MANAGED BY:
MINGGU
25 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

BANUA

Rabu, 11 Oktober 2017 13:44
Kala Ikan Patin Vietnam Diwaspadai Masuk ke Banua

Jangan Khawatir, Lidah Orang Banjar Tak Bisa Dibohongi

DISEBUT BAHAYA: Pekerja mengemas ikan patin Vietnam untuk diimpor ke luar Vietnam. Balai karantina memperingatkan masuknya ikan patin Vietnam ke Indonesia secara ilegal.

PROKAL.CO, Balai karantina memperingatkan masuknya ikan patin Vietnam ke Indonesia secara ilegal. Bukan semata soal perizinan, tapi juga kandungan yang berbahaya bagi kesehatan konsumen setelah ikan impor tersebut menjalani uji laboratorium.


----

Temuan ini menggegerkan Jakarta. Dilaporkan patin Vietnam atau yang biasa disebut ikan Dori mengandung Tripolyphospate alias bahan pemutih hingga tujuh sampai delapan ribu ppm (part per million). Padahal, ambang batas amannya adalah dua ribu ppm.

Dampak awal, kulit konsumen akan terasa gatal-gatal setelah memakannya. Dampak jangka panjang, saking tingginya kandungan bahan pemutih buatan pada ikan tersebut, usus dan lambung konsumen pun bakal memutih.

Lalu, bagaimana dengan pengawasan di Banua? Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan Kalsel Winarno meyakini Dori tak bakal laku. "Lidah orang Banjar tidak bisa dibohongi. Mereka bisa membedakan mana patin lokal dan luar. Tidak bakal laku, rasa dagingnya beda," tegasnya, kemarin (10/10).

Winarno tampak tak terkejut dengan berita nasional tersebut. Lama berkecimpung di dunia perikanan, ikan Vietnam disebutnya masalah klasik sejak era 90-an. Ikan ini menjadi momok karena harganya yang sangat murah. Berpotensi menghancurkan budidaya ikan air tawar lokal.

"Saya sudah lama curiga dengan ikan patin Vietnam atau Thailand. Harganya kok bisa semurah itu? Saya khawatir pakannya aneh-aneh, budidayanya patut dipertanyakan," imbuhnya.

Sebelum ribut-ribut ikan patin impor, harga Dori Rp9-10 ribu per kilogram. Bandingkan dengan ikan patin lokal Banjar yang dihargai Rp17-18 ribu per kilogram. "Jauh sekali kan? Harganya tidak kompetitif," tukasnya.

Maka jangan aneh, jika pasar ikan di Eropa dan Amerika sudah jauh-jauh hari menolak ikan patin Vietnam. "Apalagi pasar luar negeri seperti Eropa yang standar impornya jelas jauh lebih tinggi," ungkap Winarno.

Dari segi setok, budidaya ikan patin Banjar juga masih aman. Petani sudah mampu memenuhi permintaan pasar lokal, selalu laku dan habis terjual. Bahkan sebagian sudah bisa dijual untuk memenuhi permintaan konsumen tetangga dari Kalteng dan Kaltim.

Winarno ingat, budidaya ikan patin lokal menemui masa kejayaannya pada zaman Fadel Muhammad yang memimpin Kementerian Kelautan dan Perikanan periode 2009-2011. Fadel menetapkan Kalsel dan Riau sebagai sentra budidaya patin.

Setelah ia datang kemari dan terkagum-kagum melihat sistem budidaya ikan air tawar milik masyarakat Banjar. "Beliau berkali-kali bilang hebat dan milik Vietnam tak ada apa-apanya. Pak Fadel lalu menyetop impor patin dari luar. Tapi namanya politik, berubah lagi kebijakannya," pungkasnya.

Namun, benarkah Dori tak pernah memasuki Kalsel? Sari warga Landasan Ulin mengaku pernah mencicipinya di sebut hotel berbintang di Banjarmasin. "Dagingnya putih banget, tapi tidak seenak patin sungai Banjar, kata teman itu namanya Dori," ujarnya.

Ketika diceritakan terkait kandungan berbahaya Dori, Sari pun kaget dan berjanji takkan pernah lagi memakannya. "Tapi kejadiannya memang sudah cukup lama. Saya tak pernah menemuinya di pasar tradisional," imbuhnya.

Perempuan yang baru menikah itu hanya berharap, Kalsel takkan kecolongan. "Jangan sampai masuk. Kasihan juga pembudidaya patin lokal. Kalau benar harganya semurah itu," tandasnya. (fud/ay/ran)


BACA JUGA

Sabtu, 24 Februari 2018 18:18

Haduh Nasib! Sudah Berpanas Antre, Malah Tak Dapat Elpiji

BANJARBARU – Di mana ada stok elpiji murah, di situ terlihat antrean warga. Seperti terjadi di…

Sabtu, 24 Februari 2018 17:59

Penggunaan Dana Desa Tak Boleh Ada Kontraktor

BANJARMASIN - Mulai tahun 2018, penggunaan dana desa untuk pelaksanaan proyek tak boleh dikontrakkan…

Sabtu, 24 Februari 2018 11:27

Pembelian Tertutup Bisa Jadi Solusi Kelangkaan Gas Elpiji

BANJARMASIN - Asisten II Setdako Banjarmasin Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Hamdi menyebut pemerintah…

Sabtu, 24 Februari 2018 08:58

Pemkab Bantu Korban Puting Beliung

BATULICIN - Pemkab Tanbu melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyerahkan bantuan…

Sabtu, 24 Februari 2018 08:55

Disdik Tanah Bumbu Bidik ITB

BATULICIN - Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tanbu Sartono mengatakan pemerintah daerah akan terus…

Sabtu, 24 Februari 2018 08:46

Program 1000 Guru Berprestasi Tanbu Ditarget Lima Tahun Selesai

BATULICIN - Program 1000 Guru Berprestasi masih berlanjut. Sejak tahun 2017, Pemkab Tanbu melalui Dinas…

Jumat, 23 Februari 2018 18:40

Hadapi Uji Sertifikasi Profesi, Siswa SMK PP Banjarbaru Dilatih Instruktur Profesional

BANJARBARU – Persiapan yang dilakukan pihak SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru dalam…

Jumat, 23 Februari 2018 11:58

Ada Apa? Tunjangan Kehormatan Ribuan Profesor Disetop

BANJARMASIN – Sebanyak 3.800 lebih profesor bakal ketar-ketir tak menerima tunjangan kehormatan.…

Jumat, 23 Februari 2018 11:48

Bayi Temuan di Cempaka Kini Nasibnya Terkatung-katung

Nasib bayi yang ditemukan warga di samping jembatan Jalan Transpol, Komplek Perumahan Sekar Arum, Sungai…

Jumat, 23 Februari 2018 11:39

Susahnya Menyembuhkan Pecandu Narkoba, Hanya Pulih, Bisa Kambuh Lagi

BANJARMASIN - Menyembuhkan pecandu narkoba memang tidak mudah. Banyak kasus mantan pecandu yang sudah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .