MANAGED BY:
KAMIS
22 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Senin, 12 Februari 2018 12:50
Monolog Luka Persembahan Teater Dapur Kalsel

Meski Terluka Menolak Menyerah

EKSPRESIF: Monolog Luka sukses mengaduk-aduk hati penonton di Balairung Sari, Taman Budaya Kalsel, Sabtu (10/2) malam.

PROKAL.CO, Luka tidak bicara tentang roman picisan. Tapi bicara tentang luka yang diderita bumi. Tempat kita lahir, bercinta, bertengkar, beranak pinak dan mati.

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

LUKA adalah monolog minimalis berdaya maksimal. Minimalis karena tata panggung, cahaya, suara, dan propertinya serba sederhana. Pemainnya juga tak banyak, sekitar 20 mahasiswa dan mahasiswi.

Disebut maksimal karena pesan yang dibawa Luka, tersampaikan dengan baik ke benak penonton. Setidaknya bagi penulis. Meski dengan cara yang tidak menghibur sama sekali. Ia karya yang cenderung suram, persisnya mencekam.

Luka digarap Teater Dapur Kalsel, disutradarai oleh Edi Sutardi. Dimainkan pada Sabtu (10/2) malam di Gedung Balairung Sari, Taman Budaya Kalsel. Bagi muda-mudi yang ingin bermalam Mingguan, Luka jelas bukan tontonan yang cocok.

Teater Dapur terbukti piawai membangun suasana. Ketika memasuki gedung pertunjukan, belum dimulai, kita sudah disambut bunyi seng yang dihantam-hantamkan ke lantai.

Latar panggung berupa tirai dari kain putih yang dipasang berlapis-lapis. Fungsinya dua. Pertama, untuk memunculkan siluet tubuh pemain. Kedua, sebagai layar tancap untuk proyektor yang disorot dari koridor tengah kursi penonton.

Propertinya berupa sebatang kayu kering yang digantung di langit kiri panggung. Pada pojok kanan, tergeletak batu cadas besar yang dikelilingi serpihan tanah.

Adegan pembuka adalah enam perempuan berpakaian serba hitam yang mengenakan topeng dari kertas koran bekas. Menari-nari dengan berteriak-teriak. Berlembar-lembar surat kabar itu kemudian dirobek dan dihamburkan ke udara.

Suasana sontak berubah lebih bersahabat. Panggung menjadi terang. Bunyi hantaman seng yang memekakkan telinga, digantikan bunyian alam. Sejumlah anak desa yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana putih kusam memasuki panggung.

Masing-masing membawa batu kali di tangan kanan dan kiri. Batu-batu kali itu dipukul-pukulkan dengan kompak dan riang. Mereka bermain di ladang, berenang di sungai dan berlarian bersama burung.

Mengiringi sejumlah perempuan tani yang membawa perkakas tradisional untuk bersawah dan menangkap ikan. Seperti bakul (keranjang anyaman) dan lukah (perangkap ikan dari bambu).

Lalu, adapula dua perempuan hutan yang tangguh. Seorang membawa busur dan anak panah. Seorang lagi mengacung-acungkan moncong sumpit ke muka penonton. Sebagai pelengkap, proyektor menembakkan latar hutan tropis yang lebat, basah dan gelap.

Bagian ini coba mengajak kita bernostalgia. Pada masa kecil yang masih akrab dengan alam. Ketika desa belum berganti kota. Ketika sungai belum menjadi keruh. Ketika hutan belum dibabat untuk perumahan.

Hingga bagian ini, Luka lebih banyak diam. Mendekati pertengahan pertunjukan, barulah muncul dialog. Yang menjadi kunci untuk memahami Luka. Tiga lelaki dan seorang perempuan memasuki panggung. Mengenakan jas, dasi, pantofel dan rok mini.

Dialog dijejali kosa kata khas orang perusahaan. Seperti data lapangan, no problem, eksplorasi, fix 100 persen, kandungan berlipat, dan fantastis. Mereka tampak bersemangat sekaligus risau.

"Pada zona dua dan lima, tokoh masyarakat menolak. Sangat disayangkan karena kandungan alamnya fantastis!" ungkap sang bawahan. Sang bos jelas tak puas, ia menuntut upaya 100 persen. Kekuatan modal mesti menang.

Bisa ditebak, korporasi akhirnya menang. Kemenangan dirayakan dengan bersulang gelas sampanye, hiburan dari dua gadis penari salsa, dan tepuk tangan yang kencang.

Lalu, bagaimana nasib para petani, anak-anak desa dan perempuan hutan? Mereka marah, tapi tak berdaya. Ada tiga perempuan tani yang menggigit lahap jeroan segar yang masih berdarah-darah. Atau anak-anak desa yang menampilkan wajah permusuhan dan rubuh ke lantai.

Tubuh-tubuh yang terkulai ini kemudian mendapat kunjungan singkat. Dari sesosok lelaki besar bertopeng ranting kayu. Punggungnya agak bungkuk karena memanggul batang pohon kering besar.

Mendekati bagian akhir, kita hampir tak dibiarkan beristirahat. Suasana kian mencekam. Suara kicau burung dan deru angin digantikan musik heavy metal yang digeber kencang.

Seorang pemuda desa yang marah, coba menerjang potret bapak pembangunan di latar panggung. Sekencang apapun larinya, sekeras apapun kepalan tangannya, dia toh terpental dan terjengkang.

Hingga lolongan yang menyayat hati itu terdengar, "Demi tuhan! Aku menyaksikan dengan kepala sendiri. Nurani mati di meja perjamuan para tuan... Menjadi batu dari setiap otak. Menjelma menjadi luka. Semua pikiran menjadi hitam. Batu yang menghitam."

Panggung kemudian gelap. Sunyi. Perempuan hutan yang tadi membawa busur, kembali muncul dengan sebatang lilin. Berjalan pelan menuju batu cadas di kanan panggung. Langkahnya diikuti segaris cahaya merah dari lampu sorot. Dengan takzim ia mempersembahkan lilin ke atas batu. Inilah adegan puncak Luka.

Isu perusakan lingkungan yang diusung Luka tampil dengan apik. Karena pesannya samar, tak vulgar. Penyair atau pemain teater memang tak perlu menggusur peran demonstran. Sebab, puisi atau teater yang bagus tak perlu berorasi atau berkhutbah.

Jika ada cela, kecil saja. Pertama, pada pertengahan adegan, sebagian penonton cekikikan. Bagian mana yang lucu? Luka jelas karya yang membuat dahi mengernyit. Penonton kita memang unik, mampu menemukan humor dalam suasana sesuram apapun.

Kedua, pada gambar yang disorot proyektor, pada pojok kanan bawah ada tulisan "Activate Windows". Setidaknya, tulisan yang lupa di-crop itu empat kali muncul sepanjang pertunjukan. Mengganggu sekali.

Setelah gedung pertunjukan kembali terang, Edi turun dari kamar kendali tata cahaya dan suara. Dari bau badannya, pria berkumis tebal ini tampaknya belum tersentuh air mandi selama seharian.

Kepada penulis, Edi mengakui ingin menyentil upaya menambang batu bara di Hulu Sungai Tengah. Yang mengancam Sungai Batang Alai dan pegunungan karst milik Meratus. "Sebenarnya ingin lebih global, dari ujung ke ujung Indonesia, ada saja masalah lingkungan. Dampaknya seperti pemanasan global yang kita rasakan sekarang," ujarnya.

Seniman 42 tahun ini menambahkan, sebagian orang sanggup berdamai. Rela menukar masa kecil yang akrab dengan alam, demi hidup di tengah hutan beton yang gemerlap. "Untuk taraf hidup yang sesuai arus zaman, itulah ongkos yang harus dibayar," imbuhnya.

Namun, Edi menolak jika Luka disebut karya yang suram dan pesimis. "Tidak, tidak. Sosok terakhir (perempuan pembawa lilin) bersumpah tidak akan pernah meninggalkan sang ibu. Api simbol kehidupan dan harapan, ibu adalah alam," jelasnya.

Edi juga tak ingin Luka dicap sebagai karya politis. "Ini juga tentang luka yang Anda dan saya derita. Luka yang terus kita hadapi sejak lahir hingga mati," pungkasnya.

Dosen mata kuliah drama dari STIKIP PGRI Banjarmasin ini kini sedang menggarap naskah "Anak" milik Putu Wijaya. Ditambah kesibukan menyiapkan festival teater pada April mendatang. (fud/ma/nur)


BACA JUGA

Rabu, 21 Februari 2018 11:10

Kisah Bengkel Asal Banua Anyar yang Mereplika Supercar

Lamborghini Aventador dibandrol Rp11,8 miliar. Agus Cahyo mereplikasi supercar itu hanya dengan Rp350…

Selasa, 20 Februari 2018 14:30

Reza Fahlevi, Kontestan Lida asal Banjarmasin

Nama Reza Fahlevi belakangan menjadi buah bibir. Siswa kelas 3 jurusan IPS di SMAN 4 Banjarmasin itu…

Senin, 19 Februari 2018 14:01

Jasa Foto dan Cetak Kilat Hanya 5 Menit di Siring Tendean

Mencetak foto dengan hitungan satu jam sudah biasa. Lalu, percayakah Anda jika ada jasa cetak lima menit?…

Jumat, 16 Februari 2018 14:36

Soetji Nurani sebagai Kelenteng Dewi Kwan Im

Bangunan tempat ibadah, berdiri megah di beberapa ruas jalan di Kota Banjarmasin. Salah satunya adalah…

Kamis, 15 Februari 2018 14:57

Fakta Menarik Di Balik Pesta Perkawinan Anak Bos Binuang

Publik Indonesia tersentak acara pernikahan Muhammad Prayudha anak pengusaha terkenal Tapin, Muhammad…

Rabu, 14 Februari 2018 15:14

Bauntung Evo 04, Mobil Hemat Energi Karya FT ULM

Shell Eco Marathon Asia 2018 akan dihelat 8-11 Maret mendatang di Changi Exhibition Center Singapore.…

Selasa, 13 Februari 2018 14:49

Kala Dekranasda Jawa Barat Kepincut Cara Mewarnai Sasirangan

Corak warna warni dan cara pewarnaan kain sasirangan yang unik membuat Ketua Dewan Kerajinan Nasional…

Sabtu, 10 Februari 2018 14:39

Kiprah Urang Banua Menjadi Komisioner Komnas HAM

Sudah tiga bulan Hariansyah di ibu kota Jakarta mengemban tugas sebagai Wakil Ketua Bidang Internal…

Sabtu, 10 Februari 2018 14:25

Mengenal Komunitas The Kutu Buku, Gelar Lapak Baca, Punya Perpus Binaan

Banyak orang beranggapan membaca itu membosankan. Tapi tidak bagi The Kutu Buku. Sekelompok anak muda…

Jumat, 09 Februari 2018 11:53

Daryll Alfaraby Noorlaksono, Penabuh Drum Cilik Beraliran Cadas

Aliran hard rock dan heavy metal identik dengan kalangan sesepuh. Namun, bagi Daryll Alfaraby Noorlaksono…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .