MANAGED BY:
MINGGU
21 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 29 Desember 2017 15:40
Kisah-Kisah di Balik Penerjemahan Alquran Berbahasa Banjar

Baru Bismillah Sudah Berdebat

KERJA TIM: Rektor UIN Antasari Mujiburrahman menunjukkan Alquran dan Terjemahannya dalam Bahasa Banjar di ruang kerjanya, kemarin. Foto Syarafuddin/Radar Banjarmasin.

PROKAL.CO, Bolehkah memakai kata ganti sidin untuk Allah? Apakah maha punya padanan kata dalam Bahasa Banjar? Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang mengadang tim penerjemah Alquran berbahasa Banjar.

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

SATU JILID kitab hardcover warna merah darah terletak di meja kerja Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin Mujiburrahman, ketika ditemui penulis kemarin (28/12) siang.

Di pojok bawah sampul, tertulis keterangan Bahasa Banjar. Tak ada yang istimewa sampai Anda membuka halaman demi halaman. Membaca Alquran dalam terjemahan bahasa ibu, bahasa percakapan kita sehari-hari.

"Kitab ini kadada karaguan di dalamnya, patunjuk gasan buhannya nang batakwa." Begitulah kutipan terjemahan dalam halaman pertama Surat Al Baqarah.

Penerjemahan dikerjakan sejak zaman rektor terdahulu, Fauzi Aseri. Berawal dari tawaran Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI pada 2016. Begitu disanggupi, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora segera membentuk tim. Gabungan dari pakar tafsir Alquran, pakar hadits, dan pakar filsafat bahasa. Ditambah pakar budaya dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Zulkifli.

Mereka dibagi tiga tim. Tim penanggungjawab, tim penerjemah dan tim penanggap ahli. Mujiburrahman kebetulan anggota tim yang terakhir. "Paling berat di awal, penerjemahan belum dimulai, kami sudah berdebat keras. Bahkan mendekati pertengkaran," kenangnya.

Sebelum memulai penerjemahan, tim harus lebih dulu menyepakati. Bahasa Banjar versi apa yang hendak dipakai? Apa saja referensinya? Dus, metodologi model mana yang dijadikan acuan?

"Kami akhirnya memilih versi Hulu, bukan versi Kula. Bahasa Banjar kontemporer juga kami tolak," imbuhnya. Referensinya Kamus Bahasa Banjar-Indonesia karya Abdul Djebar Hapip. Ditambah karya-karya klasik Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari dan Syekh Muhammad Nafis Al Banjari yang ditulis dalam aksara Arab Melayu.

Penerjemahan mengacu Alquran dan Terjemahnya dalam Bahasa Indonesia terbitan resmi pemerintah. Perdebatan panjang muncul ketika membahas metodologi. Mujiburrahman lalu mengajukan gagasan.

Penerjemah harus mencari padanan kata dalam Bahasa Banjar. Jika tak ketemu, boleh beralih pada Bahasa Melayu. Jika mentok juga, barulah mem-Banjar-kan kosa kata Bahasa Indonesia. "Ibaratnya, penerjemah mencari kata 24 karat dulu. Yang orisinil. Kalau mandeg, baru boleh memakai yang KW," ujarnya tergelak.

Begitu penerjemahan dimulai, belum apa-apa tim kembali berdebat sengit. Padahal baru menghadapi ayat pertama dalam surat Al Fatihah. "Jadi baru bismilah kita berdebat lagi, lama banget," imbuhnya tertawa.

Dalam terjemahan Indonesia, ada kata-kata 'maha pengasih dan maha penyayang'. Tim kebingungan mencari padanan yang pas untuk kata 'maha'. "Sempat dicoba pakai kata 'liwar'. Kalau dibaca 'yang liwar pengasih dan liwar penyayang'. Kok terasa ganjil," jelasnya. Akhirnya, setelah perdebatan hingga tengah malam, tim memutuskan kembali dengan kata 'maha'.

Tak kalah merepotkan soal kata ganti. Dalam Bahasa Arab, ada kata tunjuk 'antum'. Artinya 'kamu' untuk perorangan atau 'kalian' untuk jamak. Bahasa Banjar punya 'ikam' atau 'bubuhan'. "Terdengar kasar, lalu diganti 'Pian' demi estetika. Nah, baru kata ganti saja tidak mudah," bebernya.

Contoh, kata yang kemudian di-Banjar-kan adalah 'berfirman' menjadi 'bapirman'. Sebab Urang Banjar tidak mengenal huruf vokal E. Hanya ada A, I dan U. Serupa halnya dengan huruf konsonan F yang dirasa asing.

Alquran dengan terjemah bahasa daerah sebenarnya bukan hal baru. Di Indonesia sudah ada 12 terjemahan serupa. Menyusul terjemahan dalam Bahasa Bali, Ambon dan Banjar yang diluncurkan Kemenag pada 20 Desember tadi.

Dari cerita yang dituturkan Balai Litbang Kemenag, sejujurnya penerjemahan versi Banjar jauh lebih ringan. "Lebih rumit Jawa, karena bahasanya bertingkat-tingkat, Ngoko dan Krama. Banjar juga dekat sekali dengan Melayu, pondasi Bahasa Indonesia. Kita masih lebih beruntung," ujarnya.

Ketika kabar ini menyebar via media sosial, lumrah jika ada protes. Sebagian netizen menangkap kesan geli atau bahkan kasar dari terjemahan ini. Bahkan, menuntut terjemahan ini sebaiknya jangan dipasarkan.

Namun, Mujiburrahman punya argumen. Pertama, demi pelestarian bahasa. "Ini bahasa ibu kita, kenapa harus malu? Kalau Anda mengigau, pasti kalimat yang keluar dalam bahasa ibu. Bukan bahasa nasional. Boro-boro bahasa internasional seperti Inggris," tegasnya.

Kedua, ia menilai sosok Guru Sekumpul, Guru Bakeri dan Guru Zuhdi memperoleh banyak pendengar karena berceramah dalam daerah. Mereka juga terkenal senang melempar guyonan khas Banjar. "Kiai-kiai top kita pakai Bahasa Banjar. Karena lebih mengena di hati masyarakat," tukasnya.

Ditanya kapan Alquran ini dijual bebas di pasaran, ia mengaku belum tahu. Sebab, versi awal dicetak terbatas, UIN sendiri hanya kebagian 15 eksemplar.

Mujiburrahman berniat melobi Kemenag. Agar sebelum dicetak ulang untuk dipasarkan, sampulnya harus didesain ulang. "Taruhlah dengan warna kain Sasirangan, agar lebih Banjar," ujarnya tersenyum.

Ia juga mengidam-idamkan agar hasil penerjemahan ini tersedia dalam format digital. Serupa aplikasi yang bisa diunduh secara gratis via Playstore atau laman situs UIN. (fud)


BACA JUGA

Minggu, 21 Oktober 2018 07:05

Memahami Selera Fashion Leluhur dari Busana Pengantin Banjar Abad 15-19

BANJARMASIN -Mengusung suara dari masa lampau, bukan berarti Kawang Yoedha anti perubahan. Kreasi modern…

Jumat, 19 Oktober 2018 11:17

Mega Proyek Siring Laut, Jaksa Minta Jangan Curang

KOTABARU - Kepala Kejaksaan Negeri Kotabaru, Indah Laila, meminta jangan ada yang curang terkait pekerjaan…

Jumat, 12 Oktober 2018 09:39

Sembilan Pengungsi Palu "Terdampar" di Banjarmasin, Begini Nasibnya

Empat hari bertahan hidup tanpa bantuan. Melihat penjarahan di mana-mana. Sembilan pengungsi berlayar…

Senin, 01 Oktober 2018 11:17

Nobar Film G30S/PKI, Memahami Sejarah Lewat Film

BANJARMASIN - Mengenang dan memahami sejarah. Itulah misi dari nonton bareng film G30S/PKI yang digelar…

Minggu, 30 September 2018 11:18

Perkantoran Pemprov Kalsel Dijadikan Wisata Edukasi

Menjelang Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38, kawasan Perkantoran Setdaprov Kalsel di Banjarbaru, disulap…

Senin, 24 September 2018 09:29

Yurien, Satu-Satunya Anggota Patwal Wanita Dishub Banjarbaru

Pria dan wanita memang beda, tapi soal pekerjaan mungkin kaum Hawa bisa sebanding dengan kaum Adam.…

Sabtu, 22 September 2018 13:31

Menjenguk Rumah Berbasis Lingkungan Milik Perkumpulan Pusaka Tabalong

Mungkin ini bisa menjadi contoh bagi yang ingin membangun rumah atau kantor. Ternyata barang bekas bisa…

Jumat, 21 September 2018 09:15

Kisah Mengharukan Perjuangan Para Honorer di Desa-Desa Terpencil

Benar kata mereka: Tak habis kisah jika menceritakan para guru honorer. Dengan perjuangan itu, layak…

Kamis, 20 September 2018 09:47

Sebelum Kuliah, Para Tersangka Perusakan Gedung Dewan Lapor Kantor Polisi Dulu

Empat dari tujuh mahasiswa yang menyandang status tersangka mencerutakan pengalaman mereka selepas unjuk…

Kamis, 13 September 2018 12:05

YS Agus Suseno, Penyair Banjar Yang Berani Menohok Rezim

Meminjam istilah sastrawan Seno Gumira Ajidarma: ketika jurnalisme dibungkam, maka mestinya sastra harus…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .