MANAGED BY:
RABU
23 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

RAGAM INFO

Rabu, 14 Februari 2018 15:42
Cinta yang Jatuh pada Bukan Lawan Jenis

Cinta yang Bergelora

Foto ilustrasi LGBT

PROKAL.CO, Dora menjadi transpuan karena pelecehan seksual di masa kecil. Keket tidak, dia memilihnya dengan sadar. Inilah kisah hidup yang penuh penolakan. Dibumbui cinta yang bergelora dan impian untuk masa depan.

Penulis:
SYARAFUDDIN

MINGGU (11/2) malam, Jalan Pos sedang sepi. Udara dingin menggigit. Objek wisata kuliner di tepi Sungai Martapura itu dirundung gerimis. Taman Maskot Bekantan di seberangnya juga tampak sunyi.

Dora mengenakan sweater hitam dengan hiasan manik-manik mengkilap membentuk pola bunga di dada kanan. Di jari manis kiri tersemat cincin emas dengan batu merah. Kontras dengan jam tangan G-Shock berwarna hitam dan abu-abu.

Rambutnya dipotong tipis. Badannya tinggi dengan kulit coklat terbakar. "Saya jarang berdandan seperti perempuan. Lebih nyaman begini," ucapnya membuka percakapan.

Ketika disapa dengan panggilan 'Mas', dia mengibaskan tangan. "Panggil saya Dora, lebih nyaman begitu," pintanya. Awal yang buruk untuk sebuah wawancara. Belum apa-apa sudah terpeleset ngomong.

Dora tentu bukan nama asli. Lahir 34 tahun silam di Surabaya. Menginjak kelas IV SD, dia bersama orang tua pindah ke Banjarmasin. Sekarang, sarjana administrasi publik ini tinggal di Jalan Kelayan B, Banjarmasin Selatan. Dia mendefinisikan dirinya sebagai transpuan (istilah lain dari waria).

Pertanyaan pertama, mengapa dia mau diwawancara ketika yang lain menutup diri? Jawabannya sederhana, Dora ingin ceritanya dibaca utuh. "Topik LGBT begitu tabu. Sebagian memandang kami sampah masyarakat. Tapi pembaca harus tahu, kami tidak cukup gila untuk menuntut pelegalan perkawinan sesama jenis," ujarnya.

Dora tak serta merta mengiyakan permohonan wawancara. Dia lebih dulu berdiskusi dengan sang pacar, inisialnya HS. Pemuda 23 tahun itu memberi restu. "Kami menjalani LDR (long distance relationship). Saya di Banjarmasin, dia di Pelaihari," imbuhnya.

Mendapat pasangan yang lebih muda 11 tahun, saya menyebutnya beruntung. Dora tersipu. "Cukup aneh. Meski muda, justru dia yang penyabar. Padahal saya sudah 10 kali ngambek, ngomong kasar dan minta putusan," ujarnya tertawa.

HS bekerja di sebuah perusahaan swasta di Tanah Laut. Sedangkan Dora, pernah bekerja di perkebunan kelapa sawit, perhotelan dan leasing kendaraan bermotor. Kini Dora bekerja di PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) Kalimantan Selatan.

Yang membuat wawancara ini menyenangkan adalah sikapnya yang terbuka. Tak perlu sungkan bertanya, sekalipun vulgar atau mengulik sisi kehidupan yang paling pribadi.

"Entah kenapa, tak pernah pacaran dengan warga satu kota. Selalu hubungan jarak jauh. Mantan paling dekat tinggal di Martapura," kisahnya.

Keduanya berkenalan di media sosial. Jangan salah, Dora punya standar ketat soal pasangan. Pertama, tidak boleh pengangguran. Kedua, Dora harus dikenalkan pada keluarganya. Tentu saja sebagai teman, bukan sebagai pacar. "Saya tak pernah mengobral hati. Ada syarat-syaratnya," tegasnya.

Persyaratan dibuat berdasar pengalaman kelam di masa lalu. "Itu tiga tahun yang liar. Tak bisa melihat cowok cakep bawaannya nafsu," ujarnya. Pada Sabtu malam, dia naik sepeda motor bersama teman. Menyusuri gang-gang di Banjarmasin. Bertemu kumpulan pemuda yang sedang nongkrong, diberi siulan dan lirikan mata. Pemuda yang tergoda kemudian diajak jalan. Terkadang dibawa ke ranjang.

"Tapi bukan untuk uang, hanya untuk bersenang-senang. Dalam dunia itu, iman yang tipis pasti tumbang. Saya sudah berhasil melewatinya," ujarnya bangga.

Dora menikmati hidupnya sekarang. Tiga tahun bergiat di PKBI, membantu sesama transpuan untuk bangkit. Mengejar pendidikan dan karir yang diidamkan di tengah diskriminasi. Sore sepulang bekerja dia bermain voli. Dua kali sepekan, ikut Yasinan khusus waria di Sungai Lulut, Banjarmasin Timur. "Ya, saya salat lima waktu. Saya juga tak pernah meninggalkan salat Jumat," tegasnya.

Lalu, bagaimana awalnya hingga Dora memilih menjadi transpuan? Inilah bagian terberat, mengorek luka lama. Di Surabaya, Dora yang masih duduk di bangku TK menjadi korban pelecehan seksual. Pelakunya adalah tetangga dekat.

"Dia pedofil. Saat bermain di sungai, dia meminta saya memainkan penisnya hingga tegang. Mau saja karena tak mengerti," akunya. Pengalaman itu begitu membekas. Menginjak SMP, Dora menaksir teman cowoknya. Kepada cinta pertamanya ini, dia hanya diam, tak berani menembak.

Puncaknya, jelang kelulusan SMA, Dora diajak main ke rumah seorang kawan. Di situ dia menyaksikan temannya berhubungan seks dengan sesama lelaki. "Dia tanya, kamu pengin juga? Mau diajari? Hasrat saya bergejolak, tak bisa mengingkari," imbuhnya.

Dalam kisah semacam ini, mesti ada kecamuk hebat. Kembali menjadi lelaki sesuai kondisi biologis. Atau transpuan, sebagai perempuan yang terjebak dalam tubuh lelaki. Pertentangan dalam diri itu berlangsung menahun. "Awal kuliah, saya akhirnya berdamai dengan diri sendiri. Nikmati sajalah, terserah apa kata orang," ujarnya.

Jika itu antara Dora dan dirinya sendiri, berbeda ketika menghadapi keluarga. Rahasianya terbongkar akibat kecerobohan seorang teman yang menitipkan ransel berisi wig dan daster. Ketika sedang membersihkan rumah, ibunya membongkar isi ransel.

"Naluri seorang ibu memang kuat. Ibu sebenarnya sudah menyadarinya sejak lama. Tapi isi ransel itulah yang membuatnya berani bertanya," kisahnya.

Namun, Dora mesti bersyukur. Penolakan keluarga tak sekeras dugaannya. Ibunya hanya berpesan, dia sudah dewasa dan bisa menentukan jalan hidup sendiri. Sementara Ayahnya, terlampau pendiam untuk menyoal masalah orientasi seksualnya. "Bapak cuma marah kalau saya malas sekolah. Beliau paling keras soal pendidikan," ujarnya.

Dora mulai berani mengajak pacarnya main ke rumah. Dikenalkan sebagai teman, tanpa menunjukkan kemesraan. "Saya tahu etika. Kalau mau ciuman sampai jungkir balik ya di kamar dong," katanya.

Walaupun, Dora juga enggan menipu diri. Dengan mengklaim keluarga telah menerima dirinya 100 persen. Dia juga sadar tak bisa menuntut lebih. "Saya tahu diri. Budaya dan agama kita masih memandang ini salah," tegasnya. Sekarang, orang tuanya tinggal di Kalimantan Tengah.

Di lingkungan sekitar rumah, diskriminasi atau kekerasan fisik juga tak pernah dia terima. "Cuma hinaan, usil saja. Tiap kali melewati rumah tetangga yang satu ini, dia rutin meneriakkan peringatan azab homoseksual," ujarnya tertawa.

Akhir tahun tadi, LGBT sempat disorot. Gara-gara sebuah grup Facebook yang menjanjikan kemudahan pencarian pasangan gay. Dora ikut terkena getahnya, rumahnya disatroni intel TNI. "Dia cuma menjalankan perintah komandan. Saya paham," ujarnya.

Dengan hati-hati, penulis menanyakan adakah temannya yang divonis menderita HIV/AIDS. Dora tak menampiknya. Ada yang disebutnya rajin berobat. Adapula yang sudah pasrah dan malas ke dokter. "Saya sadar risikonya. Makanya kalau ML, saya memakai kondom," akunya.

Di luar sana, jamak terdengar cerita. Ada kode-kode khusus untuk mendeteksi orientasi seksual orang yang baru dikenal. Apakah menyukai lawan atau sesama jenis. Dora menertawakannya, ia memastikan tak ada. "Tak perlu, kami punya insting. Cukup sekali lirik, saya bisa tahu Anda gay atau bukan," tukasnya.

Di ujung jalan, juru parkir memutar musik dangdut koplo dengan volume maksimal. Suara kami tenggelam, wawancara berakhir.


Warga Banjarmasin Begitu Toleransi

PRINCESS Keket, bukan nama sebenarnya, lahir di Banjarmasin pada 30 tahun silam. Ayahnya orang Jawa dan ibunya orang Dayak. Dia adalah Wakil Ketua Paris Barantai. Organisasi yang giat mengadvokasi kaum transpuan di Banjarmasin.

Sebelum berganti nama menjadi Paris Barantai pada Agustus 2017, organisasi ini memakai nama Ikatan Waria Banua (IWB) Banjaraty. Terdengar familiar? Ya, Paris Barantai merupakan judul lagu populer milik Anang Ardiansyah. Maestro musik Banjar yang wafat pada tahun 2015 lalu.

Kami bertemu di kantor PKBI Kalsel di Jalan Hasan Basry pada Senin (12/2) siang yang gerah. Keket mengenakan kaus tipis khas Bali dengan celana pendek longgar bermotif kotak-kotak.

Keket rupanya rajin merawat diri. Kulitnya putih bersih, kukunya dipotong rapi, dan rambut panjangnya hitam mengilat. Penyematan princess tidaklah berlebihan.

Penulis agak canggung, lantaran Keket menyalakan smartphone untuk live (siaran langsung) via medsos. Berkali-kali dia menyela untuk sekadar membalas sapaan teman yang setia menonton wawancara kami.

"Kami punya seabrek kegiatan. Pengajian agama mingguan, hingga bakti sosial ke panti asuhan. Misal pangkas rambut gratis untuk anak-anak yatim. Terakhir, kami merayakan Maulid Nabi Muhammad," ujarnya bersemangat.

Paris Barantai mengawal Program Peduli Pilar Waria milik Kementerian Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan. Ada delapan kota yang ikut program ini, termasuk Banjarmasin. Selain Aceh, Palembang, Makassar, Yogyakarta, dan kota-kota besar lainnya.

Yang unik, Banjarmasin jadi percontohan. Lantaran kota ini dinilai toleran terhadap transpuan. Buktinya, Paris Barantai bisa bergerak leluasa. Cerita serupa pernah penulis simak dari Dora. Walau bergeser sekian puluh kilometer, ceritanya bakal sangat berbeda. Di Banjarbaru dan Martapura, kaum transpuan hampir tak bisa bergerak.

"Masyarakat Banjarmasin terkenal agamis, tapi juga toleran, bahkan terhadap kami. Alhamdulillah sekali," ungkap Keket.

Pengurus Paris Barantai berjumlah 25 anggota. Mereka membina sekitar 160 transpuan di Banjarmasin. Di Kalsel, diperkirakan ada seribu lebih transpuan. Sebagian besar belum tersentuh.

"Walaupun dalam Budaya Timur dan ajaran Islam, ya, kami mendapat penolakan yang ekstrem," imbuhnya. Soal penolakan, ada baiknya mengulas kehidupan pribadinya.

Berbeda dengan Dora, Keket tidak punya pengalaman traumatis pada masa kecil. Dia mulai menyadari dirinya berbeda sejak SMP. Mulai rajin melamun, berandai-andai terlahir sebagai perempuan, bukan sebagai lelaki.

Namun, peristiwa yang paling diingatnya adalah semasa SD. Jatuh sakit, Keket merengek minta dibelikan boneka barbie kepada sang Ayah. Janjinya, bakal sembuh jika permintaan itu dikabulkan. "Eh benar, setelah dikasih barbie saya langsung sembuh. Mulai asyik main dengan barbie. Ayah kemudian marah dan membuangnya," kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

Beranjak remaja, Keket tinggal bersama ibu tiri. Di rumah barunya dia dilimpahi tugas mencuci pakaian, mengepel lantai dan memasak. "Ibu tiri mungkin punya feeling. Kalau saya lebih cocok dikasih tugas seperti anak perempuan," imbuhnya.

Keket kemudian kuliah di jurusan teknologi informasi di salah satu kampus Islam di Banjarmasin. Sayang, karena masalah ekonomi, dia terpaksa berhenti pada semester empat. Kemudian bekerja sebagai kasir di sebuah pusat perbelanjaan sembari meniti karir sebagai pembawa acara.

Keket kemudian mampu membeli sebuah rumah sederhana di Gambut, Kabupaten Banjar. Tinggal terpisah dari orang tua yang masih menetap di Banjarmasin.

Selama bertahun-tahun, Keket menyembunyikan identitasnya sebagai transpuan dari keluarga. Baru terbongkar pada tahun 2010. Ketika dia menerima tawaran menjadi host sebuah acara dangdut milik televisi lokal. Di situ, Keket tampil dengan berdandan bak perempuan.

Keluarga besar rupanya menonton acara tersebut. "Pas Lebaran Idulfitri, di hadapan keluarga besar saya disidang. Mustahil mengelak," ujarnya dengan nada berat.

Pasrah, keluarga menerima kondisi Keket. Dengan perjanjian dia takkan terjerumus kepada narkotika atau kriminalitas yang bisa mempermalukan nama keluarga. "Janji itulah yang saya pegang," tegasnya.

Ditanya ambisi, Keket punya tiga. Pertama, dia ingin kembali kuliah. Menyabet gelar sarjana yang tertunda. Kali ini, dirinya enggan memilih jurusan teknologi informasi. Giat berorganisasi, ilmu manajemen membuatnya terpesona.

Kedua, dia ingin melihat Paris Barantai punya anggota lebih banyak dan mandiri secara keuangan. Ketiga, Keket ingin pergi ke Mekkah. "Saya ingin umrah, jika Allah mengizinkan," ujarnya lirih.

Kalau pun ada yang mengganggu benaknya, tak lain segelintir transpuan yang menjajakan diri di jalan pada malam hari. Praktik seks komersial ini merugikan kaumnya sendiri. Menguatkan cap buruk dan menggerus kampanye positif seperti yang telah digalakkan Paris Barantai.

"Tapi Anda tidak bisa diam, menunggu distigma dan didiskriminasi. Ibaratkan stigma itu batu kali. Dan kampanye kami adalah tetes-tetes air yang coba melubanginya," ujarnya yakin.

Ditanya status, masih jomblo atau pacaran, Keket mengaku sudah punya pasangan. Namun, dia belum punya nyali untuk mengenalkannya pada keluarga. "Saya coba menghindari letusan perang dunia kedua," ujarnya tertawa. Mengingat perang dunia pertama di keluarganya sudah meletus pada Lebaran 2010.

Siapa pacarnya, Keket bersedia berbagi sedikit informasi. Lelaki itu bekerja di bidang medis, seumuran dirinya. Keduanya bertemu dan jatuh cinta dalam salah satu acara Paris Barantai.

Umur hubungannya baru setengah tahun. Sering putus nyambung. "Kadang cemburu ketika tahu dia dekat dengan cewek lain," ungkapnya. Sang pacar adalah biseksual, artinya tertarik secara seksual baik kepada pria maupun perempuan.

Meski cemburu, Keket menolak menjadi posesif. Dia tergolong rasional. Paham betul hubungan ini takkan ke mana-mana. Indonesia tak sepermisif negara Barat yang membolehkan mereka naik pelaminan. "Anda tahu, hubungan begini pasti berakhir. Saya harus siap. Jika dia nanti memilih perempuan lain dan hidup yang normal," pungkasnya.

Pada bagian ini, kami terdiam. Tak perlu lagi ada yang dibincangkan. Penulis pun paham, ada jenis kesepian lain di dunia ini. Dan Keket salah seorang penghuninya. (fud/ma/nur)


BACA JUGA

Rabu, 23 Mei 2018 15:27

Waspada Puasa Tanpa Olahraga Picu Berat Badan Bertambah

Berolahraga saat menjalankan ibadah puasa hanya dilakukan beberapa orang saja. Kebanyakan memilih tidak…

Rabu, 23 Mei 2018 15:23

Kolak, Hidangan Berbuka Kaya Nutrisi

Kolak. Makanan manis yang satu ini selalu tak pernah absen dari bulan Ramadan. Biasanya kolak selalu…

Selasa, 22 Mei 2018 12:27

Bahaya Puasa Tanpa Makan Sahur, Penyakit ini Bakal Mengintai

Sering kali bagi beberapa orang malas bangun untuk sahur. Dari ketiduran hingga berasumsi jika tanpa…

Senin, 21 Mei 2018 12:20

Pasar Wadai Jadi Pilihan Ngabuburit Warga Banjarmasin

BANJARMASIN - Ngabuburit dilakukan untuk mengisi waktu menunggu berbuka. Di Banjarmasin, banyak warga…

Senin, 21 Mei 2018 10:23

Tidur Puasa hingga Siang Hari, Waspada Efeknya!

Banyak yang memilih begadang hingga sahur tiba. Lalu lanjut tidur dan bangun hingga siang hari. Dari…

Jumat, 18 Mei 2018 11:02

Tak Baik Gunakan Earphone Terlalu Lama, Rentan Jadi "Budek"

Mendengarkan musik menenangkan. Apalagi dibantu alat seperti earphone. Suara musik yang dihasilkan jadi…

Kamis, 17 Mei 2018 10:59

Berbuka "Kesetanan", Awas Gangguan Pencernaan

Memasuki hari pertama bulan Ramadan, kegiatan berbuka puasa menjadi salah satu yang ditunggu-tunggu.…

Rabu, 16 Mei 2018 11:27
Medika

Pengaruh Minum Es Saat Cuaca Terik

BANJARMASIN - Cuaca terik begitu terasa akhir-akhir ini. Keadaan ini membuat kita berpikir bagaimana…

Senin, 14 Mei 2018 15:04

Jijik...! Kuku Sarang Kuman

Dokter Dinda Aulya menyebut kuku adalah tempat bersarangnya kuman-kuman yang bisa menimbulkan penyakit.…

Senin, 14 Mei 2018 15:02

Suka Ngupil ? Awas Infeksi

Selain jorok dan tidak sopan dilakukan di depan umum, mengambil kotoran yang menempel di hidung atau…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .