MANAGED BY:
SENIN
21 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 13 Januari 2018 15:10
Kisah Perajin Purun di Bahalayung, Rumput Tergusur Kelapa Sawit
BERTAHAN: Perajin topi purun di Desa Bahalayung, Kabupaten Barito Kuala

PROKAL.CO, Perajin  topi purun  masih bertahan,  meski bahan baku rumput mulai langka akibat tergusur perkebunan kelapa sawit dan areal pertanian.

Hani, Marabahan

Bahalayung merupakan desa yang memiliki lahan yang cukup luas kurang lebih 192,185 hektare  yang terdiri dari 5 rukun tetangga dengan jumlah penduduk hanya 761 jiwa.

Sebagian warga yang tinggal di desa ini masih menjaga tradisi menganyam  topi purun. Tidak sulit bagi penulis untuk mendatangi kampung yang berjarak sekitar 27 kilometer dari Kota Marabahan, Kabupaten Barito Kuala. Karena dapat ditempuh melalui jalan darat  dengan berbagai jenis kendaraan.

Hasmah, penganyam topi purun  menjadi salah satu tujuan penulis untuk mengetahui bagaimana kondisi para perajin yang masih bertahan di desa itu.

“Sekarang sulit mencari bahan baku  rumput purun danau atau dalam bahasa latinnya Lepironia Articulata,” kata wanita berusia 55 tahun ini membuka obrolan.

Ia tersenyum,  meski belum kenal dengan penulis saat  memarkir sepeda motor tepat di halaman rumah. Sepertinya ia sudah mengetahui bakal didatangi wartawan,  karena sebelumnya penulis sudah janjian dengan Kepala Desa Bahalayung yang juga suaminya.

Beberapa orang warga terlihat sibuk menganyam di depan rumah kepala desa. Dengan cekatan, tangan mereka seperti memiliki mata. Tanpa melihat,  tangannya bergerak cepat menganyam satu persatu rumput purun  membentuk simpul.

Bagi para perajin  di Bahalayung,  menganyam merupakan tradisi turun menurun. "Lumayan, hampir tiga puluh tahun saya menjadi perajin topi purun," ucapnya.

Para penganyam mengaku  kesulitan mencari bahan baku rumput  purun yang hidup di rawa,  karena banyak kawasan beralih fungsi menjadi lahan perkebunan kelapa sawit dan pertanian. “Ada, tetapi tak berlimpah seperti dulu," kata Kursani, warga Desa Bahalayung Rt 5.

Beberapa orang perajin mengeluh usaha yang  dilakoni  mereka seperti jalan di tempat. Hidup segan mati tak mau. Sebab hasil kerajinan tersebut tidak  lagi  bisa diharapkan menambah penghasilan karena harga jual topi purun sangat murah dibeli oleh pengepul. 

Semua hasil kerajinan mereka dijual per kodi atau 20 buah topi dengan harga Rp30 ribu. Dalam sehari menganyam topi purun sekitar 5-6 buah. Topi purun ini biasanya digunakan warga untuk menutupi wajah mereka dari terik matahari,  terutama bagi para petani yang bekerja di sawah.

Meski minat beli masyarakat terus berkurang, namun mereka  tetap punya keyakinan kerajinan purun di desanya  bisa berkembang apabila pemerintah daerah ikut mencarikan solusi bagaimana memasarkannya. Supaya harga jual bisa terdongkrak.


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*