MANAGED BY:
SENIN
18 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 03 Februari 2018 14:40
Ketika Mereka Melawan Kanker dengan Harapan

"Kami Punya Sembilan Nyawa "

OPTIMIS: Bahruddin tersenyum ketika difoto. Tujuh tahun terakhir ia berjuang melawan kanker. Ia masih ingat namanama temannya yang meninggal duluan.

PROKAL.CO, Besok (4/2) masyarakat dunia memperingati Hari Kanker. Inilah kisah Aisyah dan Burhanuddin, penderita Leukimia yang menumpang tidur di Rumah Singgah Anak Kanker.

***

BIBIR Aisyah bergetar. Malu karena tak bisa menahan tangis. Remaja 14 tahun itu menutupi mukanya dengan kerah kaus. Dia terharu setelah ditanya apa cita-citanya.

"Pengin jadi pegawai negeri. Agar bisa membanggakan orang tua," ujarnya. Beberapa detik setelah itu dia terisak. Aisyah sadar, dirinya sudah lama tak sekolah lantaran harus menjalani perawatan. Dia menderita leukimia, sekaligus jantung bocor.

Kemarin (2/2) sore, Radar Banjarmasin mengunjungi Rumah Singgah Anak Kanker milik Yayasan Rumahku. Lokasinya di Kompleks Bunyamin Permai I, Jalan Ahmad Yani kilometer enam.

Aisyah kembali tersenyum setelah diajak menyanyi. Karena memang hobinya sejak dulu. Suaranya empuk dan ngebas. Dia menyanyikan tembang 'Surat Cinta untuk Starla' milik Virgoun.

Sang ibu, Elena menceritakan, putrinya terdiagnosa menderita leukimia pada usia 12 tahun. Gejala awal berupa demam panjang. Ditambah kemunculan mendadak memar-memar biru di badan.

Tinggal di Kabupaten Penajam Kaltim, Elena merujuk anaknya ke rumah sakit di Balikpapan. Kemudian dirujuk lagi ke Banjarmasin. Lantaran di sana tak ada dokter spesialis kanker darah. Selama menjalani kemoterapi, mereka tidur di rumah singgah ini.

"Dulu rambutnya rontok, botak gara-gara kemo. Sempat kami juluki si gundul. Syukur sekarang rambutnya sudah tumbuh," kata perempuan 52 tahun tersebut.

Aisyah mengaku tak bisa melupakan detik-detik menjelang jatuh sakit. Karena berbarengan dengan tibanya UN (Ujian Nasional). "Pas kelas VI SD, sudah hampir lulus, bersiap-siap mau ikut ujian malah jatuh sakit," ujarnya.

Namun, gadis kulit hitam manis itu tak mau berputus asa. Dia tak sabar menantikan ujian Paket A pada April mendatang. "Pesan saya pada semua anak-anak yang punya penyakit sama, jangan menyerah. Kita bisa kok hidup seperti kebanyakan orang," tuturnya.

Setelah itu, cerita Aisyah kembali terhenti. Dia kembali menangis. Elena kemudian meraih tisu di depannya dan ikut menangis.


Dibawa ke Orang Pintar

KISAH ini tak melulu penuh tangis. Di sana juga ada harapan. Seperti yang ditampilkan Burhanuddin, 14 tahun. Remaja asal Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar ini juga menderita leukimia sama seperti Aisyah.

"Saya punya sembilan nyawa. Makanya saya masih bisa duduk di sini," ujarnya sembari tersenyum. Menunjukkan deretan giginya yang rapi dan putih bersinar.

Burhanuddin terdiagnosa menderita penyakit ganas itu pada umur tujuh tahun. Saat masih duduk di bangku kelas I SD. Kisahnya menjadi istimewa karena dia termasuk penghuni awal ketika rumah singgah baru berdiri pada tahun 2010.

Sebagian besar teman Burhanuddin sudah meninggal dunia. Menyerah dalam perlawanan menghadapi kanker. Dia mengaku masih ingat satu demi satu nama teman-temannya yang telah duluan pergi.

Karena masih sanggup bertahan, Burhanuddin dijuluki punya sembilan nyawa. "Tapi kini tersisa tujuh nyawa. Satu sudah saya pakai pas dilarikan ke ICU kemarin. Satu lagi saya kasihkan ke teman. Agar dia juga sanggup bertahan," kisahnya.

Burhanuddin datang dari keluarga dengan taraf ekonomi yang kurang beruntung. Lahir dari pasangan buruh serabutan dan ibu rumah tangga biasa. Dia anak keempat dari lima bersaudara.

Pada awal jatuh sakit, orang tuanya tak menyadari ancaman kanker. Karena tak punya uang berobat, sang ibu memboyongnya pada orang pintar di kampung. Di situ dia dikasih sebotol air yang sudah dibacakan mantra. Dalam Bahasa Banjar disebut 'batatamba'.

Usaha itu gagal total. Burhanuddin terus dirundung demam, memar-memar biru di badan, ditambah pendarahan di gusi. Seorang tetangga kemudian datang menolong. Memberi uang Rp50 ribu untuk ongkos berobat ke Puskesmas. Dokter kemudian melarikannya ke Rumah Sakit Ulin.

Di unit gawat darurat, Burhanuddin hampir saja tak tertolong. Dokter meminta 12 kantong darah. "Syukur masih banyak orang baik di dunia ini. Para perawat rumah sakit patungan. Hingga terkumpul Rp500 ribu untuk biaya transfusi darah," ungkap sang ibu, Jasmah, 40 tahun.

Tahun-tahun pertama jelas tak mudah. Burhanuddin sempat tak sanggup berjalan selama enam bulan. Untuk berdiri saja dia sudah kepayahan. "Baru beberapa melangkah sudah kecapekan," imbuh Jasmah.

Sekarang, dia sudah bisa bermain. Keluyuran di sekitar kompleks rumah singgah. Bahkan berenang ke sungai bersama anak-anak lainnya. Tentu saja dia belum sembuh benar. Meski begitu, Burhanuddin yakin bakal sembuh dan bisa kembali bersekolah. (fud/jy/nur)


BACA JUGA

Selasa, 05 Juni 2018 14:41

Mengintip Kampung Permainan Tradisonal Pendamai di Teluk Tiram Darat

Bulan Ramadan ini Kampung Permainan Tradisional Pendamai bukannya sepi. Tapi makin ramai dikunjungi.…

Senin, 04 Juni 2018 12:54

Melacak Jejak Musyawaratutthalibin, Pergerakan Islam Asli Kalsel

Mempersatukan kaum terpelajar Muslim Kalsel, pergerakan Islam bernama Moesjawaratoetthalibin pernah…

Minggu, 03 Juni 2018 12:29

Senjakala Sastra Lisan Belamut, Jaya Pada Masanya, Kini Minim Apresiasi

Menjadi seniman lamut sejak puluhan tahun, Gusti Jamhar Akbar akhirnya memutuskan pensiun dari panggung…

Jumat, 01 Juni 2018 11:25

Serunya Sahur Sembari Menyaksikan Mamanda Bersama Taman Budaya Kalsel

Sang Putri dari Kerajaan Malinggam Cahaya tak hanya terkenal cantik, namun juga fasih dalam melantunkan…

Rabu, 30 Mei 2018 15:00
Perayaan Waisak di Banjarmasin

Pesan Jaga Keharmonisan, Panjatkan Doa Untuk Negeri

Winda terlihat penuh hati-hati meletakkan dana makan ke mangkok yang dibawa oleh para Bikhu di Vihara…

Rabu, 23 Mei 2018 14:59

Menengok Jumat Kelabu Lewat Kliping Koran

23 Mei 1997. Setelah salat Jumat, Tajuddin hendak menuju Lapangan Kamboja. Mengikuti puncak kampanye…

Sabtu, 19 Mei 2018 10:38

Menengok Kelahiran Kampung Mural di Jalan Tunjung Maya

Seusai salat tarawih hingga tibanya waktu sahur, warga dan pelukis berkumpul. Membawa teko kopi dan…

Senin, 14 Mei 2018 15:15

Cerita Ketua MUI Tanbu KH Fadli Muis Mendirikan Pondok Pesantren Zaadul Muttaqiin

Saat ini, pondok pesantren mulai digandrungi anak muda putra dan putri. Pondok pesantren (ponpes) mulai…

Minggu, 13 Mei 2018 05:50

Surat Terakhir Erik Petersen Pria Keturunan Bangsa Viking di Banua Anyar

Erik Petersen adalah keturunan Bangsa Viking. Yang memilih meninggal dunia di Banua Anyar. Warisan Erik,…

Sabtu, 12 Mei 2018 14:14

Menengok Kehidupan di Ponpes Dalam Pagar Kandangan

Santri; terpisah dari keluarga, belajar agama atau menghafal ayat-ayat suci Alquran. Kalau dibayangan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .