MANAGED BY:
SELASA
24 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Jumat, 15 Desember 2017 15:23
Setengah Hari di Hutan Mangrove Langadai Kelumpang Hilir Kotabaru

Bermain Sumpit Setelah Mengarungi Laut

MAIN SUMPIT: Wartawan lokal di Kotabaru asyik memainkan sumpit, senjata tradisional suku Dayak di Hutan Mangrove Desa Langadai sambil mengenakan pakaian adat yang disediakan warga.

PROKAL.CO, Tombak ulin yang tengahnya berlubang mereka angkat ke depan wajah. Kemudian mereka tiup pangkalnya, wuuuus..., melesat mata sumpit tajam menancap dalam ke sasaran.

------------------------------------------------

Zalyan Shodiqin Abdi, Langadai

------------------------------------------------

Kamis (14/12) pagi kemarin belasan wartawan yang bertugas di Kabupaten Kotabaru berangkat ke Desa Langadai Kecamatan Kelumpang Hilir. Menggunakan tiga buah speedboat kecil dari pusat kota.

Sekitar pukul 08.00 speedboat berangkat dari Pulau Laut ke Pulau Kalimantan, memotong selat. Sekitar sepuluh menit, speedboat sampai ke muara Desa Langadai. Operator memelankan laju speedboat karena alur laut yang menyempit dan banyak pemancing lokal berlabuh dengan sampan kecil mereka.

Kanan dan kiri rimbun pepohonan bakau. Sekitar sepuluh lima belas menit menyusuri muara, kami pun tiba di dermaga desa. Di dermaga terlihat Kades Langadai Punding, dan beberapa petinggi PT Indocement Tunggal Prakasa (ITP) Tarjun.

Desa Langadai tampak sepi. Rumah warga berjejer dekat dermaga. Agak ke tengah ada Kantor Desa. Kami kemudian diajak Kepala Desa dan petinggi ITP menuju Hutan Mangrove, objek wisata bakau.

Tidak jauh ternyata, berjalan kaki sekitar sepuluh menit melalui jembatan atau titian yang disemen lantainya, sampai kami Hutan Mangrove. Ada apa di sana? Semuanya pohon bakau, tumbuh menjulang.

Bergantian pihak desa dan perusahaan menjelaskan objek wisata Hutan Mangrove. Bahwa wisata itu meraih penghargaan di kalangan perusahaan sekala nasional. Dan lain-lainnya.

Namun bagi penulis yang terbiasa memancing di pesisir bakau, pemandangan Hutan Mangrove di Langadai tidak ada yang khusus. Sama saja dengan hutan bakau yang lain. Bahkan di sana tidak ada terlihat adanya hewan yang biasa ada di bakau, misalnya bekantan atau lainnya.

"Tapi orang luar negeri sudah ada ke sini, mereka suka. Bagi kita mungkin biasa, tapi bagi orang Jakarta atau yang belum pernah, hutan bakau ini kata mereka tenang dan segar," ujar Asisten GM PT ITP Agus Erfien.

Hal senada juga disampaikan SSECSR Dept Head PT ITP Teguh Iman Basoeki. "Tahun ini tadi dari catatan kami sudah ada dua ribuan wisatawan ke sini," ujarnya. Wisatawan itu kata Teguh sebagian berasal dari jaringan perusahaan.

Penulis pun memberikan saran kepada desa dan perusahaan, bahwa Hutan Mangrove mesti memiliki daya tarik jika ingin menggaet wisatawan secara maksimal. Seperti misalnya melakukan pengembangan budidaya madu hutan mangrove, atau kegiatan lainnya, sehingga wisatawan tidak hanya melihat hamparan pohon bakau.

"Makanya kami undang rekan-rekan wartawan agar kita bisa dialog mengembangkan kawasan ini. Sekarang juga ada paket naik sepeda keliling hutan, ini digagas Agus Erfien karena dia suka gowes," kata CSR Section Head Nor Imansyah.

Namun pihak desa juga kemudian mengakui kendala mendatangkan wisatawan adalah transportasi. Jika lewat darat memang terbilang jauh dari pusat kota. Yang paling efisien adalah layanan speedboat, hanya saja harganya yang lumayan menguras kantong jika sekadar hanya untuk melihat hutan bakau.

Jelang tengah hari, Kades Langadai Punding kemudian mengeluarkan beberapa pakaian adat dari dalam plastik. Juga ada dua buah tombak ulin sepanjang dua meter. Tombak itu berlubang bagian tengahnya. "Ini namanya sumpit, senjata khas suku Dayak Kalimantan," jelas Punding sembari mengeluarkan beberapa mata sumpit yang terbuat dari bambu tajam.

Untuk apa sumpit dan pakaian adat itu? Kata Punding itu adalah paket terbaru. Pengunjung hutan bakau, akan diberikan fasilitas tersebut untuk merasakan sensasi bermain sumpit di dalam hutan.

Penasaran, beberapa wartawan termasuk penulis kemudian memakai baju adat, dan secara bergantian memakai sumpit. Berat ternyata, karena tombak yang jadi media utama senjata sumpit terbuat dari kayu ulin.

Di depan sudah disediakan papan yang ditempeli gabus, sebagai target sasaran. Benar saja, dengan sekali tiup mata sumpit di dalam tombak melayang cepat dan menancap dalam ke papan gabus. Sekadar gambaran, jarak penyumpit ke papan target sekitar empat sampai lima meter.

Pengalaman memakai sumpit suku Dayak di hutan bakau ternyata menimbulkan rasa ketagihan. Para wartawan berebut, karena baju adat hanya ada tiga dan senjata sumpit hanya dua buah. "Kalau yang ahli, itu bisa membidik dari jarak jauh sekali," kata Ardiansyah, wartawan lokal di Kotabaru.

Sayangnya dalam aksi bermain sumpit itu tidak ada warga asli suku Dayak di sana. Tidak ada juga ahli yang bisa menjelaskan, apa itu sumpit dan bagaimana cara pemakaian yang benar. Jadi hanya sekadar hiburan saja.

Usai bermain sumpit kami pun makan bersama di tengah hutan. Makanan khas pesisir, ada kepiting udang dan lainnya. Sebelum Zuhur acara selesai, para wartawan pun kembali ke dermaga desa untuk kembali ke kota.

Perjalanan pulang lebih lambat, karena angin sudah bertiup kencang membuat speedboat ukuran kecil harus meliuk-liuk dihantam gelombang. Beberapa kali air laut masuk ke dalam speedboat yang penulis tumpangi.

Mendekati Pulau Laut, jelas terlihat hamparan hutan bakau di beberapa daerah. Bakau memang pemandangan umum di pesisir Kabupaten Kotabaru, bukan saja sebagai habitat ikan juga batangnya sering ditebang warga untuk berbagai keperluan.

Menjadikan hutan bakau sebagai objek wisata populer sepertinya pilihan yang tidak mudah. Karena objek wisata pantai, danau dan pegunungan menawarkan kemudahan akses dan fasilitas yang lebih beragam. Tapi bagi yang ingin menghirup oksigen segar di pesisir, serta berteman nyanyian serangga laut atau jika beruntung bertemu sarang madu hutan, bakau mungkin bisa jadi pilihan. (by/ram)


BACA JUGA

Senin, 23 April 2018 14:47

Hari Pertama Penyerahan Berkas Dukungan Calon Anggota DPD RI Asal Kalsel

Membawa tiga kotak besar, Habib Hamid Abdullah melangkah pasti ke sekretariat KPU Kalsel, Minggu (22/4)…

Senin, 23 April 2018 13:15
Dita Lestari

Hobi Bermusik, Tugas Tetap Oke

Musik is my life. Ungkapan bahasa Inggris itu pas ditujukan pada Dita Lestari. Polwan berpangkat Brigadir…

Sabtu, 21 April 2018 11:58

Jasa Ojek Online Khusus Perempuan di Banjarmasin ini Banjir Orderan

Nafisah boleh dibilang perempuan zaman now. Yang mampu mandiri mencari pendapatan sendiri. Menggunakan…

Sabtu, 21 April 2018 11:48

Norsinah, Kartini dari Pasar Harum Manis

Tahun 1987, Norsinah mengikuti tes PNS dan gagal. Toh, semangatnya mengajar tak pernah surut. Dengan…

Rabu, 18 April 2018 14:33

HEBAT, Petani di Tapin Berhasil Tanam Padi di Lahan Bekas Tambang

Lahan bekas tambang selalu menjadi permasalahan karena tak produktif.Tapi di Tapin, ada yang berhasil…

Selasa, 17 April 2018 15:17
Kisah Penyiar Cantik RTMC Polda Kalsel

Pilih Jadi Polisi Ketimbang Pramugari

Cantik, tangguh dan berdedikasi tinggi. Itu tercermin dari polwan yang satu ini. Namanya Dharma Setiawati.…

Senin, 16 April 2018 14:26

Suci Paradita Sari, Anggota Satgas Kamtib LP Teluk Dalam

Petugas lembaga pemasyarakatan (lapas) tak melulu pria. Perempuan juga ada. Salah satunya, Suci Paradita…

Sabtu, 14 April 2018 11:48

Ikan Melimpah di Pesisir Pulau Laut, Tapi Nelayan tak Kunjung Kaya

Pesisir Pulau Laut memang kaya ikan. Tiga jam saja merengge, nelayan di Desa Semaras bisa menangkap…

Jumat, 13 April 2018 13:11

Perjuangan Heri Hadi Saputra Keliling Dagang Sule

Heri Hadi Saputra dulu berprofesi sebagai ojek. Penghasilannya pas-pasan. Sekarang pria berusia 38 tahun…

Kamis, 12 April 2018 14:45

Mantan Gubernur Kalsel Terpesona Keindahan Desa Kiram

MANTAN Gubernur Kalimantan Selatan, HM Said, terpesona ketika berkunjung ke Desa Kiram, Kecamatan Karang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .