MANAGED BY:
JUMAT
25 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Senin, 12 Februari 2018 12:50
Monolog Luka Persembahan Teater Dapur Kalsel

Meski Terluka Menolak Menyerah

EKSPRESIF: Monolog Luka sukses mengaduk-aduk hati penonton di Balairung Sari, Taman Budaya Kalsel, Sabtu (10/2) malam.

PROKAL.CO, Luka tidak bicara tentang roman picisan. Tapi bicara tentang luka yang diderita bumi. Tempat kita lahir, bercinta, bertengkar, beranak pinak dan mati.

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

LUKA adalah monolog minimalis berdaya maksimal. Minimalis karena tata panggung, cahaya, suara, dan propertinya serba sederhana. Pemainnya juga tak banyak, sekitar 20 mahasiswa dan mahasiswi.

Disebut maksimal karena pesan yang dibawa Luka, tersampaikan dengan baik ke benak penonton. Setidaknya bagi penulis. Meski dengan cara yang tidak menghibur sama sekali. Ia karya yang cenderung suram, persisnya mencekam.

Luka digarap Teater Dapur Kalsel, disutradarai oleh Edi Sutardi. Dimainkan pada Sabtu (10/2) malam di Gedung Balairung Sari, Taman Budaya Kalsel. Bagi muda-mudi yang ingin bermalam Mingguan, Luka jelas bukan tontonan yang cocok.

Teater Dapur terbukti piawai membangun suasana. Ketika memasuki gedung pertunjukan, belum dimulai, kita sudah disambut bunyi seng yang dihantam-hantamkan ke lantai.

Latar panggung berupa tirai dari kain putih yang dipasang berlapis-lapis. Fungsinya dua. Pertama, untuk memunculkan siluet tubuh pemain. Kedua, sebagai layar tancap untuk proyektor yang disorot dari koridor tengah kursi penonton.

Propertinya berupa sebatang kayu kering yang digantung di langit kiri panggung. Pada pojok kanan, tergeletak batu cadas besar yang dikelilingi serpihan tanah.

Adegan pembuka adalah enam perempuan berpakaian serba hitam yang mengenakan topeng dari kertas koran bekas. Menari-nari dengan berteriak-teriak. Berlembar-lembar surat kabar itu kemudian dirobek dan dihamburkan ke udara.

Suasana sontak berubah lebih bersahabat. Panggung menjadi terang. Bunyi hantaman seng yang memekakkan telinga, digantikan bunyian alam. Sejumlah anak desa yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana putih kusam memasuki panggung.

Masing-masing membawa batu kali di tangan kanan dan kiri. Batu-batu kali itu dipukul-pukulkan dengan kompak dan riang. Mereka bermain di ladang, berenang di sungai dan berlarian bersama burung.

Mengiringi sejumlah perempuan tani yang membawa perkakas tradisional untuk bersawah dan menangkap ikan. Seperti bakul (keranjang anyaman) dan lukah (perangkap ikan dari bambu).

Lalu, adapula dua perempuan hutan yang tangguh. Seorang membawa busur dan anak panah. Seorang lagi mengacung-acungkan moncong sumpit ke muka penonton. Sebagai pelengkap, proyektor menembakkan latar hutan tropis yang lebat, basah dan gelap.

Bagian ini coba mengajak kita bernostalgia. Pada masa kecil yang masih akrab dengan alam. Ketika desa belum berganti kota. Ketika sungai belum menjadi keruh. Ketika hutan belum dibabat untuk perumahan.

Hingga bagian ini, Luka lebih banyak diam. Mendekati pertengahan pertunjukan, barulah muncul dialog. Yang menjadi kunci untuk memahami Luka. Tiga lelaki dan seorang perempuan memasuki panggung. Mengenakan jas, dasi, pantofel dan rok mini.

Dialog dijejali kosa kata khas orang perusahaan. Seperti data lapangan, no problem, eksplorasi, fix 100 persen, kandungan berlipat, dan fantastis. Mereka tampak bersemangat sekaligus risau.

"Pada zona dua dan lima, tokoh masyarakat menolak. Sangat disayangkan karena kandungan alamnya fantastis!" ungkap sang bawahan. Sang bos jelas tak puas, ia menuntut upaya 100 persen. Kekuatan modal mesti menang.

Bisa ditebak, korporasi akhirnya menang. Kemenangan dirayakan dengan bersulang gelas sampanye, hiburan dari dua gadis penari salsa, dan tepuk tangan yang kencang.

Lalu, bagaimana nasib para petani, anak-anak desa dan perempuan hutan? Mereka marah, tapi tak berdaya. Ada tiga perempuan tani yang menggigit lahap jeroan segar yang masih berdarah-darah. Atau anak-anak desa yang menampilkan wajah permusuhan dan rubuh ke lantai.

Tubuh-tubuh yang terkulai ini kemudian mendapat kunjungan singkat. Dari sesosok lelaki besar bertopeng ranting kayu. Punggungnya agak bungkuk karena memanggul batang pohon kering besar.

Mendekati bagian akhir, kita hampir tak dibiarkan beristirahat. Suasana kian mencekam. Suara kicau burung dan deru angin digantikan musik heavy metal yang digeber kencang.

Seorang pemuda desa yang marah, coba menerjang potret bapak pembangunan di latar panggung. Sekencang apapun larinya, sekeras apapun kepalan tangannya, dia toh terpental dan terjengkang.

Hingga lolongan yang menyayat hati itu terdengar, "Demi tuhan! Aku menyaksikan dengan kepala sendiri. Nurani mati di meja perjamuan para tuan... Menjadi batu dari setiap otak. Menjelma menjadi luka. Semua pikiran menjadi hitam. Batu yang menghitam."

Panggung kemudian gelap. Sunyi. Perempuan hutan yang tadi membawa busur, kembali muncul dengan sebatang lilin. Berjalan pelan menuju batu cadas di kanan panggung. Langkahnya diikuti segaris cahaya merah dari lampu sorot. Dengan takzim ia mempersembahkan lilin ke atas batu. Inilah adegan puncak Luka.

Isu perusakan lingkungan yang diusung Luka tampil dengan apik. Karena pesannya samar, tak vulgar. Penyair atau pemain teater memang tak perlu menggusur peran demonstran. Sebab, puisi atau teater yang bagus tak perlu berorasi atau berkhutbah.

Jika ada cela, kecil saja. Pertama, pada pertengahan adegan, sebagian penonton cekikikan. Bagian mana yang lucu? Luka jelas karya yang membuat dahi mengernyit. Penonton kita memang unik, mampu menemukan humor dalam suasana sesuram apapun.

Kedua, pada gambar yang disorot proyektor, pada pojok kanan bawah ada tulisan "Activate Windows". Setidaknya, tulisan yang lupa di-crop itu empat kali muncul sepanjang pertunjukan. Mengganggu sekali.

Setelah gedung pertunjukan kembali terang, Edi turun dari kamar kendali tata cahaya dan suara. Dari bau badannya, pria berkumis tebal ini tampaknya belum tersentuh air mandi selama seharian.

Kepada penulis, Edi mengakui ingin menyentil upaya menambang batu bara di Hulu Sungai Tengah. Yang mengancam Sungai Batang Alai dan pegunungan karst milik Meratus. "Sebenarnya ingin lebih global, dari ujung ke ujung Indonesia, ada saja masalah lingkungan. Dampaknya seperti pemanasan global yang kita rasakan sekarang," ujarnya.

Seniman 42 tahun ini menambahkan, sebagian orang sanggup berdamai. Rela menukar masa kecil yang akrab dengan alam, demi hidup di tengah hutan beton yang gemerlap. "Untuk taraf hidup yang sesuai arus zaman, itulah ongkos yang harus dibayar," imbuhnya.

Namun, Edi menolak jika Luka disebut karya yang suram dan pesimis. "Tidak, tidak. Sosok terakhir (perempuan pembawa lilin) bersumpah tidak akan pernah meninggalkan sang ibu. Api simbol kehidupan dan harapan, ibu adalah alam," jelasnya.

Edi juga tak ingin Luka dicap sebagai karya politis. "Ini juga tentang luka yang Anda dan saya derita. Luka yang terus kita hadapi sejak lahir hingga mati," pungkasnya.

Dosen mata kuliah drama dari STIKIP PGRI Banjarmasin ini kini sedang menggarap naskah "Anak" milik Putu Wijaya. Ditambah kesibukan menyiapkan festival teater pada April mendatang. (fud/ma/nur)


BACA JUGA

Kamis, 24 Mei 2018 12:57

Kisah Andra Fathur Rahman, Desainer Spesialis Gaun di Banjarmasin

Gaun menjuntai. Dengan sematan payet dan beberapa ornamen khas kain tile. Pemakainya sudah pasti memesona.…

Rabu, 23 Mei 2018 14:59

Menengok Jumat Kelabu Lewat Kliping Koran

23 Mei 1997. Setelah salat Jumat, Tajuddin hendak menuju Lapangan Kamboja. Mengikuti puncak kampanye…

Senin, 21 Mei 2018 12:56

Ini Dia Sosok Dibalik Bubur Sabilal yang Melegenda

Bubur ayam sudah menjadi ciri khas Ramadan di Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Ribuan porsi disiapkan bagi…

Sabtu, 19 Mei 2018 10:38

Menengok Kelahiran Kampung Mural di Jalan Tunjung Maya

Seusai salat tarawih hingga tibanya waktu sahur, warga dan pelukis berkumpul. Membawa teko kopi dan…

Senin, 14 Mei 2018 15:15

Cerita Ketua MUI Tanbu KH Fadli Muis Mendirikan Pondok Pesantren Zaadul Muttaqiin

Saat ini, pondok pesantren mulai digandrungi anak muda putra dan putri. Pondok pesantren (ponpes) mulai…

Sabtu, 12 Mei 2018 14:14

Menengok Kehidupan di Ponpes Dalam Pagar Kandangan

Santri; terpisah dari keluarga, belajar agama atau menghafal ayat-ayat suci Alquran. Kalau dibayangan…

Jumat, 11 Mei 2018 16:00

Kala Petani Keluhkan Sawah Mereka yang Mengering karena Irigasi Berubah Fungsi

Kejadian yang cukup langka  terjadi di Kampung Handil Buluan, Desa Gudang Hirang Kecamatan Sungai…

Jumat, 11 Mei 2018 15:56

Kisah Purnawirawan TNI yang Menjadi Relawan Penyeberangan Pejalan Kaki

Kopral Effendie sedang menyeberangkan pejalan kaki. Truk tentara melintas. Sejenak dia terdiam. Tangan…

Kamis, 10 Mei 2018 18:57

Kisah Nelayan Pulau Laut yang Menolak Keras Pertambangan

Sama seperti hari cerah lainnya, Ari si pemancing ikan gabus, beberapa hari lalu dapat puluhan kilogram…

Rabu, 09 Mei 2018 16:15

Ini Nih Relawan Ojek Gratis di SBMPTN ULM

Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) selalu merepotkan karena digelar di tempat berbeda.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .