MANAGED BY:
JUMAT
21 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 06 Oktober 2017 15:08
Kala Penyandang Difabel Mendapatkan Hak Bekerja

Sering Tidak Sesuai Posisi Pekerjaan

HAK BEKERJA: Zulfikar, tunanetra yang bekerja di Panti Sosial Bina Laras (PSBL) Budi Luhur milik Kementerian Sosial RI.

PROKAL.CO, Undang-Undang No.8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas menyebut kaum difabel memiliki hak untuk mendapatkan pekerjaan dan berwirausaha. Namun, pada praktiknya hak tersebut belum terpenuhi secara optimal. Misalnya, langsung ditolak pada saat pendaftaran atau acap kali ditempatkan pada posisi yang tak tepat.

-----------------------------------------------

DONNY MUSLIM, Banjarbaru

------------------------------------------------

Radar Banjarmasin kemarin (4/10) siang menemui seorang tuna netra yang bekerja di Panti Sosial Bina Laras (PSBL) Budi Luhur milik Kementerian Sosial RI. Namanya: Zulfikar. Pria berumur 34 tahun kelahiran Kepulauan Riau tahun ini ternyata sudah bertitel S2. Ia bekerja sebagai psikolog untuk memotivasi dan menerima curhat eks penyandang disabilitas mental atau psikotik.

Sehari-harinya, ia memberikan motivasi kepada eks penyandang disabilitas mental yang sedang diselimuti banyak pikiran. "Jadi, saya simpelnya adalah tempat curhat mereka," kata dia. Diceritakannya,  ia acap kali kebanjiran curhat ketika eks penyandang difabel mental di PSBL Budi Luhur sewaktu mereka akan dipulangkan. "Mereka takut ketika pulang, lingkungan mereka menolak. Pada saat itu, saya berperan memberikan motivasi," kata dia.

"Namun, sebenarnya, saya kuliah S1 dan S2 di jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB), namun setelah mendaftarkan diri di Kementerian Sosial, saya diarahkan untuk menjadi psikolog untuk memfasilitasi penyandang disabilitas mental," kata Zulfikar. Padahal, awalnya ia berharap untuk menjadi pembina mental lantaran sesuai dengan jurusan kuliahnya. "Tapi, seiring dengan perkembangan waktu, untungnya saya dapat beradaptasi dan mulai mencintai pekerjaan ini," ujarnya.

Lewat kejadian itu, diceritakan Zulfikar, pemerintah memang sudah menunaikan kewajibannya dengan membuka peluang pekerjaan bagi kaum difabel. Namun, acap kali, pada praktiknya tak sesuai dengan harapan. "Teman-teman saya ada yang ditolak langsung saat pendaftaran. Ada juga yang ditempatkan tidak sesuai pada posisinya," ujarnya.

Hal itu diperkuat dengan pengalamannya pada saat pertama kali mendaftar pekerjaan, ia mengetahui jumlah slot untuk kaum difabel di kementerian atau lembaga di Indonesia ada 300 orang. "Waktu itu, saya ingat ada 200 orang yang mendaftar. Namun, pada hasil akhir cuma 30 orang yang dinyatakan lulus," ungkapnya.

Lanjutnya, Zulfikar bercerita tentang temannya seorang tuna wicara yang ditolak Kementerian Sosial. "Pada saat itu, ia dianggap tak bakal bisa berinteraksi dengan rekan-rekannya yang ada di kantor, hasilnya, ia tak bisa mendapatkan pekerjaan," keluhnya.

Cerita lain, ada pula temannya seorang tuna netra yang dipekerjakan pada panti yang khusus menampung tuna rungu. "Ini juga bermasalah, soalnya mereka bakal sulit untuk berkomunikasi, harusnya mereka yang menempatkan posisi harus lebih jeli terhadap permasalahan ini," ujarnya.

Zulfikar berharap, pemenuhan hak difabel untuk mendapatkan pekerjaan harus dipenuhi dengan sebaik-baiknya. "Jangan sampai mereka mengalami penolakan, atau diterima, namun ditempatkan pada posisi yang tidak sesuai dengan kemampuannya," kata dia. Selain itu, ia juga berharap bakal lebih banyak lagi kementerian atau lembaga yang membuka lowongan pekerjaan untuk kaum difabel. "Jangan hanya Kementerian Sosial saja," tambahnya. (by/ram)


BACA JUGA

Kamis, 20 September 2018 09:47

Sebelum Kuliah, Para Tersangka Perusakan Gedung Dewan Lapor Kantor Polisi Dulu

Empat dari tujuh mahasiswa yang menyandang status tersangka mencerutakan pengalaman mereka selepas unjuk…

Sabtu, 08 September 2018 12:51

Menengok Festival Anggrek 2018 di Taman Kamboja

Apa yang dicari-cari dunia jika melancong ke Kalsel? Jawabannya; anggrek. Bukan tanpa alasan, tanaman…

Sabtu, 08 September 2018 12:48

Memanen Kelapa Sawit, Pekebun Malah Menjerit

Memanen kelapa sawit tidak terlalu menggembirakan bagi pekebun di Kotabaru. Bekerja di bawah terik mentari,…

Rabu, 29 Agustus 2018 10:23

Bosan Tidur di Pengungsian, Pengungsi Lombok Mulai Datangi Kalsel

Pengungsi gempa Lombok mulai berdatangan ke Kalimantan Selatan melalui bandar udara Syamsuddin Noor…

Selasa, 28 Agustus 2018 10:18

Malam terakhir Konser Wartawan & Musisi Banua Untuk Palestina dan Lombok

Konser amal bertajuk Wartawan & Musisi Banua Untuk Palestina dan Penggalangan Dana Gempa Lombok,…

Senin, 27 Agustus 2018 11:20

Melihat Eksistensi Komunitas MGR Pasca Ganti Presiden

Meski telah ditinggalkan presiden sekaligus pendirinya Fitri Zamzam, yang telah berpulang pada November…

Senin, 27 Agustus 2018 10:48

Avani, Pemain Biola yang Raih Penghargaan di Asian Pasific Arts Festival

Berawal dari rasa penasaran terhadap instrumen musik, Avani Galuh Zaneta terjun menggeluti alat gesek…

Sabtu, 25 Agustus 2018 12:40

Serba-Serbi Festival Budaya Pasar Terapung 2018

Rakyat Indonesia menamainya Serabi. Orang Banjar menyebutnya Apam Batil. Namanya mungkin terdengar tidak…

Jumat, 24 Agustus 2018 14:24

BAKAL CANTIK..!! Bantaran Sungai Martapura akan Ditata

MARTAPURA – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjar membangun Talud di Sisi kiri dan kanan Jembatan…

Jumat, 24 Agustus 2018 11:08

Disodori Buku Berbahasa Inggris, Incar Generasi milenial

Indonesia punya Najwa Shihab. Kalsel punya Eka Chandra Dewi. Dua-duanya punya kesamaan: dinobatkan menjadi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .