MANAGED BY:
RABU
16 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 15 Desember 2017 15:23
Setengah Hari di Hutan Mangrove Langadai Kelumpang Hilir Kotabaru

Bermain Sumpit Setelah Mengarungi Laut

MAIN SUMPIT: Wartawan lokal di Kotabaru asyik memainkan sumpit, senjata tradisional suku Dayak di Hutan Mangrove Desa Langadai sambil mengenakan pakaian adat yang disediakan warga.

PROKAL.CO, Tombak ulin yang tengahnya berlubang mereka angkat ke depan wajah. Kemudian mereka tiup pangkalnya, wuuuus..., melesat mata sumpit tajam menancap dalam ke sasaran.

------------------------------------------------

Zalyan Shodiqin Abdi, Langadai

------------------------------------------------

Kamis (14/12) pagi kemarin belasan wartawan yang bertugas di Kabupaten Kotabaru berangkat ke Desa Langadai Kecamatan Kelumpang Hilir. Menggunakan tiga buah speedboat kecil dari pusat kota.

Sekitar pukul 08.00 speedboat berangkat dari Pulau Laut ke Pulau Kalimantan, memotong selat. Sekitar sepuluh menit, speedboat sampai ke muara Desa Langadai. Operator memelankan laju speedboat karena alur laut yang menyempit dan banyak pemancing lokal berlabuh dengan sampan kecil mereka.

Kanan dan kiri rimbun pepohonan bakau. Sekitar sepuluh lima belas menit menyusuri muara, kami pun tiba di dermaga desa. Di dermaga terlihat Kades Langadai Punding, dan beberapa petinggi PT Indocement Tunggal Prakasa (ITP) Tarjun.

Desa Langadai tampak sepi. Rumah warga berjejer dekat dermaga. Agak ke tengah ada Kantor Desa. Kami kemudian diajak Kepala Desa dan petinggi ITP menuju Hutan Mangrove, objek wisata bakau.

Tidak jauh ternyata, berjalan kaki sekitar sepuluh menit melalui jembatan atau titian yang disemen lantainya, sampai kami Hutan Mangrove. Ada apa di sana? Semuanya pohon bakau, tumbuh menjulang.

Bergantian pihak desa dan perusahaan menjelaskan objek wisata Hutan Mangrove. Bahwa wisata itu meraih penghargaan di kalangan perusahaan sekala nasional. Dan lain-lainnya.

Namun bagi penulis yang terbiasa memancing di pesisir bakau, pemandangan Hutan Mangrove di Langadai tidak ada yang khusus. Sama saja dengan hutan bakau yang lain. Bahkan di sana tidak ada terlihat adanya hewan yang biasa ada di bakau, misalnya bekantan atau lainnya.

"Tapi orang luar negeri sudah ada ke sini, mereka suka. Bagi kita mungkin biasa, tapi bagi orang Jakarta atau yang belum pernah, hutan bakau ini kata mereka tenang dan segar," ujar Asisten GM PT ITP Agus Erfien.

Hal senada juga disampaikan SSECSR Dept Head PT ITP Teguh Iman Basoeki. "Tahun ini tadi dari catatan kami sudah ada dua ribuan wisatawan ke sini," ujarnya. Wisatawan itu kata Teguh sebagian berasal dari jaringan perusahaan.

Penulis pun memberikan saran kepada desa dan perusahaan, bahwa Hutan Mangrove mesti memiliki daya tarik jika ingin menggaet wisatawan secara maksimal. Seperti misalnya melakukan pengembangan budidaya madu hutan mangrove, atau kegiatan lainnya, sehingga wisatawan tidak hanya melihat hamparan pohon bakau.

"Makanya kami undang rekan-rekan wartawan agar kita bisa dialog mengembangkan kawasan ini. Sekarang juga ada paket naik sepeda keliling hutan, ini digagas Agus Erfien karena dia suka gowes," kata CSR Section Head Nor Imansyah.

Namun pihak desa juga kemudian mengakui kendala mendatangkan wisatawan adalah transportasi. Jika lewat darat memang terbilang jauh dari pusat kota. Yang paling efisien adalah layanan speedboat, hanya saja harganya yang lumayan menguras kantong jika sekadar hanya untuk melihat hutan bakau.

Jelang tengah hari, Kades Langadai Punding kemudian mengeluarkan beberapa pakaian adat dari dalam plastik. Juga ada dua buah tombak ulin sepanjang dua meter. Tombak itu berlubang bagian tengahnya. "Ini namanya sumpit, senjata khas suku Dayak Kalimantan," jelas Punding sembari mengeluarkan beberapa mata sumpit yang terbuat dari bambu tajam.

Untuk apa sumpit dan pakaian adat itu? Kata Punding itu adalah paket terbaru. Pengunjung hutan bakau, akan diberikan fasilitas tersebut untuk merasakan sensasi bermain sumpit di dalam hutan.

Penasaran, beberapa wartawan termasuk penulis kemudian memakai baju adat, dan secara bergantian memakai sumpit. Berat ternyata, karena tombak yang jadi media utama senjata sumpit terbuat dari kayu ulin.

Di depan sudah disediakan papan yang ditempeli gabus, sebagai target sasaran. Benar saja, dengan sekali tiup mata sumpit di dalam tombak melayang cepat dan menancap dalam ke papan gabus. Sekadar gambaran, jarak penyumpit ke papan target sekitar empat sampai lima meter.

Pengalaman memakai sumpit suku Dayak di hutan bakau ternyata menimbulkan rasa ketagihan. Para wartawan berebut, karena baju adat hanya ada tiga dan senjata sumpit hanya dua buah. "Kalau yang ahli, itu bisa membidik dari jarak jauh sekali," kata Ardiansyah, wartawan lokal di Kotabaru.

Sayangnya dalam aksi bermain sumpit itu tidak ada warga asli suku Dayak di sana. Tidak ada juga ahli yang bisa menjelaskan, apa itu sumpit dan bagaimana cara pemakaian yang benar. Jadi hanya sekadar hiburan saja.

Usai bermain sumpit kami pun makan bersama di tengah hutan. Makanan khas pesisir, ada kepiting udang dan lainnya. Sebelum Zuhur acara selesai, para wartawan pun kembali ke dermaga desa untuk kembali ke kota.

Perjalanan pulang lebih lambat, karena angin sudah bertiup kencang membuat speedboat ukuran kecil harus meliuk-liuk dihantam gelombang. Beberapa kali air laut masuk ke dalam speedboat yang penulis tumpangi.

Mendekati Pulau Laut, jelas terlihat hamparan hutan bakau di beberapa daerah. Bakau memang pemandangan umum di pesisir Kabupaten Kotabaru, bukan saja sebagai habitat ikan juga batangnya sering ditebang warga untuk berbagai keperluan.

Menjadikan hutan bakau sebagai objek wisata populer sepertinya pilihan yang tidak mudah. Karena objek wisata pantai, danau dan pegunungan menawarkan kemudahan akses dan fasilitas yang lebih beragam. Tapi bagi yang ingin menghirup oksigen segar di pesisir, serta berteman nyanyian serangga laut atau jika beruntung bertemu sarang madu hutan, bakau mungkin bisa jadi pilihan. (by/ram)


BACA JUGA

Selasa, 15 Januari 2019 12:33

Buana Mistik, Komunitas Penguak Mitos dan Hal Gaib di Banjarbaru

Kalau kebanyakan orang takut ditemui makhluk gaib. Orang-orang di komunitas…

Sabtu, 12 Januari 2019 12:50

Linda Wahyuni, Siswi SMAN 1 Pelaihari Berhasil Lolos ke LIDA 2019

Linda Wahyuni (16), gadis asal Kota Pelaihari ini, berhasil meraih…

Sabtu, 05 Januari 2019 11:31

Lappenka, Grup Band yang Beranggotakan Penghuni Lapas Banjarbaru

Lappenka selalu tampil enerjik. Lagu-lagu all genre dibabat habis. Namun…

Rabu, 02 Januari 2019 14:01

Maskot Legenda Rakyat

Kotabaru memang sudah lama menjadikan ikan todak sebagai maskot. Todak…

Rabu, 02 Januari 2019 10:35

Menelusuri Jejak Monumen Perang Banjar

Jika Anda rajin mengulik arsip foto Banjarmasin tempo dulu di…

Senin, 31 Desember 2018 09:28

Sepi Pengunjung, Pengelola Danau Seran Tiadakan Acara Malam Tahun Baru

BANJARBARU - Masyarakat Kota Banjarbaru kali ini tidak bisa lagi…

Minggu, 30 Desember 2018 10:55

Ibnu Pre Order 300 Keping Album Kedua JEF (2)

PELUNCURAN album Gawi Manuntung dihadiri tamu spesial. Wali Kota Banjarmasin,…

Minggu, 30 Desember 2018 10:50

Album Kedua JEF Lebih Dewasa dan Kritis (1)

JEF Band meluncurkan album baru, Gawi Manuntung. Seratus persen keuntungan…

Rabu, 26 Desember 2018 13:22

Sejarah Kerukunan Beragama Dibalik Berdirinya GKE di Banjarmasin

Sebagai gereja tua di Kalimantan, Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) menyimpan…

Senin, 24 Desember 2018 10:32

Pebiola Cilik Fellycia Sita Perhatian Pengunjung Siring Pierre Tendean

Ada yang tak biasa Siring Pierre Tendean, kemarin (23/12) sore.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*