MANAGED BY:
JUMAT
15 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Selasa, 14 November 2017 15:12
Werner Laule - Siti Farida Elyanor, pasangan Jerman-Kelua yang Suka Bertualang

Tinggal di Jerman tapi tetap Cinta Wisata Kalimantan

RAMAH: Werner Laule bersama penulis di suite mereka di Aston, Gambut, Kabupaten banjar, kemarin.

PROKAL.CO, Werner Laule dan Siti Farida Elyanor berlibur di Banua sejak 28 September lalu. Pasangan Jerman-Kelua yang sempat menginspirasi warga lewat kisah cinta mereka ini berbagi pengalaman semasa di Banua.


MN ALAM M, Gambut


"Apa kabar?" kata Farida kepada Radar Banjarmasin membukakan pintu ruangannya. Ditemui di senja yang redup, Senin (12/11) kemarin, dia terlihat sibuk di kediamannya di ruang suite kondotel Aston, Gambut. "Saya sedang berkemas, bersiap-siap untuk persiapan kembali ke Jerman."

Farida bersama suaminya Werenr Laule sudah berada di Banua sejak tanggal 28 September lalu. Meski memiliki condotel di Aston, pasangan ini lebih banyak berada di luar, bertualang ke alam Kalimantan. "Saya dan suami sejak muda sama-sama suka bertualang di alam bebas," katanya.

Kesamaan hobi ini juga yang mempertemukan mereka dulu. Kisah cinta Werner dan Farida bagai kisah-kisah FTV.


Mereka bertemu di sebuah siang yang gerah di tahun 1984. Werner adalah seorang insinyur navigasi airport yang diutus perusahaannya, Thales, menjadi konsultan untuk alat navigasi bandara Syamsuddin Noor. Sementara, Farida, adalah mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Hawa yang menyengat di Banjarmasin membuat mereka sama-sama mendatangi gelanggang remaja Banjarmasin untuk berenang. Saat berenang itu, tiba-tiba kaki mereka saling bersentuhan Werner mengatakan dalam jenak yang canggung itu, "You are Beautiful."

Singkat cerita, mereka kemudian berkenalan dan bercakap-cakap meski tak lama. Werner tak punya banyak waktu di Banua. Dia harus terbang ke Sumatera untuk tugas yang sama.

Rupanya, meski telah meninggalkan Banjarmasin, pemuda kelahiran Freiburg yang saat itu berumur 31 tahun itu terkenang dengan pertemuannya yang berkesan dengan Farida. Dari Medan, dia bertekad untuk kembali ke Banjarmasin jika tugasnya selesai.

Namun, ada sedikit masalah. Saat dia sudah menjejakkan kaki kembali di Kalsel, dia tidak tahu alamat Farida. Werner tak tahu bagaimana dia bisa menemukan Farida. Dari penginapannya di hotel Maramin, dia naik becak melewati Kampung Melayu dan berdiri di tepi jalan Km 4,5. Entah bagaimana, berharap dia bisa bertemu Farida.

Meski belum menjadi kota seramai sekarang, tetap saja Banjarmasin adalah kota yang padat. Mencari seorang wanita hanya berbekal nama di kota seramai Banjarmasin, hampir seperti mencari jarum di kindai benih.

Tak berputus asa, Werner kembali ke gelanggang Hasannudin. Dia berharap Farida akan kembali berenang di sana siang itu. Tentu saja, kebetulan tidak terjadi dua kali.

Tapi, jodoh memang punya jalannya sendiri. Werner akhirnya teringat, Farida pernah mengatakan dia adalah seorang mahasiswi fakultas ekonomi. Dengan harapan yang kembali menyala, Werner datang ke universitas Lambung Mangkurat. Singkat cerita, mereka pun bertemu.

Tak ingin membuang kesempatan, Werner kemudian langsung mengajak Farida menikah. Farida menerima karena dia memang sejak awal juga terpikat dengan lelaki berkacamata yang selalu terlihat serius itu.

Tetapi, ayah Farida tidak begitu yakin. Bagaimanapun, Werner adalah lelaki yang asing dari negara yang juga asing. Usia yang terbentang jauh dan Farida yang masih kuliah di jurusan PAAP (Pendidikan Ahli Administrasi Perusahaan) menambah rumit hubungan itu.

Tapi, dengan bijak ayah Farida mengatakan, dia bisa saja menerima lamaran itu asalkan Farida bersedia menemui ayahnya, kakek Farida, di Kelua. Sang kai hanya punya satu prinsip bagi calon suami farida itu: Werner harus masuk Islam.

Jawaban Werner: Fine. Oke.

Pesta perkawinan mereka di Kelua adalah pesta perkawinan yang menarik. Latar dan kisah cinta mereka, serta Werner yang datang dari negara yang asing membuat banyak tamu yang datang karena penasaran.

Selesai pesta perkawinan, Farida pun segera diboyong suaminya ke Offenburg, sebuah kota di Baden-Wurttenberg, Jerman bagian selatan. Tapi, sebelum itu, pasangan bahagia ini menikmati bulan madu di Bali.

Mereka tinggal di Ottenberg, desa yang hening yang berpenduduk tak lebih dari 5000 jiwa. Hidup di negara orang yang segala sesuatuya jauh berbeda dengan tempat kelahiran membuat di tahun-tahun awal, Farida sempat mengalami gegar-budaya. Salah satu yang menggelikan adalah dia pernah memasak iwak yang baunya membuat tetangga terganggu.
Di dapur Farida memang selalu ada masakan Banua. Setphen Laule Jan, anak pertama dari pasangan ini, sangat doyan masakan Banjar. Adik Stephen, Sandra juga menyenaninya meski lebih terbiasa dengan makanan Eropa. "Tapi, keduanya suka makan papare yang pahit, aku rancan menyayur itu," kata Farida.

25 November nanti, tepat pasangan ini merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-33. Kehidupan yang harmonis meski berbeda budaya membuat banyak yang kagum dengan Werner Laule dan Siti Farida. Dalam sebuah acara makan malam di Freiburg, salah seorang pegawai konsulat Indonesia terkaget-kaget kertika melihat ada wanita Indonesia yang digandeng lelaki Jerman bersama dengan dua anak mereka yang sudah dewasa. "Di Frankfurt,kata pejabat itu, :tempat bertugas saya, banyak juga pasangan Jerman dan Indonesia yang menikah, tetapi tak pernah bertahan lama."

Apa rahasianya?

Saat disambangi Radar Banjarmasin ke kondotelnya, Farida dan Werner memang terlihat mesra. Farida memanggil suaminya "sayang" kala menyajikan secangkir teh untuk Werner. "Kami memang dari dulu, saling panggil sayang," ucap wanita kelahiran 27 September ini. Itu, membuat hubungan mereka selalu istimewa. Selain juga, minat mereka yang sama pada petualangan.Sebelum pulang ke Jerman tanggal 21 November mendatang, Werner dan Farida berniat kembali ke air terjun Rampah Magalong, yang berjarak sekitar 30 km dari Birayang, Batang Alai Selatan, Hulu Sungai Tengah. Saat mengunjunginya 23 Oktober lalu, pasangan ini berjalan dua jam di hutan untuk menuju air terjun. Jarak yang jauh dengan medan tempuh yang terjal, tak menyulitkan mereka, karena sepanjang perjalanan Werner dan Farida berbagi minat dan kecintaan yang sama untuk bertualang.

"Kita rencana mau ke Singkawang, Kalimantan Barat, tetapi gagal," kata Werner dengan bahasa Indonesia yang terbata. Tak perlu khawatir, karena April depan, mereka berniat untuk kembali ke Banua. "Wisata di Kalimantan bagus, masih banyak tempat yang perlu didatangi. Semoga nanti bisa ke Singkawang," harap Farida. (by/ran)

 


BACA JUGA

Jumat, 15 Desember 2017 15:23

Setengah Hari di Hutan Mangrove Langadai Kelumpang Hilir Kotabaru

Tombak ulin yang tengahnya berlubang mereka angkat ke depan wajah. Kemudian mereka tiup pangkalnya,…

Senin, 11 Desember 2017 13:14

Melihat Tradisi Mandi Kebal di Hulu Sungai Selatan

Masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) selain akrab dengan tradisi membawa senjata tajam (sajam)…

Senin, 11 Desember 2017 10:38

Wayang Kulit Banjar Hibur Pengunjung Perpusda

Asam pauh dalima pauh, rama-rama batali banang. Ndiiiiiiih yaaaaaing. Ikam jauh aku jauh, sama-sama…

Rabu, 06 Desember 2017 12:05

Meriahnya Perayaan Baayun Maulid di Masjid Nurul Amilin

Ribuan manusia berjejal di Masjid Nurul Amilin, di Jalan Kelayan B Timur, Kelurahan Haur Kuning, Kecamatan…

Selasa, 05 Desember 2017 14:01

Masyarakat Lawan Pemburu Telur Penyu

Sejak dinyatakan sebagai salah satu hewan langka oleh pemerintah, penyu dan telurnya tak lagi diperjualbelikan.…

Selasa, 05 Desember 2017 11:49

Duel Berdarah Lagi di Kelayan, Begini Kronologisnya

BANJARMASIN - Dua orang pria dilarikan ke rumah sakit berbeda karena terlibat perkelahian menggunakan…

Sabtu, 02 Desember 2017 19:47

Naik Kapal Perang, Terjang Gelombang Dua Meter

Dengan kecepatan angin 15 sampai 30 knot, kapal perang yang kami tumpangi bertolak dari Dermaga Stagen,…

Jumat, 01 Desember 2017 15:06

Pukulan Telak Bagi Guru Daerah Terpencil

Tiga edisi laporan masyarakat Paminggir sudah diterbitkan. Tulisan ini ibarat catatan kaki. Menyuarakan…

Kamis, 30 November 2017 15:20

ML Siang-Malam, Iwak Karing Bikin Hipertensi

JELANG AZAN ISYA, diawali lampu yang berkedap-kedip, listrik mendadak padam. Tanpa dikomando, para guru…

Rabu, 29 November 2017 13:44

Bekantan dan Kerbau Rawa Terancam Tergusur

Bekantan liar hidup bebas di Paminggir. Habitat monyet hidung panjang kebanggaan Kalsel ini bukti bahwa…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .