MANAGED BY:
MINGGU
21 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Senin, 25 Desember 2017 13:46
Kai Kodak di Pasar Blauran Segera Pensiun

Kertas hanya Tersisa Satu Lembar

HAMPIR PENSIUN: Ruslan 73 tahun, satu-satunya tukang cuci cetak foto yang tersisa di Pasar Blauran, bakal pensiun. Gambar ini diambil kemarin sore. Foto Eka Pertiwi/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Kai Kodak satu-satunya pencuci negatif foto yang tersisa di Pasar Blauran. Namun, tak lama lagi bakal pensiun.

--------------------------------------

EKA PERTIWI, Banjarmasin

 -------------------------------------

“Sebentar ya, saya masih di dalam,” ujar Ruslan. Pria berusia 73 tahun yang lebih dikenal dengan panggilan Kai Kodak itu lantas membuka pintu gerobak tertutup miliknya.

Ruslan telah menekuni usaha cuci cetak negatif foto sejak tahun 1960 di Pasar Blauran. Ruslan pun memutuskan untuk segera pensiun dari jasa tukang cuci cetak negatif foto. Bukan karena sudah bosan menjadi tukang cuci cetak foto. Alasan utama ada pada bahan baku.

Bahkan saat dikunjungi kemarin sore, kertas yang tersisa hanya 11 lembar. Bahkan 10 sudah dipesan orang untuk cuci foto berukuran 3R. Jadi, otomatis hanya tersisa selembar.

Untuk ukuran 3R dibanderol dengan harga tinggi. Jika satu foto cetak digital ukuran 3R hanya Rp 5 ribu. Untuk mencuci foto dari negatif foto dibanderol dengan harga Rp 15 ribu per lembar. “Memang mahal. Kertasnya sudah tidak ada lagi. Ini sudah habis. Saya juga sudah siap pensiun. Mau ngurus cucu saja,” bebernya, kemarin sore.

Jasa cuci cetak fotonya sepi tergerus era digital. Untuk 100 lembar kertas foto ukuran 3R saja, baru habis hingga enam bulan. Jasa cuci foto itu sebenarnya sudah lama ingin ia tinggalkan. Di Banjarmasin tak ada lagi yang menjual kertas foto seperti itu. Ia terpaksa membeli dengan menitip kepada temannya. “Teman saya pergi ke Yogyakarta enam bulan lalu. Di sana juga susah nyarinya. Kalau usaha saya ingin bertahan saya harus mencari kertas foto lagi. Tapi siapa yang mau ke sana? Jadi saya pilih pensiun saja,” ulasnya.

Alasan lain belum memutuskan pensiun karena bingung tinggal dengan siapa. Anak-anaknya beberapa kali menjemput untuk tinggal bersamanya. “Antara mau tinggal sama anak yang di Batulicin dan Balikpapan. Tapi kalau kertas habis saya ikut anak saja,” katanya.

Lahir di Amuntai tahun 1943, keluarga merantau ke Banjarmasin saat Ruslan masih SD. Tak ada uang untuk melanjutkan sekolah, Ruslan tak punya pilihan selain bekerja. Sepupunya kebetulan punya usaha cuci cetak foto. Setelah menumpang untuk belajar, Ruslan memutuskan untuk mandiri.

Semasa muda, ia senang memotret. Memotret berarti pemasukan tambahan dari bisnis cuci cetaknya. Paling sering menerima pemotretan untuk kondangan. Ia menyebut dua kamera analog favoritnya, kamera dobel format Yashica 635 dan medium format Yashica 124. Keduanya memakai engkol putar dengan bidang foto lebih besar dari SLR (Single Lens Reflect).

Gerobak Ruslan khas dengan ukuran 1x2 meter. Memajang foto-foto tua dengan penerangan lampu petromaks. Salah satu foto menampilkan pose pria ganteng mengenakan tuksedo dengan rambut licin tersisir. Foto lain menunjukkan siswi SD dengan poni tebal dan ikal.

Ruslan ingat kapan berhenti memotret, tepatnya tahun 1973. Namun, berhenti memotret bukan berarti bisnisnya ikut bubar. Sampai sekarang, ia dan gerobaknya masih bisa ditemui di depan Pasar Blauran, Jalan Katamso. Buka pada jam 5 sore dan tutup jam 9 malam.

Tinggal di Gang Junjung Buih III Jalan Pangeran Antasari, mengayuh sepeda dari rumah menuju Pasar Blauran. Sementara gerobak diparkir di halaman belakang Gedung DPRD Banjarmasin, seberang Jalan Katamso.

Rejeki nomplok biasanya datang pada tahun ajaran baru. Orang ramai mencuci untuk pas foto pendaftaran anak sekolah atau ijazah. Supaya dapat borongan, Ruslan menemui para kepala sekolah. Atau mendekati pegawai Dinas Pendidikan.

Hubungan antara Ruslan dan Pasar Blauran bak kekasih bertemu jodoh. Kemanapun Pasar Blauran pindah, Ruslan pasti ikut. “Dulu saingannya 23 gerobak, itu yang mangkal di Pasar Blauran saja. Sekarang tinggal seorang diri,” kenangnya.(at/dye)


BACA JUGA

Minggu, 21 Oktober 2018 07:05

Memahami Selera Fashion Leluhur dari Busana Pengantin Banjar Abad 15-19

BANJARMASIN -Mengusung suara dari masa lampau, bukan berarti Kawang Yoedha anti perubahan. Kreasi modern…

Jumat, 19 Oktober 2018 11:17

Mega Proyek Siring Laut, Jaksa Minta Jangan Curang

KOTABARU - Kepala Kejaksaan Negeri Kotabaru, Indah Laila, meminta jangan ada yang curang terkait pekerjaan…

Jumat, 12 Oktober 2018 09:39

Sembilan Pengungsi Palu "Terdampar" di Banjarmasin, Begini Nasibnya

Empat hari bertahan hidup tanpa bantuan. Melihat penjarahan di mana-mana. Sembilan pengungsi berlayar…

Senin, 01 Oktober 2018 11:17

Nobar Film G30S/PKI, Memahami Sejarah Lewat Film

BANJARMASIN - Mengenang dan memahami sejarah. Itulah misi dari nonton bareng film G30S/PKI yang digelar…

Minggu, 30 September 2018 11:18

Perkantoran Pemprov Kalsel Dijadikan Wisata Edukasi

Menjelang Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38, kawasan Perkantoran Setdaprov Kalsel di Banjarbaru, disulap…

Senin, 24 September 2018 09:29

Yurien, Satu-Satunya Anggota Patwal Wanita Dishub Banjarbaru

Pria dan wanita memang beda, tapi soal pekerjaan mungkin kaum Hawa bisa sebanding dengan kaum Adam.…

Sabtu, 22 September 2018 13:31

Menjenguk Rumah Berbasis Lingkungan Milik Perkumpulan Pusaka Tabalong

Mungkin ini bisa menjadi contoh bagi yang ingin membangun rumah atau kantor. Ternyata barang bekas bisa…

Jumat, 21 September 2018 09:15

Kisah Mengharukan Perjuangan Para Honorer di Desa-Desa Terpencil

Benar kata mereka: Tak habis kisah jika menceritakan para guru honorer. Dengan perjuangan itu, layak…

Kamis, 20 September 2018 09:47

Sebelum Kuliah, Para Tersangka Perusakan Gedung Dewan Lapor Kantor Polisi Dulu

Empat dari tujuh mahasiswa yang menyandang status tersangka mencerutakan pengalaman mereka selepas unjuk…

Kamis, 13 September 2018 12:05

YS Agus Suseno, Penyair Banjar Yang Berani Menohok Rezim

Meminjam istilah sastrawan Seno Gumira Ajidarma: ketika jurnalisme dibungkam, maka mestinya sastra harus…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .