MANAGED BY:
KAMIS
20 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Selasa, 14 November 2017 15:12
Werner Laule - Siti Farida Elyanor, pasangan Jerman-Kelua yang Suka Bertualang

Tinggal di Jerman tapi tetap Cinta Wisata Kalimantan

RAMAH: Werner Laule bersama penulis di suite mereka di Aston, Gambut, Kabupaten banjar, kemarin.

PROKAL.CO, Werner Laule dan Siti Farida Elyanor berlibur di Banua sejak 28 September lalu. Pasangan Jerman-Kelua yang sempat menginspirasi warga lewat kisah cinta mereka ini berbagi pengalaman semasa di Banua.


MN ALAM M, Gambut


"Apa kabar?" kata Farida kepada Radar Banjarmasin membukakan pintu ruangannya. Ditemui di senja yang redup, Senin (12/11) kemarin, dia terlihat sibuk di kediamannya di ruang suite kondotel Aston, Gambut. "Saya sedang berkemas, bersiap-siap untuk persiapan kembali ke Jerman."

Farida bersama suaminya Werenr Laule sudah berada di Banua sejak tanggal 28 September lalu. Meski memiliki condotel di Aston, pasangan ini lebih banyak berada di luar, bertualang ke alam Kalimantan. "Saya dan suami sejak muda sama-sama suka bertualang di alam bebas," katanya.

Kesamaan hobi ini juga yang mempertemukan mereka dulu. Kisah cinta Werner dan Farida bagai kisah-kisah FTV.


Mereka bertemu di sebuah siang yang gerah di tahun 1984. Werner adalah seorang insinyur navigasi airport yang diutus perusahaannya, Thales, menjadi konsultan untuk alat navigasi bandara Syamsuddin Noor. Sementara, Farida, adalah mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Hawa yang menyengat di Banjarmasin membuat mereka sama-sama mendatangi gelanggang remaja Banjarmasin untuk berenang. Saat berenang itu, tiba-tiba kaki mereka saling bersentuhan Werner mengatakan dalam jenak yang canggung itu, "You are Beautiful."

Singkat cerita, mereka kemudian berkenalan dan bercakap-cakap meski tak lama. Werner tak punya banyak waktu di Banua. Dia harus terbang ke Sumatera untuk tugas yang sama.

Rupanya, meski telah meninggalkan Banjarmasin, pemuda kelahiran Freiburg yang saat itu berumur 31 tahun itu terkenang dengan pertemuannya yang berkesan dengan Farida. Dari Medan, dia bertekad untuk kembali ke Banjarmasin jika tugasnya selesai.

Namun, ada sedikit masalah. Saat dia sudah menjejakkan kaki kembali di Kalsel, dia tidak tahu alamat Farida. Werner tak tahu bagaimana dia bisa menemukan Farida. Dari penginapannya di hotel Maramin, dia naik becak melewati Kampung Melayu dan berdiri di tepi jalan Km 4,5. Entah bagaimana, berharap dia bisa bertemu Farida.

Meski belum menjadi kota seramai sekarang, tetap saja Banjarmasin adalah kota yang padat. Mencari seorang wanita hanya berbekal nama di kota seramai Banjarmasin, hampir seperti mencari jarum di kindai benih.

Tak berputus asa, Werner kembali ke gelanggang Hasannudin. Dia berharap Farida akan kembali berenang di sana siang itu. Tentu saja, kebetulan tidak terjadi dua kali.

Tapi, jodoh memang punya jalannya sendiri. Werner akhirnya teringat, Farida pernah mengatakan dia adalah seorang mahasiswi fakultas ekonomi. Dengan harapan yang kembali menyala, Werner datang ke universitas Lambung Mangkurat. Singkat cerita, mereka pun bertemu.

Tak ingin membuang kesempatan, Werner kemudian langsung mengajak Farida menikah. Farida menerima karena dia memang sejak awal juga terpikat dengan lelaki berkacamata yang selalu terlihat serius itu.

Tetapi, ayah Farida tidak begitu yakin. Bagaimanapun, Werner adalah lelaki yang asing dari negara yang juga asing. Usia yang terbentang jauh dan Farida yang masih kuliah di jurusan PAAP (Pendidikan Ahli Administrasi Perusahaan) menambah rumit hubungan itu.

Tapi, dengan bijak ayah Farida mengatakan, dia bisa saja menerima lamaran itu asalkan Farida bersedia menemui ayahnya, kakek Farida, di Kelua. Sang kai hanya punya satu prinsip bagi calon suami farida itu: Werner harus masuk Islam.

Jawaban Werner: Fine. Oke.

Pesta perkawinan mereka di Kelua adalah pesta perkawinan yang menarik. Latar dan kisah cinta mereka, serta Werner yang datang dari negara yang asing membuat banyak tamu yang datang karena penasaran.

Selesai pesta perkawinan, Farida pun segera diboyong suaminya ke Offenburg, sebuah kota di Baden-Wurttenberg, Jerman bagian selatan. Tapi, sebelum itu, pasangan bahagia ini menikmati bulan madu di Bali.

Mereka tinggal di Ottenberg, desa yang hening yang berpenduduk tak lebih dari 5000 jiwa. Hidup di negara orang yang segala sesuatuya jauh berbeda dengan tempat kelahiran membuat di tahun-tahun awal, Farida sempat mengalami gegar-budaya. Salah satu yang menggelikan adalah dia pernah memasak iwak yang baunya membuat tetangga terganggu.
Di dapur Farida memang selalu ada masakan Banua. Setphen Laule Jan, anak pertama dari pasangan ini, sangat doyan masakan Banjar. Adik Stephen, Sandra juga menyenaninya meski lebih terbiasa dengan makanan Eropa. "Tapi, keduanya suka makan papare yang pahit, aku rancan menyayur itu," kata Farida.

25 November nanti, tepat pasangan ini merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-33. Kehidupan yang harmonis meski berbeda budaya membuat banyak yang kagum dengan Werner Laule dan Siti Farida. Dalam sebuah acara makan malam di Freiburg, salah seorang pegawai konsulat Indonesia terkaget-kaget kertika melihat ada wanita Indonesia yang digandeng lelaki Jerman bersama dengan dua anak mereka yang sudah dewasa. "Di Frankfurt,kata pejabat itu, :tempat bertugas saya, banyak juga pasangan Jerman dan Indonesia yang menikah, tetapi tak pernah bertahan lama."

Apa rahasianya?

Saat disambangi Radar Banjarmasin ke kondotelnya, Farida dan Werner memang terlihat mesra. Farida memanggil suaminya "sayang" kala menyajikan secangkir teh untuk Werner. "Kami memang dari dulu, saling panggil sayang," ucap wanita kelahiran 27 September ini. Itu, membuat hubungan mereka selalu istimewa. Selain juga, minat mereka yang sama pada petualangan.Sebelum pulang ke Jerman tanggal 21 November mendatang, Werner dan Farida berniat kembali ke air terjun Rampah Magalong, yang berjarak sekitar 30 km dari Birayang, Batang Alai Selatan, Hulu Sungai Tengah. Saat mengunjunginya 23 Oktober lalu, pasangan ini berjalan dua jam di hutan untuk menuju air terjun. Jarak yang jauh dengan medan tempuh yang terjal, tak menyulitkan mereka, karena sepanjang perjalanan Werner dan Farida berbagi minat dan kecintaan yang sama untuk bertualang.

"Kita rencana mau ke Singkawang, Kalimantan Barat, tetapi gagal," kata Werner dengan bahasa Indonesia yang terbata. Tak perlu khawatir, karena April depan, mereka berniat untuk kembali ke Banua. "Wisata di Kalimantan bagus, masih banyak tempat yang perlu didatangi. Semoga nanti bisa ke Singkawang," harap Farida. (by/ran)

 


BACA JUGA

Sabtu, 08 September 2018 12:51

Menengok Festival Anggrek 2018 di Taman Kamboja

Apa yang dicari-cari dunia jika melancong ke Kalsel? Jawabannya; anggrek. Bukan tanpa alasan, tanaman…

Sabtu, 08 September 2018 12:48

Memanen Kelapa Sawit, Pekebun Malah Menjerit

Memanen kelapa sawit tidak terlalu menggembirakan bagi pekebun di Kotabaru. Bekerja di bawah terik mentari,…

Rabu, 29 Agustus 2018 10:23

Bosan Tidur di Pengungsian, Pengungsi Lombok Mulai Datangi Kalsel

Pengungsi gempa Lombok mulai berdatangan ke Kalimantan Selatan melalui bandar udara Syamsuddin Noor…

Selasa, 28 Agustus 2018 10:18

Malam terakhir Konser Wartawan & Musisi Banua Untuk Palestina dan Lombok

Konser amal bertajuk Wartawan & Musisi Banua Untuk Palestina dan Penggalangan Dana Gempa Lombok,…

Senin, 27 Agustus 2018 11:20

Melihat Eksistensi Komunitas MGR Pasca Ganti Presiden

Meski telah ditinggalkan presiden sekaligus pendirinya Fitri Zamzam, yang telah berpulang pada November…

Senin, 27 Agustus 2018 10:48

Avani, Pemain Biola yang Raih Penghargaan di Asian Pasific Arts Festival

Berawal dari rasa penasaran terhadap instrumen musik, Avani Galuh Zaneta terjun menggeluti alat gesek…

Sabtu, 25 Agustus 2018 12:40

Serba-Serbi Festival Budaya Pasar Terapung 2018

Rakyat Indonesia menamainya Serabi. Orang Banjar menyebutnya Apam Batil. Namanya mungkin terdengar tidak…

Jumat, 24 Agustus 2018 14:24

BAKAL CANTIK..!! Bantaran Sungai Martapura akan Ditata

MARTAPURA – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjar membangun Talud di Sisi kiri dan kanan Jembatan…

Jumat, 24 Agustus 2018 11:08

Disodori Buku Berbahasa Inggris, Incar Generasi milenial

Indonesia punya Najwa Shihab. Kalsel punya Eka Chandra Dewi. Dua-duanya punya kesamaan: dinobatkan menjadi…

Selasa, 21 Agustus 2018 08:55

Kisah Subur, Raja Pengamen di Pasar Lama

Jangan pandang remeh pengamen jalanan. Di balik penampilan dekil dan lusuh, tidak sedikit yang menyimpan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .