MANAGED BY:
SELASA
18 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Senin, 30 Oktober 2017 16:31
SDN Kayuh Abang II, Kena Wilayah Rawan Bencana, Warga Pindah, Sekolah Tutup
KOKOH: Walaupun sudah tidak difungsikan lagi, bangunan SDN Kayuh Abang II masih kokoh.

PROKAL.CO, Dulu SDN Kayuh Abang II memiliki ratusan sisa. Kini sekolah di Kecamatan Tambang Ulang, Kabupaten Tanah Laut itu kini sudah tinggal nama.

------------------------------------------------------------

ARDIAN HAIRIANSYAH, Tambang Ulang

-----------------------------------------------------------

Untuk menemukan sekolah ini tidak terlalu sulit. Dari Kota Pelaihari jarak sekitar 25 Kilometer ke arah Kecamatan Kurau. Akses jalan cukup baik. Jalan ke sekolah bahkan baru diaspal.

Penulis mendatangi sekolah tersebut, kemarin (28/10 melihat pemandangan yang membuat trenyuh. Sekolah yang dulunya berisi sekitar ratusan murid itu kini hanya menyisakan bangunan tua yang dikelilingi  ilalang.   Bangunan sekolah relatif masih tampak baik, bahkan tiang bendera masih berdiri kokoh.

Tidak itu saja, dinding dan lantai yang terbuat dari kayu ulin masih sangat kuat. Begitu juga dengan kursi dan meja belajar, tidak mengalami kerusakan. Papan kelas yang terpasang di atas pintu kelas pun masih bagus.  Papan nama sekolahpun masih berdiri, walaupun tulisan nama sekolah tidak terlihat dengan baik.

Untuk mendapatkan informasi secara jelas, penulis menemui Sugiono penjaga sekolah SDN Kayuh Abang I yang tak jauh dari SDN Kayuh Abang II. Dia mengatakan SDN Kayuh Abang II sudah tidak berfungsi setelah pada tahun ajaran 2016 ada 11 murid dipindahkan ke SDN Kayuh Abang I.

Dirinya menceritakan, SD yang berada di kawasan transmigrasi itu berdiri sekitar tahun 1998 dengan jumlah murid mencapai 200 anak. Namun, dari tahun k etahun, murid-murid itu selain lulus juga pindah, lantaran mengikuti orang tua untuk mengadu nasib dikehidupan layak."Dulu ratusan anak bermain dan belajar disini, kini sudah tidak ada aktivitas lagi," tuturnya.

Hal ini disebabkan peserta transmigrasi tidak dapat bertahan lama hidup di atas tanah yang dipersiapkan di era zaman Pemerintah Orde Baru itu."Mereka banyak meninggalkan lahan tersebut, dan anak-anak juga ikut orang tua pergi meninggalkan lokasi itu," jelasnya.

Di saat musim penghujan kondisi lahan   selalu digenangi air. Membutuhkan tiga bulan waktu genangan air itu dapat surut.  Bencana lainnya,  angin puting beliung juga selalu mengancam  lokasi ini.

Kini pemerintah, terus berupaya membuat kawasan itu diperbaiki. Pemerintah membangun saluran air, dan jalan menuju sekolah. Pendopo dan masjid dibangun. Hal ini dilakukan, agar warga transmigran dapat kembali pulang di Bumi Tuntung Pandang.

Sugiono juga berharap pemerintah dapat memperhatikan secara serius lokasi ini, agar kehidupan warga   layak seperti daerah lain.

  Wakil Bupati Tala Sukamta sendiri mengaku sudah mengetahui lokasi transmigrasi tersebut.  Dia mengaku saat bertugas di Dinas Kehutanan tahun 1995, memang sudah tidak merekomendasikan transmigran  berada di lokasi tersebut. Lantaran, lokasi di kawasan tersebut di daerah rawa dan rawan banjir. "Saat saya bertugas di Dinas, sudah ada rekemondasi lokasi tersebut tidak layak," jelasnya yang mengatakan meski demikian,   keputusan tetap berada di Kantor Wilayah Transmigrasi saat itu.

Pemkab sendiri sudah berusaha maksimal untuk membuat wilayah tersebut berdenyut hidup.  Pemerintah berupaya membuatkan saluran air, bahkan memperbaiki sarana jalan  hingga ke Masjid. Ini dilakukan sembari berharap  para transmigran bisa kembali pulang dan memanfaatkan sarana tersebut dengan baik.

Dia sendiri mengatakan persoalan sekolah, tidak bermasalah.  Murid-murid yang tersisa sudah dipindahkan ke SDN Kayuh Abang I yang tidak jauh dari lokasi transmigrasi. “Kedepan, jika lokasi transmigrasi ini ramai kembali oleh masyarakat, tidak menutup kemungkinan sekolah akan dibuka kembali,” pungkasnya. (ard/ay/ran) 


BACA JUGA

Kamis, 13 September 2018 12:05

YS Agus Suseno, Penyair Banjar Yang Berani Menohok Rezim

Meminjam istilah sastrawan Seno Gumira Ajidarma: ketika jurnalisme dibungkam, maka mestinya sastra harus…

Rabu, 12 September 2018 15:23

Kisah Perajin Miniatur Kapal Pinisi dari Sungai Alalak

Salman tak bisa jauh-jauh dari perahu dan sungai. Semasa bujangan, dia menjadi perajin perahu di Pulau…

Sabtu, 08 September 2018 12:48

Memanen Kelapa Sawit, Pekebun Malah Menjerit

Memanen kelapa sawit tidak terlalu menggembirakan bagi pekebun di Kotabaru. Bekerja di bawah terik mentari,…

Rabu, 05 September 2018 11:13

Jean, Siswi SMAN 2 Banjarmasin Menang Lomba Monolog di Aceh

Kamera dokumentasi sudah dimatikan. Sebagian penonton juga telah beranjak pulang. Juri pun tampak capek.…

Selasa, 04 September 2018 13:18

Jasa Datu, Perguruan Kuntau yang Sudah Eksis 32 Tahun Lamanya

Pencak silat sedang naik daun di Asian Games 2018. Di Banua, para pendekar silat ternyata sudah lama…

Kamis, 30 Agustus 2018 10:36

"First Love Never Die"

Hermansyah memutuskan tinggal di panti jompo atas pilihannya sendiri. Sebaliknya, Yulia terpaksa minggat…

Kamis, 30 Agustus 2018 10:33

Yulia Minggat karena Merepotkan

Hermansyah boleh dibilang beruntung. Masih bisa berkumpul keluarga. Masuk panti pun juga atas pilihan…

Rabu, 29 Agustus 2018 10:23

Bosan Tidur di Pengungsian, Pengungsi Lombok Mulai Datangi Kalsel

Pengungsi gempa Lombok mulai berdatangan ke Kalimantan Selatan melalui bandar udara Syamsuddin Noor…

Selasa, 28 Agustus 2018 10:18

Malam terakhir Konser Wartawan & Musisi Banua Untuk Palestina dan Lombok

Konser amal bertajuk Wartawan & Musisi Banua Untuk Palestina dan Penggalangan Dana Gempa Lombok,…

Senin, 27 Agustus 2018 11:20

Melihat Eksistensi Komunitas MGR Pasca Ganti Presiden

Meski telah ditinggalkan presiden sekaligus pendirinya Fitri Zamzam, yang telah berpulang pada November…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .