyakit Berat di Rumah Singgah Kanker

40 Kali Kemo, Jalan Kaki Demi Sembuh

RIANG: Meskipun mengalami penyakit berat seperti kanker dan tumor, anak-anak di Rumah Singgah Anak Kanker ‘Rumahku’ tetap riang gembira.

PROKAL.CO, Harapan membuat siapapun bisa melampaui keterbatasan. Harapan inilah yang membuat anak-anak Rumah Singgah Kanker “Rumahku” tahan bergelut dengan penyakit mematikan itu. Bagaimana cerita perjuangan mereka?

---------------------------------------------

Jarum pendek jam dinding di Rumah Singgah Anak Kanker "Rumahku" menunjukkan pukul dua siang. Cuaca sedang terik. Seakan tak peduli dengan cuaca dan kondisi tubuh, dua bocah penghuni rumah singgah malah asyik bermain kejar-kejaran di pelataran.

Rumah beton sederhana ini berlokasi di jalan Ahmad Yani kilometer 6,5. Tepatnya, di Komplek Bun Yamin I.  Sehari-harinya, rumah ini punya peran menampung dan memfasilitasi anak-anak pengidap penyakit berat seperti kanker dan tumor. Rata-rata, mereka berasal dari berbagai daerah di luar Kota Banjarmasin. Rentang usia penghuninya dari usia 0-17 tahun.

"Yang datang ke rumah singgah biasanya anak-anak yang berasal dari daerah pinggiran yang jaraknya puluhan sampai ratusan kilometer," kata Slamet. Pria tua berkumis ini menyambut penulis ketika sampai di rumah singgah. Perbincangan berlangsung hangat dengan ditemani dua gelas teh berwarna cokelat pekat.

 "Biasanya dokter mengarahkan ke sini. Alasannya, kondisi para pengidap tak memungkinkan bolak-balik untuk pulang," tambah pria yang sehari-harinya juga ikut mengurus rumah singgah ini.

Waktu itu (24/8), rumah singgah sedang sepi. Hanya ada empat orang anak yang sedang ditampung. Masing-masing ditemani oleh orang tua kandung. Kata Slamet, jika sedang ramai, rumah singgah bisa menampung 12 orang lebih.

Tak lama berbincang, bocah yang sedari tadi berlarian di pelataran masuk ke dalam ruangan tamu. Namanya, Udin. Umurnya 14 tahun. Bocah yang satu ini bisa dibilang yang paling senior lantaran sudah tujuh tahun pulang-pergi di rumah singgah. Selama tujuh tahun pula, Udin melawan penyakitnya: leukimia atau kanker darah.

"Tapi sekarang sudah mau sembuh total," ujarnya sambil cekikikan. Udin berasal Kurau, Tanah Laut. Ia tetap berada di rumah singgah karena harus melakukan check-up rutin untuk memastikan kanker yang menggerogoti tubuhnya sudah hilang.

Dahi bocah yang satu ini mengernyit ketika ia membawa ingatannya kembali pada masa-masa awal terserang kanker darah. Sesekali ia memejamkan mata sejenak untuk menyergap kembali ingatannya yang telah lewat.  Kala itu, ia sedang berumur 7 tahun. Udin masih ingat betapa parah kondisinya waktu itu.

"Ulun pada awal-awalnya mengalami muntah darah, buang air besar juga berdarah. Badan juga terasa sakit-sakitan. Soal pusing pada kepala, itu sudah jadi langganan rutin," kenangnya soal gejala-gejala yang pernah dialaminya.

Setelah melewati tahun pertama, kondisi Udin cenderung membaik meskipun gejala-gejala seperti badan yang sakit, pusing, dan mual muntah masih terjadi. Tentu, dibarengi dengan usahanya untuk giat melakukan kemoterapi secara rutin. "Kalau dihitung-hitung, kemoterapi sudah sampai 40 kali lebih," ungkapnya.

Kini, dokter sudah memastikan ia bakal sembuh total. Dengan catatan, harus rutin check-up selama dua bulan sekali. Udin sudah kembali riang.  "Nggak lagi bakal makan mie instan mentah-mentah," janjinya. Konon, sakitnya Udin disebabkan karena kebiasaan buruk yang satu ini.

Perbincangan terputus karena Udin kembali berlari dengan aktivitas bermain di pelataran. Ia dikenal dengan sosok bocah yang aktif di rumah singgah itu.

Sebuah pintu kamar yang terletak di samping ruang tamu terbuka. Ada seorang anak perempuan baru saja keluar. Anak tersebut mengalihkan perhatian kami yang sedari tadi memperhatikan tingkah Udin yang sangat aktif bermain.

"Nah, kalau ini namanya Diah Ariyanti," ujar Slamet menunjuk anak yang baru saja keluar dari pintu kamar tersebut. Badannya amat kurus. Rambutnya yang rontok menandakan bahwa ia sedang berjuang melawan penyakitnya. Slamet memintanya mendekat kepada kami.

"Kena penyakit tumor ginjal," ucapnya malu-malu. Sesekali Diah mengalihkan pandangan. Anak pemalu ini berasal dari Limbur, Kecamatan Hampang, Kabupaten Kotabaru.

Slamet menceritakan, tempat tinggal anak yang satu ini bisa dikatakan terpencil. Sebabnya, untuk sampai keluar dari Desa Limbur, Diah bersama orang tuanya harus berjalan kaki. "Selama delapan jam," ucap Slamet mengejutkan.

Bersama  orang tuanya, Diah harus berjalan kaki menapak bukit, jalan setapak, dan hutan yang penuh dengan lintah untuk sampai di pusat Kecamatan Hampang. Mereka akhirnya berhasil sampai di Kota Banjarmasin untuk pengobatan.

Slamet mengacungi jempol terhadap apa yang diperjuangkan Diah, Udin dan teman-temannya yang  ada di rumah singgah. Meskipun para anak-anak ini berasal dari latarbelakang yang berbeda dan terpaut oleh jarak,  ada satu hal yang menurut Slamet membuat mereka tak berbeda. "Semangatnya untuk sembuh," ucapnya   seraya mengatakan pada akhirnya harapan untuk sembuh membantu mereka berjuang melawan dan mengalahkan penyakit-penyakit yang mereka alami. (dny/ay/ran)


BACA JUGA

Kamis, 21 September 2017 16:04

Nasib Sopir Taksi Terminal Pal 6, Bisa Ngantre Sampai 25 Hari

Terminal pal enam kini tampil mentereng. Tentu sayang jika gedung miliaran rupiah itu hanya jadi tempat…

Kamis, 21 September 2017 15:47

Mensos Ngaji ke Guru Danau di Tabalong

TANJUNG – Menteri Sosial RI, Khofifah Indar Parawansa, Selasa (19/9) sore kemarin mengunjungi…

Kamis, 21 September 2017 15:43

Proyek Jalan Handil Bakti, Pembebasan Lahan Masih Bermasalah

MARABAHAN – Setelah sempat terhenti beberapa bulan, proyek pelebaran Jalan SP Handil Bakti (SP…

Kamis, 21 September 2017 15:13

Pengembangan Bandara Syamsudin Noor Sudah 15 Persen

BANJARBARU - Proyek pengembangan Bandara Syamsudin Noor terus digenjot, saat ini tahapan yang dilakukan…

Kamis, 21 September 2017 14:27

Konsisten Mendidik Kaum Muda Berkarakter

BATULICIN - Ribuan anggota pramuka se-Provinsi Kalsel mengikuti upacara Hari Pramuka ke-36 Kwartir Daerah…

Kamis, 21 September 2017 14:27

Sungai Loban Juara Turnamen Bola Voli Bupati Tanah Bumbu Cup 2017

BATULICIN - Kapolda Kalimantan Selatan Brigjen Polisi Rachmat Mulyana dan Bupati Tanah Bumbu Mardani…

Kamis, 21 September 2017 14:24

Harus Konsisten dan Semangat

BATULICIN - Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi Koperasi dan Usaha Mikro Tanbu, menggelar Workshop Pengembangan…

Kamis, 21 September 2017 12:23

Lagi, Rehab Jembatan ini Terkendala Anggaran Pembebasan Lahan

BANJARMASIN – Pemerintah Kota Banjarmasin memiliki dua buah jembatan di jalan nasional yang berada…

Rabu, 20 September 2017 16:21

Setahun Muncul Enam Ribu Penderita Gangguan Jiwa di Kalsel

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyebut 54 korban pasung di Kalsel berhasil dibebaskan sepanjang…

Rabu, 20 September 2017 15:07

Korem 101/Antasari Ajak Nonbar Film G30S/PKI

BANJARMASIN – Penayangan dan rencana nonton bareng film G30S/PKI ramai diperbincangkan akhir-akhir…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .