MANAGED BY:
SENIN
23 JULI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Minggu, 10 September 2017 20:38
Bisnis Sawit di Tanbu Kembali Menggeliat

Jadi Primadona Warga Transmigrasi

MENGGELIAT: Perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Tanah Bumbu menggeliat sejak beberapa tahun terakhir.

PROKAL.CO, Kabupaten Tanah Bumbu dikenal surganya penambang batu bara. Namun, seiring berjalannya waktu, saat ini perkebunan kelapa sawit juga menjadi primadona, khususnya bagi warga transmigrasi.
 
KARYONO, Batulicin
 
LUAS areal perkebunan sawit di Kabupaten Tanbu terus mengalami peningkatan.

Tahun 2016 saja, data di Dinas Perkebunan Tanbu, perkebunan sawit milik rakyat seluas 35.282 hektar, dengan rincian TBM (Tanaman Belum Menghasilkan) seluas 4.237 hektar dan TM (Tanaman

Menghasikan) seluas 31.023 hektar dan TR (Tanaman Rusak) seluas 22 hektar.

Sementara kebun sawit milik swasta seluas 41.026 hektar, dengan rincian TBM (Tanaman Belum Menghasilkan) seluas 7.792 hektar dan TM (Tanaman Menghasilkan) seluas 33.234 hektar. Angka tersebut dipastikan bertambah pada tahun 2017 ini.

Saat ini, dampak positif dari perkebunan kelapa sawit sangat dirasakan oleh warga transmigrasi yang tergabung dalam Koperasi Kebun Sinar Kencana.

Jumlah anggotanya mencapai 300 orang dengan luasan lahan 800 hektar. Rata-rata setiap anggota memiliki minimal 2 hektar lahan sawit yang dikelola sendiri oleh warga transmigrasi yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Tanbu.

Ketua Koperasi Kebun Sinar Kencana Amin Nugroho mengakui perkebunan kelapa sawit saat ini sudah menjadi primadona di Kabupaten Tanah Bumbu.

“Bekas galian tambang batu bara juga ditanami sawit,” ujarnya.

Ketua Apkasindo (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia) Provinsi Kalsel ini menambahkan, sejak tahun 2014 sudah melakukan pembinaan kepada warga transmigrasi. “Alhamdulillah, sebagian warga sudah ada yang menikmati hasilnya, dan sebagian lagi belum,” jelasnya.

Mereka yang menikmati hasilnya sudah mulai tanam tahun 2013 dengan luasan lahan 100 hektar. Usia tanam memang masih muda, karena idealnya umur tanaman 8 tahun keatas. “Rata-rata perbulannya bisa mendapat Rp300 ribu sampai Rp400 ribu per hektar. Kalau usia tanaman ideal bisa mendapatkan hasil Rp1 juta hingga Rp1,5 juta perbulan untuk lahan seluas satu hektar,” katanya.

Setelah sawit berumur 25 tahun baru dilakukan peremajaan lagi dan modalnya berasal dari pekebun sawit itu sendiri. Dikatakannya, harga sawit sudah mulai membaik sejak satu tahun terakhir sampai Rp1.800 perkilo. “Harga jualnya memang turun naik, antara Rp1.400 sampai Rp1.800. Sekarang dikisaran harga Rp1.600 perkilonya,” ucapnya.

Harga jual sawit sempat anjlok pada tahun 2015. Harga satu kilogram sawit hanya sebesar Rp700. “Waktu itu dalam kondisi harga di titik terendah. Petani tetap memanen tapi mengurangi biaya pemupukannya supaya tidak rugi. Bahkan, ada yang sempat ingin menjual kebun sawitnya, tapi tidak banyak. Waktu itu sekitar Rp15 juta sampai Rp20 juta saja dijual mereka,” paparnya.

Dengan kondisi seperti itu bagi yang tahu peluang bisnis di sawit pasti membeli dan sebaliknya bagi yang tidak tahu pastinya tidak mau. Disaat harga jual buah sawit anjlok, pekebun hanya menerima Rp400 ribu sampai Rp600 ribu perbulan dalam satu hektarnya.

“Idealnya untuk 1 KK punya 4 hektar lahan sawit. Dengan luasan lahan sebanyak itu bisa mendapat uang Rp6 jutaan perbulan untuk saat ini,” terangnya.

Dijelaskannya, program sawit mulai diperkenalkan pada tahun 2007 yang lalu. Dulu, kelapa sawit belum jadi primadona seperti saat ini. Tapi sekarang sudah menjadi andalan pekebun, khususnya warga transmigrasi.

“Alhamdulillah kehidupan warga transmigrasi saat ini sudah baik. Sebelum mengelola sawit, warga transmigrasi cuma bertani palawija,” ujarnya. Untuk menjual buah sawitnya, pekebun tak perlu khawatir lagi karena sudah ada perusahaan kelapa sawit yang menampung buah-buah mereka.

“Dulu masyarakat takut menjual buahnya ke mana, karena dulu dikuasai oleh perusahaan. Tapi kalau sekarang petani mandiri banyak. Mereka punya lahan dan modal sendiri, ditambah lagi dengan berdirinya PT Batulicin Agro Sentosa (BAS) berdampak positif secara ekonomi. Merekapun bisa menjual buahnya sesuai harga pabrik,” papar Amin.

Perputaran uang di PT BAS memang sangat besar sekali. Dalam satu hari bisa mencapai Rp600 juta sampai Rp800 juta. Kapasitas pabrik dapat menampung 30 ton buah sawit perjam. “Kalau dihitung sehari 600 ton atau 600.000 kilogram buah sawit,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, Koperasi dan Usaha Mikro Tanbu Suhartoyo mengakui geliat perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Tanah Bumbu. Kendati demikian, tidak berpengaruh kepada rekruitmen tenaga kerja di sektor perkebunan ini.

“Memang belum menggembirakan. Sayangnya sampai saat ini belum ada rekruitmen tenaga kerja di sektor perkebunan kelapa sawit, walaupun luas areal perkebunannya sudah semakin meningkat tajam,” jelasnya.

Saat ini, perusahaan perkebunan sawit belum melakukan rekruitmen tenaga kerja dikarenakan masih melakukan pekerjaan awal berupa pembukaan lahan dan tanam saja, sehingga tidak butuh tenaga kerja yang permanen. “Mereka masih mengandalkan buruh lepas,” ujarnya.

Namun, lima tahun ke depan perusahaan-perusahaan ini diyakini akan membutuhkan tenaga kerja permanen, apabila sudah masuk dalam tahap perawatan dan panen. “Saya berharap pada masanya nanti ada rekrutmen tenaga kerja permanen sehingga jumlah pengangguran yang ada di Kabupaten Tanah Bumbu, bisa berkurang,” katanya.

Sejauh ini, pihaknya tetap membina hubungan yang baik dengan perusahaan. Segala permasalahan antara perusahaan dan karyawan dapat diselesaikan dengan baik. “Kalau masalah serius memang tidak pernah ada. Tapi karena jumlah karyawannya banyak, setiap masalah kecil itu biasa saja terjadi,” ucapnya. (kry/tof)

 


BACA JUGA

Sabtu, 21 Juli 2018 15:20

Menabung Rp10-20 Ribu Sehari, Penjual Nasi Kuning Pergi Haji

Calon jemaah haji (CJH) kloter 02, Jumat (20/7) kemarin telah memasuki Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin.…

Sabtu, 21 Juli 2018 15:06

Mengenal Lebih Dekat Syekh Asal bin Yanto, Imam Masjid Birrul Walidain Mekkah

Sudah sepekan ini, Syekh Asal bin Yanto bin Jumri bin Bakri Al-Banjari, imam  Masjid Birrul Walidain…

Kamis, 19 Juli 2018 15:51

Fauzan Noor, Atlet Karate Kalsel yang Terbawa Dampak Euforia Zohri

Kisah perjuangan Lalu Muhammad Zohri yang jadi juara dunia lari di Finlandia, mengulang memori akan…

Rabu, 18 Juli 2018 16:58
Menyaksikan Pementasan Tim Kesenian Taman Budaya Kalsel di Yogyakarta (3-Habis)

Tak Ada Standar Harga

Pasar Kangen menjadi salah satu daya tarik gelaran Seni Tradisi yang digagas Taman Budaya Yogyakarta.…

Rabu, 18 Juli 2018 16:24

Kriya Ketupat Sungai Baru, Banjir Orderan, Berdayakan Single Parent

Kreativitas tak mengenal batas. Kain sisa pun dapat disulap menjadi karya. Ini dilakukan Elisa R Suryanah…

Selasa, 17 Juli 2018 13:36

Belajar Otodidak, Menangis Melihat Bulan Purnama

Tanggal 1 Desember mendatang, umurnya genap 10 tahun. Umar Ikhsan, menjadi satu-satunya anggota paling…

Senin, 16 Juli 2018 15:52

Perkenalkan Seni Banua dengan Kritik Eksploitasi Lingkungan

Menampilkan seni tari, musik dan teater, Tim Kesenian Taman Budaya Kalsel tampil di panggung sederhana…

Senin, 16 Juli 2018 14:46

Sisi Lain Raries Wijayanti, Pendiri Ikut Berbagi Community (IBC)

Kesadaran membantu sesama dimiliki Raries Wijayanti (28). Seorang Bidan di Puskesmas Pemurus Dalam.…

Senin, 16 Juli 2018 12:00

Mengunjungi Pengayuan, Kampung yang Warganya Hidup dari Kayu Galam

Di sisi kanan kiri Jln A Yani Km 26 Liang Anggang arah Pelaihari, banyak tumpukan dan olahan kayu galam…

Jumat, 13 Juli 2018 14:03

Membuat Olahan Bunga Berbahan Dasar Kain Jilbab

Bisnis crafting buket bunga kian berkembang di Banjarmasin. Tak melulu dari bunga segar atau olahan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .