MANAGED BY:
RABU
20 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Sabtu, 09 September 2017 15:40
Semakin Merosotnya Hutan Galam di Kabupaten Batola

Pencari Banyak Berhenti, Buat Galangan Kucing-kucingan

Galangan kayu galam di kawasan Rantau Badauh, kabupaten Batola

PROKAL.CO, Pembuatan pondasi bangunan di lahan rawa membutuhkan batang galam yang tak sedikit. Namun harga galam di Banjarmasin dan sekitarnya akan terus melesat seiring berkurangnya pasokan dari daerah Batola.

----------------------------

Hani, Marabahan

----------------------------

Dulu begitu mudah menemui pohon galam tumbuh di kawasan Batola. Bahkan di pekarangan rumah warga juga tumbuh dengan suburnya. Sekarang jumlah pohon galam (Melaleuca leucadendron) yang tumbuh makin menyusut. Pembukaan lahan perkebunan sawit, transmigrasi, hingga persawahan menjadi faktor penyebabnya.

Hutan galam di Kalsel memang masih bisa dijumpai di beberapa daerah seperti Kabupaten Banjar, Tanah Laut, Batola, Tanah Laut, dan Banjarbaru. Salah satu daerah yang terkenal dengan produksi kayu galamnya adalah Kabupaten Batola. Bahkan kabupaten ini sempat menjadi sentra galam.

Produksi kayu galam per tahunnya mencapai 30 ribu meter per kubik, sehingga kabupaten ini sempat menjadi daerah penghasil galam terbesar di Kalsel. Namun sekarang, predikat penghasil galam terbesar tersebut tidak lagi disandang daerah ini. Produksi galamnya terus berkurang karena pembabatan terus terjadi hingga saat ini.

Bagi masyarakat Batola, kayu galam mempunyai arti yang sangat penting untuk kebutuhan kayu bakar, bahan bangunan rumah, pembuatan pagar, dan perahu.

Namun bagi juragan (pedagang) galam, pohon galam malah memberikan keuntungan ekonomi yang lumayan besar karena banyaknya permintaan atas kayu galam untuk dijadikan bahan baku pengolahan kayu industri, termasuk bahan bangunan seperti cerucuk kacapuri (penyangga cetakan pada pengecoran beton). Selain itu kayu galam juga jadi bahan pembuatan jembatan kecil, siring jalan, kayu bakar, tiang pancang kecil, maupun tiang bangunan.

Banyaknya permintaan untuk produksi dan kebutuhan bahan bangunan ini membuat para pemburu kayu galam nekat melakukan pembabatan tanpa mempertimbangkan kelestarian hutan galam.

Rahmadi (49), warga Desa Sungai Gampa, Kecamatan Rantau Badauh merasakan sendiri bagaimana sulitnya mencari pohon galam yang sesuai dengan permintaan juragan galam. Pohon galam memang masih ada, tapi ukurannya tidak besar. Kalaupun ada, jumlahnya sedikit.

Diakuinya, dulu banyak warga yang berprofesi sebagai pencari sekaligus pedagang kayu galam. Tapi sekarang setelah pohon galam menyusut, banyak warga berhenti. Dulu, bila musim hujan dan banjir, banyak warga mencari dan menebang pohon galam di dalam hutan rawa.

Para penebang ini memanfaatkan ketinggian air untuk menarik kayu galam dari hutan ke sungai. “Batola merupakan penyuplai kayu galam terbesar ke Banjarmasin, bahkan hingga ke pulau Jawa,” ujar pencari kayu galam yang mengaku seharinya bisa mendapatkan galam sekitar 20-30 batang dengan rata-rata ukuran 3-4 meter.

Sekarang, bapak dua anak ini tidak sanggup lagi melayani permintaan juragan galam maupun masyarakat yang membeli untuk kebutuhan bahan baku kayu industri dan bangunan.

Menipisnya produksi kayu galam di Kabupaten Batola membuat jurangan galam juga beralih tempat mencari dan membeli kayu galam ke Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. “Meski sekarang harga kayu galam naik, permintaan kayu galam tetap banyak,” katanya.

Harga satu batang galam ukuran 3-4 meter antara Rp5.000-Rp10.000 per batang, tergantung ukuran diameter. Kayu galam yang berukuran kecil yang biasa digunakan untuk pagar dijual Rp2.000-Rp5.000 perbatang. Sedangkan untuk tiang pancang dijual seharga Rp7.500-Rp10.000 per batang. Untuk ukuran 6-10 meter dibanderol harga sekitar Rp20.000-Rp30.000.

Pohon galam terbagi menjadi dua jenis, galam tembaga dan galam putih. Galam tembaga memiliki kulit kayu yang relatif tipis dengan warna kemerahan seperti tembaga. Sedangkan galam putih memiliki kulit kayu yang relatif tebal dengan warna keputihan.

Galam tembaga biasanya tumbuh di lahan tepi sungai, sedangkan galam putih di hutan bagian dalam jauh dari tepi sungai. Bila dimasukkan ke dalam air, kayu galam tembaga cenderung tenggelam, sedangkan kayu galam putih akan terapung. Kayu galam yang banyak dijual adalah jenis kayu galam putih.

Keberadaan hutan galam yang cenderung makin menyusut di Kabupaten Batola ini diakui aparat pemerintah desa. Ada beberapa faktor yang menyebabkan menyusutnya hutan galam, diantaranya konservasi untuk pemukiman transmigrasi, alih fungsi lahan menjadi persawahan pasang surut, termasuk lahan perkebunan sawit.

Bahkan pemerintah daerah sendiri sudah mengatur eksploitasi kayu galam seperti hanya boleh ditebang di areal tertentu. Jumlah perusahaan yang memanfaatkan kayu ini pun dibatasi dan dipungut retribusi. Tujuannya agar kelestarian hutan galam tetap terjaga.

Camat Rantau Badauh, Rusmadi, juga mengakui bahwa keberadaan hutan galam di Kabupaten Batola makin berkurang. Meski produksi berkurang, ternyata pedagang kayu galam malah meningkat. Bukti di daerahnya, galangan (tempat) menjual kayu galam bertambah. “Kawasan Rantau Badauh memang terkenal dengan sentra penjual galam karena lokasinya yang strategis, berada di pinggiran Sungai Gampa yang tembus ke Sungai Barito,” ujarnya.

Sayangnya, keberadaan galangan tersebut ternyata tidak resmi atau tidak memiliki izin lantaran berada di jalur hijau. Pemerintah Desa Rantau Badauh tidak boleh memberikan izin galangan karena berada di jalur hijau. “Mereka kucing-kucingan mengolah galangan karena berada di jalur hijau,” tuntasnya.(az/dye)


BACA JUGA

Senin, 18 September 2017 15:59

Seminar Nasional Dies Natalis ULM ke-59

Tahun ini, usia Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sudah memasuki ke-59. Menyambut bertambahnya usia…

Sabtu, 16 September 2017 17:32

Menengok Kehidupan Pekerja Sosial di Panti Budi Luhur Banjarbaru

Bagi banyak Pegawai Negeri Sipil (PNS) hari Jumat berarti waktunya pulang lebih cepat. Namun, hal tersebut…

Jumat, 15 September 2017 13:47

Mengenal Peserta Duta Damai Dunia Maya Kalsel

Propaganda dan provokasi untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa melalui dunia maya, saat…

Senin, 11 September 2017 15:22

Penyair Joko Pinurbo Bicara Pajak Penulis di Banjarbaru

Komunitas Penulis Banjarbaru menghadirkan Penyair Joko Pinurbo ke Banjarbaru. Banyak hal yang dibincangkan…

Senin, 11 September 2017 12:06

Perjuangan Suratman dan Rusmi, Suami Istri Transmigran Batu Ampar

Andai mereka menyerahkan dan balik kembali ke daerah asalnya di Tuban, tentulah Tanah Laut tidak mengenal…

Minggu, 10 September 2017 20:43

Berkenalan dengan Komunitas Pecinta Anime di Banua

Setiap tampil di sebuah acara, para cosplayer selalu menjadi pusat perhatian. Kecantikan seperti komik…

Minggu, 10 September 2017 20:38

Bisnis Sawit di Tanbu Kembali Menggeliat

Kabupaten Tanah Bumbu dikenal surganya penambang batu bara. Namun, seiring berjalannya waktu, saat ini…

Sabtu, 09 September 2017 15:40

Semakin Merosotnya Hutan Galam di Kabupaten Batola

Pembuatan pondasi bangunan di lahan rawa membutuhkan batang galam yang tak sedikit. Namun harga galam…

Jumat, 08 September 2017 15:12

Guru Sekolah Terpencil Keluhkan Minimnya Media Pembelajaran di Meratus

Daerah pedalaman tetap sulit untuk mendapatkan keadilan pemerataan pendidikan. Jika di kota, media pembelajaran…

Jumat, 08 September 2017 14:52

Langka, Aksi Polisi Aribowo “Jinakkan” ODMK

Sepertinya tidak sembarang polisi mampu menjadi Bhabinkamtibmas. Seorang yang serba bisa di samping…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .