MANAGED BY:
JUMAT
20 JULI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Minggu, 07 Januari 2018 06:46
Hudes, Kedai Pertama yang Menjual Kopi Asli Kalsel (Bagian 1)

Mengangkat Derajat Kopi Pengaron

KRU HUDES - Syam dan Krisna, menolak hubungan bos dan karyawan. Mereka sedang ujicoba, membuat produk baru. Berupa kopi dari jenis Liberika asal Bajuin, Tanah Laut. | Foto Syarafuddin/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Kafe manapun yang dimasuki, pertanyaannya selalu sama. Dari papan menu ada pilihan Kopi Aceh, Gayo, Flores dan Kopi Bali. Mengapa tak ada Kopi Banjar? Same old question. 

======================

SYARAFUDDIN, Banjarmasin 

======================

PERTANYAAN itu membebani seorang penggemar kopi, Syam Indra Pratama. Lahir di Martapura pada 27 tahun silam. Dalam kenangan masa kecil, dia sering melihat Kopi Pengaron. Dijual di pasar tradisional dengan bungkus plastik yang diikat karet gelang. 

Bermodal kenangan tersebut, Syam memulai perburuannya. Menuju Pengaron yang berjarak 55 kilometer dari Banjarmasin. Kecamatan di Kabupaten Banjar itu punya 12 desa. Syam menemukan enam desa yang memiliki kebun kopi. Skalanya kecil karena kopi bukan komoditas utama. 

 

"Kopi dijual ke pengepul dengan harga sangat murah. Makanya petani di Pengaron agak ogah-ogahan bertanam kopi," ujarnya, kemarin (6/1). 

 

Pangkal masalah, petani belum paham bagaimana cara memperlakukan kopi. Rasanya jadi tak keruan. Maka wajar jika kopi lokal kalah bersaing di pasaran. 

 

Sebagai perbandingan, satu kilogram biji Kopi Pengaron dihargai Rp30 ribu. Dari jenis yang sama, Robusta, biji kopi di Jawa bisa dibandrol Rp250 ribu. Selisih harga muncul karena perbedaan perlakuan biji kopi. 

 

Contoh, biji kopi disangrai sampai gosong. Atau, memanen buah kopi tidak dengan memetik satu per satu. Melainkan ditarik dengan jejulur pengait hingga rontok. Akibatnya getah pohon meluber kemana-mana, merusak rasa kopi. 

 

Satu lagi, pemetik kopi profesional akan mengincar buah berwarna merah. "Demi timbangan lebih berat, asal laku, yang merah dan hijau digabung," jelasnya. 

 

Mengeluh tak ada gunanya. Syam lalu membawa buah kopi dan coba mengolah sendiri. Biji yang bagus dan rusak dipilah. Disangrai dalam suhu tertentu. Kemudian digiling dengan tingkat gilingan sesuai selera. Hasilnya? Bukan main! 

 

Kopi Pengaron adalah kopi maskulin. Punya rasa kuat, tapi tak asam. Dijamin tidak menyiksa lambung. Kabar baik bagi yang punya keluhan maag. Ketika diseduh, menguarkan aroma kayu manis. 

 

Kualitasnya meyakinkan Syam untuk membuka kedai kopi sendiri. Empat bulan silam, Hudes Coffee berdiri di Komplek Kejaksaan Jalur II Jalan Hasan Basri, Banjarmasin Utara. 

 

Hudes menempati sebuah kios bekas pedagang beras. Tarif sewanya Rp500 ribu per bulan. Ukurannya 4x4 meter. Cukup untuk delapan orang penikmat kopi. Pada salah satu sudut, tampak mangkok plastik hijau mencolok. Fungsinya untuk menampung bocoran air ketika hujan. 

 

Saya juga tersenyum melihat pengumuman 'tidak ada WiFi'. Jangan khawatir, Hudes menawarkan fasilitas istimewa yang tak dimiliki kafe lain. Ngopi di sini bakal ditemani suara-suara gadis yang riang dan segar. 

 

"Tembok kedai berdempetan dengan kos-kosan cewek. Jadi obrolan mereka terdengar sampai kemari," jelasnya. Saya coba menggoda, menanyakan adakah fasilitas tambahan seperti lubang tilik ke kos tersebut, Syam buru-buru menampiknya. 

 

Singkat cerita, Hudes berjasa mengangkat derajat Kopi Pengaron. Agar setara dengan kopi-kopi lain di Indonesia yang sudah lebih dulu terkenal.

 

Hudes pun jadi sering kedatangan tamu yang tak terduga. Salah satunya, pendiri ICW (Indonesia Corruption Watch) yang sekarang dosen Universitas Indonesia (UI), Lucky. "Termasuk juga Pimpinan Redaksi Radar Banjarmasin Toto Fachrudin," sebutnya. 

 

Adapula penikmat-penikmat kopi asal Jakarta dan Bandung. Ketika ditanya tahu darimana soal Hudes, jawabannya senada, dari Instagram. Hudes mengandalkan media sosial sebagai sarana promosi. 

 

Sekarang, Syam sedang sibuk menulis buku. Bercerita tentang sejarah Kopi Pengaron, lokasi-lokasi kebun kopi di Kalsel, beserta ulasan cita rasa. "Pangsa pasar buku ini anak muda. Jadi ditulis dengan bahasa populer. Tidak ilmiah banget," jelasnya. 

 

Lantas, apalagi yang diimpikan Syam? Selain membuka cabang, dia ingin memasarkan Kopi Pengaron dalam kemasan. Agar kedai dan kafe lain di Kalsel bisa ikut membesarkan gerakan yang telah Hudes mulai. 

 

Pertanyaan terakhir, apa filosofi dibalik nama Hudes? Syam terbahak. Rupanya tak ada filosofi yang canggih. Tak ada sejarah yang heroik di balik nama itu. "Hudes kalau dibaca dari belakang ya seduh. Kami kan tukang seduh kopi," pungkasnya. (fud/at/nur/ema)

 


BACA JUGA

Rabu, 18 Juli 2018 16:58
Menyaksikan Pementasan Tim Kesenian Taman Budaya Kalsel di Yogyakarta (3-Habis)

Tak Ada Standar Harga

Pasar Kangen menjadi salah satu daya tarik gelaran Seni Tradisi yang digagas Taman Budaya Yogyakarta.…

Selasa, 17 Juli 2018 13:36

Belajar Otodidak, Menangis Melihat Bulan Purnama

Tanggal 1 Desember mendatang, umurnya genap 10 tahun. Umar Ikhsan, menjadi satu-satunya anggota paling…

Senin, 16 Juli 2018 15:52

Perkenalkan Seni Banua dengan Kritik Eksploitasi Lingkungan

Menampilkan seni tari, musik dan teater, Tim Kesenian Taman Budaya Kalsel tampil di panggung sederhana…

Sabtu, 07 Juli 2018 16:07

Begini Proses Produksi Gulali Khas Amuntai yang Terkenal

Gula batu atau gulali merupakan permen tradisional khas Amuntai. Untuk membuatnya, diperlukan keterampilan,…

Kamis, 05 Juli 2018 15:06

WOW, Sebulan Paman Odong-Odong Bisa Nabung Rp 9 Juta

Kebahagiaan anak-anak itu sederhana. Cukup bisa naik odong-odong. Kebahagiaan operatornya tidak sesederhana…

Kamis, 05 Juli 2018 14:21

Sulitnya Kesempatan Kerja untuk Penyandang Disabilitas

Merekrut pekerja difabel bukanlah ide beken. Ongkos kerja yang mahal hingga sempitnya wawasan para pemberi…

Senin, 02 Juli 2018 15:06

Gerakan From Zero To Hero, Bina Anak Jalanan dan Pengamen

Membina anak jalanan dan pengamen bukanlah urusan enteng. Namun, sekelompok pemuda terpelajar memilih…

Sabtu, 30 Juni 2018 11:00

Mereka yang Bergerak Memerangi Polusi Udara

Ancaman polusi udara bukan isu populer untuk diperangi di Banjarmasin. Serbuan asap dari pabrik dan…

Minggu, 24 Juni 2018 11:27

Setelah Toko Kaset-CD di Banjarmasin Berguguran: Membeli Karya Orisinal adalah Perlawanan

Diserang aplikasi pemutar musik dan barang bajakan, sebagian orang memilih bertahan. Mengkoleksi kaset…

Sabtu, 23 Juni 2018 13:06

Kisah Haru Pedagang BBM Eceran Tunanetra di Banjarmasin

Kebutaan tak menghalangi ayah satu anak ini mencari nafkah. Nistam Juhansyah (66) mengais rejeki dengan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .