MANAGED BY:
SENIN
21 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Minggu, 28 Januari 2018 17:09
Sejarah Sasirangan, Banyak yang Belum Tahu
KHAS DAERAH: Kain Sasirangan khas Kalimantan Selatan bukan sekedar tuntutan fashion namun juga bernilai sejarah.

PROKAL.CO, Siapa tak tahu Sasirangan. Motifnya unik. Coraknya juga cerah. Membuat siapapun yang memakainya terlihat elegan. Tapi tahu kah Anda sejarah dari kain khas Suku Banjar itu? Berikut ulasannnya.

====================================


Sasirangan. Bersal dari dua suku kata. “Sa” berarti “satu”. Sementara “sirang” berarti jelujur. Dibuat dengan cara menjelujur dan diikat lalu dicelup ke dalam pewarna.

Kain sakral ini diwariskan oleh Raja Lambung Mangkurat ketika masih menjadi Patih Negara Dipa pada abad ke-12.

“Dulunya sih sejarahnya sasirangan dibikin buat orang berobat atau dalam bahasa Banjar-nya betatamba,” sebut Andi Ida Fitria Kusuma. Dia adalah pencetus kain sasirangan untuk dibuat menjadi pakaian.

Perempuan berusia 72 tahun itu bercerita. Dulunya, kain sasirangan hanya dibuat laung (tudung kepala untuk laki-laki,red) atau serudung.

Fungsinya, untuk pengobatan. Siapapun yang sakit harus menggunakan laung bagi laki-laki dan kerudung untuk perempuan. Aturan pakainya ditentukan berdasarkan warna.


Sasirangan warna kuning dipakai dalam proses mengobati penyakit kuning (bahasa Banjar kana wisa). Sedangkan merah, untuk sakit kepala dan susah tidur (imsonia).

Kalau warna hijau merupakan tanda simbolis bahwa pemakainya sedang dalam proses pengobatan penyakit lumpuh (stroke). Sementara hitam untuk demam dan kulit gatal-gatal. Jika ada orang yang sedang sakit perut (diare, disentri, dan kolera), maka dipakaikan Sasirangan berwarna ungu.

Nah, untuk Sasirangan berwarna coklat dikhususkan untuk seseorang yang sedang mengalami tekanan jiwa (stress).

"Kain sasirangan juga dibedakan motifnya untuk membedakan kasta sesorang," kata Ida. Jika yang sakit adalah bangsawan, mereka harus menggunakan motif naga atau ular lidi.

Ular lidi adalah simbol kecerdikan. Meski bertubuh kecil, namun memiliki kekuatan yang ada pada bisanya. Sedangkan naga merupakan simbol kekuatan alam.

Bagi rakyat biasa, dikenakan motif kangkung keumbakan, bayam raja, atau iris pudak. Maknanya juga berbeda-beda.

Kangkung bermakna tangguh terhadap cobaan. Diibaratkan sebagai tanaman menjalar di permukaan air. Sekuat apapun ombak atau gelombang menerjang, batangnya tak bakal putus.

Bayam raja merupakan atribut untuk orang bermartabat dan dihormati dalam masyarakat. Lengkungan patah-patah yang tersusun secara vertikal dibikin sebagai garis pembatas antar motif atau pola. Sedangkan iris pudak merupakan bagian dari daun pudak. Tanaman itu sangat bermanfaat untuk berbagai hal. Entah masakan maupun dalam tradisi adat Banjar.

Tapi itu dulu. Sekarang Sasirangan tak lagi digunakan untuk pengobatan. Tapi untuk pakaian sehari-hari. Tahun 1980, Andi Ida Fitria Kusuma mulai memperkenalkan pakaian yang terbuat dari kain sasirangan. “Sasirangan sudah digunakan untuk pakaian resmi di Kalimantan Selatan,” tuntasnya. (eka/at/nur/ema)

 


BACA JUGA

Kamis, 24 September 2015 23:03

Ada Presiden, Pengamanan Ketat, Antre Panjang, Ratusan Jemaah Tak Bisa Salat

<p><strong>LANTARAN</strong> dihadiri oleh orang nomor satu di Indonesia pengamanan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*