MANAGED BY:
SENIN
23 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Minggu, 07 Januari 2018 06:46
Hudes, Kedai Pertama yang Menjual Kopi Asli Kalsel (Bagian 1)

Mengangkat Derajat Kopi Pengaron

KRU HUDES - Syam dan Krisna, menolak hubungan bos dan karyawan. Mereka sedang ujicoba, membuat produk baru. Berupa kopi dari jenis Liberika asal Bajuin, Tanah Laut. | Foto Syarafuddin/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Kafe manapun yang dimasuki, pertanyaannya selalu sama. Dari papan menu ada pilihan Kopi Aceh, Gayo, Flores dan Kopi Bali. Mengapa tak ada Kopi Banjar? Same old question. 

======================

SYARAFUDDIN, Banjarmasin 

======================

PERTANYAAN itu membebani seorang penggemar kopi, Syam Indra Pratama. Lahir di Martapura pada 27 tahun silam. Dalam kenangan masa kecil, dia sering melihat Kopi Pengaron. Dijual di pasar tradisional dengan bungkus plastik yang diikat karet gelang. 

Bermodal kenangan tersebut, Syam memulai perburuannya. Menuju Pengaron yang berjarak 55 kilometer dari Banjarmasin. Kecamatan di Kabupaten Banjar itu punya 12 desa. Syam menemukan enam desa yang memiliki kebun kopi. Skalanya kecil karena kopi bukan komoditas utama. 

 

"Kopi dijual ke pengepul dengan harga sangat murah. Makanya petani di Pengaron agak ogah-ogahan bertanam kopi," ujarnya, kemarin (6/1). 

 

Pangkal masalah, petani belum paham bagaimana cara memperlakukan kopi. Rasanya jadi tak keruan. Maka wajar jika kopi lokal kalah bersaing di pasaran. 

 

Sebagai perbandingan, satu kilogram biji Kopi Pengaron dihargai Rp30 ribu. Dari jenis yang sama, Robusta, biji kopi di Jawa bisa dibandrol Rp250 ribu. Selisih harga muncul karena perbedaan perlakuan biji kopi. 

 

Contoh, biji kopi disangrai sampai gosong. Atau, memanen buah kopi tidak dengan memetik satu per satu. Melainkan ditarik dengan jejulur pengait hingga rontok. Akibatnya getah pohon meluber kemana-mana, merusak rasa kopi. 

 

Satu lagi, pemetik kopi profesional akan mengincar buah berwarna merah. "Demi timbangan lebih berat, asal laku, yang merah dan hijau digabung," jelasnya. 

 

Mengeluh tak ada gunanya. Syam lalu membawa buah kopi dan coba mengolah sendiri. Biji yang bagus dan rusak dipilah. Disangrai dalam suhu tertentu. Kemudian digiling dengan tingkat gilingan sesuai selera. Hasilnya? Bukan main! 

 

Kopi Pengaron adalah kopi maskulin. Punya rasa kuat, tapi tak asam. Dijamin tidak menyiksa lambung. Kabar baik bagi yang punya keluhan maag. Ketika diseduh, menguarkan aroma kayu manis. 

 

Kualitasnya meyakinkan Syam untuk membuka kedai kopi sendiri. Empat bulan silam, Hudes Coffee berdiri di Komplek Kejaksaan Jalur II Jalan Hasan Basri, Banjarmasin Utara. 

 

Hudes menempati sebuah kios bekas pedagang beras. Tarif sewanya Rp500 ribu per bulan. Ukurannya 4x4 meter. Cukup untuk delapan orang penikmat kopi. Pada salah satu sudut, tampak mangkok plastik hijau mencolok. Fungsinya untuk menampung bocoran air ketika hujan. 

 

Saya juga tersenyum melihat pengumuman 'tidak ada WiFi'. Jangan khawatir, Hudes menawarkan fasilitas istimewa yang tak dimiliki kafe lain. Ngopi di sini bakal ditemani suara-suara gadis yang riang dan segar. 

 

"Tembok kedai berdempetan dengan kos-kosan cewek. Jadi obrolan mereka terdengar sampai kemari," jelasnya. Saya coba menggoda, menanyakan adakah fasilitas tambahan seperti lubang tilik ke kos tersebut, Syam buru-buru menampiknya. 

 

Singkat cerita, Hudes berjasa mengangkat derajat Kopi Pengaron. Agar setara dengan kopi-kopi lain di Indonesia yang sudah lebih dulu terkenal.

 

Hudes pun jadi sering kedatangan tamu yang tak terduga. Salah satunya, pendiri ICW (Indonesia Corruption Watch) yang sekarang dosen Universitas Indonesia (UI), Lucky. "Termasuk juga Pimpinan Redaksi Radar Banjarmasin Toto Fachrudin," sebutnya. 

 

Adapula penikmat-penikmat kopi asal Jakarta dan Bandung. Ketika ditanya tahu darimana soal Hudes, jawabannya senada, dari Instagram. Hudes mengandalkan media sosial sebagai sarana promosi. 

 

Sekarang, Syam sedang sibuk menulis buku. Bercerita tentang sejarah Kopi Pengaron, lokasi-lokasi kebun kopi di Kalsel, beserta ulasan cita rasa. "Pangsa pasar buku ini anak muda. Jadi ditulis dengan bahasa populer. Tidak ilmiah banget," jelasnya. 

 

Lantas, apalagi yang diimpikan Syam? Selain membuka cabang, dia ingin memasarkan Kopi Pengaron dalam kemasan. Agar kedai dan kafe lain di Kalsel bisa ikut membesarkan gerakan yang telah Hudes mulai. 

 

Pertanyaan terakhir, apa filosofi dibalik nama Hudes? Syam terbahak. Rupanya tak ada filosofi yang canggih. Tak ada sejarah yang heroik di balik nama itu. "Hudes kalau dibaca dari belakang ya seduh. Kami kan tukang seduh kopi," pungkasnya. (fud/at/nur/ema)

 


BACA JUGA

Senin, 23 April 2018 14:47

Hari Pertama Penyerahan Berkas Dukungan Calon Anggota DPD RI Asal Kalsel

Membawa tiga kotak besar, Habib Hamid Abdullah melangkah pasti ke sekretariat KPU Kalsel, Minggu (22/4)…

Senin, 09 April 2018 15:36

Beratnya Perjuangan Nurjenah, Bidan Desa Terpencil di Pulau Burung

Nama Nurjenah tidak asing lagi bagi Warga Desa Pulau Burung Kecamatan Simpang Empat Tanah Bumbu. Dia…

Sabtu, 07 April 2018 11:41

Indahnya Pesona Dayak Meratus di Desa Kapul

Akhir Maret tadi, Pesona Dayak Meratus digelar di Desa Kapul, Kecamatan Halong. Ini kali keempat saya…

Jumat, 06 April 2018 14:10

Gubernur Bantu Modal Usaha Kakek-Nenek yang Asuh Dua Cucu di Kotabaru

Jafar, 50, tidak dapat menyembunyikan isak tangisnya. Rabu (4/4) tadi, Radar Banjarmasin menyerahkan…

Jumat, 06 April 2018 12:03

GEMES..! Radhika Dhafi Pratama, si Model Cilik Berprestasi

Kecil-kecil cabai rawit. Meski masih berusia 5 tahun, Radhika Dhafi Pratama sudah banyak meraih prestasi…

Kamis, 05 April 2018 12:11

Noor Ainah, Wakil Pantomim dari Banjarmasin

Motivasi Noor Ainah untuk bermain pantomim begitu polos. Dia ingin mejeng di halaman koran. Dilihat…

Rabu, 04 April 2018 14:48

Masyarakat Bingung Menyelamatkan Peninggalan Sejarah di Desa Pipitak Jaya

Desa Pipitak Jaya akan tenggelam karena pembangunan bendungan. Masyarakat bingung ingin menyelamatkan…

Selasa, 03 April 2018 15:03

Sulitnya UNBK di Pelosok Pulau, Puluhan Kilometer Cari Sinyal

Edi Rohaedi mesti menempuh puluhan kilometer mencari sinyal internet. Ujian nasional di SMK pelosok…

Selasa, 03 April 2018 14:54

Mengenal Shintya Subhan, Penerjemah Bahasa Isyarat

Dengan gerakan tangan, bibir dan mata, seorang interpreter bisa membuka jendela wawasan kaum difabel.…

Senin, 02 April 2018 17:27

Menelusuri Kesaktian Orang Mandar di Pesisir Kalsel

Pernah dengar kesaktian orang Mandar? Ternyata kesaktian itu ada yang berasal dari ilmu hitam. Tapi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .