MANAGED BY:
SELASA
20 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

BISNIS

Rabu, 30 Agustus 2017 14:41
Modus Beli Rumah untuk Investasi, Apa Perlu Subsidinya Dicabut?
Salah satu perumahan subsidi di Banjarbaru

PROKAL.CO, Kementerian PU dan Perumahan Rakyat telah mengeluarkan regulasi mencabut subsidi rumah bersubsidi yang tak dihuni. Banjarbaru sebagai daerah strategis, banyak rumah dibeli tapi tak ditempati, entah karena developer membangunnya asal-asalan.

Dari penelusuran Radar Banjarmasin di Banjarbaru Minggu (27/8) tadi, setiap komplek perumahan bersubsidi, tak semua unit rumah dihuni oleh pemiliknya.

Seperti yang terlihat di setiap kompleks perumahan di wilayah Kelurahan Guntung Manggis, banyak unitnya yang kosong. Sebagian besar rumah bahkan terlihat tak pernah dijamah, hal itu dapat dilihat dari tingginya rumput di halaman rumah yang tak berpenghuni tersebut.

Banyaknya rumah bersubsidi yang kosong karena hanya untuk investasi dianggap Sekretaris Disperkim Banjarbaru Iwan Hermawan, sebagai rahasia umum. "Sudah menjadi hal yang biasa orang kaya mengambil rumah bersubsidi untuk investasi, namun kami tidak memiliki kewenangan untuk itu," katanya kepada Radar Banjarmasin.

Dia menjelaskan, yang mengetahui apakah pembeli rumah bersubsidi termasuk masyarakat yang belum memiliki rumah atau tidak hanya pihak pengembang. "Kalau kami hanya mengawasi dari segi perizinannya saja, seperti IMB-nya," jelasnya.

Mengenai adanya regulasi dari Kementerian PU dan Perumahan Rakyat yang akan mencabut subsidi rumah bersubsidi jika tak dihuni, dia mengaku sudah mengetahuinya. "Tapi penerapannya di lapangan kami belum tahu," ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPD REI Kalsel Royzani Syachril mengaku tak sepakat dengan regulasi pencabutan subsidi tersebut. Sebab, menurutnya tidak semua rumah yang kosong karena untuk investasi. "Kebijakan itu perlu dievaluasi lagi," pintanya.

Dia memaparkan, banyak faktor yang membuat rumah tak dihuni oleh pemiliknya. Salah satunya yaitu, karena pemiliknya sedang tugas keluar kota, atau bagi PNS, sedang dipindahtugaskan ke tempat lain.

Selain, masalah pekerjaan. Persoalan infrastruktur juga mempengaruhi pemilik apakah dapat menghuni rumahnya atau tidak. Selama ini, kendala yang sering dihadapi adalah jaringan listrik. "Tidak mungkin 'kan pemilik menempati rumahnya, sementara jaringan listriknya belum ada," ujar Royzani.

Menurutnya, pemerintah tak perlu terlalu ketat dalam menerapkan kebijakan untuk penyaluran rumah bersubsidi. Karena, apapun kebijakannya akan sulit untuk menyalurkan tepat sasaran 100 persen. "Apalagi yang menilai adalah pihak bank. Mereka pasti mencari aman, dengan mencari nasabah yang memiliki pendapatan jelas," tuturnya.

Kalau memang pemerintah ingin serius menyalurkan rumah bersubsidi tepat sasaran, maka jangan lagi menyerahkan tanggungjawab ke perbankan. "Pemerintah saja yang langsung beli rumah ke pengembang, lalu tentukan sendiri warga seperti apa yang layak untuk membelinya," kata Royzani.

Di Banjarbaru sendiri, masyarakat yang paling banyak membeli rumah bersubsidi ialah yang berprofesi sebagai wiraswasta. Kemudian, disusul oleh karyawan swasta dan PNS. "Sebesar 70 persen pembelinya wiraswasta, seperti pedagang. Lalu, 20 persennya karyawan swasta. Sisanya PNS," tambahnya.

Sedangkan untuk harga rumah bersubdi dengan type 36, Royzani mengungkapkan, jika berada di dekat kota harganya bisa mencapai Rp135 juta. Sedangkan, apabila di pinggiran kota pengembang biasanya mematok harga di bawah Rp130 juta. "Tidak mungkin yang jauh dari kota, harganya sama dengan rumah yang berada di dekat kota," ungkapnya.

Mengenai uang mukanya, developer biasanya mematok sebesar lima persen dari harga rumah. Sementara, bagi PNS hanya satu persen.

Salah seorang owner developer H Busran tak menampik jika banyak kompleks perumahaan bersubsidi di Banjarbaru yang unitnya tak dihuni. Termasuk, perumahan milik dia sendiri. "Padahal setiap ada yang mau beli, sudah kami sarankan agar rumah dihuni. Tapi, karena beberapa alasan ada sebagian yang belum bisa menghuni rumah mereka," katanya.

Dia menuturkan, alasan pemilik rumah pun berbeda-beda. Ada yang mengaku belum mampu membeli perabot rumah tangga. Serta, ada juga yang mengaku masih bekerja jauh dari rumah. "Alasan-alasan itu memang di luar perhitungan, tidak mungkin 'kan mereka dipaksakan untuk menempati rumahnya," ujarnya.

Jika, hanya karena alasan seperti itu subsidi rumah dicabut, maka, dia memastikan pasar rumah akan semakin turun karena orang takut membeli rumah bersubsidi. Lantaran, harus kredit dengan bunga normal. "Kalau pasar rumah turun, bagaimana mau tercapai target pemerintah satu tahun sejuta rumah," ungkap Busran.

Yang perlu digarisbawahi menurutnya, seandainya subsidi dicabut kemungkinan sebagian besar nasabah kreditnya akan macet. Lantaran, tidak terima subsidi rumahnya dicabut. "Kalau nasabah tidak mau bayar, pasti kami sebagai penyalur rumah bersubsidi yang kena komplain habis-habisan," pungkasnya. (ris/ay/ran)


BACA JUGA

Senin, 19 Februari 2018 14:06

Waduh! Harga Eceran Gas Elpiji 3 Kg di Banjarmasin Sudah Rp38 Ribu

BANJARMASIN – Kelangkaan pasokan gas 3 Kilogram di wilayah Kota Banjarmasin belakangan ini menyulitkan…

Senin, 19 Februari 2018 13:27

Di Banjarbaru, Elpiji 3 Kg Sudah Tembus Rp35 Ribu

BANJARBARU - Dalam beberapa hari terakhir, gas elpiji 3 kilogram di Banjarbaru mengalami kelangkaan.…

Kamis, 01 Februari 2018 15:45

Pengusaha Batubara Dominan Tunggak Pajak di Banua

BANJARMASIN – Meski menjadi salah satu penyumbang pendapatan asli daerah (PAD) terbesar, ternyata…

Senin, 29 Januari 2018 10:17

Harga Cabai Kembali Meroket

KANDANGAN – Harga cabai di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) sepanjang bulan Januari 2018 ini,…

Sabtu, 27 Januari 2018 14:46

Geliat Bisnis MUA di Banjarmasin Kini Kian Menjanjikan

Make up artist (MUA). Siapa yang tak tahu dengan sebutan itu. Apalagi di kalangan perempuan masa kini.…

Kamis, 18 Januari 2018 19:03

Ekspor Bahan Bakar Mineral Makin Tinggi

BANJARMASIN - Nilai ekspor melalui pelabuhan di Kalsel pada Desember 2017 tadi mencapai 783,17 juta…

Rabu, 10 Januari 2018 16:02

Ternyata Daging Ayam Sumbang Inflasi Tertinggi

BANJARBARU - Di bulan Desember 2017 lalu, Kalsel merupakan gabungan dari Kota Banjarmasin dan Tanjung…

Selasa, 02 Januari 2018 15:07

Pelaku Industri Optimis Perbankan Syariah Meningkat

BANJARMASIN - Industri keuangan syariah di Indonesia masih sangat kecil jika dibanding dengan industri…

Minggu, 17 Desember 2017 13:48

Dua Minggu Jelang Tahun Baru, Harga Kebutuhan Pokok Naik

KANDANGAN — Dua minggu menjelang natal 2017 dan tahun baru 2018 harga kebutuhan pokok di Kabupaten…

Kamis, 14 Desember 2017 15:34

HEDEH..!! Gas 12 Kg Juga Ikutan Langka

AMUNTAI - Sejak November lalu, masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) dibuat bingung dengan menghilangnya…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .