MANAGED BY:
KAMIS
13 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

LIFESTYLE

Minggu, 04 Februari 2018 13:12
Nongkrong Asyik di Kedai Kopi, Tempat Mencurahkan Isi Hati
GAYA HIDUP: Ngopi di warung kopi lebih dari sekedar kebutuhan, namun juga gaya hidup.

PROKAL.CO, Siapa bilang barista cuma ahli meracik kopi. Mereka juga bisa mengaduk-aduk perasaan pelanggannya. Hingga hati seadem cappucino ice. Begitulah tren pelayanan kedai kopi saat ini.

==========================

"Open your eyes, look up to the skies and see. I'm just a poor boy. I need no sympathy. Because I'm easy come, easy go. Little high, little low. Any way the wind blows doesn't really matter to me, to me". Begitulah penggalan lagu Bohemian Rhapsody yang dinyanyikan Queen. Mengalun merdu melalui pengeras suara yang terpasang di dinding salah satu kedai kopi di Sultan Adam, Kamis (1/2) siang.

Tiga barista, terlihat sibuk melayani tiap pelanggan yang datang. Mereka adalah Thesar Malino, Deni Rinaldi dan Miftah Hidayat.

Ada yang bertugas meracik kopi. Melayani pesanan, hingga menemani pelanggan ngobrol. Sesekali, para barista itu juga menanyakan bagaimana kopi hasil racikan mereka kepada pengunjung. Rata-rata menjawabnya dengan senyuman sembari mengacungkan jempol. Pertanda rasanya mantap. Begitulah sekilas interaksi di kedai tersebut.

Kedai kopi memang berlomba-lomba memberikan pelayanan memuaskan. Agar pelanggan merasa nyaman dan bisa menikmati suasana santai.

Belakangan kedai kopi mulai bertransformasi. Lebih interaktif. Dulunya cuma sekadar tempat untuk nongkrong, kini lebih dari itu. Bisa menjadi ruang curhat. Sebab ada barista-barista perempuan yang mau menemani ngobrol.

Salah satunya Arina Tian. Dia kerap ngobrol hingga mendengar curhat pelanggannya.

Sesi curhat mengalir begitu saja. Diawali ketika pelanggan memesan kopi. Selama menunggu, saat itulah, sang barista mencoba membangun komunikasi. "Biasanya, pelanggan yang datang kerap duduk di depan bar sambil melihat proses pembuatan kopi. Sambil terus membuat kopi, aku ajak ngobrol. Dari obrolan ringan, hingga menjurus sendiri ke permasalahan yang dialami pelanggan hingga terbuka sesi curhat," jelasnya.

Materi curhat pun bermacam-macam. Mulai persoalan keluarga, asmara, pekerjaan, studi, bahkan diskusi terkait agama. Semua bahan obrolan dia dengarkan dengan antusias. Sebab tujuan pertama orang yang curhat tentunya ingin berbagi rasa melalui cerita.

"Aku lebih banyak mendengarkan. Dengan berusaha menjadi pendengar yang baik. Mungkin sudah membuat pikiran pelanggan sedikit plong. Kalau pun diminta menanggapi atau memberikan saran, aku lebih cenderung mengungkapkan hal yang aku kuasai saja sebagai solusi atau saran," ucapnya.

Arina sering bertemu pelanggan yang curhat hingga meneteskan air mata. Tak hanya itu, dia bahkan pernah ditaksir oleh pengunjung kedainya. "Mungkin karena mereka merasa nyaman saja. Tapi yang pastinya dari curhatan pelanggan, aku juga jadi dapat pelajaran. Bagaimana cara menyelesaikan masalah apabila aku menemui persoalan yang serupa," tuntasnya.

Begitu juga Vania Herlinda. Barista perempuan asal Banjarbaru itu juga kerap mendengarkan pelanggannya curhat. Dia tentu saja meladeni. Sebab, kenyamanan pembeli adalah prioritas utama sebuah kedai kopi. "Orang mau suasana seperti di rumah. Jadi ketika ada barista yang mengajak ngobrol, orang merasa seanyaman di rumah," tuturnya.

Lantas, bagaimana dengan barista laki-laki? Mereka juga punya tugas serupa. Bukan untuk curhat, tapi cenderung menjadi teman diskusi.

Miftah Hidayat contohnya. Dia punya cara sendiri untuk membuat pelanggan merasa nyaman. "Yang diusahakan para barista pada umumnya, membuat pelanggan layaknya sahabat. Membangun komunikasi yang dalam agar kelak ketika mereka datang meskipun sendirian sudah tak merasa canggung. Karena sudah punya teman. Kalau perlu, seperti berada di rumah sendiri," ujar cowok berambut kriting itu.

Bagi Miftah, kedai kopi adalah tempat untuk membangun persahabatan dengan orang-orang baru. Yang sebelumnya sama sekali tak saling kenal.

Adanya interaksi itulah yang membuat pengunjung kedai nyaman. Contohnya seperti Yudha Ramadhani. Dia tak merasa kesepian jika harus nongkrong sendirian. "Soalnya ada barista yang siap menemani ngobrol. Itu yang membuat saya sering mengunjungi kedai kopi," ungkap mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat tersebut. "Ngomongin hal pribadi juga enak. Karena mereka bisa jadi pendengar yang baik. Bahkan bisa memberi solusi," pungkasnya. (war/at/nur)

 


BACA JUGA

Jumat, 18 September 2015 09:32

Dua Kapal Perang TNI Singgah di Banjarmasin

<p style="text-align: justify;"><strong>BANJARMASIN</strong> &ndash;…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .