MANAGED BY:
SENIN
18 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Sabtu, 17 Februari 2018 17:44
Sambut Kedatangan Dewa Rezeki, Bakar Uang Emas lalu Begadang
RAYAKAN IMLEK: Warga Tionghoa di Banjarmasin, sembahyang menyambut tahun baru di Kelenteng Po An Kiong, kemarin (16/2) dini hari.

PROKAL.CO, BANJARMASIN - Dari film kungfu di dataran Cina, kita sering melihat warga Tionghoa membakar uang kertas. Tradisi serupa juga hadir di Banjarmasin dalam perayaan Imlek, tahun baru kalender Tionghoa.

Seperti yang tampak di Kelenteng Po An Kiong di Jalan Niaga Utara, Banjarmasin Tengah, Jumat (16/2) dini hari. Di sana, sembahyang menyambut tahun baru dilaksanakan tepat pada pergantian hari, jam 12 malam.

Pemilihan jenis, bentuk dan tahapan membakar uang kertas itu jelas tak bisa sembarangan. Setiap laku punya makna. Pertama-tama, harus dibedakan antara uang kertas emas (Kim Cua) dan uang kertas perak (Gin Cua).

"Kim Cua dibakar untuk persembahan kepada dewa-dewi. Sedangkan Gin Cua dibakar untuk arwah leluhur. Dewa tak layak mendapat uang perak. Makanya malam ini yang dibakar semuanya uang emas," jelas budayawan Tionghoa, Lim Ho Tjiang yang ikut bersembahyang di Po An Kiong yang lebih dikenal masyarakat Banjarmasin dengan nama Kelenteng Pasar.

Bukan hanya perbedaan warna, uang kertas itu juga dilipat-lipat hingga memunculkan bentuk menarik. Seperti kapal-kapalan, bunga teratai, gunung dan buah nenas.

Bentuk ini ternyata bukan sekadar aksesoris. Ditegaskan lelaki 62 tahun itu, tiap-tiap bentuk memiliki makna. Membawa doa berbeda yang hendak dipanjatkan si pembakar. "Misal kapal, maknanya adalah keselamatan," ujarnya.

Sementara teratai mewakili kesucian. Gunung bermakna kekayaan, memohon rejeki yang berlimpah. Dan buah nanas sebagai simbol kemuliaan. "Sebenarnya, membakar uang berbentuk kapal sudah cukup untuk kehidupan kita. Terkadang ada yang tidak mengerti, menginginkan keselamatan tapi malah membakar teratai," imbuhnya.

Namun, adapula yang membakar uang emas tanpa bentuk khusus, hanya dalam lembaran-lembaran terikat. Bentuk paling biasa ini pun ternyata juga membawa doa khusus kepada dewa. "Lembaran-lembaran panjang itu untuk berkah panjang umur," tukas warga Pasar Lama ini.

Pembakaran uang kertas ini dilakukan pada tahapan akhir sembahyang. Ho Tjiang bersedia merunutnya. Pertama, umat Tionghoa berdiri memegang dupa pada detik-detik jelang pukul 00.00.

Begitu waktunya tiba, pengurus kelenteng memukul kencang beduk kecil di tiang kiri kelenteng. Bunyi ini menjadi tanda dimulainya sembahyang. "Sebagai tanda dibukanya langit," ujarnya.

Sedangkan di tiang kanan kelenteng, bergantung lonceng. Lonceng itu dibunyikan untuk mengakhiri ritual sembahyang. Sebagai tanda langit kembali ditutup. Kadang-kadang, beduk dan lonceng ini dibunyikan secara bersamaan.

Kedua, dilanjutkan dengan persembahan minyak untuk dituangkan pada kuali lampu kelenteng. Minyak ini boleh dibawa dari rumah, bisa pula diambil dari lapak yang telah disediakan kelenteng. Imbalannya, umat memberi derma secara sukarela pada kelenteng.

Kuali ini menyalakan sumbu lilin kecil berbentuk bunga teratai. Ada tiga lampu, yakni lampu langit, lampu bumi dan lampu manusia. Ketiganya dijaga agar jangan pernah padam. Pemberian minyak ini mengandung doa, agar jalan hidup si pemberi senantiasa disoroti cahaya terang.

Ho Tjiang punya cerita unik di balik minyak ini. Pernah ada orang Hulu Sungai Tengah, bukan peranakan Tionghoa, datang kemari memohon izin mengambil sedikit minyak untuk dibawa pulang. "Dia menunjukkan kulit tubuhnya yang terkena penyakit. Katanya buat batatamba (pengobatan). Kami izinkan selama bisa membantu," kisahnya.

Ketiga, barulah menyalakan sepasang lilin untuk bumi dan manusia. Membakar dupa untuk sembahyang. Dan terakhir, keempat, mempersembahkan uang kertas emas untuk dibakar.

"Terkadang, ada yang keliru memahami urutan ini. Menyalakan lilin dan dupa dulu, baru menuangkan minyak. Sulit dicegah karena sudah menjadi kebiasaan," tukasnya.

Mendekati jam satu dini hari, semua ritual sembahyang telah tuntas ditunaikan. Sebagian beranjak pulang ke rumah, sebagian lagi bertahan di kelenteng sembari menahan kantuk. Padahal udara Banjarmasin sedang dingin-dinginnya lantaran terus diguyur hujan deras.

Ini rupanya tradisi, bukan sekadar begadang untuk ngopi atau ngobrol. "Orang Tionghoa percaya pada malam Imlek dewa rejeki telah turun ke bumi. Kami begadang untuk menyambutnya," pungkas Ho Tjiang. (fud/at/nur)

loading...

BACA JUGA

Senin, 18 Juni 2018 13:35

Lapas Teluk Dalam Diserbu Keluarga Warga Binaan

BANJARMASIN – Hari Raya Idulfitri dijadikan seluruh umat muslim untuk saling bersilaturahmi dan…

Senin, 18 Juni 2018 11:00

Danau Seran Ternyata Masih Diminati Pengunjung

BANJARBARU - Meski sepi pada hari-hari biasa, Danau Seran ternyata masih menjadi pilihan para wisatawan…

Senin, 18 Juni 2018 10:58
Parlementaria

DPRD Banjarbaru: Jangan Terlena Dengan Cuti Panjang

BANJARBARU - Hari Raya Idulfitri tahun ini, para aparatur sipil negara (ASN) mendapatkan jatah libur…

Senin, 18 Juni 2018 10:49
Pemko Banjarbaru

Ketua TP PKK Banjarbaru Tutup Pelatihan TTG 2018

BANJARBARU - Ketua TP PKK Banjarbaru Ririen Nadjmi Adhani didampingi Sekretaris Dinas Koperasi UMKM…

Senin, 18 Juni 2018 10:25

Mardani Gelar Open House Terakhir Sebagai Bupati

BATULICIN - Bupati Tanah Bumbu Mardani H Maming menggelar open house di kediamannya di Jalan Manggis…

Senin, 18 Juni 2018 10:01

Festival Pawai Tanglong di Tanbu Berhadiah Ratusan Juta

BATULICIN - Wakil Bupati Tanah Bumbu H Sudian Noor melepas secara resmi Festival Pawai Tanglong Malam…

Senin, 18 Juni 2018 09:50

Dinsos Tanbu Pulangkan Anak Telantar

BATULICIN - Pemkab Tanbu melalui Dinas Sosial mengawal pemulangan anak telantar atas nama Angga (14)…

Minggu, 17 Juni 2018 12:21

Alumni IMM Sulsel Mohon Maaf Ke Menteri Pertanian RI

MAKASSAR - Presidium Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sulawesi Selatan (KAMI IMM SULSEL)…

Sabtu, 16 Juni 2018 09:50

Ketua MUI: Pemimpin yang bekerja untuk umat seperti Mentan Jangan Dizalimi

Jakarta- Ketua Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Ma’ruf Amin mengatakan, kasus hoax dan fitnah…

Kamis, 14 Juni 2018 14:46
Berita Balangan

Ribuan Masyarakat Jadi Saksi Pelantikan Dewan Kesenian Balangan

PARINGIN - Dewan Kesenian Balangan (DKB) resmi memiliki badan kepengurusan baru yang dilantik secara…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .