MANAGED BY:
SABTU
15 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 21 Oktober 2017 13:25
Kisah Bripka Rahmadani Memediasi Blokade SMPN 4 Sungai Tabuk

"Anggaplah Ini Amal Jariyah Saya"

PENGABDIAN - Bhabinkamtibmas Sungai Lulut Bripka Rahmadhani (urutan kedua dari depan) saat meninjau jalan alternatif sekolah yang masih terputus padang rawa bersama lurah dan guru, Kamis (19/10) siang.

PROKAL.CO, Demi mendamaikan warga binaan, Bhabinkamtibmas Sungai Lulut Bripka Rahmadani rela memotong uang gaji selama tiga bulan ke depan. Membayar tiga rit tanah uruk sebagai kompensasi agar konflik di SMPN 4 Sungai Tabuk mereda.

--------------------------------------

SYARAFUDDIN, Martapura

--------------------------------------

SEOLAH tak ada hal luar biasa yang terjadi, Kamis (19/10) malam, Bripka Rahmadani dengan menaiki sepeda motornya kembali ke kantor untuk menjalankan tugas piket jaga. Jumat (20/10) pagi, barulah ia bisa pulang ke rumahnya di Kecamatan Gambut untuk berganti pakaian.

"Jadi mohon maaf kalau teleponnya tadi tak terangkat. Sehabis salat Jumat saya ketiduran," ujarnya membuka percakapan kepada Radar Banjarmasin, kemarin via sambungan telepon. Padahal, Bripka Rahma baru saja melakukan hal luar biasa.
Kamis pagi ia dikabari wakil kepala sekolah. Jalan satu-satunya menuju SMPN 4 Sungai Tabuk diblokade warga dengan pagar seng dan batu bata. Hingga memaksa siswa dan siswi menggotong sepeda melewati blokade.

"Pagi-pagi saya ditelepon dan mendapat kabar seperti itu. Kaget sekaligus khawatir. Saya buru-buru berangkat ngantor untuk apel. Dari situ bareng lurah ke sekolah untuk memantau situasi," kisahnya.

Sekolah yang baru diresmikan akhir 2016 itu berada di Jalan Martapura Lama kilometer 6,7, tepatnya di Blok K Kompleks Putra Gemilang Raya. Menyadari suasana pemukiman di sekitar sekolah sudah terasa tak nyaman, Bripka Rahma tak mau mengulur waktu.

Bersama Lurah Sungai Lulut Djamaluddin, wakil kepsek Padlillah dan Ketua RT setempat, diupayakan agar semua pihak yang berselisih bisa berunding pada hari itu juga. Karena masih banyak warga yang bekerja dan belum pulang ke rumah, sambil menunggu ia mengaso. "Syukur masih sempat istirahat," imbuhnya.

Perundingan dimulai sore hari. Tuntutan warga, 20 rit tanah untuk menguruk jalan kompleks. Ditambah hibah kanopi dan peninggian halaman Musala Al Hijrah yang berdampingan dengan sekolah.

Semua itu tuntutan itu sebagai kompensasi atas kerusakan jalan pemukiman akibat lalu-lalang angkutan material proyek untuk pembangunan sekolah tersebut. Kepala sekolah memang pernah menjanjikan ganti rugi. Namun, karena janji itu terus menggantung, warga kecewa hingga akhirnya memblokade jalan sekolah.

"Negosiasi terus, dari 20 rit turun ke angka 10, delapan hingga empat rit," tukas Bripka Rahma. Ternyata, sekolah pun hanya sanggup memberi satu rit batu split untuk peninggian halaman musala.

Merasa tak mungkin lagi menekan warga untuk menyepakati negosiasi yang lebih rendah, Bripka Rahma akhirnya merogoh kantongnya dan menyerahkan Rp450 ribu. Duit segitu cukup untuk membeli tanah satu rit. Diserahkan pada perwakilan warga sebagai cicilan kompensasi.

"Dua rit sisanya nanti saya cicil pada dua bulan gaji berikutnya. Satu rit lagi alhamdulillah ditanggung pak lurah," jelasnya. Aksi Bripka Rahma ini pula yang meluluhkan hati warga. Seusai perundingan, semuanya ramai-ramai menuju sekolah untuk membongkar blokade.

Uang senilai Rp1,3 juta tentu tak sedikit. Namun, Bripka Rahma enggan membahasnya. Ia kelewat merendah, baginya uang segitu tak sepadan dibanding kedamaian masyarakat binaan. "Kada (tidak). Kan disisihkan dari gaji bulanan ulun (saya). Jadi tidak terasa berat. Ya, anggap saja ini amal jariyah untuk musala," ungkapnya.

Lalu, siapa sebenarnya sosok polisi satu ini? Bripka Rahma lahir di Gambut pada 33 tahun silam. Ia memiliki seorang istri dan seorang putri. "Tapi mereka tinggal di Kabupaten Tanah Bumbu, karena istri bertugas sebagai bidan desa di sana," tukasnya.

Ia bergabung dengan Polri tahun 2004. Dua tahun kemudian, ia ditempatkan di Sungai Lulut yang merupakan perbatasan antara Kabupaten Banjar dan Banjarmasin. Lumayan jauh dari tempat tinggalnya di Gambut. "Karena sejak 2006 sudah bertugas di Sungai Lulut, saya dan masyarakat sudah saling kenal," pungkasnya. (fud)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 15 Desember 2018 12:50

Sisi Lain Pelatih Tinju kalsel, Arbain

Menjadi pelatih tinju rupanya bukan satu-satunya pekerjaan yang digeluti oleh…

Sabtu, 15 Desember 2018 09:55

Berawal Ketiadaan Toilet Buat Kencing, Berdirilah Galeri Unik Ini

Apa yang dilakukan oleh warga RT 05 RW 02 Kelurahan…

Jumat, 14 Desember 2018 14:46

Moses Sulap Puing Kayu Menjadi Seni Bernilai Tinggi

Beri Moses Foresto puing-puing kayu, dia bisa menjadikannya apa saja.…

Kamis, 13 Desember 2018 13:20

Bekali Santri Keterampilan Untuk Hadapi Tantangan Zaman

Nyantri bukan melulu tentang ngaji. Di Pondok Pesantren Nurul Muhibbin,…

Sabtu, 08 Desember 2018 11:45

Tidak Mudah, Honorer Ini Pantau CCTV di Menara Pandang Hingga Larut Malam

Di depan layar monitor yang lebarnya tak lebih lebar dari…

Sabtu, 08 Desember 2018 09:03
Kisah Bocah-bocah Penjual Buku Mewarnai di Banjarmasin

Demi Sesuap Nasi Mereka Sampai Dikejar-Kejar Satpol PP

Mobil partoli Satpol PP Kota Banjarmasin melintas di perempatan Jalan…

Jumat, 07 Desember 2018 11:31

Jejak Laskar Pelangi di Banua (2)

Belajar di gudang kecil kadang membuat siswa SD Dusun Munggu…

Kamis, 06 Desember 2018 13:02

Jejak Laskar Pelangi di Banua

Hanya 12 siswa dan satu gedung kecil. Tapi mereka semangat…

Rabu, 05 Desember 2018 12:25

Gol A Gong Berbagi Motivasi ke Penulis Muda Balangan

Yang mengalami masa remaja di era 80’ dan 90’ an,…

Rabu, 05 Desember 2018 10:10

Wahh!! Rabiul Awal Jadi Bulan Rezeki Pengrajin Mahar Pernikahan

Rabiul Awal atau bulannya Maulid Nabi pada penanggalan Hijriah, menjadi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .