MANAGED BY:
SABTU
26 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Kamis, 07 Desember 2017 16:27
Mereka Memilih jadi Pegulat (1)
Dibesarkan Loncat Indah, tapi Sukses di Gulat
CINTA GULAT: Pegulat Kalsel Adam Wibowo dalam sesi latihan.

PROKAL.CO, Ina menoreh prestasi di loncat indah, tapi kemudian jenuh dan kepincut gulat. Sedangkan Adam harus memberontak sang ibu. Mogok latihan dari angkat berat demi gulat.

FAUZAN RIDHANI, M RIFANI dan M IDRIS JIAN SIDIK, Banjarmasin

OTOT di sekujur tubuh Inayatul Rahmi mengencang. Keringatnya makin deras mengucur karena arena fitnes itu pengap. Sirkulasi udara ruangan seluas 7x20 meter itu tak lancar. Gadis 19 tahun ini sedang menahan barbel seberat 23 kilogram.

Dengan wajah memerah akibat menahan sakit, ia sesekali masih bisa melempar senyuman. Berkali-kali ia membenarkan dan mengeratkan pegangan tangan di gagang barbel. Walau ngos-ngosan, Ina (sapaan akrabnya) bertekad melampaui daya tahan fisiknya.

Ina adalah pegulat gaya bebas kelas 63 kilogram. Ia sedang latihan fisik, diawasi pelatihnya Julhaidir. Cermin besar di sepanjang dinding ruangan fitnes menjadi saksi bisu perjuangan Ina. Dan kami adalah saksi tambahan, menonton Ina latihan pada Sabtu (2/12) pagi di Gedung Gulat GOR Hasanuddin HM, Banjarmasin.

Istirahat hanya dijatah beberapa menit. Sementara kepedihan itu berlangsung lama. Selama satu jam latihan berkali-kali terdengar teriakan, "aaahhh!" Ina baru boleh pulang setelah menuntaskan menu latihan dari squats, bench press, high full, good morning, clean, bench full, dipping, sit up dan bisep.

Sebenarnya tak ada larangan untuk menyerah di depan pelatih. Namun, haram bagi seorang pegulat untuk mengaku menyerah. Latihan gulat memang keras, tak kenal lelaki atau perempuan. Ina paham betul soal itu.

Pelatih tim gulat Kalsel, Indra Syafri menjabarkan ada tiga unsur yang dikejar dalam latihan gulat: kekuatan, ketahanan dan kecepatan. Pegulat tak melulu dilatih membanting atau memiting. Angkat berat layaknya binaragawan juga dilakoni. Malah untuk kecepatan, atlet gulat juga diajak main futsal dan sepakbola sekali sepekan. "Sekalian refreshing," ujarnya.

Pengprov PGSI (Persatuan Gulat Seluruh Indonesia) Kalsel memang terkenal dengan latihan yang keras dan ketat. Anak didik hanya diberi jatah libur pada hari Minggu. "Dalam sehari kami dua kali latihan, pagi dan sore," tambah Julhaidir.

Hasilnya terbukti, cabang gulat langganan menyumbang medali untuk Kalsel. Maka wajar jika banyak atlet muda Kalsel yang tertarik gulat. Seperti Ina yang sebelumnya menggeluti cabor loncat indah.

Ina bukan anak kemarin sore di cabor loncat indah. Ia menekuninya selama sembilan tahun. Sejak kelas tiga SD, ketika menginjak usia 10 tahun. Beragam teknik loncat indah sudah dikuasai. Sejumlah prestasi juga sudah ditorehkan.

Yang paling berkesan ketika menyabet juara pertama dalam Popda (Pekan Olahraga Pelajar Daerah) Kalsel 2010. "Itu prestasi terbaik saya di loncat indah," ungkap mahasiswi semester tiga Jurusan Manajemen Uniska (Universitas Islam Kalimantan) Banjarmasin itu.

Lalu, mengapa Ina memutuskan loncat ke gulat? Jawabannya singkat, akibat bosan. Kompetisi loncat indah jarang digelar. Ina melewati hari-harinya dengan latihan dan latihan tanpa kabar kompetisi. "Lama-lama bosan juga, pelatih menyuruh latihan terus, tapi kejuaraannya kapan," imbuhnya.

Dilanda rasa jenuh, diam-diam Ina melirik gulat yang ditekuni kakaknya, Munirah. Munirah salah seorang pegulat putri andalan Kalsel di kelas bebas 69 kilogram. Bermula dari kebiasaan menonton sang kakak bertanding. "Tiga bulan sekali ada pertandingan gulat. Saya jadi iri, jadwal kompetisi gulat lebih padat dibanding loncat indah," tukasnya.

Ina lantas curhat kepada Munirah, mengutarakan niat untuk berpindah cabor. "Ketika bilang mau pindah ke gulat, kakak cemberut. Mungkin takut tersaingi. Apalagi tersaingi oleh adiknya sendiri," kenangnya tersenyum.

Toh rasa kasih sayang Munirah lebih besar ketimbang egonya. Munirah lah yang menggandeng Ina ke tempat latihan. Memperkenalkan Ina pada pelatih dan sesama pegulat. Awal 2016, Ina resmi menyandang status atlet gulat putri Kalsel.

"Saya mulai dari nol lagi. Langsung terasa bedanya antara loncat indah dan gulat. Latihan pertama disuruh pelatih angkat barbel. Sorenya harus latihan lagi. Badan sakit semua serasa habis dipukuli," kisahnya.

Baru dua bulan berlatih, Kejuaraan Provinsi Gulat 2016 dihelat di Banjarmasin. Sebagai pegulat baru, Ina tahu diri. Ia bertekad duduk manis sebagai penonton, takkan mengajukan diri untuk bertanding. Namun, alur cerita berubah cepat. Berawal dari tawaran memperkuat tim gulat Kabupaten Balangan yang sedang kekurangan pegulat putri. "Antara ragu dan pengen, saya ambil saja tawaran itu," ujarnya.

Tak disangka, Ina tampil cemerlang dalam debutnya. Satu medali emas ia sabet dari gaya bebas kelas 60 kilogram putri. Disusul emas dari Porprov (Pekan Olahraga Provinsi) X Kalsel 2017 di Kabupaten Tabalong, September kemarin. Di final Ina mengalahkan Risnawati, pegulat asal Kabupaten Tanah Bumbu.

"Ternyata gulat tidak seseram yang saya bayangkan. Saya sadar punya kemampuan menjadi pegulat andal. Saya juga makin yakin dengan masa depan di gulat," bebernya.

Sekarang, putri dari pasangan Sarwani dan Raudah itu sedang menyiapkan diri menghadapi Pra Kualifikasi PON (Pekan Olahraga Nasional) tahun depan. Targetnya lolos kualifikasi dan bisa membela Kalsel dalam PON XX 2020 di Papua. "Saya ingin meraih emas di Papua," pungkasnya mantap.

Lalu, bagaimana dengan komentar Munirah? "Saya tidak merasa tersaingi. Sebaliknya saya bangga punya adik juara gulat. Mungkin nanti kami bisa menyandingkan gelar," ujarnya.

Sedangkan pelatihnya, Syafri mengakui Ina berkembang pesat dalam waktu singkat. "Dia punya elastisitas bagus, mungkin hasil latihan loncat indah dulu. Tinggal menambah jam pertandingan saja lagi," ujarnya.

Lama bergelut di cabor lain dan telat berpindah ke gulat sebenarnya bukan kisah Ina seorang. Syafri menyebut nama lain, Muhammad Risqa Adam Wibowo. Dengan berat 85 kilogram dan tinggi 170 sentimeter, banyak yang menyebut Adam terlahir sebagai pegulat.

Namun, tak banyak yang tahu jika Adam sebelumnya menggeluti dua cabor berbeda. Yakni loncat indah dan angkat berat. Sayangnya Adam tak banyak menorehkan prestasi pada kedua cabor tersebut.

Adam yang kini berusia 28 tahun memang lahir dari keluarga atlet. Ibunya, Dwi Mariastuti adalah pelatih loncat indah Kalsel. Sedangkan ayahnya, Muhammad Rohma adalah mantan atlet renang yang kemudian menekuni binaraga. Jangan lupakan kedua adiknya, Muhammad Dimas Aryo Wibowo dan Siti Kinasih yang tercatat sebagai atlet gulat dan loncat indah junior Kalsel.

Oleh sang ibu, Adam kecil dilatih menjadi atlet loncat indah. Segala menu latihan dan motivasi telah Dwi curahkan. Hingga mentok karena Adam tak juga mampu meloncat seindah harapannya.

Ketika Adam menginjak bangku SMA, badannya juga makin bongsor dan berotot, mengikuti fisik sang ayah. Sadar tak bisa dipaksakan, Dwi memindahkan anaknya ke cabor angkat berat. Lagi-lagi Adam latihan dengan setengah hati. Ia malas-malasan ketika disuruh mengangkat barbel.

Tak sampai setahun, Adam menyerah. Meminta izin untuk berhenti dari latihan angkat berat. Tanpa latihan fisik, tubuh Adam kian melar. Dwi pun kesal dibuatnya. Penyelamat bakat tersembunyi Adam adalah Ridwan, tokoh gulat Kalsel yang menyarankannya mencoba olahraga gulat.

Walaupun masih ogah-ogahan ketika diajak latihan fisik seperti lari dan angkat barbel, Adam ternyata jago ketika berduel. Ditandingkan dengan pegulat yang telah lama latihan sekalipun, Adam mampu mengimbangi. "Tak sulit mengajari Adam soal kuncian dan bantingan. Adam terbantu bobotnya yang memang sudah kelas berat," kata Syafri.

Sang ibu tersadar, anak sulungnya lebih menyenangi gulat. Dwi akhirnya ikhlas melepas sang anak ke dunia gulat. "Di gulat saya merasa lebih bebas. Berbeda dengan latihan loncat indah atau angkat berat yang sangat menuntut kesempurnaan gerakan,” ujar Adam.

Tak menunggu lama, baru tiga bulan latihan, Adam sudah dipercaya mengikuti kejuaraan gulat di level lokal dan internasional. Ia mewakili Indonesia pada Kejuaraan Gulat Junior 2009 di Filippina. "Saya main di kelas bebas 85 kilogram dan dapat peringkat empat. Lumayan buat pemula,” kenangnya.

Menyadari inilah cabor yang selama ini ia cari-cari, Adam terus mengasah kemampuan teknik dan melatih ketahanan fisiknya. Hadiahnya berupa emas perdana dari Kejurnas Gulat Terbuka 2014 di Jawa Barat. Disusul medali emas dari Kejurnas Gulat Senior 2015 di Jakarta dan Pra Kualifikasi PON 2015 di Malang.

Ditambah medali perunggu, berturut-turut dari PON XVIII 2012 Riau dan PON XIX 2016 Jabar. Terbaru, ia kembali meraih perunggu dari Kejurnas Gulat Senior, tes even Asian Games 2017 di Jakarta.

Prestasi itu pula yang membuka pintu dunia kerja bagi Adam. Ia direkrut Pemprov Kalsel sebagai personil Satpol PP. Sekarang, Adam menargetkan tampil di PON 2020. “Saya bakal latihan keras demi menyabet emas di Papua,” tegasnya.

Faktor lain yang mendongkrak prestasi Adam adalah suasana kekeluargaan Tim Gulat Kalsel. "Saya merasakan eratnya tali persaudaraan di sini. Saya belajar banyak dengan pelatih dan senior, tak cuma soal gulat, tapi juga kehidupan. Tim ini keluarga besar kedua saya setelah keluarga di rumah,” paparnya.

Adam kini sedang menantikan kelahiran anak pertamanya. Buah pernikahan dengan Nina Megasari. Nina mengaku terus mendoakan suaminya dalam arena gulat. Hanya satu kebiasaan yang kerap ia keluhkan dari sang suami. “Adam kalau sudah main game di smartphone suka lupa waktu,” ujar Nina yang sedang hamil delapan bulan. (oza/rvn/bir/ay/ran)


BACA JUGA

Rabu, 23 Mei 2018 14:59

Menengok Jumat Kelabu Lewat Kliping Koran

23 Mei 1997. Setelah salat Jumat, Tajuddin hendak menuju Lapangan Kamboja. Mengikuti puncak kampanye…

Minggu, 13 Mei 2018 05:50

Surat Terakhir Erik Petersen Pria Keturunan Bangsa Viking di Banua Anyar

Erik Petersen adalah keturunan Bangsa Viking. Yang memilih meninggal dunia di Banua Anyar. Warisan Erik,…

Kamis, 10 Mei 2018 18:57

Kisah Nelayan Pulau Laut yang Menolak Keras Pertambangan

Sama seperti hari cerah lainnya, Ari si pemancing ikan gabus, beberapa hari lalu dapat puluhan kilogram…

Selasa, 08 Mei 2018 13:36

Bukan Sibuk Main Mobile Legends, Bocah ini Malah Asik Koleksi Perangko

Kecil-kecil, berani tampil beda. Itulah Muhammad Fahriza. Hobinya tak biasa. Jika anak seusianya sibuk…

Senin, 07 Mei 2018 14:17

Mengunjungi Pasar Kajut Edisi ke-IV, Menjual Apa Saja yang Penting Keren

Orang Indonesia mengenal Pasar Kaget. Anak muda Banjarmasin mengenal Pasar Kajut. Inilah wadah banyak…

Sabtu, 05 Mei 2018 19:41

Curahan Lirih dari Pulau Laut: "Mau Tinggal di Mana Kami"

Aksi menolak penambangan batubara di Pulau Laut, Kotabaru, terus dilancarkan. Beragam cara dilakukan…

Sabtu, 05 Mei 2018 12:39

Kisah Mereka yang Ditolak Pulang dari Rumah Singgah Baiman

Rumah Singgah Baiman didirikan untuk menampung ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa), pengemis, gelandangan,…

Jumat, 04 Mei 2018 14:17

Mengintip Aktifitas Pelatih Karate Cantik di Banjarmasin

Helda Wahdini punya paras cantik. Tapi di balik kecantikannya orang tidak menduga kalau dia ternyata…

Kamis, 03 Mei 2018 12:27

Eter Nabiring, Penjaga Adat dan Tradisi Suku Dayak Halong

Gelisah akan kemajuan zaman yang menggerus kearifan lokal dan budaya warisan nenek moyang, Eter Nabiring,…

Kamis, 03 Mei 2018 12:03

Hardiknas Berbarengan dengan USBN SLB

Ricky Joevani begitu pendiam. Saat diwawancara, dia lebih banyak mengangguk dan tersenyum. Sesekali…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .