MANAGED BY:
SENIN
18 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Senin, 05 Februari 2018 10:12
Laporan dari Perayaan Hari Kanker Sedunia 2018
Selundupkan Obat Kanker Demi Bertahan Hidup
MOTIVASI: Chalid Heriyono (tengah) berbagi cerita bagaimana ia menghadapi kanker pada penghuni Rumah Singgah Anak Kanker.

PROKAL.CO, Vonis kanker ibarat tenggat waktu menuju kematian. Anggapan itulah yang coba dikikis Chalid dan Humaidi. Chalid menderita kanker plasma darah sejak enam tahun silam. Sedangkan Humaidi sedang menemani istri tercinta melawan kanker payudara.

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

HARI Kanker Dunia 2018 dirayakan dengan sederhana di Rumah Singgah Anak Kanker, Kompleks Bunyamin Permai I Jalan Ahmad Yani kilometer 6,5, kemarin (4/2).

Moderator di atas panggung menjanjikan kehadiran seorang motivator. Penderita kanker yang berjuang bertahun-tahun untuk mengendalikan penyakitnya. Ketika nama Chalid Heriyono disebut, tak ada yang menyangka dialah orangnya.

Tampang Chalid keras, tapi ketika bicara barulah kita merasakan keramahannya. Penampilannya juga tak mencolok. Mengenakan topi baseball hitam, jeans biru dan sepatu kets butut berwarna putih.

"Saya tak merokok. Berolahraga juga rajin. Maklum, mantan atlet bulu tangkis. Tapi mendadak divonis menderita kanker plasma darah," ujar pria 56 tahun itu.

Kanker plasma darah biasa disebut kanker MM. Singkatan dari Multiple Myeloma. Dia divonis menderita penyakit tersebut 2012 lalu. Dokter mengatakan pada Chalid, penyebab belum terungkap. Metode pengobatannya juga belum berkembang pesat.

Di Indonesia, hanya ada satu jenis obat untuk mengadang bibit kanker MM. Itu pun sering kosong di apotik. Pantang menyerah, Chalid menempuh langkah ekstrem. "Saya menyelundupkan obat-obatan dari luar negeri demi bertahan hidup," akunya.

Caranya, ketika ada teman atau kerabat yang bepergian keluar negeri, dia akan menitipkan daftar obat yang harus dibeli. Disembunyikan dalam koper atau pakaian agar lolos dari pemeriksaan keamanan bandara.

"Dari mana saja, dari India hingga Belanda," sebutnya. Ditanya harga, menurutnya tak terlampau mahal. Sekitar Rp20 ribu per pil.

Soal perdebatan ilegal atau legal, dia tak mau menambah-nambah kerisauan. Ini murni upaya bertahan hidup. "Toh buat saya konsumsi sendiri. Bukan untuk dijual demi meraup untung," tepisnya.

Bersama para penderita MM lainnya, lewat wadah komunitas di Jakarta, Chalid mencoba memperjuangkan agar obat-obatan ini diproduksi di Indonesia. "Sudah sering kami sampaikan ke Kementerian Kesehatan," imbuhnya.

Berkat pengobatan itu, kondisinya kini stabil. "Tidak ada istilah sembuh dalam MM. Istilah kami terkendalikan," ujarnya tersenyum.

Sama seperti kisah penderita kanker lainnya. Tahun pertama jelas menjadi masa-masa yang paling berat. Kala itu dia hanya bisa duduk diam di rumah. "Anak sampai terguncang melihat saya berjalan memakai tongkat," kisahnya.

Sambil berobat, dia memaksakan diri beraktivitas. Untuk menyetir mobil sejauh 30 kilometer saja, dari Banjarbaru ke Banjarmasin, dirinya harus singgah beristirahat sebanyak enam kali. "Kanker membuat saya mudah letih," ujarnya.

Lalu, dari mana muncul tekad tersebut? Ketika hampir putus asa, Chalid memutuskan kembali kepada agama untuk mencari jawaban. "Pada satu titik, akhirnya saya berdamai. Menyebut kanker sebagai anugerah. Setelah itu merasa aman-aman saja. Saya kembali bisa menikmati hidup," ungkapnya.

Chalid kini tinggal bersama istri dan ketiga anaknya di Jalan Gotong Royong, Banjarbaru. Dia bekerja sebagai PNS. "Putri saya yang masih SMP sedang belajar fotografi," ujarnya.

Ditanya apa pesan kepada pembaca, Chalid mengaku terganggu. Ketika mendengar kata kanker, masyarakat menyebut kematian sebagai kata padanannya. Dia mewanti-wanti, jika persepsi itu tak diluruskan, bukan cuma menyesatkan, dampaknya juga merugikan.

"Mendengar kalimat-kalimat kematian, kami menjadi jatuh. Belum apa-apa penderita kanker sudah pasrah duluan. Benar kemoterapi itu menyakitkan, benar kanker itu penyakit ganas, tapi bukan berarti tak bisa dilalui," pungkasnya.


"Kepada Siapa Lagi Saya Berpegang?"

Penulis bertemu Humaidi dengan cara yang aneh. Selama perayaan Hari Kanker Dunia 2018 di Rumah Singgah Anak Kanker, setelah banyak memotret, penulis menyingkir dari kerumunan. Berjalan menjauh ke ujung blok untuk merokok. Bersembunyi dari pandangan orang banyak.

Humaidi rupanya membuntuti di belakang. Ikut mengeluarkan rokok dan menyulutnya. Setelah hembusan pertama, dia melemparkan guyonan cerdas, "Ironis bukan? Mereka yang di sana berjuang untuk sembuh dari kanker. Kita di sini malah asyik merokok." Kami tergelak, menertawakan diri sendiri.

Setelah berkenalan, Humaidi ternyata kemari bersama istri. Setahun terakhir perempuan yang dicintainya itu mengidap kanker payudara. "Oktober 2017 kemarin dia dioperasi. Payudara kirinya diangkat," kisahnya.

Yang mengherankan adalah nada bicaranya. Ringan, hampir tanpa beban. Seolah-olah ini percakapan sehari-hari. Seperti Real Madrid yang kembali gagal menang atau harga telur ayam yang merangkak naik. Seolah-olah tak berkaitan dengan nyawa seseorang. Apalagi yang dimaksud adalah teman hidup.

Pria 51 tahun ini rupanya menangkap keheranan itu. Humaidi kemudian menegaskan, prinsip utama dalam menghadapi kanker adalah jangan panik. Berlaku bagi si penderita atau keluarga yang menemaninya. "Kalau saya panik, istri saya bakal dua kali lipat lebih panik," jelasnya.

Tentu dia tak sedang berlagak sok-sok kuat. Humaidi juga manusia biasa. Jika sedang tertekan, obatnya adalah keyakinan pada tuhan. "Saya selalu bilang padanya. Pasti bisa, Insya Allah bisa," tukasnya.

Menyandang status PNS, Humaidi kebetulan bekerja di bidang perikanan. Bertugas di Kotabaru yang punya banyak pantai dengan pasir putih bersih. Sesekali dia mengajak istrinya main ke pantai. "Harus enjoy. Jika depresi, makin lekas kanker menggerogoti," ujarnya.

Keduanya tinggal di Jalan Perdagangan, Banjarmasin Utara. Pernikahan itu dikaruniai seorang anak. Anak gadis yang baru duduk di kelas I SMA.

Humaidi kemudian mengenalkan penulis pada istrinya. Namanya Yuni Djuari, 49 tahun. Yuni ternyata pemalu, dia sempat menolak wawancara. Setelah dipaksa sang suami, barulah dia berkenan berbagi cerita. "Pada satu malam, saya meraba-raba payudara. Di sebelah kiri ada benjolan. Tak ada nyeri ketika ditekan," ujarnya.

Awalnya, Yuni meyakini benjolan itu hanya berupa tumor jinak. Setelah bolak-balik menjalani pemeriksaan, dokter menyatakan kanker payudara stadium 2 B. Yuni pun depresi. "Itu titik terendah. Saya hanya sibuk menghitung-hitung hari. Berapa sisa umur saya," ungkapnya.

Kini, Yuni bisa kembali bekerja, mengajar di SMKN 4 Banjarmasin. Sekali dalam sebulan dirinya rutin berobat untuk menahan laju kanker. Dia menyebut penyelamatnya bukan operasi atau kemoterapi, melainkan sang suami yang super sabar.

"Kepala gundul karena kemo. Rumah sakit seolah menjadi rumah kedua. Tapi dia selalu ada. Semoga dia panjang umur," ujarnya. Pada bagian ini, Yuni sempat terdiam. Memandang dengan penuh rasa sayang pada Humaidi.

Yuni berpesan, kepada pembaca yang anggota keluarganya terdiagnosa kanker untuk berusaha tenang. Setenang-tenangnya. "Kalau suami saja panik, apalagi saya. Kepada siapa lagi saya berpegang?" pungkasnya. (fud/ma/nur)


BACA JUGA

Selasa, 05 Juni 2018 14:41

Mengintip Kampung Permainan Tradisonal Pendamai di Teluk Tiram Darat

Bulan Ramadan ini Kampung Permainan Tradisional Pendamai bukannya sepi. Tapi makin ramai dikunjungi.…

Senin, 04 Juni 2018 12:54

Melacak Jejak Musyawaratutthalibin, Pergerakan Islam Asli Kalsel

Mempersatukan kaum terpelajar Muslim Kalsel, pergerakan Islam bernama Moesjawaratoetthalibin pernah…

Minggu, 03 Juni 2018 12:29

Senjakala Sastra Lisan Belamut, Jaya Pada Masanya, Kini Minim Apresiasi

Menjadi seniman lamut sejak puluhan tahun, Gusti Jamhar Akbar akhirnya memutuskan pensiun dari panggung…

Jumat, 01 Juni 2018 11:25

Serunya Sahur Sembari Menyaksikan Mamanda Bersama Taman Budaya Kalsel

Sang Putri dari Kerajaan Malinggam Cahaya tak hanya terkenal cantik, namun juga fasih dalam melantunkan…

Rabu, 30 Mei 2018 15:00
Perayaan Waisak di Banjarmasin

Pesan Jaga Keharmonisan, Panjatkan Doa Untuk Negeri

Winda terlihat penuh hati-hati meletakkan dana makan ke mangkok yang dibawa oleh para Bikhu di Vihara…

Rabu, 23 Mei 2018 14:59

Menengok Jumat Kelabu Lewat Kliping Koran

23 Mei 1997. Setelah salat Jumat, Tajuddin hendak menuju Lapangan Kamboja. Mengikuti puncak kampanye…

Sabtu, 19 Mei 2018 10:38

Menengok Kelahiran Kampung Mural di Jalan Tunjung Maya

Seusai salat tarawih hingga tibanya waktu sahur, warga dan pelukis berkumpul. Membawa teko kopi dan…

Senin, 14 Mei 2018 15:15

Cerita Ketua MUI Tanbu KH Fadli Muis Mendirikan Pondok Pesantren Zaadul Muttaqiin

Saat ini, pondok pesantren mulai digandrungi anak muda putra dan putri. Pondok pesantren (ponpes) mulai…

Minggu, 13 Mei 2018 05:50

Surat Terakhir Erik Petersen Pria Keturunan Bangsa Viking di Banua Anyar

Erik Petersen adalah keturunan Bangsa Viking. Yang memilih meninggal dunia di Banua Anyar. Warisan Erik,…

Sabtu, 12 Mei 2018 14:14

Menengok Kehidupan di Ponpes Dalam Pagar Kandangan

Santri; terpisah dari keluarga, belajar agama atau menghafal ayat-ayat suci Alquran. Kalau dibayangan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .