MANAGED BY:
SABTU
23 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Sabtu, 21 Oktober 2017 12:22
Komunitas Timpakul Menguak Kuburan Leluhur

Membaca Referensi ke Belanda hingga Lewat Mimpi

BERSAMA WARGA – Komunitas Timpakul, kerap dibantu warga setempat untuk menemukan atau membersihkan makam-makam yang dicari.

PROKAL.CO, Komunitas Timpakul dari singkatan Tim Pencari Kuburan Leluhur terbentuk sejak tahun 2014 lalu. Komunitas ini mencari kuburan atau makam-makam lama, baik makam tokoh, ulama, hingga raja-raja terdahulu.

 ------------------------------------------

Wahyu Ramadhan, Banjarmasin

-------------------------------------------

Ibrahim bersemangat menceritakan tentang beberapa makam temuannya. Lelaki berusia 41 tahun kelahiran 15 Februari ini merupakan panggagas terbentuknya sebuah komunitas unik. Komunitas Timpakul anggotanya hingga sekarang berjumlah lima orang. “Komunitas ini dibentuk karena rasa keingintahuan terhadap sejarah. Selain itu, juga ingin menguak di mana keberadaan makam raja-raja, ulama, atau tokoh-tokoh yang berjasa kepada Banua yang selama ini tak diketahui keberadaannya,” papar Ibrahim, Jumat (20/10) sore di Taman Budaya Kalsel.

Rasa keingintahuan itu bermula pada tahun 2014 lalu. Saat itu, Ibrahim mencari di Aceh makam orang tua dari ulama Datu Pamulutan yang bermakam di Pulau Datu, wilayah Pantai Batakan, Kabupaten Tanah Laut. “Dari referensi yang saya baca, ditambah dengan penuturan orang tua terdahulu, saya ke Aceh untuk mencari makamnya. Ternyata betul bahwa yang dimakamkan di Aceh tadi merupakan orang tua dari Datu Pumulutan,” jelasnya.

Keyakinan untuk membentuk komunitas pun semakin kuat. Tepatnya ketika Ibrahim beserta rekan-rekannya banyak melihat makam tua yang tak terawat di Kalsel. Dia yakin bahwa dibalik makam tua tentu punya cerita tersendiri. “Kami ingin mengingatkan diri sendiri, juga masyarakat keberadaan serta jasa-jasa para tokoh yang dimakamkan,” ucapnya.

Sampai saat ini, sudah ada berpuluh-puluh makam yang Ibrahim beserta rekan-rekannya temukan. Rata-rata usia makam yang ditemukan disinyalir di atas lebih dari 500 tahun itu tersebar di penjuru Kalsel.

Rencana dalam waktu dekat, mereka bakal menelusuri makam yang terdapat di Kotabaru, daerah Salino. Di sana, ada makam Pangeran Jaya Sumitra sebagai Raja Pulau Laut pertama. “Pangeran ini juga merupakan sekretaris di zaman raja Sultan Adam. Selain itu, ada pula makam Raja Kusan yaitu Pangeran Haji Musa yang merupakan orang tua dari Pangeran Jaya Sumitra,” ungkapnya.

Banyak warga bertanya bagaimana proses anggota komunitas ini hingga berhasil menemukan makam yang dimaksud? Selain membaca referensi dari buku-buku sejarah yang ada di Belanda maupun di Banua, mereka juga kerap menyambangi sebuah tempat hanya untuk mengulik kisah di dalamnya. Selain itu, beserta rekan-rekan juga melakukan proses pencarian secara tradisional dengan meminta petunjuk melalui mimpi, bertawasul, dan lainnya. “Kadang kami berangkat lengkap berlima, bertiga, bahkan hanya sendirian. Tergantung kesempatan atau waktu yang kami punya. Maklum, selain komunitas, kami juga punya kerjaan masing-masing,” ucapnya.

Menurut Ibrahim, kesulitan mencari atau menemukan makam terletak pada referensi yang diterima. Di luar daerah, mencari makam serta silsilah cukup mudah karena ada catatan terperinci. Berbeda dengan yang ada di Banua, karena lebih memakai budaya tutur atau dari mulut ke mulut.

“Hanya sedikit saja yang tercatat. Itu salah satu kesulitan kami. Sementara proses pencarian bervariatif, dari satu hari hingga bisa sampai satu minggu,” ujarnya.

Kendala di lapangan juga menjadi salah satu rintangan anggota komunitas Timpakul. Misalnya, makam di dalam hutan, hingga cerita-cerita mistik yang menyelimutinya. Mengerti adab, tata krama, sosial budaya, dan adat yang berkembang menjadi salah satu kunci sebelum mencari makam. “Kami pernah menemui sebuah desa yang di dalamnya disinyalir terdapat sebuah makam seorang pangeran. Sayangnya, kami tak bisa bertanya cerita tentang makam, dan bahkan siapa yang dimakamkan karena dianggap tak boleh diungkapkan oleh masyarakat,” jelasnya.

Lantas, setelah makam ditemukan, ke mana hasilnya dilaporkan? Ibrahim menjelaskan hingga saat ini makam-makam yang ditemukan komunitasnya hanya diinformasikan kepada masyarakat setempat dan direhab kecil-kecilan. Seperti membangun pagar di sekeliling makam. Kecuali, kalau ada data ilmiah yang menjadi pendukung, baru dilaporkan ke instansi terkait sebagai pengelola cagar budaya. “Kami berharap makam yang ditemukan dikelola baik-baik oleh masyrakat. Syukur-syukur kalau misalnya bisa diziarahi,” tuntasnya.(war/gr/dye)


BACA JUGA

Jumat, 22 Juni 2018 10:56

Tak Cuma Bikin Pedas, Cabai Juga Penting bagi Kesehatan

Terlalu banyak mengonsumsi makanan pedas tentu akan jadi masalah bagi kesehatan, khususnya bagian pencernaan…

Jumat, 22 Juni 2018 10:51

Dampak Buruk Sering Bergadang dan Bangun Kesiangan

Bagi beberapa orang, bangun kesiangan sudah jadi kebiasaan. Khususnya bagi yang menderita insomnia atau…

Kamis, 21 Juni 2018 13:53

Ini Dampak Positif Berendam di Air Laut untuk Kesehatan Kulit

Musim liburan lebaran Hari Raya Idulfitri masih tersisa beberapa hari bagi beberapa orang. Pantai dan…

Kamis, 21 Juni 2018 13:52

Awas Boneka di Rumah Jadi Sarang Bakteri dan Kuman

Siapa yang tidak suka dengan boneka. Benda lembut dengan bentuk lucu-lucu ini hampir selalu ada di setiap…

Rabu, 20 Juni 2018 15:16

Sekali Melapak, Bisnis Kerajinan Tangan ini Bisa Untung Jutaan Rupiah

Duduk bersimpuh di tepian Siring Piere Tendean. Sesekali Badariah (40) beranjak, membetulkan jualannya…

Rabu, 20 Juni 2018 13:50

Terlalu Sering atau Lama Berdiri, Penyakit ini Mengintai Anda

Sering kali seseorang harus dalam posisi berdiri yang sangat lama karena beberapa hal. Misalnya sedang…

Rabu, 20 Juni 2018 13:37

Liburan ke Alam Bebas, Waspada Suhu Dingin Mengancam Anda

Kamping di hutan atau mendaki gunung banyak dilakukan orang. Namun, suhu terlalu dingin di alam bebas…

Selasa, 19 Juni 2018 12:33

Bahaya Menahan atau Menunda Waktu Kencing Terlalu Lama

Buang air kecil atau kencing hal alami yang dilakukan manusia. Biasanya normalnya dalam sehari seseorang…

Selasa, 19 Juni 2018 12:27

Ini Manfaat Berwisata di Wahana Outbound untuk Kesehatan

Memasuki libur Lebaran, tempat wisata jadi sasaran warga untuk menikmati waktu lengangnya. Selain wisata…

Senin, 18 Juni 2018 12:52

Menghirup Asap Kembang Api Ternyata Bahaya Bagi Kesehatan

Di beberapa kota sering merayakan perayaan malam hari raya Idulfitri dengan menyalakan kembang api.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .