MANAGED BY:
SELASA
20 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Jumat, 06 Oktober 2017 15:08
Kala Penyandang Difabel Mendapatkan Hak Bekerja

Sering Tidak Sesuai Posisi Pekerjaan

HAK BEKERJA: Zulfikar, tunanetra yang bekerja di Panti Sosial Bina Laras (PSBL) Budi Luhur milik Kementerian Sosial RI.

PROKAL.CO, Undang-Undang No.8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas menyebut kaum difabel memiliki hak untuk mendapatkan pekerjaan dan berwirausaha. Namun, pada praktiknya hak tersebut belum terpenuhi secara optimal. Misalnya, langsung ditolak pada saat pendaftaran atau acap kali ditempatkan pada posisi yang tak tepat.

-----------------------------------------------

DONNY MUSLIM, Banjarbaru

------------------------------------------------

Radar Banjarmasin kemarin (4/10) siang menemui seorang tuna netra yang bekerja di Panti Sosial Bina Laras (PSBL) Budi Luhur milik Kementerian Sosial RI. Namanya: Zulfikar. Pria berumur 34 tahun kelahiran Kepulauan Riau tahun ini ternyata sudah bertitel S2. Ia bekerja sebagai psikolog untuk memotivasi dan menerima curhat eks penyandang disabilitas mental atau psikotik.

Sehari-harinya, ia memberikan motivasi kepada eks penyandang disabilitas mental yang sedang diselimuti banyak pikiran. "Jadi, saya simpelnya adalah tempat curhat mereka," kata dia. Diceritakannya,  ia acap kali kebanjiran curhat ketika eks penyandang difabel mental di PSBL Budi Luhur sewaktu mereka akan dipulangkan. "Mereka takut ketika pulang, lingkungan mereka menolak. Pada saat itu, saya berperan memberikan motivasi," kata dia.

"Namun, sebenarnya, saya kuliah S1 dan S2 di jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB), namun setelah mendaftarkan diri di Kementerian Sosial, saya diarahkan untuk menjadi psikolog untuk memfasilitasi penyandang disabilitas mental," kata Zulfikar. Padahal, awalnya ia berharap untuk menjadi pembina mental lantaran sesuai dengan jurusan kuliahnya. "Tapi, seiring dengan perkembangan waktu, untungnya saya dapat beradaptasi dan mulai mencintai pekerjaan ini," ujarnya.

Lewat kejadian itu, diceritakan Zulfikar, pemerintah memang sudah menunaikan kewajibannya dengan membuka peluang pekerjaan bagi kaum difabel. Namun, acap kali, pada praktiknya tak sesuai dengan harapan. "Teman-teman saya ada yang ditolak langsung saat pendaftaran. Ada juga yang ditempatkan tidak sesuai pada posisinya," ujarnya.

Hal itu diperkuat dengan pengalamannya pada saat pertama kali mendaftar pekerjaan, ia mengetahui jumlah slot untuk kaum difabel di kementerian atau lembaga di Indonesia ada 300 orang. "Waktu itu, saya ingat ada 200 orang yang mendaftar. Namun, pada hasil akhir cuma 30 orang yang dinyatakan lulus," ungkapnya.

Lanjutnya, Zulfikar bercerita tentang temannya seorang tuna wicara yang ditolak Kementerian Sosial. "Pada saat itu, ia dianggap tak bakal bisa berinteraksi dengan rekan-rekannya yang ada di kantor, hasilnya, ia tak bisa mendapatkan pekerjaan," keluhnya.

Cerita lain, ada pula temannya seorang tuna netra yang dipekerjakan pada panti yang khusus menampung tuna rungu. "Ini juga bermasalah, soalnya mereka bakal sulit untuk berkomunikasi, harusnya mereka yang menempatkan posisi harus lebih jeli terhadap permasalahan ini," ujarnya.

Zulfikar berharap, pemenuhan hak difabel untuk mendapatkan pekerjaan harus dipenuhi dengan sebaik-baiknya. "Jangan sampai mereka mengalami penolakan, atau diterima, namun ditempatkan pada posisi yang tidak sesuai dengan kemampuannya," kata dia. Selain itu, ia juga berharap bakal lebih banyak lagi kementerian atau lembaga yang membuka lowongan pekerjaan untuk kaum difabel. "Jangan hanya Kementerian Sosial saja," tambahnya. (by/ram)


BACA JUGA

Jumat, 16 Februari 2018 14:36

Soetji Nurani sebagai Kelenteng Dewi Kwan Im

Bangunan tempat ibadah, berdiri megah di beberapa ruas jalan di Kota Banjarmasin. Salah satunya adalah…

Senin, 12 Februari 2018 15:01

Melihat Aktivitas Akhir Pekan Anak Desa Nelayan Bajau Pulau Laut

Pernah kangen masa kecil lepas ceria, bermain tanpa harus menunduk melihat hape? Di pesisir Pulau Laut,…

Senin, 12 Februari 2018 12:50

Monolog Luka Persembahan Teater Dapur Kalsel

Luka tidak bicara tentang roman picisan. Tapi bicara tentang luka yang diderita bumi. Tempat kita lahir,…

Sabtu, 03 Februari 2018 14:40

Ketika Mereka Melawan Kanker dengan Harapan

Besok (4/2) masyarakat dunia memperingati Hari Kanker. Inilah kisah Aisyah dan Burhanuddin, penderita…

Sabtu, 03 Februari 2018 14:18

Kreatif, Hasilkan Uang dari Modifikasi Gundam

Penggemar anime Jepang, pasti tahu dengan Gundam. Tak sebatas hanya di film. Karakternya sudah menjelma…

Jumat, 02 Februari 2018 12:15

Ini Jadinya Kalau Polwan Gabung Pasukan Raimas

Polisi harus siap ditugaskan di mana saja. Termasuk ditunjuk sebagai pasukan pengurai massa. Seperti…

Kamis, 01 Februari 2018 15:31

Kisah Syarif, Warga Sungai Besar yang Terbaring Sakit karena Diabetes

Syarif, warga Komplek Jeruk Raya, Kelurahan Sungai Besar sedang memerlukan bantuan. Pria berusia 40…

Kamis, 01 Februari 2018 13:38

Menengok Perajin Ukiran di Pierre Tendean

Orang Banjar pasti tak asing dengan ram angin, les plang, hingga jamang yang terbuat dari kayu ulin.…

Rabu, 31 Januari 2018 14:29

Melukis dengan Kopi di Kedai Hudes

Masih ingat dengan liputan berjudul 'Mengangkat Derajat Kopi Pengaron'? Sang narasumber, pendiri Hudes…

Selasa, 30 Januari 2018 17:45

Ketika Warga "Demo" di Rumah Kepala Dinas Saat Jam Kerja

Entah karena lelah, banyak habis biaya pulang-pergi ke kota, sekelompok warga menumpahkan kekesalannya…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .