MANAGED BY:
MINGGU
19 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 10 Februari 2018 14:39
Kiprah Urang Banua Menjadi Komisioner Komnas HAM

Hadapi Pengaduan Petani dan Nelayan, Dulu Pernah Dipukuli Polisi

TERSENYUM: Mengenakan kemeja Sasirangan, Hariansyah berada di ruang kerjanya di kantor Komnas HAM Pusat, Menteng, Jakarta Pusat.

PROKAL.CO, Sudah tiga bulan Hariansyah di ibu kota Jakarta mengemban tugas sebagai Wakil Ketua Bidang Internal Komnas HAM. Pilihannya mengabdi di bidang HAM selama lima tahun ke depan tak lepas dari jiwa aktivisnya semasa muda.

MUHAMMAD RIFANI, Jakarta

"Jam 4 an hari ini bisa di kantor," tulis Hairansyah lewat aplikasi pengolah pesan, WhatsApp. Tanpa pikir panjang, janji itu langsung diiyakan.

Tidak mudah mengatur waktu bersua dengan pria yang akrab disapa Ancah tersebut. Janji bertemu berulang kali tertunda karena kesibukan Ancah dengan agenda kerjanya. Saya belakangan juga sibuk liputan banjir di beberapa titik di Jakarta. Saya berada di Jakarta dari awal tahun 2018, mengikuti pelatihan di media cetak Indopos, Jawa Pos Grup.

Saya pun bergegas menuju kantor Komnas HAM di Menteng, Jakarta Pusat. Sesuai instruksinya, saya disuruh melapor kepada resepsionis jika sudah tiba. "Mencari Pak Hariansyah ya, silakan tunggu dulu," kata resepsionis.

Berselang 10 menit, saya diminta menggunakan tanda pengenal khusus tamu Komnas HAM. "Mohon maaf ya Pak, ditukar dulu KTP-nya," sambungnya sembari mengarahkan berjalan ke lantai 2.

Di lantai 2, staf Hariansyah menyambut lagi. Dia mempersilakan masuk ke ruang kerja. Ternyata Ancah sedang rapat paripurna bersama komisioner Komnas HAM lainnya. Rapatnya paripura digelar dua kali dalam sebulan.

Kemudian muncul pesan Whatsapp lagi. "Maaf banar masih rapat, nunggu dulu lah," kata Hariansyah dengan bahasa Banjar.

Saya sendiri tiba pukul 16.05 WIB, dan Hariansyah menggelar rapat hingga pukul 17.20.

Ruang kerja mantan Komisioner KPU Kalsel tiga periode ini terbilang tak begitu mewah. Berukuran 6x8, isinya terdiri dari satu set meja panjang untuk rapat dan tamu. Ada TV tabung yang letaknya berhadapan dengan meja kerja. Di sisi kiri ada sofa hitam kapasitas tiga orang. Baru disampingnya lagi ada area untuk salat, tepat di sisi lemari berwarna cokelat tua.

Saya memilih minum teh hangat ketika ditawari minum oleh staf. Kondisi gerimis selama perjalanan membuat tehnya yang disajikan di gelas plastik kecil berwarna hijau muda itu sangat pas untuk mengisi waktu menunggu. Apalagi di di meja tamu terdapat tiga toples makanan ringan. Biskuit cokelat, permen, serta kue kering. Dari tujuh kursi, saya memilih paling pojok untuk menghindari terpaan AC.

Kurang lebih 20 menit sebelum azan Magrib, Hariansyah tiba menemui saya. Mengenakan kemeja sasirangan berwarna ungu. Dia izin mau menunaikan salat Asar terlebih dulu.

Dengan bahasa Banjar, Hariansyah menceritakan kegiatannya kini setiap hari. "Karena bidang internal, saya kebanyakan mengurus masalah di dalam," ungkap Ancah yang membawahi 300 staf.

Ancah melewati proses yang panjang untuk menjadi komisioner di Komnas HAM. Pendaftarannya setahun lalu, tepatnya Februari 2017. Pria kelahiran 13 November 1971 ini harus melewati berbagai tahapan. Pertama, tes administrasi bersaing dengan ratusan pendaftar dari seluruh Indonesia.

"Alhamdulillah saya masuk 60 besar (tes administrasi, Red),” kenangnya.

Lanjut ke tes tertulis dengan menyajikan makalah dan uji publik. “Pas uji publik dihadapkan langsung dengan masyarakat. Diuji bagaimana mengatasi konflik HAM," ucap suami dari Latifah Hani ini.

Lolos uji publik, Hariansyah bersaing dengan 28 kontestan lagi menjalani tes Psikotes serta Kesehatan. Hariansyah kembali lolos dan masuk 14 besar. Selanjutnya diuji langsung wakil rakyat di DPR RI untuk tes wawancara dan menyajikan makalah. "DPR langsung memilih menjadi tujuh orang, dan jadilah posisi kami sekarang ini," ceritanya.

Berdasarkan keputusan presiden, Hariansyah resmi dilantik dan bertugas sejak November 2017. Sejak itu juga lelaki kelahiran Barabai ini hijrah ke Jakarta. Sebuah rumah di kawasan Tebet menjadi kediaman dinasnya selama bertugas.

Selama kurang lebih tiga bulan bertugas, Ancah sudah dua kali menghadapi kasus konflik HAM. Pertama, kasus PLTU Indramayu tahap II. Di kasus ini, Ancah menghadapi langsung pengaduan dari masyarakat didampingi Walhi pada awal Januari. Para petani penggarap lahan disebut mendapat perlakuan kriminalisasi oleh aparat penegak hukum. Padahal lahan PLTU tahap II ini merupakan lahan pencaharian masyarakat. Tetapi rupanya aksi penolakan masyarakat berujung penangkapan oleh polisi. “Nah, inilah yang sedang kami hadapi," ceritanya.

Kedua, pengaduan dari Aliansi Nelayan Lobster Indonesia (ANLI). Nelayan mengadu terbit peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dianggap melanggar hak asasi nelayan lobster.

Menurut Ancah, kasus pelanggaran HAM di Indonesia ibarat jamur di musim hujan. Dalam setahun terjadi lebih dari 7.000 kasus HAM. Kebanyakan adalah masalah keadilan dan kesejahteraan.

Walau tugasnya lebih banyak mengurus masalah internal, Ancah selalu tergerak hati untuk turun dalam mengatasi masalah HAM ini. Wajar, ayah dari Hafitz Muhammad Iqbal ini mempunyai latar belakang sebagai aktivis di masa muda. "Saat masih mahasiswa, saya itu aktif di organisasi advokasi. Di luar kampus juga gabung LSM yang memang menyoroti kasus lingkungan dan HAM," kata mantan koordinator Aliansi Meratus di tahun 2000-an ini.

Ketika diulik kenapa memilih HAM sebagai pelabuhannya kini? Hariansyah membeberkan cerita masa remajanya. Mantan Direktur LBH Nusantara Banjarmasin di era 1997-2000 ini pernah mengami kejadian yang sangat membekas mengenai keadilan. "Saya sewaktu masih SMP itu pernah dipukuli polisi saat mau pulang dari sekolah menuju rumah," kenang alumnus Fakultas Hukum ULM ini.

Saat itu, Ancah yang mengendarai Yamaha 75 modifikasi ala trail. Saat pulang dari sekolah menuju rumah ternyata ada polisi lalu lintas mengadangnya. Karena kaget dan gugup, dia memutar gas kendaraannya. Rencananya, menghindar lewat samping. Apes rupanya, kendaraannya jadi oleng gara-gara motor modifikasi itu punya gas kontan. Ancah masuk got dan menabrak pohon. "Tidak manusiawi saja. Memang saya salah, tapi kenapa harus dipukuli gitu," ingatnya yang saat itu bersekolah di SMPN 2 Banjarbaru di tahun 1987.

Berawal dari pengalaman kelam itulah, Ancah yang ditinggal almarhum ayahnya sejak usia 7 tahun memilih HAM sebagai pengabdiannya. "Kasus HAM itu selalu bertentangan dengan peraturan dan cara penegakan hukumnya. Banyak masyarakat yang jadi korban. Maka dari itulah tantangan kami di sini bagaimana mengatasi," tegasnya.

Komnas HAM, menurut Ancah memang tak punya wewenang dalam melakukan tindakan dalam sebuah kasus. Itu terhalang Undang-Undang Komnas HAM No.39/1999. Dalam peraturan itu tugas dan wewenang Komnas HAM hanya sampai melaksanakan pengkajian, penelitian, penyuluhan, pemantauan, dan mediasi hak asasi manusia. Tak ada penindakan. "Orang banyak menganggap Komnas HAM bisa menyelesaikan, membatalkan, mencabut atau melakukan tindakan terhadap konflik. Sebenarnya kami belum bisa ke tindakan karena sesuai UU tadi," jelasnya.

Menurut Ancah, justru di situ tantangan Komnas HAM. "Apapun kondisinya, tentu ada tantangan dan konsekuensinya. Apalagi ini lembaga negara, keputusan dan kebijakannya tentu akan memengaruhi kedaulatan Negara. Jadi, harus benar-benar hati-hati dalam proses penyelesaian konflik," katanya.

Ancah mengaku sudah lama ingin masuk ke Komnas HAM. Tepatnya sejak tahun 2012. "Saat itu saya telat mendaftar. Tapi, Alhamdulillah berkat bantuan dan dukungan teman-teman di Kalsel, dapat info kalau tahun 2017 ada penerimaan, dan saya memutuskan ikut," tutupnya.(rvn/ma/dye)


BACA JUGA

Senin, 13 Agustus 2018 14:15

Berbincang dengan Komunitas Cosplay Kandangan, Pamerkan Cosplay sambil Silaturrahmi

Tidak semua hobi yang disalurkan berakhir negatif, ada juga yang berakhir dengan kegiatan positif. Seperti…

Rabu, 08 Agustus 2018 12:52

Dari Salat Hajat Sambut HUT Kemerdekaan Bersama Guru Zuhdi

Pembacaan Surah Yasin dan Selawat Nabi Muhammad SAW, terdengar teduh di ruang utama Mahligai Pancasila,…

Senin, 06 Agustus 2018 13:14

Pameran Seni Rupa Metamorfosis: Hargai Proses, Jangan Minta Murah

Pameran Metamorfosis menyentil pelaku dan penikmat seni rupa. Membuktikan bahwa proses kerja karya seni…

Senin, 30 Juli 2018 18:30

Penderitaan Bayi Adilla Nafisah Akibat Terkena Virus Rubella

Sepekan lagi, Adilla Nafisah genap berusia delapan bulan. Namun, suara tawa belum pernah terdengar dari…

Senin, 30 Juli 2018 18:11

Buku Djadoel, Melawan Arus Lewat Jual-Beli Buku Murah

Kios "Buku Djadoel" mencoba melawan arus. Lewat usaha jual beli buku dan majalah bekas dengan harga…

Senin, 30 Juli 2018 18:00

Antusias Warga Menyambut Salat Gerhana Bulan di Masjid Istiqomah

Warga Kota Banjarbaru turut menyambut peristiwa astronomi langka, gerhana bulan terlama abad ini, dengan…

Minggu, 29 Juli 2018 16:25

Berkenalan dengan Pratiwi Juliani, Penulis asal Lokpaikat yang Terpilih dalam Festival Literasi Internasional di Bali

Namanya masuk sebagai salah satu dari lima penulis Emerging Ubud Writer & Reader Festival (UWRF)…

Sabtu, 28 Juli 2018 15:25

Belajar Mengaji Kilat dengan Metode Nursyifa Temuan Muslim Aridho

Bertekad ingin sebanyak-banyaknya mengentaskan umat Muslim dari buta huruf arab, Ustaz Muslim Aridho…

Jumat, 27 Juli 2018 17:01

Kisah Haru Nenek Mustika, Guru Ngaji yang Tinggal di Rumah Reot

Mengongkosi putranya yang mengalami keterbelakangan mental, Nenek Mustika hidup di sebuah rumah yang…

Jumat, 27 Juli 2018 15:28

Suka Duka Petugas Kebersihan Pasar Sungai Andai

Titin (49) membersihkan sendirian Pasar Tradisional Sungai Andai, Banjarmasin Utara. Tumpukan kresek…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .