MANAGED BY:
SENIN
17 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Sabtu, 17 Februari 2018 17:44
Sambut Kedatangan Dewa Rezeki, Bakar Uang Emas lalu Begadang
RAYAKAN IMLEK: Warga Tionghoa di Banjarmasin, sembahyang menyambut tahun baru di Kelenteng Po An Kiong, kemarin (16/2) dini hari.

PROKAL.CO, BANJARMASIN - Dari film kungfu di dataran Cina, kita sering melihat warga Tionghoa membakar uang kertas. Tradisi serupa juga hadir di Banjarmasin dalam perayaan Imlek, tahun baru kalender Tionghoa.

Seperti yang tampak di Kelenteng Po An Kiong di Jalan Niaga Utara, Banjarmasin Tengah, Jumat (16/2) dini hari. Di sana, sembahyang menyambut tahun baru dilaksanakan tepat pada pergantian hari, jam 12 malam.

Pemilihan jenis, bentuk dan tahapan membakar uang kertas itu jelas tak bisa sembarangan. Setiap laku punya makna. Pertama-tama, harus dibedakan antara uang kertas emas (Kim Cua) dan uang kertas perak (Gin Cua).

"Kim Cua dibakar untuk persembahan kepada dewa-dewi. Sedangkan Gin Cua dibakar untuk arwah leluhur. Dewa tak layak mendapat uang perak. Makanya malam ini yang dibakar semuanya uang emas," jelas budayawan Tionghoa, Lim Ho Tjiang yang ikut bersembahyang di Po An Kiong yang lebih dikenal masyarakat Banjarmasin dengan nama Kelenteng Pasar.

Bukan hanya perbedaan warna, uang kertas itu juga dilipat-lipat hingga memunculkan bentuk menarik. Seperti kapal-kapalan, bunga teratai, gunung dan buah nenas.

Bentuk ini ternyata bukan sekadar aksesoris. Ditegaskan lelaki 62 tahun itu, tiap-tiap bentuk memiliki makna. Membawa doa berbeda yang hendak dipanjatkan si pembakar. "Misal kapal, maknanya adalah keselamatan," ujarnya.

Sementara teratai mewakili kesucian. Gunung bermakna kekayaan, memohon rejeki yang berlimpah. Dan buah nanas sebagai simbol kemuliaan. "Sebenarnya, membakar uang berbentuk kapal sudah cukup untuk kehidupan kita. Terkadang ada yang tidak mengerti, menginginkan keselamatan tapi malah membakar teratai," imbuhnya.

Namun, adapula yang membakar uang emas tanpa bentuk khusus, hanya dalam lembaran-lembaran terikat. Bentuk paling biasa ini pun ternyata juga membawa doa khusus kepada dewa. "Lembaran-lembaran panjang itu untuk berkah panjang umur," tukas warga Pasar Lama ini.

Pembakaran uang kertas ini dilakukan pada tahapan akhir sembahyang. Ho Tjiang bersedia merunutnya. Pertama, umat Tionghoa berdiri memegang dupa pada detik-detik jelang pukul 00.00.

Begitu waktunya tiba, pengurus kelenteng memukul kencang beduk kecil di tiang kiri kelenteng. Bunyi ini menjadi tanda dimulainya sembahyang. "Sebagai tanda dibukanya langit," ujarnya.

Sedangkan di tiang kanan kelenteng, bergantung lonceng. Lonceng itu dibunyikan untuk mengakhiri ritual sembahyang. Sebagai tanda langit kembali ditutup. Kadang-kadang, beduk dan lonceng ini dibunyikan secara bersamaan.

Kedua, dilanjutkan dengan persembahan minyak untuk dituangkan pada kuali lampu kelenteng. Minyak ini boleh dibawa dari rumah, bisa pula diambil dari lapak yang telah disediakan kelenteng. Imbalannya, umat memberi derma secara sukarela pada kelenteng.

Kuali ini menyalakan sumbu lilin kecil berbentuk bunga teratai. Ada tiga lampu, yakni lampu langit, lampu bumi dan lampu manusia. Ketiganya dijaga agar jangan pernah padam. Pemberian minyak ini mengandung doa, agar jalan hidup si pemberi senantiasa disoroti cahaya terang.

Ho Tjiang punya cerita unik di balik minyak ini. Pernah ada orang Hulu Sungai Tengah, bukan peranakan Tionghoa, datang kemari memohon izin mengambil sedikit minyak untuk dibawa pulang. "Dia menunjukkan kulit tubuhnya yang terkena penyakit. Katanya buat batatamba (pengobatan). Kami izinkan selama bisa membantu," kisahnya.

Ketiga, barulah menyalakan sepasang lilin untuk bumi dan manusia. Membakar dupa untuk sembahyang. Dan terakhir, keempat, mempersembahkan uang kertas emas untuk dibakar.

"Terkadang, ada yang keliru memahami urutan ini. Menyalakan lilin dan dupa dulu, baru menuangkan minyak. Sulit dicegah karena sudah menjadi kebiasaan," tukasnya.

Mendekati jam satu dini hari, semua ritual sembahyang telah tuntas ditunaikan. Sebagian beranjak pulang ke rumah, sebagian lagi bertahan di kelenteng sembari menahan kantuk. Padahal udara Banjarmasin sedang dingin-dinginnya lantaran terus diguyur hujan deras.

Ini rupanya tradisi, bukan sekadar begadang untuk ngopi atau ngobrol. "Orang Tionghoa percaya pada malam Imlek dewa rejeki telah turun ke bumi. Kami begadang untuk menyambutnya," pungkas Ho Tjiang. (fud/at/nur)

loading...

BACA JUGA

Minggu, 16 Desember 2018 13:04

Ujian Kompetensi Wartawan, Hendro Beberkan Materi Tahun Depan Akan Semakin Sulit

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalsel setiap tahun memperbaiki kualitas wartawan.…

Minggu, 16 Desember 2018 12:18

Kampus Tertua Kalsel, ULM Banjarmasin Targetkan Akreditasi A

BANJARMASIN – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin terus meningkatkan akreditasi…

Minggu, 16 Desember 2018 12:12

Smart City Bukan Sekedar Aplikasi Tapi Juga Menyangkut Gaya Hidup

BANJARMASIN – Kota Banjarmasin dan Banjarbaru adalah dua dari 100…

Minggu, 16 Desember 2018 11:46

Antusias, Ratusan Masyarakat Datang Untuk Saksikan Peringatan Hari Juang ke-73

BANJARBARU - Lapangan Murjani, Sabtu (15/12) kemarin tampak meriah. Ratusan…

Minggu, 16 Desember 2018 11:17

Ternyata, Kecamatan Martapura Kota Kasus Tertinggi HIV/AIDS

MARTAPURA - Menjadi daerah berjuluk Serambi Makkah, ternyata tak membuat…

Minggu, 16 Desember 2018 11:03

AIMI Tekankan Pentingnya ASI

BANJARMASIN-Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Wilayah Kalimantan Selatan kembali menggelar…

Minggu, 16 Desember 2018 10:54

Ilung Warnai Festival Jukung, Warga : Jukungnya malah balap-balapan dengan ilung

BANJARMASIN - Festival Jukung 2018 dirundung pampangan enceng gondok. Meski…

Minggu, 16 Desember 2018 10:33

Jengah Dengan Pampangan, Ibnu Buka Sayembara

BANJARMASIN - Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina jengah melihat sampah…

Sabtu, 15 Desember 2018 14:17

Beruntung, Ambruknya Ruang Kelas SMKN 1 Daha Selatan Tidak Makan Korban

KANDANGAN – Satu ruang kelas belajar SMKN 1 Daha Selatan…

Sabtu, 15 Desember 2018 14:09

Tantangan Sebenarnya Larangan Kantong Plastik Ada di Pasar Tradisional

BANJARMASIN - Pemko Banjarmasin mulai melarang penyediaan kantong plastik di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .