MANAGED BY:
SELASA
23 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Kamis, 28 Desember 2017 14:59
Berbincang dengan Guru Berprestasi Nasional dari Balangan

Belajar Sistem Pendidikan di Perancis

ENERGI TERBARUKAN: Izuddin Syarif (dua dari kiri) berfoto bersama anggota kelompok bidang energi terbarukan di Perancis. : FOTO IZUDDIN

PROKAL.CO, Dari salah satu kabupaten terujung di Kalsel, Balangan, seorang tenaga pendidik, Izuddin Syarif, dikirim pemerintah Republik Indonesia untuk menimba ilmu di negara Kota Mode, Perancis.

WAHYUDI, Balangan.

DIAWALI dengan dibukanya seleksi pelatihan guru sekolah kejuruan se-Indonesia, untuk program shortcourse atau pelatihan singkat di Perancis pada medio Juli 2017 lalu.

Seleksi tersebut diadakan oleh Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tahap pertama, 254 guru dari seluruh penjuru Indonesia dinyatakan lolos seleksi administrasi, kemudian diverifikasi oleh tim Kemendikbud bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada.

Hasilnya, 27 orang guru dinyatakan layak untuk berpartisipasi dalam program shortcourse ini. Salah satunya adalah Izuddin Syarif, guru mata pelajaran Teknik Ketenagalistrikan di SMKN1 Paringin, Kabupaten Balangan.

Sebanyak 27 guru sekolah kejuruan terpilih dibagi ke berbagai bidang keahlian. Izuddin Syarif masuk dalam kelompok yang mempelajari bidang energi terbarukan di Perancis, bersama empat guru lainnya.

“Tujuan dari shortcourse yaitu peningkatan kompetensi guru SMK, khususnya bidang energi terbarukan dan pengenalan sistem pendidikan di Perancis, termasuk sistem budayanya,” terang Izuddin.

Selama di Perancis, kelompok Izuddin dibimbing oleh Campus des Mettier Qualification (CMQ), sebuah badan koordinasi sekolah kejuruan, industri dan perguruan tinggi bidang energi.

Selama lima pekan di negeri yang mendapat julukan kota mode itu, 4 November sampai 9 Desember 2017, kelompok bidang energi terbarukan diajak mengunjungi kota-kota industri yang ada di utara Perancis dalam region Normandie, seperti Le Havre, Fecamp, Dieppe, Les Andelys, Louviers dan Rouen.

Materi shortcourse mulai dari sistem pendidikan Perancis, tata energi, efisiensi energi, pembangkitan energi listrik terbarukan seperti angin, matahari sampai informasi tentang energi baru, nuklir.

Output dari kegiatan ini berupa laporan komprehensif dari tim energi dalam bentuk jurnal harian, modul pembelajaran energi terbarukan (wind turbine), sampai resume laporan yang ditujukan ke Kemendikbud, sebagai bahan kajian bagi pengambilan kebijakan sistem pendidikan kejuruan di Indonesia.

Salah satu yang dikagumi Izuddin adalah sistem pendidikan kejuruan yang terkoordinir secara rapi. Setiap tahunnya selama tiga tahun belajar, seluruh peserta didik sekolah kejuruan di Perancis harus menjalani proses magang di industri.
Waktu magang peserta didik sendiri yaitu delapan pekan di tahun pertama, tujuh pekan di tahun kedua dan tujuh pekan di tahun ketiga. Dengan sistem ini, kompetensi peserta didik kejuruan menjadi lebih dekat dengan kebutuhan industri.

Proses magang juga didasarkan pada MoU yang dibuat oleh pemerintah, wajib diikuti oleh industri dan sekolah/perguruan tinggi. Salah satu poin penting saat magang, jika magang dilakukan lebih dari 8 pekan, maka industri wajib memberi kompensasi gaji bagi peserta magang. Tak terkecuali.

Selain itu, sekolah-sekolah kejuruan di Perancis menerapkan waktu masuk sekolah hanya lima hari dalam sepekan. Dan setiap Rabu, proses belajar mengajar hanya setengah hari. Lepas tengah hari, semua peserta didik dibebaskan untuk mengikuti kegiatan ekskul, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

“Budayanya juga luar biasa. Setiap kali peserta didik melakukan aktivitas harus mengucapkan salam, misalnya selamat makan. Sehingga budaya sopan santun melekat dalam diri anak didik,” tuturnya.

Sistem pembelajaran lainnya yang kemudian akan diterapkan Izuddin di sekolahnya yaitu pembiasaan anak didik berbahasa Inggris dalam pelajaran Teknik.

Dalam satu kelas diajar langsung oleh dua orang guru, guru Bahasa Inggris dan guru Teknik. Metode pembelajarannya pun berbasis proyek.

Dasar pemikiran munculnya sistem itu adalah, bahwa tidak semua guru Bahasa Inggris paham keteknikan, demikian juga tidak semua guru teknik pandai bahasa Inggris.

“Ini metode pembelajaran yang paling memungkinkan untuk bisa kita terapkan di sekolah nanti,” ucapnya optimis. Saat ini Izuddin bersama anak didiknya tengah merancang pemasangan solar cell, dan merumuskan program lampu jalan otomatis hemat energi.

Program shortcourse ke Perancis ini nyatanya bukan yang pertama bagi guru yang sudah mengantongi titel Magister Pendidikan Teknologi Kejuruan di Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta tersebut.

Pada April 2017, Izuddin juga mengikuti program shortcourse selama 9 hari di Mandarin House, Beijing. Mempelajari tentang sistem pendidikan di Tiongkok. 

Pria kelahiran Banjarmasin, 7 Juni 1979, ini juga mengoleksi segudang prestasi, diantaranya Juara 1 Lomba Keterampilan Guru (LKG) tingkat nasional bidang lomba teknik instalasi tenaga listrik tahun 2016. (why/tof)


BACA JUGA

Sabtu, 20 Januari 2018 11:07

Sisi Lain Parade Jukung Barenteng, Berawal dari Request Fotografer Asing

Belakangan sering digelar parade jukung di Kota Banjarmasin. Menampilkan berbagai formasi unik. Di balik…

Kamis, 18 Januari 2018 18:57

Dibalik Kegagalan Rumah Sakit Idaman Meraih Akreditasi Bintang Lima

Dua spanduk besar bertuliskan "RSID Kita Semua, RSID Paripurna, RSID Yes! Yes! Yes!" terpasang di lobi…

Sabtu, 13 Januari 2018 15:10

Kisah Perajin Purun di Bahalayung, Rumput Tergusur Kelapa Sawit

Perajin  topi purun  masih bertahan,  meski bahan baku rumput mulai langka akibat tergusur…

Kamis, 11 Januari 2018 12:39

Rifky, Atlet Muda Banjarmasin. Raih Prestasi Lewat Karate

Muda, berprestasi. Dua kata itu cukup untuk menggambarkan seorang Rifky Akbar Khair. Dia adalah siswa…

Rabu, 10 Januari 2018 15:27

Mengenal Pemeran Saranti Dalam Film Sejarah Perang Banjar

Film Perang Banjar sudah ditayangkan beberapa waktu lalu. Yang menontonnya tentu ingat dengan sosok…

Selasa, 09 Januari 2018 14:32

FKH Banjarmasin Tak Gentar Menanam Rambai di Tengah Kota

Gbo Green bukan sekadar kaos oblong bertema lingkungan. Atau kemana-mana pakai sepatu gunung. Ini menyangkut…

Senin, 08 Januari 2018 13:21

Kisah Sukses Moses, Berawal dari Sebuah Pahat Pemberian Ayah

  Siapa bilang hobi tak bisa dijadikan bisnis menjanjikan. Sudah banyak contoh mereka yang sukses.…

Minggu, 07 Januari 2018 06:53
Featute

Hudes, Kedai Pertama yang Menjual Kopi Asli Kalsel (Bagian 2)

KETIKA Hudes Coffee baru dibuka, Syam mengaku keteteran. Kini ia dibantu Ari Wahyu Fatikha Krisna, 23…

Minggu, 07 Januari 2018 06:46

Hudes, Kedai Pertama yang Menjual Kopi Asli Kalsel (Bagian 1)

Kafe manapun yang dimasuki, pertanyaannya selalu sama. Dari papan menu ada pilihan Kopi Aceh, Gayo,…

Sabtu, 06 Januari 2018 14:25

Pegiat Fan Art di Banjarmasin, Awalnya Hobi, Kini Jadi Bisnis

Pernah mendengar istilah fan art? Yap, seni menggambar yang tergolong anti mainstream. Hasil karya tak…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .