MANAGED BY:
SELASA
20 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 23 Desember 2017 16:05
Menembus "Jalur Neraka" di Pesisir Kotabaru

Jalan Berkubang Lumpur, Bertahun-tahun Tak Pernah Beres

BERJUANG: Sebuah mobil milik warga yang mengangkut sawit terjebak lumpur di jalan kabupaten, sekitar tiga kilometer dari pusat kota Kecamatan Sungai Durian. Foto Zalyan Shodiqin Abdi/Radar Banjarmasin.

PROKAL.CO, Pelajar dan ibu guru hamil di pelosok Kotabaru harus berjuang melalui kubangan lumpur ke sekolah. Inilah perjalanan Radar Banjarmasin menembus "jalur neraka", ambil risiko berkendara di jalan tambang (hauling) karena jalan kabupaten tidak bisa dilalui.

-----------------------------------------------

Zalyan Shodiqin Abdi, KOTABARU

-----------------------------------------------

Menggunakan sepeda motor trail pinjaman, Sabtu sore, tanggal 16 Desember, saya berangkat dari pusat kota ke Pelabuhan Fery Tanjung Serdang. Fery Tanjung Serdang ke Fery Batulicin (Tanah Bumbu) adalah salah satu akses utama dari Pulau Laut ke Pulau Kalimantan. Wilayah Kabupaten Kotabaru sebagian besar berada di Pulau Kalimantan, berbatasan dengan Kabupaten Tanah Bumbu, Kabupaten Banjar, Balangan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan dan Kabupaten Paser, Kaltim.
Di perjalanan sejauh kurang lebih 45 kilometer baru terasa kalau trail bukan motor santai. Tidak seperti yang saya bayangkan awalnya. Badan kaku, pantat terasa panas, mungkin karena sadelnya yang sempit. Setengah jam melaju di jalanan beraspal saya sampai ke Pelabuhan Fery, kebetulan sudah ada kapal yang mau berangkat. Di perjalanan menyeberang Selat Pulau Laut,  tiba-tiba hujan lebat dan angin kencang, kapal fery yang kami tumpangi sempat bergoyang. Lama di tengah laut, hampir satu jam setengah, normalnya setengah jam saja. Kapal antre di tengah laut untuk masuk pelabuhan.
Karena tiba di Pulau Kalimantan jelang senja, maka saya putuskan menginap di rumah keluarga. Kepada beberapa rekan sempat saya kisahkan kalau trail tidak enak dipakai lama, badan sakit-sakit. Kata mereka, memang seperti itu, karena trail didesain untuk jalan ekstrem, kendaraan itu kokoh dan kaku.

Minggu pagi, saya melanjutkan perjalanan. Tujuannya adalah Desa Pantai, Kecamatan Kelumpang Selatan. Kenapa ke sana?  Perjalanan ini selain melihat kondisi warga di pedalaman, juga menginvestigasi seperti apa dan bagaimana program pemerintah terhadap peningkatan infrastruktur jalan di pelosok. Karena visi misi peningkatan jalan sudah digaungkan sejak bupati-bupati terdahulu sampai sekarang. Sementara sudah sering viral di sosial media gambar parahnya jalan di Kotabaru, bahkan di pusat kota kecamatan.

Dari Tanah Bumbu, daerah Kotabaru yang pertama dimasuki adalah Desa Serongga Kecamatan Kelumpang Hilir. Akses ke Serongga cukup baik. Jalur ini merupakan jalan provinsi, jika terus maka akan sampai ke Kabupaten Paser Kaltim. Di Serongga saya sempat mampir ke bengkel, mengeluhkan kopling yang keras dan mesin sulit hidup.
Setelah perbaikan sederhana, ganti busi dan setel kopling, juga pelumasan rantai, perjalanan kembali dilanjutkan. Sepanjang jalan aspal saya berharap bahwa trail ini akan menunjukkan kehebatannya nanti di pelosok. Di perbatasan antara Kecamatan Kelumpang Hilir dan Kelumpang Hulu, tepatnya di Desa Plajau Baru saya berbelok ke kanan menuju pusat kota Kecamatan Kelumpang Selatan. Jaraknya di Google Map sekitar 30 kilometer.

Baru sekitar satu kilometer masuk ke arah Kelumpang Selatan akses sudah berubah total. Jalan aspal provinsi yang mulus tadi berganti dengan jalan kabupaten aspal berlubang. Masuk lagi, muncul tanah dengan batu-batu besarnya, aspal sudah hampir tidak terlihat. Dan di ujung desa praktis aspal sudah tidak ada, yang ada hanya tanah dengan batu-batu besar. Di kiri kanan luas hamparan kebun kelapa sawit. Sekali dua saya berpapasan dengan truk bermuatan penuh buah penghasil minyak goreng itu.

Dan benar saja, trail dapat melaju normal di jalan rusak itu. Saya hanya goyang-goyang di atas jok, tapi kendaraan tidak oleng menghantam batu-batu jalan. Praktis saya banyak mendahului pengendara-pengendara yang memakai motor matic atau bebek. Tapi kemudian saya sadar keunggulan trail itu justru sangat menguras tenaga pengendara dan penumpangnya.

Sekitar satu jam di atas kuda besi, saya tiba di dekat pusat kota kecamatan. Di muka kota terlihat beberapa alat berat sedang bekerja. Jalan sudah rata dan dihampari bebatuan, di sini saya sudah bisa menarik tali gas agak dalam. Masuk ke pusat kota terlihat truk mixer sedang menuang semen ke bahu jalan.

Di papan nama proyek, tertulis pekerjaan berasal dari anggaran Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kotabaru. Kontraktornya adalah PT Tanama Abdi Putra dengan nilai proyek Rp5,4 miliar. Pekerjaan dimulai pada 22 Agustus dan berakhir 19 Desember. Dari pengamatan saya saat itu proyek ini tidak selesai tetap 19 Desember, karena masih ada pengaspalan yang belum dilakukan.
"Tinggal diaspal yang sisanya itu. Kalau cor ini paling besok selesai," ucap pekerja di lapangan ketika ditanya.

Saya kemudian memperhatikan detail pekerjaan jalan. Normal sepertinya. Alat yang dipakai lengkap. Rata-rata warga saat ditanya berharap pekerjaan jalan bisa diselesaikan, meski panjang jalan yang diperbaiki sedikit. Setidaknya, kata warga, itu sudah cukup mengobati kerinduan warga menikmati jalan yang layak.
Waktu itu sudah hampir Ashar, saya memutuskan kembali ke luar untuk menuju pelosok lainnya. Target awalnya adalah Kecamatan Hampang, berbatasan dengan Kabupaten Banjar, Tanah Bumbu, Balangan dan Hulu Sungai Tengah. Namun, saat tiba di jalan provinsi, saya berubah pikiran untuk meneruskan perjalanan ke Tanjung Samalantakan, Kecamatan Pamukan Selatan. Hampang bisa menyusul sepulang dari Tanjung.

Jarak Kelumpang Selatan ke Tanjung Samalantakan sekitar 150 kilometer. Jika berkendara dengan kecepatan rata-rata 50 kilometer per jam, mestinya saya sampai di Tanjung sebelum Magrib.
Perjalanan melalui jalan provinsi lancar. Sampai di  Kecamatan Kelumpang Barat sekitar pukul 17.40, saya mengambil arah ke kanan, masuk ke Desa Siayuh. Titik ini sekitar 71 kilometer dari Kelumpang Selatan. Artinya hampir separuh jalan menuju Tanjung Samalantakan.

Siayuh punya cerita sendiri. Seperti sudah diberitakan Radar Banjarmasin, tahun 2014 lalu, Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kotabaru melakukan peningkatan jalan di Siayuh dengan nilai Rp8,1 miliar. Tender ini dimenangkan PT Pilar Induk Siliarga dengan nilai tawar Rp7,6 miliar. Di tangan penyidik Polda Kalsel, proyek ini kemudian terbukti korup dengan melibatkan para pejabat di Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kotabaru saat itu.

Melihat jalan Siayuh, memang jelas bahwa pekerjaannya tidak beres. Betonisasi jalannya tidak berkualitas. Semakin ke dalam semakin parah, lapisan semen sangat tipis, mata awam pun bisa menilai kualitas kerjanya. Teramat disayangkan, karena akses Siayuh vital bagi warga pedalaman mengangkut hasil kebun atau laut mereka.

Berhubung langit mulai gelap, saya agak mempercepat laju kendaraan. Tapi ternyata tidak bisa. Jalan Siayuh juga berlubang menganga pada beberapa ruas, bahkan ada yang berlumpur meski masih mudah dilalui trail. Sesekali saya berpapasan dengan kendaraan roda empat jenis city car dan minibus. Mobil-mobil berjalan sangat lambat menghindari lubang-lubang. Entah sudah berapa jam mereka di jalan, wajah sopirnya lelah dan kusut. Sepertinya mereka lebih tersiksa daripada saya.

Terus saya masuk ke dalam. Lepas Desa Siayuh memasuki hamparan kebun kelapa sawit. Jelang Isya sampai kami di sebuah pemukiman transmigrasi. Karena sudah gelap dan bingung arah, sementara Google Map tidak berfungsi kehilangan jaringan internet, saya pun mampir ke sebuah rumah yang di depannya banyak pria dewasa sibuk menaikkan sawit ke bak belakang truk.

Mendengar tujuan saya ingin ke Tanjung Samalantakan, mereka kaget. Alasannya hari sudah gelap, dan bagi yang pertama ke sana berpeluang sesat di dalam kebun sawit. Apa pasal? Jalan kabupaten dan jalan perusahaan sawit tidak dapat dibedakan. Mendengar itu saya pun kecut.

Tanjung Samalantakan bukan daerah asing bagi saya. Pernah sekolah di sana sewaktu kanak-kanak. Sampai sekarang masih menjalin komunikasi dengan teman SD. Husna, salah satu teman yang berhasil saya kontak kemudian memberikan nomor sahabatnya yang sudah sering melalui jalan sawit. "Lewatin saja jalan yang banyak bekas bannya, nanti tembus ke jalan hauling arah Geronggang, tapi kamu ambil yang ke Simpang Lima. Nanti di sana telepon lagi aku atau tanya orang di sana," ujar Ulis, pria teman sahabat saya Husna di sambungan telepon.

Sebenarnya ragu malam itu langsung ke Tanjung, tapi perut lapar dan haus serta ingin cepat rebahan membuat saya nekat. Ikuti jalan yang banyak bekas ban. Mudah sepertinya. Awalnya memang terasa mudah, namun makin ke dalam terlihat keputusan saya itu sangat berisiko. Tidak bertemu orang di jalan yang kanan dan kirinya menjulang kelapa sawit. Tambah pula, jalan mulai parah, lumpur dalam dan berkubang.
Jika bertemu simpangan, maka saya ambil yang jalannya paling parah, paling banyak bekas bannya, tapi itu justru menimbulkan keraguan, apa benar ini jalannya, mengapa parah begini, jangan-jangan bukan ini, bagaimana kalau ban bocor dan kekhawatiran lainnya.
Jalan terus, entah berapa lama, yang ada hanya kecemasan semakin menggumpal. Di salah satu persimpangan jalan, terlihat ada cahaya lampu sekilas. Tanpa pikir panjang saya kejar cahaya itu, tapi dia tiba-tiba hilang entah ke mana. Sekali itu saya menjadi tidak berdaya, karena merasa benar-benar sudah tersesat. Tidak ada pilihan selain menunggu ada orang lewat.

Namun sebelum putus asa, cahaya lampu terlihat lagi di depan. Kecil dan putih. Tapi anehnya hilang lagi. Karena sudah tahu keberadaan cahaya itu, saya tancap gas, tidak peduli dengan jalan berlubang. Trail memang mumpuni urusan begini. Setelah beberapa jauh, saya pelankan gas, dan di ujung sorot cahaya lampu trail seorang lelaki tua terlihat seperti mencari-cari sesuatu ke arah semak. Blep, cahaya putih menyala dari tangannya, ternyata itu cahaya senter yang dia hidupkan dan matikan, seolah ingin menghemat daya baterainya.

Dengan senter di tangan mengarah ke tanah, saya bisa menebak dia sedang apa. "Cari kodok ya, Pak?" Dia langsung mengiyakan. Lalu saya tanya arah jalan ke Tanjung Samalantakan. Kata dia, terus saja, nanti ada pos sawit silakan tanya lagi di sana. Tapi setelah jalan terus, saya bukannya bertemu pos sawit, tapi jalan simpang tiga. Terus ke mana ini? Ke kanan atau ke kiri? Mana yang bekas bannya paling banyak? Semua sama. Kadung sesat, lelah, saya pun belok sekenanya malam itu.
Tapi akhirnya jumpa juga dengan pos sawit. Bukan pos sebenarnya, tapi sebuah perkantoran kelapa sawit milik Sinar Mas. Lampunya terang. Mungkin maksud orang tua pencari kodok tadi, bahwa jalan saja terus terserah nanti sampai ke pos, sepertinya belok kanan atau kiri di simpang tiga tadi tetap akan bertemu pos. Memang biasa di jalan sawit, banyak cabang tapi akan tiba ada ujung yang sama.

Dua orang pria penjaga pos keamanan menyambut kami, mempersilakan duduk di kursi. Setelah diceritakan, mereka pun menjelaskan arah ke Tanjung Samalantakan. Intinya kata mereka, saya harus masuk ke jalan hauling tambang batu bara milik PT Arutmin Indonesia di Kecamatan Kelumpang Tengah. Di jalan hauling ambil arah ke kiri, ke arah kebun sawit lagi, karena kalau ke kanan akan masuk ke Geronggang, ibukota Kelumpang Tengah.

"Saran saya kamu ke Geronggang saja dulu, pagi baru ke Tanjung supaya aman," ujar salah satu dari mereka. Mereka menjelaskan, sulit berkendara malam hari, karena jika masuk perkebunan sawit, maka akan banyak cabang jalan yang bisa membuat pengendara berputar-putar saja dalam kebun. Setelah cukup istirahat melemaskan pantat dan punggung, saya lanjutkan perjalanan.
Tidak lama, sampai ke jalan hauling. Di pinggir jalan ada sebuah warung kecil. Saya mampir dan menanyakan arah ke Tanjung dan bagaimana kondisinya. Sayangnya setelah ditanya, orang-orang di warung tidak terlalu mengerti kondisi ke Tanjung.

Ketika ingin ke Geronggang, sebuah kendaraan bebek dengan suara knalpot meraum dari arah bukit tiba di warung. Di atas motor dua orang pria dewasa berbadan besar celana pendek memakai sepatu bot tinggi. Kaki sampai tangan penuh lumpur. Mereka kemudian membeli solar satu jeriken isi 25 liter. "Dari mana ini," tanya saya. "Dari Tanjung," jawab seorang dari mereka.

Dan ternyata mereka akan kembali lagi ke Tanjung Samalantakan. Mereka mengatakan, membeli solar untuk perbaikan alat pengerjaan jalan di Tanjung Samalantakan. Waktu itu sekitar pukul  20.30. Kami pun sama-sama berangkat ke Tanjung melalui jalan hauling, jalan batu bara milik PT Arutmin Indonesia.

Dua orang yang membeli solar tadi sepertinya sudah hapal, mereka melaju menimbulkan debu tebal karena gesekan ban rimba dan tanah kering. Jalan haulingnya lebar, meski tidak mulus tapi lumayan daripada jalan sawit tadi.

Sayangnya di ujung kembali ada lumpur, bahkan lebih parah. Si pembeli solar sempat tidak mampu melalui salah satu alur bekas ban di lumpur, mereka berhenti di tengah-tengah lumpur, turun kemudian memilih balik untuk mengambil alur lumpur sebelah kanan jalan. "Salah jalan, ini dalam lumpurnya. Tidak sempat berhenti, soalnya tidak ada remnya kendaraan ini," teriak si pembeli solar yang memegang setang motor, sementara temannya di jok belakang hanya nyengir lebar.

Kami terus melanjutkan perjalanan, naik turun gunung. Si pembeli solar selalu memasang perseneling rendah ketika melambatkan laju motor, di belakang saya bisa melihat percikan api dari knalpotnya. Sekitar sejam sampai kami di Pamukan Selatan. Kami berbelok ke kanan masuk ke dalam perkebunan kelapa sawit lagi. Dan kemudian bertemu desa, kondisi jalan semakin parah. Di Desa Talusi sebuah truk membawa pasir terjengkang, salah satu bannya terangkat. Terlihat beberapa pria menumpahkan muatan truk ke tanah.

Kemudian kami juga bertemu ruas jalan yang putus, hanya ada papan dan kayu dipasang untuk lewat kendaraan. Saya mengeluh, ini jalan atau bukan, parah sekali. Semakin ke dalam jalan semakin parah. Di daerah transmigrasi banyak kami jumpai ruas jalan berkubang lumpur. Pembeli solar sudah jauh di depan kami, tidak terlihat lagi sejak di Talusi.

Di salah satu kawasan transmigrasi, di jalan lumpurnya kami bertemu lagi truk yang amblas. Malam, letih dan lapar bercampur dengan rasa jengkel melihat kondisi jalan di sana. Bagaimana warga di sana selama ini melakukan distribusi hasil perkebunan dan perikanan, bagaimana kalau ada sakit parah perlu dibawa ke kota?

Di sini saya beberapa kali jatuh. Mengangkat trail yang jatuh ke lumpur dalam kondisi letih sangat sulit. Akhirnya dengan sisa-sisa tenaga, sampai juga ke depan Desa Tanjung Samalantakan. Saya tahunya karena ada beberapa alat berat perbaikan jalan di sana, dan ada dua orang pria menjaganya. Kepada mereka saya sempat menanyakan berapa jauh lagi jarak ke Tanjung. "Dua kilometer lagi, tapi jalannya rusak semua. Lebih parah dari yang di belakang kamu lewati tadi," ucap salah satu dari mereka. Dia kemudian mengatakan, alat memperbaiki jalan rusak semua. "Makanya ini terbengkalai pekerjaan," katanya.

Setelah mengumpulkan tenaga saya lanjutkan, tinggal dua kilometer. Dekat sekali. Namun jarak dua kilometer itu seperti puluhan kilometer. Parah, sangat parah. Lumpur dalam di semua badan jalan, tidak ada pilihan. Saya tidak tahu harus ambil jalur mana, semua sama seperti kubangan kerbau di sawah.

Trail meraung-raung di perseneling satu. Mesinnya panas. Setelah setengah jam lebih, saya berhasil melalui jalur ekstrem itu. Sampai di Tanjung Samalantakan waktu sudah menunjukkan pukul 22.30. Bisa dibayangkan, jarak yang puluhan kilometer dari Siayuh, saya tempuh hampir setengah hari lamanya.

Tanjung sekarang masih sama dengan Tanjung yang dulu. Sepi dan tenang, khas desa pesisir. Bedanya, sekarang rumah tambah banyak dan juga ada berdiri beberapa bangunan sarang burung walet tinggi. Kabarnya, pengusaha sarang burung di sini sukses.

Di dermaga desa saya makan malam. Beruntung masih ada warung buka, menunya gado-gado sederhana. Saya makan berteman dengan lumpur di sepatu dan celana. Tidak banyak yang bisa masuk ke dalam perut, mungkin karena tegang otot-otot lambungnya. Usai makan, saya menanyakan tempat bermalam di sana, ternyata tidak ada penginapan di Tanjung. "Bermalam di sini saja," kata pemilik warung gado-gado. Tapi saya memutuskan tidur di emperan masjid dekat dermaga.

Sepanjang malam saya tidak bisa tidur barang sedetik. Pikiran melayang ke mana-mana. Ingat masa kecil, belasan tahun lalu, jalan masuk ke Tanjung dari arah transmigran masih mudah dilalui kendaraan roda dua, sangat berbeda dengan apa yang ada sekarang. Paginya, kami menuju dermaga, warung gado-gado sudah buka. Setelah minum segelas kopi dan sepotong kue khas suku Bugis, pisang berbalut tepung singkong dan taburan kelapa, saya berkendara sendiri ke arah jalan rusak di ujung desa.

Sekitar pukul 7 pagi tampak lewat pengendara. Pria paruh baya bersepatu bot tinggi membonceng gadis kecil. Ban kendaraan mereka merayap lambat. Kadang berhenti di tengah lumpur, menyeimbangkan kendaraan, baru jalan lagi. Nortan, nama pengendara itu, warga transmigrasi.
Dia mengantar anaknya, Sri Hartini, ke SMPN 1 Pamukan Selatan. Jarak rumah Nortan ke sekolah sekitar 10 kilometer. Tiap Senin pagi dia rutin mengantar Hartini ke sekolah, nanti Sabtu baru dijemput. "Terpaksa kos, soalnya tiap hari saya antar lewat sini tidak sanggup. Parah begini," kata Nortan

Kondisi itu cerita Nortan sudah berlangsung lama. "Tapi ini tambah parah. Diperbaiki malah tambah rusak," keluhnya. Tidak lama lewat dua orang remaja, Iwan dan Rian. Mereka juga pelajar SMPN 1 Pamukan Selatan. Bedanya, Iwan dan Rian memilih pulang pergi, tidak kos di Tanjung Samalantakan. "Penuh juga kos di Tanjung," ujar Iwan.

Anak pekebun itu bercerita, mereka harus berangkat pagi-pagi buta. Karena jarak 10 kilometer bisa memakan waktu setengah sampai satu jam perjalanan dengan motor. Kendaraan mereka je


BACA JUGA

Sabtu, 17 November 2018 13:52

Bawa Dua Penumpang Misterius (3)

BANJARMASIN - Sebelum Pesawat DC-8 Loftleider Icelandic yang membawa 249…

Sabtu, 17 November 2018 13:46

Mimpi Salat di Antara Mayat Dalam Masjid Nabawi (2)

BANJARMASIN - Sementara itu, KH Taberani Basri masih ingat kejadian…

Sabtu, 17 November 2018 13:35
Mengenang Tragedi Kolombo 15 November 1978

Ingat Pesawat Kusam dan Kepulangan Yang Tertunda (1)

BANJARMASIN - Tragedi jelang tengah malam di pertengahan November 1978…

Kamis, 15 November 2018 12:03

Jalan Untuk Kaum Difabel di DPRD Jatim

Hak penyandang disabilitas sekarang ini masih kurang, baik sarana maupun…

Selasa, 13 November 2018 15:04

Event Gowes Untukmu Pahlawanku Meriah dan Banyak Hadiah

WALAU Sempat diguyur hujan, Fun Gowes Untukmu Pahlawanku "Semangat Pahlawan…

Selasa, 13 November 2018 14:47

Unik, Samsat Bergerak Sapu Jagad

BANJARMASIN - Untuk meningkatkan pendapatan di sektor pajak, Badan Keuangan…

Senin, 12 November 2018 12:52
Berita Tenaga Kerja Indonesia

Hongkong Paling Banyak, Baru Arab Saudi

September tadi, Kantor Imigrasi Kelas I TPI Banjarmasin bersama BP3TKI…

Sabtu, 10 November 2018 11:34

Mengenang Gugurnya Sembilan Syuhada 9 November 1945 di Banua

Abdul Majid, lahir sepuluh tahun setelah penyerangan 9 November 1945.…

Jumat, 09 November 2018 08:35

Kisah Pengrajin Arang Asal Banjarbaru Ciptakan Alat Musik dari Arang

Lima tahun bergelut sebagai pengrajin dan wirausaha arang, Narwanto berpikir…

Kamis, 08 November 2018 13:07

Kala Dua Penyandang Tunanetra Raih Juara Literasi Tingkat Nasional

Memiliki keterbatasan, tak menghentikan dua penyandang tunanetra: Ikhsanul Sodikin, 17,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .