MANAGED BY:
JUMAT
21 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Sabtu, 21 Oktober 2017 12:22
Komunitas Timpakul Menguak Kuburan Leluhur

Membaca Referensi ke Belanda hingga Lewat Mimpi

BERSAMA WARGA – Komunitas Timpakul, kerap dibantu warga setempat untuk menemukan atau membersihkan makam-makam yang dicari.

PROKAL.CO, Komunitas Timpakul dari singkatan Tim Pencari Kuburan Leluhur terbentuk sejak tahun 2014 lalu. Komunitas ini mencari kuburan atau makam-makam lama, baik makam tokoh, ulama, hingga raja-raja terdahulu.

 ------------------------------------------

Wahyu Ramadhan, Banjarmasin

-------------------------------------------

Ibrahim bersemangat menceritakan tentang beberapa makam temuannya. Lelaki berusia 41 tahun kelahiran 15 Februari ini merupakan panggagas terbentuknya sebuah komunitas unik. Komunitas Timpakul anggotanya hingga sekarang berjumlah lima orang. “Komunitas ini dibentuk karena rasa keingintahuan terhadap sejarah. Selain itu, juga ingin menguak di mana keberadaan makam raja-raja, ulama, atau tokoh-tokoh yang berjasa kepada Banua yang selama ini tak diketahui keberadaannya,” papar Ibrahim, Jumat (20/10) sore di Taman Budaya Kalsel.

Rasa keingintahuan itu bermula pada tahun 2014 lalu. Saat itu, Ibrahim mencari di Aceh makam orang tua dari ulama Datu Pamulutan yang bermakam di Pulau Datu, wilayah Pantai Batakan, Kabupaten Tanah Laut. “Dari referensi yang saya baca, ditambah dengan penuturan orang tua terdahulu, saya ke Aceh untuk mencari makamnya. Ternyata betul bahwa yang dimakamkan di Aceh tadi merupakan orang tua dari Datu Pumulutan,” jelasnya.

Keyakinan untuk membentuk komunitas pun semakin kuat. Tepatnya ketika Ibrahim beserta rekan-rekannya banyak melihat makam tua yang tak terawat di Kalsel. Dia yakin bahwa dibalik makam tua tentu punya cerita tersendiri. “Kami ingin mengingatkan diri sendiri, juga masyarakat keberadaan serta jasa-jasa para tokoh yang dimakamkan,” ucapnya.

Sampai saat ini, sudah ada berpuluh-puluh makam yang Ibrahim beserta rekan-rekannya temukan. Rata-rata usia makam yang ditemukan disinyalir di atas lebih dari 500 tahun itu tersebar di penjuru Kalsel.

Rencana dalam waktu dekat, mereka bakal menelusuri makam yang terdapat di Kotabaru, daerah Salino. Di sana, ada makam Pangeran Jaya Sumitra sebagai Raja Pulau Laut pertama. “Pangeran ini juga merupakan sekretaris di zaman raja Sultan Adam. Selain itu, ada pula makam Raja Kusan yaitu Pangeran Haji Musa yang merupakan orang tua dari Pangeran Jaya Sumitra,” ungkapnya.

Banyak warga bertanya bagaimana proses anggota komunitas ini hingga berhasil menemukan makam yang dimaksud? Selain membaca referensi dari buku-buku sejarah yang ada di Belanda maupun di Banua, mereka juga kerap menyambangi sebuah tempat hanya untuk mengulik kisah di dalamnya. Selain itu, beserta rekan-rekan juga melakukan proses pencarian secara tradisional dengan meminta petunjuk melalui mimpi, bertawasul, dan lainnya. “Kadang kami berangkat lengkap berlima, bertiga, bahkan hanya sendirian. Tergantung kesempatan atau waktu yang kami punya. Maklum, selain komunitas, kami juga punya kerjaan masing-masing,” ucapnya.

Menurut Ibrahim, kesulitan mencari atau menemukan makam terletak pada referensi yang diterima. Di luar daerah, mencari makam serta silsilah cukup mudah karena ada catatan terperinci. Berbeda dengan yang ada di Banua, karena lebih memakai budaya tutur atau dari mulut ke mulut.

“Hanya sedikit saja yang tercatat. Itu salah satu kesulitan kami. Sementara proses pencarian bervariatif, dari satu hari hingga bisa sampai satu minggu,” ujarnya.

Kendala di lapangan juga menjadi salah satu rintangan anggota komunitas Timpakul. Misalnya, makam di dalam hutan, hingga cerita-cerita mistik yang menyelimutinya. Mengerti adab, tata krama, sosial budaya, dan adat yang berkembang menjadi salah satu kunci sebelum mencari makam. “Kami pernah menemui sebuah desa yang di dalamnya disinyalir terdapat sebuah makam seorang pangeran. Sayangnya, kami tak bisa bertanya cerita tentang makam, dan bahkan siapa yang dimakamkan karena dianggap tak boleh diungkapkan oleh masyarakat,” jelasnya.

Lantas, setelah makam ditemukan, ke mana hasilnya dilaporkan? Ibrahim menjelaskan hingga saat ini makam-makam yang ditemukan komunitasnya hanya diinformasikan kepada masyarakat setempat dan direhab kecil-kecilan. Seperti membangun pagar di sekeliling makam. Kecuali, kalau ada data ilmiah yang menjadi pendukung, baru dilaporkan ke instansi terkait sebagai pengelola cagar budaya. “Kami berharap makam yang ditemukan dikelola baik-baik oleh masyrakat. Syukur-syukur kalau misalnya bisa diziarahi,” tuntasnya.(war/gr/dye)


BACA JUGA

Minggu, 16 September 2018 13:37

19 Burung Langka dari Alam Liar di Pamerkan Pegiat Fotografi

BANJARMASIN - Mendengar istilah fotografi alam liar, yang terbayang di benak adalah karya-karya pewarta…

Sabtu, 15 September 2018 09:27

Seruu..!! Lomba Balap Jukung Tradisional di Jafri Zam-Zam

JUKUNG yang dikayuh Jumiati melaju dengan mulus. Meninggalkan lawan jauh di belakang, hampir separuh…

Rabu, 12 September 2018 13:29

Jangan Sepelekan Kurang Tidur, Buruk Akibatnya untuk Kesehatan

Pernah kesulitan tidur? Mata terjaga meski jam memasuki dini hari. Hal tersebut biasa terjadi pada penderita…

Senin, 10 September 2018 09:48

Bingung Kuku Anda Jadi Menguning, Pelajari Sebabnya

Tubuh yang sehat menjadi idaman semua orang. Bahkan hingga bagian terujung pun, kuku juga perlu perawatan.…

Sabtu, 08 September 2018 12:59

Lomba Seru Digelar Sambut Hari Jadi Kota Banjarmasin

KEMERIAHAN perayaan Hari Jadi Kota Banjarmasin ke-492 sudah mulai terasa. Kemarin (7/9) pagi di Siring…

Selasa, 04 September 2018 11:16

Beruang Grizzly Mengaum di Banjarmasin

Band asal Bandung ini menjadi satu dari empat penampil utama yang dihadirkan Soundrenaline. Selain White…

Selasa, 04 September 2018 10:59

Anggap Enteng Akurasi Data

ANGGOTA Komisi IV DPRD Banjarmasin, Sri Nurnaningsih tampak gusar. Mengetahui ada ribuan calon penerima…

Selasa, 28 Agustus 2018 10:31

Kapal Bantu Rumah Sakit Soeharso Berlabuh di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin

BANJARMASIN - Kapal Republik Indonesia (KRI) dr Soeharso 990 telah merapatkan tubuhnya di Pelabuhan…

Senin, 27 Agustus 2018 10:55

Serunya Parodi Cinderella dari Seniman Muda Purwacaraka

Bukan Cinderella dan Sepatu Kaca. Merupakan karya drama musikal menggelitik. Dipersembahkan dengan instrumen…

Minggu, 26 Agustus 2018 15:48

Adu Masak di Atas Sungai Festival Budaya Pasar Terapung

BANJARMASIN – Sungai Martapura Banjarmasin terlihat berbeda pagi kemarin. Ada puluhan koki adu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .