MANAGED BY:
SENIN
17 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Senin, 12 Februari 2018 15:01
Melihat Aktivitas Akhir Pekan Anak Desa Nelayan Bajau Pulau Laut

Musim Main Gelang Karet Baru Saja Mulai

GELANG KARET: Anak-anak nelayan Bajau, desa Rampa Kecamatan Pulau Laut, Kabupaten Kotabaru, asyik bermain gelang karet, Minggu (11/2) kemarin.

PROKAL.CO, Pernah kangen masa kecil lepas ceria, bermain tanpa harus menunduk melihat hape? Di pesisir Pulau Laut, anak-anak masih bersama dengan alam terbuka.

Zalyan Shodiqin Abdi, Pulau Laut

Seperti hari-hari biasa, desa nelayan terpadat di pusat kota Pulau Laut, Desa Rampa Kecamatan Pulau Laut, orang-orangnya sibuk. Wanita asyik membersihkan ikan, menjemur. Pria dewasa memperbaiki kapal dan alat tangkap, Minggu (11/2) sore kemarin.

Rampa, desa nelayan di mana kehidupan keluarga yang satu dengan keluarga lain hampir tanpa sekat. Rumah mereka rapat, beberapa menempel satu sama lain, mayoritas dibangun di atas laut.

Di Rampa, Anda bisa melihat isi dapur beberapa rumah meski hanya dari depan rumahnya. Tidak ada yang mereka tutupi dari tetangga dan dunia luar. Pintu rumah jarang tertutup, pun malam hari.

Sama dengan anak-anak di kota, anak-anak di Rampa juga habiskan liburan dengan bermain. Bedanya, meski mereka tinggal di pusat kota, sekitar dua kilometer dari kantor bupati, anak-anak Rampa tetap hidup dalam kesederhanaan.

Anak-anak yang mayoritas berkulit gelap khas suku Bajau itu ramai di gang-gang desa. Ada yang tidak berbaju, rambutnya disemir kuning. Ribut, teriakan dan tawa melengking terdengar di mana-mana. Tolat-tolet penjual pentol dan es ikut meningkahi.

Di ujung desa, di sebuah dermaga tua, anak-anak turun ke perahu. Rawil, Yogi, Bakri dan Rosehan pelajar SD diajak teman sebaya mereka, Yoyo, mencari ikan dengan perahu kecil. Yoyo sudah putus sekolah, tapi tampaknya dia disegani teman-teman pelajarnya.

Yoyo kemudian merakit alat tangkap ikan sejenis jebakan dengan batu pemberat. Tapi tidak lama, Yoyo tampak lekas bosan. Akhirnya dia memilih terjun ke laut berenang. Dan kemudian naik ke perahu lagi, dengan sengaja menggoyangnya. Perahu terbalik, Rawil dan Bakri berhasil loncat ke perahu warga, sementara Rosehan hanya tertawa lebar karena ikut basah saat perahu total terbalik.

Kepada penulis mereka mengatakan, biasa pulang sekolah main ke laut. Mencari ikan atau berenang. Meski masih usia SD, anak-anak Rampa itu jago berenang. "Kami biasa sampai kapal tongkang (maksudnya kapal kayu penjual solar di tengah laut) itu," ujar Rawil pelajar kelas 5 SD.

Jarak dari tempat mereka ke kapal penjual solar sekitar 150 meter. Yoyo mengaku dia dan teman-temannya biasa balapan ke kapal penjual solar, pulang-balik tanpa pelampung. "Kecil saja itu," ujarnya saat penulis menyatakan keraguan.

Apakah mereka habiskan liburan selalu bermain di laut? Tidak juga. Anak-anak itu mengaku, kadang main layang-layang, kelereng, main getah (permainan membidik tumpukan karet gelang) dan lainnya.

 

Namun jika musim ikan banyak, mereka mengaku ikut merengge ke laut. Merengge itu menangkap ikan dengan jala. Hasil tangkapan, mereka jual, uangnya dipakai jajan. Sudah lumrah anak-anak di Rampa jajan dengan uang sendiri.

Alwi dan Ijai pria dewasa di dermaga kepada penulis membenarkan. Anak-anak di Rampa jago-jago berenang. Mulai dari kecil mereka sudah biasa dengan laut. Suku Bajau memang dikenal sebagai manusia laut.

Puas menonton Yoyo dan teman-temannya berenang, penulis berjalan-jalan menelusuri desa yang luasnya sekitar 700 meter persegi itu. Meski desanya kecil, tapi penduduknya ribuan. Orang tua di Rampa hampir tidak kenal KB. Nikah usia dini sudah biasa. Banyak anak banyak rezeki, masih dipegang.

Di sudut-sudut gang, ramai anak-anak memegang gelang karet. Karet yang biasa mengikat bungkus nasi itu sedang booming. Musim permainan getah baru saja dimulai. Cara bermainnya mudah, anak-anak memasang tumpukan getah di tanah, dari jarak sekian meter mereka membidiknya. Tumpukan karet yang terkena bidikan akan mental. Nah, karet yang mental itu yang menjadi hak milik mereka. Begitu seterusnya, sampai ada yang kehabisan taruhan karet sehingga tidak bisa ikut lagi bermain.

Denis, yang rambutnya disemir kuning mengaku, mereka main apa yang sedang musim. Bagaimana dengan game di hape? Main juga katanya, tapi rata-rata mereka memang tidak punya hape. "Biasa pinjam hape Bapak kalau mau main," ujar anak bernama Hasbi.

Titin, ibu muda di sana mengatakan, kalau pun anak-anak itu punya hape, mereka tetap kesulitan main game. "Susah, beli lagi paket. Anak-anak itu uangnya cukup jajan saja. Orang tuanya hasil melaut cukup makan sehari-hari," akunya.

Faktor ekonomi itu menurut Titin membuat anak-anak di Rampa biasa memainkan permainan sederhana untuk habiskan liburan. Atau ikut orang tua mereka ke laut mencari ikan. "Kalau yang umur SMP itu sudah biasa ke laut lepas cari ikan," kata Iwan warga lainnya.

Terlepas dari masalah ekonomi warga Rampa, anak-anak yang berkeliaran di luar rumah, sebagian tanpa baju itu jika dilihat dari sudut pandang dunia anak-anak, mereka tampak bahagia. Anak-anak itu terlihat menikmati waktu bersama teman-temannya, tertawa, berkelahi kemudian berbaikan lagi.

Kampung juga terasa meriah dengan tawa mereka. Bahkan, anak-anak di Rampa pada beberapa kesempatan, saya lihat dibiarkan orang tua mereka bermain hujan. Suku Bajau tidak menganggap hujan fenomena alam yang harus ditakuti untuk anak-anak bermain. Mereka lepas. Kulit warga pesisir seperti tidak kenal yang namanya masuk angin.

Tapi kemudian menarik melihat anak-anak Rampa yang terlihat penuh semangat itu dengan hasil penelitian-penelitian yang mudah ditemukan di internet. Anak-anak yang bermain di alam terbuka, melibatkan fisik lebih sehat daripada anak-anak yang habiskan waktu main game online dan sejenisnya.

Permainan tradisional juga disebut lebih mendidik anak-anak dalam hal tanggung jawab, dan rasa persaudaraan. Anak-anak yang melulu main game di layar monitor sebut beberapa penelitian cenderung akan lebih rendah kecerdasan sosialnya daripada anak-anak yang bermain di luar dengan teman-teman mereka. (ay/bin)


BACA JUGA

Sabtu, 15 Desember 2018 12:50

Sisi Lain Pelatih Tinju kalsel, Arbain

Menjadi pelatih tinju rupanya bukan satu-satunya pekerjaan yang digeluti oleh…

Sabtu, 15 Desember 2018 09:55

Berawal Ketiadaan Toilet Buat Kencing, Berdirilah Galeri Unik Ini

Apa yang dilakukan oleh warga RT 05 RW 02 Kelurahan…

Jumat, 14 Desember 2018 14:46

Moses Sulap Puing Kayu Menjadi Seni Bernilai Tinggi

Beri Moses Foresto puing-puing kayu, dia bisa menjadikannya apa saja.…

Kamis, 13 Desember 2018 13:20

Bekali Santri Keterampilan Untuk Hadapi Tantangan Zaman

Nyantri bukan melulu tentang ngaji. Di Pondok Pesantren Nurul Muhibbin,…

Sabtu, 08 Desember 2018 11:45

Tidak Mudah, Honorer Ini Pantau CCTV di Menara Pandang Hingga Larut Malam

Di depan layar monitor yang lebarnya tak lebih lebar dari…

Sabtu, 08 Desember 2018 09:03
Kisah Bocah-bocah Penjual Buku Mewarnai di Banjarmasin

Demi Sesuap Nasi Mereka Sampai Dikejar-Kejar Satpol PP

Mobil partoli Satpol PP Kota Banjarmasin melintas di perempatan Jalan…

Jumat, 07 Desember 2018 11:31

Jejak Laskar Pelangi di Banua (2)

Belajar di gudang kecil kadang membuat siswa SD Dusun Munggu…

Kamis, 06 Desember 2018 13:02

Jejak Laskar Pelangi di Banua

Hanya 12 siswa dan satu gedung kecil. Tapi mereka semangat…

Rabu, 05 Desember 2018 12:25

Gol A Gong Berbagi Motivasi ke Penulis Muda Balangan

Yang mengalami masa remaja di era 80’ dan 90’ an,…

Rabu, 05 Desember 2018 10:10

Wahh!! Rabiul Awal Jadi Bulan Rezeki Pengrajin Mahar Pernikahan

Rabiul Awal atau bulannya Maulid Nabi pada penanggalan Hijriah, menjadi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .