MANAGED BY:
SENIN
25 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Kamis, 31 Agustus 2017 09:39
AKP Amelia Afifi Bicara Tentang Polisi Wanita di Masa Kini

“Hanya Kodrat yang Membedakan Kami”

RAMAH: AKP Amelia Afifi dalam sebuah acara. Dia sekarang menjabat Kasat Binmas Polres Banjar.

PROKAL.CO, 1 September menjadi hari yang selalu dikenang kaum perempuan di Indonesia sebagai awal kiprah perempuan dalam dunia kepolisian sejak 1948 lalu. Kini 69 tahun sudah kiprah polisi wanita (polwan), apa saja peran mereka di dunia yang menjadi dominasi para pria ini?

--------------------------------------------

MUHAMMAD AMIN, Martapura

--------------------------------------------

Dahulu polisi wanita (Polwan) hanya pelengkap. Berganti zaman, kehadiran polwan menjadi kebutuhan. Perannya pun tak kalah dengan polki alias polisi laki-laki. Tak ada lagi perbedaan yang mendasar kecuali kodrat bawaan yang jadi pembeda pria dan wanita.

“Tugas 100 persen sama dengan polisi laki-laki (polki) sehingga tidak ada lagi perbedaan gender. Kami memiliki kelebihan dari polki, mereka tidak melahirkan, sedangkan kami bisa,” terang AKP Amelia Afifi, Kasat Binmas Polres Banjar sambil tersenyum memulai cerita saat diajak ngobrol Radar Banjarmasin di sela bakti sosial dalam rangkaian Hari Jadi Polwan ke-69 dan Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari ke-65 Tahun 2017 di Aula Tribarata Mapolres Banjar, Selasa (29/8).

Celetukan ringkas bergaya humor sudah jadi gaya khas AKP Amelia Afifi. Dia adalah perempuan pertama yang menjadi Kapolsek di wilayah hukum Polres Banjar. Tugas baru itu bukan tempat yang mudah karena mendapat amanah di Polsek Martapura Kota selama 2,5 tahun. Menjabat di Polsek Martapura Kota tentu berbeda jika dibanding polsek lain di Kabupaten Banjar. Selain jadi barometer, intensitas serta volume kejadian lebih banyak dan beragam.

Bunda Lia, biasa ia disapa, menjelakan, awal tugas jadi polwan di Biro Personel Polda Kalsel. Kerjanya di Polda mendapat perhatian pimpinan sampai diminta mengikuti seleksi perwira pada 2006. “Mendapat restu pimpinan dan alhamdulillah lulus sehingga saya mengikuti pendidikan ke Sekolah Calon Perwira (Secapa) selama 7 bulan di Sukabumi,” tuturnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Sukabumi, tugas pertama sebagai perwira langsung ke Polres Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Waktu tugas di kota dodol ini sangat singkat, terhitung 4 bulan. Ia mendapat tugas lanjutan yaitu belajar ke sekolah perwira negosiator ke Sepolwan Jakarta.

”Baru sebulan sekolah kembali dimutasi ke Panit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Direktorat Reskrim Polda Kalsel. Ini tugas terlama sekitar 7,5 tahun,” ucapnya.

Kehadirannya di Polres Banjar pada 2014 silam satu keberuntungan bagi polwan lainnya.  Bunda Lia jadi embrio lahirnya polwan yang memiliki jabatan di jajaran Polres Banjar. Setelah ia bisa membuktikan bisa mengemban amanah pimpinan, di belakangnya kembali lahir kapolsek dan kasat. Sekarang, Kapolsek Kertak Hanyar dan Sungai Tabuk adalah polwan.

 “Tantangannya tentu berat. Bila polwan pertama tidak bisa membuktikan tentu amanah selanjutnya sulit didapat seorang polwan,” tuturnya. Bunda Lia yang memiliki motto tugas nomor satu dan keluarga nomor satu ini selalu menunggu restu suami bila mendapat amanah.

“Selalu ada halangan bila belum ada restu suami, dan itu sangat berat. Lain hal ketika beliau mendapat kabar saya jadi kapolsek, secara tersirat ia memberikan restu untuk menerima amanah itu,” tuturnya.  Jadi Kapolsek Martapura Kota pun harus dekat dengan masyarakat. Selama 2,5 tahun tugas jadi Kapolsek Martapura Kota, sepanjang  tahun pertama hanya mengenalkan diri ke masyarakat. Syaratnya tidak malas ke lapangan jam berapa pun dibutuhkan masyarakat sehingga kiprah polwan terasa.

Sekarang, mau tugas apapun polwan sudah bisa. Apakah itu operasional, menjaga keamanan, atau pembinaan dengan kapasitas kepercayaan yang diberikan pimpinan. Eksistensinya juga diakui bahkan diperhatikan masyarakat. Ini berdampak positif dengan citra kepolisian.

“Kami selalu siap memberikan perlindungan, pengamanan, dan pengayoman. Polwan tetap sebagai promoter yaitu profesional, modern dan terpercaya,” tegas perempuan kelahiran 13 April 1968 tersebut. Dari penuturan perwira yang sejak 13 April 2017 tadi menjabat Kasat Binmas Polres Banjar, jadi seorang polwan masa kini tidak semudah dahulu.

Sudah banyak wanita yang berniat jadi polisi sehingga persaingan makin ketat. Ia menilai menjadi polwan merupakan bentuk pengabdian dan dedikasi kepada nusa dan bangsa. “Semakin tahun polwan harus profesional karena sama dan sejajar dalam hak dan kewajiban sebagai anggota polisi. Tapi tidak melupakan kodrat, saat pulang tetap jadi istri dan ibu bagi anak-anaknya,” tegas Bunda Lia yang tercatat sudah 26 tahun jadi polwan.

Sewaktu polwan masih jadi pelengkap dan pewarna Polri, tentu lingkup tugas sangat terbatas, makanya identik dengan tegas dan mirip laki-laki. Belakangan kehadiran polwan sangat diharapkan ada di tengah masyarakat. Ruang dan lingkungan tugas meluas, ditambah perkembangan zaman dan teknologi, sehingga polwan lebih humanis namun tak kalah prestasinya dengan kaum pria.

“Banyak lho polwan di Polres Banjar yang punya prestasi, mulai bela diri, public speaking, menembak,  dan MC,” ungkapnya. Sepanjang karir kepolisian, Bunda Lia tidak sekali menetes air mata ketika menemukan kasus atau kejadian yang menyentuh nalurinya sebagai seorang ibu.

Contoh kejadian itu sewaktu tugas di Polsek Martapura Kota. Nalurnya bergetar ketika mendapat kabar bocah perempuan berusia 9 tahun asal Tungkaran hanyut di irigasi sekitar Desa Sungai Paring, Martapura. Momen sedih itu tepat ada hajatan di rumah pribadi. Ia mengaku langsung berdoa agar jasad bocah itu cepat ditemukan. ”Masih mengenakan gaun acara saya langsung ke tempat kejadian. Berikan instruksi ke anggota serta mengerahkan masyarakat untuk  menyisir sepanjang irigasi. Sambil mencari kami terus berdoa,” tuturnya.

Tuhan menjawab doa serta usaha seluruh anggota dan masyarakat. Selang 3 jam jasad anak perempuan itu berhasil ditemukan di sela rumput dan lumut irigasi. Padahal, menyisir sepanjang irigasi dari hulu ke hilir bukan pekerjaan ringan. Di permukaan air sangat tenang namun di dalam arus sangat deras, kebetulan hari itu musim hujan.

“Saat itu yang saya rasa dan pikirkan bagaimana caranya agar si anak dan keluarga korban tidak terlalu lama menderita, sampai saya hajatkan kalau ada yang berhasil menemukan akan diberikan reward,” tukasnya.

Bunda Lia banyak belajar selama bertugas di Polsek Martapura Kota, seperti mudahnya mengakses informasi dari masyarakat. Kepercayaan yang dibangun itu adalah buah selama setahun tanpa henti bergaul dengan masyarakat. Bahkan, informasi pertama selalu didapat sebelum sampai ke anggotanya. “Polsek Martapura Kota mengajarkan saya tentang soliditas bersama anggota dan masyarakat, ini buah kebersamaan yang dibangun selama satu tahun pertama,” pungkasnya. (mam/tof/ay/ran)

 


BACA JUGA

Minggu, 17 September 2017 16:51

Mengenang Kejayaan Bioskop Tua di Banjarmasin

BANJARMASIN - Sejak awal tahun 2000, bioskop-bioskop rakyat mulai tergerus oleh zaman. Keberadaannya…

Minggu, 10 September 2017 20:43

Berkenalan dengan Komunitas Pecinta Anime di Banua

Setiap tampil di sebuah acara, para cosplayer selalu menjadi pusat perhatian. Kecantikan seperti komik…

Minggu, 10 September 2017 20:38

Bisnis Sawit di Tanbu Kembali Menggeliat

Kabupaten Tanah Bumbu dikenal surganya penambang batu bara. Namun, seiring berjalannya waktu, saat ini…

Sabtu, 09 September 2017 15:40

Semakin Merosotnya Hutan Galam di Kabupaten Batola

Pembuatan pondasi bangunan di lahan rawa membutuhkan batang galam yang tak sedikit. Namun harga galam…

Jumat, 08 September 2017 15:12

Guru Sekolah Terpencil Keluhkan Minimnya Media Pembelajaran di Meratus

Daerah pedalaman tetap sulit untuk mendapatkan keadilan pemerataan pendidikan. Jika di kota, media pembelajaran…

Kamis, 07 September 2017 14:36

Gimana Nasib Mereka? Ibu Meninggal, Ayah Gangguan Jiwa

Usia mereka masih anak-anak, namun tiga bersaudara berinisial Z (11), R (5) dan V (3) tak lagi mendapatkan…

Rabu, 06 September 2017 14:30

Menyaksikan Tradisi Badandang di Desa Andhika: Dengung Menyayat di Atas Langit Tapin

Cuaca terik tidak menyurutkan keinginan ratusan pasang mata warga yang ingin melihat bedandang (layang-layang…

Minggu, 03 September 2017 12:22

Mengulik Kisah Ritual Kebal Tubuh di Kalsel: Bisa Kebal Sejak Lahir

Masyarakat Banjar kaya dengan berbagai macam fenomena dan ritual budaya yang bersifat khas. Salah satu…

Rabu, 30 Agustus 2017 14:32

Menengok Tradisi Warga Kandangan Membawa Senjata Tajam

Kandangan dikenal sebagai tanah jawara. Konon dulu di daerah ini ada banyak jagau. Warganya dikenal…

Selasa, 29 Agustus 2017 16:31

Fotografer Banua Menggali Ilmu Fotografi Komersial

Selain dituntut profesional, seorang fotografer komersial juga harus pintar mengkhayal. Pelajaran itu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .