MANAGED BY:
SELASA
24 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

HUKUM & PERISTIWA

Rabu, 11 Oktober 2017 13:47
Menelusuri Aktivitas Tambang di Pulau Laut Tengah

Tentara Bersenjata "Kawal" Kegiatan Tambang

MENJAGA TANAH: Sasi mengintip aktivitas alat berat di seberang sungai yang memisahkan lahannya di Pulau Laut Tengah, Senin (10/9) tadi.

PROKAL.CO, Raum buldoser merobohkan pepohonan di Kecamatan Pulau Laut Tengah. Sementara itu beberapa anggota TNI tampak berjaga di sekitar kegiatan, menggunakan senjata laras panjang.

Sasi pria berusia 50 tahunan, bertelanjang dada resah mengamati aktivitas alat berat di seberang sungai. Wajahnya terlihat gugup mendengar raum buldoser dan suara pohon tumbang, Senin (10/9) siang tadi. "Mudahan alatnya kada (tidak) ke sini. Ini tanahku," ujarnya saat itu bersama Radar Banjarmasin.

Di seberang sungai, terlihat sebuah alat berat menerabas pepohonan. Saat wartawan menjepretkan kamera, seorang pekerja melambaikan tangan seolah melarang. Ada sekitar tiga orang pekerja mengawasi, satu orang di dalam alat berat.
Alat berat terus maju, merangsek pohon-pohon besar di depannya. Persis di pinggir sungai. Radar Banjarmasin berjalan menyisir sungai mengikuti pergerakan alat berat. Sementara itu sambil bekerja operator alat berat rupanya juga mengamati gerak-gerik kami.

Sekitar 20 menit kami di sana, Sasi pun mengajak balik kanan. Rumahnya hanya berjarak sekitar 100 meter dari aktivitas alat berat, di atas bukit. Setelah kami balik kanan terdengar suara operator berteriak ke arah rekannya. "Gak apa-apa," teriaknya mengalahkan deru mesin.

Aktivitas ini berada di Desa Tanjung Serdang Kecamatan Pulau Laut Tengah. Sekitar empat kilometer dari pelabuhan fery. Di pinggir jalan raya, ada akses masuk ke dalam. Aksesnya berupa jalan tanah liat, bekas dibuat alat berat.

Jalan tanah itu memanjang masuk ke dalam hutan. Kanan dan kirinya lapang hamparan tanah gundul, juga bekas dibersihkan alat berat. Di beberapa tempat masih terlihat batang pohon besar yang ditumbangkan. Juga banyak patok-patok kayu dengan kain kecil di ujungnya, sepertinya tanda titik koordinat.

Sasi kemudian bercerita, aktivitas itu sudah seminggu belakangan ini. Setahunya yang merambah hutan adalah pekerja SILO Group. Warga Kotabaru terbiasa menyebut perusahaan tambang di Pulau Laut dengan sebutan SILO Group, meski yang tepat sebenarnya adalah Sebuku Group.

Lahan siapa yang digarap? Sasi mengatakan, semua itu lahan warga. "Sudah diganti rugi atau belum, kada (tidak) tahu," katanya. Namun dia menegaskan, tidak akan menjual lahannya yang memiliki luas kurang lebih satu hektar itu. Alasannya, hanya itu saja tanahnya, dan kalau dijual dia mau tinggal di mana. "Kada (tidak) mau aku menjual. Paling berapa harganya. Habis uang cepat," ucapnya.

Pria yang hanya tinggal dengan istrinya di kebun itu menambahkan, sudah ada beberapa warga di desa menjual lahan ke SILO namun akhirnya menyesal. Karena uang habis, dan hasil uangnya tidak terlihat.

Rencananya Sasi akan menanam padi gunung di sana. Dia bekerja sendiri. Anak-anaknya sudah berumah tangga dan tinggal terpencar.

Sementara itu dari informasi yang dihimpun Radar Banjarmasin, kegiatan Sebuku atau SILO Group dikawal aparat TNI. Namun hari itu, tidak ada anggota TNI yang katanya menjaga dengan senjata laras panjang lengkap.

Di desa, Radar Banjarmasin hanya melihat anggota TNI di lapangan sibuk melakukan kegiatan TMMD (Tentara Manunggal Membangun Desa). Lokasi TMMD sekitar 20 kilometer dari kegiatan perusahaan tadi.

Tapi lagi-lagi, di masyarakat terdengar informasi adanya patroli anggota TNI dengan senjata lengkap. Pasukan ini disebut, beda dengan pasukan TMMD yang bekerja membuat jalan dan bedah rumah warga. "Mereka pakai senjata panjang, tegang pokoknya," ujar warga.

Selasa (11/10) pagi kemarin, Radar Banjarmasin pun kembali ke kawasan alat berat beraksi. Saat masuk dari jalan utama ke dalam hutan, terlihat sebuah mobil lapangan milik TNI di sana, juga ada sebuah mobil perusahaan dobel gardan.

Dan mengejutkan, karena terlihat pasukan TNI di sana benar-benar menggunakan senjata laras panjang. Warnanya hitam, membuat keder. Beberapa orang berdiri tegap sambil memegang erat senjata. Radar Banjarmasin pun memilih meneruskan perjalanan, ke arah dalam.

Dan kemudian, pasukan TNI terlihat menyusul dengan mobilnya. Seorang anggota dengan kaca mata hitam meminta wartawan turun. Anggota tentara lainnya turun dan menghampiri, lantas menanyakan maksud wartawan berada di sana. Terlihat raut wajahnya waspada.

Namun kemudian, salah satu anggota yang berasal dari satuan Kodim 1004 Kotabaru rupanya kenal dengan wartawan. Berhubung ada yang kenal suasana pun sedikit berkurang ketegangannya. “Saya kira tadi mata-mata,” ucap seorang anggota datar.

Saat ditanya apakah kegiatan mereka mengawal kegiatan tambang, tentara mengatakan, mereka tidak mengawal kegiatan perusahaan, hanya patroli saja. Namun dari pengamatan wartawan, hanya satu anggota dari satuan Kodim 1004 Kotabaru. Yang lain tidak diketahui dari satuan mana. Sempat salah satu anggota lainnya mengatakan kalau mereka dari seberang.

Anggota TNI dari Kodim 1004 mengatakan, desas-desus adanya sesuatu yang genting hanya isu. Dia mencoba meyakinkan kalau kegiatan mereka biasa saja. Sifatnya hanya pengamanan.
Hanya saja dia sempat mengutarakan kecewanya karena menganggap Radar Banjarmasin masuk jalan tanpa izin. "Ini bukan jalan umum," katanya. Tapi tidak ada satu pun papan tulisan, atau pelang atau tanda lain yang menyebut itu jalan khusus yang terlarang bagi sembarang orang.

Adanya aktivitas anggota TNI dengan senjata laras panjang mendapat tanggapan beragam dari warga. "Iya, baru ini kayaknya ada patroli TNI di Pulau Laut bawa senjata panjang," ujar Safrian warga Kotabaru.

Apalagi katanya posisi TNI berada di wilayah kerja perusahaan tambang. "Kan kalau pakai senjata ada ancaman berarti ya? Apakah ada gerakan penolakan tambang," kata Pikal warga lainnya.

Memang sampai sekarang rencana tambang Pulau Laut masih terjadi kontra. Pihak yang kontra, seperti Walhi Kalsel menyatakan, Pulau Laut masuk kategori pulau kecil sehingga tidak boleh ada tambang. Juga ada anggapan izin tambang Pulau Laut yang dikeluarkan Bupati HM Sjachrani Mataja pada 2010 silam batal demi hukum.

Manajer PT Sebuku Tanjung Coal (anak perusahaan Sebuku atau SILO Group, Yohan Gessong kepada Radar Banjarmasin melalui sambungan seluler, membenarkan adanya aparat TNI berjaga di areal kerja mereka. Itu katanya adalah hal biasa. "Tidak ada yang genting. Aman saja semua. Cuma kerja sama saja. Koperasi TNI kerja sama dengan perusahaan," paparnya.

Sayangnya Yohan tidak bisa menjelaskan detail bentuk kerja sama seperti apa. Dan koperasi mana saja yang bekerja sama. "Itu sama manajemen yang lebih tahu," tandasnya.

Direktur PT SILO Henry Yulianto kemudian juga memberikan keterangan. Dia mengatakan, masyarakat tidak perlu khawatir dengan adanya TNI bersenjata. Kerja sama itu sebutnya terkait dengan kerja sama bisnis. Seperti pembangunan jalan. Lantas kenapa bersenjata? “Biasa saja itu, aman saja,” jawab Henry.

Terkait aktivitas doser, itu katanya membuat jalan hauling. Dia mengaku lahan yang didoser sudah diganti rugi. Tambahnya, jika tidak ada halangan, dan semua pekerjaan lancar, tambang batubara akan bisa dimulai sekitar enam bulan ke depan.

Lepas Magrib, Dandim 1004 Kotabaru Letkol Inf Arh Samujiyo memberikan keterangan. Dia mengatakan, anggota TNI hanya mengamankan kegiatan di sana. Ada empat koperasi yang bekerja sama dengan perusahaan Sebuku Group, koperasi milik Kostrad, Kopassus, Marinir dan Mulawarman. "Koperasi Dharma Putra, Koperasi Tri Buwana, Koperasi Mulawarman dan Koperasi Marinir," papar Dandim. Kerja sama dan pengamanan itu jelasnya adalah komando pusat. Dia membenarkan keterangan Henry bahwa kerja sama selain pengamanan, juga ada kerja sama bisnis.

Sekadar diketahui, Sebuku atau lebih sering disebut SILO (Sebuku Iron Lateritic Ores) Group, adalah pemilik grup pertambangan batubara dan bijih besi di Pulau Laut. Sebuah pulau di Kabupaten Kotabaru. SILO sudah menambang bijih besi di Pulau Sebuku, sebuah pulau yang berdekatan dengan Pulau Laut.

Adapun grup perusahaan yang mendapatkan izin IUP Produksi adalah PT Sebuku Batubai Coal mendapat izin seluas 5.140 hektar di Kecamatan Pulau Laut Utara dan Pulau Laut Tengah. PT Sebuku Tanjung Coal seluas 8.990 hektar Kecamatan Pulau Laut Utara dan Pulau Laut Tengah. PT Sebuku Sejaka Coal seluas 8.140 hektar di Kecamatan Pulau Laut Timur. PT Banjar Asri (tambang bijih besi) seluas 1.395 hektar di Pulau Laut Timur. Semua izin berlaku sampai 7 Juli 2030.

Salah satu dasar keluarnya izin itu adalah adanya MoU antara Bupati HM Sjachrani Mataja dengan pemilik Sebuku (SILO) Group. Perusahaan diberikan izin dengan syarat membangun jembatan dari Pulau Laut ke Pulau Kalimantan. Dan beberapa syarat lainnya lagi. Namun jembatan dan lainnya belum ada dibangun. Belakangan, SILO mengatakan perjanjian itu diubah pada zaman Bupati H Irhami Ridjani.

Poinnya bukan lagi jembatan, tapi memberikan bantuan senilai Rp700 miliar dalam bentuk infrastruktur. Sebagian sudah dibangunkan Siring Laut dan jalan rintisan. "Ya habisnya Rp60 miliar lah. Sudah kita hibahkan," masih kata Henry Yulianto belum lama tadi.

Sebelumnya, Guru besar sekaligus Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Prof Dr Syaiful Bakhri SH MH, mengajak warga Kotabaru melakukan class action, terkait perizinan tambang Pulau Laut.

Syaiful yang lahir di Kotabaru ini menjelaskan, bahwa meskipun alasan Pemkab Kotabaru pada tahun 2010 membuat perjanjian dengan SILO (Sebuku) Group untuk kepentingan rakyat, tetap tidak dibenarkan. Karena perjanjian publik (Pemkab) kepada perusahaan (privat) tidak bisa dijadikan dasar pemberian izin pertambangan yang mempunyai aturannya sendiri.

"Ini sudah jelas. Mestinya kejaksaan dan polisi sudah bisa masuk, melalui naluri investigasinya, soal perizinan tambang Pulau Laut patut ditindaklanjuti," tegasnya.

Syaiful juga kemudian meminta pemerintah sekarang meninjau ulang izin tambang Pulau Laut. "Karena kalau dibiarkan maka, ada apa dengan pemerintah," tandasnya. (zal/ay/ran)


BACA JUGA

Senin, 23 Oktober 2017 13:40

Temuan Bayi Beralaskan Sejadah, Kapolsek: Kami Akan Cari Orang Tuanya

BANJARBARU - Warga digegerkan penemuan sesosok bayi laki-laki di samping jembatan Jalan Transpol, Komplek…

Senin, 23 Oktober 2017 11:36

Dua Pengedar Zenith Asal Binuang Tak Berkutik

RANTAU - Selain berprofesi sebagai montir sepeda motor,  ternyata Maslan (29) juga nyambi sebagai…

Senin, 23 Oktober 2017 11:34

Asik Nonton Bola, Fahriadi Pelaku Penganiayaan Diciduk Aparat

KANDANGAN – Setelah diburu sekitar satu tahun, Idi Fahriadi (33), pelaku penganiayaan Rendi…

Minggu, 22 Oktober 2017 15:58

DUUAARRR...! Kapal Dagang di Amuntai Meledak dan Terbakar

AMUNTAI - Kesunyian Desa Bitin Kecamatan Danau Panggang Minggu (22/10) sekitar pukul 06:30 wita,…

Minggu, 22 Oktober 2017 14:42

Adu Banteng Tiga Pria Temui Ajal di Muara Tapus

AMUNTAI - Jalan Brigjend Hasan Basri yang merupakan jalan trans kalimantan di Kabupaten Hulu Sungai…

Sabtu, 21 Oktober 2017 13:34

Ketua RT di Kotabaru Disangkur Oknum Satpol

KOTABARU – Menjadi Ketua RT di daerah tertentu kadang bertaruh nyawa. Seperti dialami Zamzanie,…

Sabtu, 21 Oktober 2017 13:11

Dorr.. Spesialis Pembobol Kos Cewek Ditembak, Begini Caranya Beraksi

BANJARBARU - IW bukan spesialis pembobol rumah kosong biasa. Lelaki 38 tahun ini gemar mengincar kos…

Sabtu, 21 Oktober 2017 12:08

Laporan Masyarakat, Pengepul Togel di HSS Diringkus

KANDANGAN – Bukannya memperbanyak amal ibadah di usianya 51 tahun, Kaspul Anwar malah menjadi pengepul…

Sabtu, 21 Oktober 2017 12:03

Enam Orang Pemilik Sabu dan Ineks itu Resmi Tersangka

BANJARMASIN-Enam tersangka kasus kepemilikan sabu-sabu yang diungkap anggota Buser Polsekta Banjarmasin…

Jumat, 20 Oktober 2017 10:21

28 Napi Banjarmasin Dipindahkan ke Surabaya

BANJARMASIN – Sebanyak 28 Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Banjarmasin dipindahkan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .