MANAGED BY:
SABTU
22 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Sabtu, 17 Februari 2018 17:44
Sambut Kedatangan Dewa Rezeki, Bakar Uang Emas lalu Begadang
RAYAKAN IMLEK: Warga Tionghoa di Banjarmasin, sembahyang menyambut tahun baru di Kelenteng Po An Kiong, kemarin (16/2) dini hari.

PROKAL.CO, BANJARMASIN - Dari film kungfu di dataran Cina, kita sering melihat warga Tionghoa membakar uang kertas. Tradisi serupa juga hadir di Banjarmasin dalam perayaan Imlek, tahun baru kalender Tionghoa.

Seperti yang tampak di Kelenteng Po An Kiong di Jalan Niaga Utara, Banjarmasin Tengah, Jumat (16/2) dini hari. Di sana, sembahyang menyambut tahun baru dilaksanakan tepat pada pergantian hari, jam 12 malam.

Pemilihan jenis, bentuk dan tahapan membakar uang kertas itu jelas tak bisa sembarangan. Setiap laku punya makna. Pertama-tama, harus dibedakan antara uang kertas emas (Kim Cua) dan uang kertas perak (Gin Cua).

"Kim Cua dibakar untuk persembahan kepada dewa-dewi. Sedangkan Gin Cua dibakar untuk arwah leluhur. Dewa tak layak mendapat uang perak. Makanya malam ini yang dibakar semuanya uang emas," jelas budayawan Tionghoa, Lim Ho Tjiang yang ikut bersembahyang di Po An Kiong yang lebih dikenal masyarakat Banjarmasin dengan nama Kelenteng Pasar.

Bukan hanya perbedaan warna, uang kertas itu juga dilipat-lipat hingga memunculkan bentuk menarik. Seperti kapal-kapalan, bunga teratai, gunung dan buah nenas.

Bentuk ini ternyata bukan sekadar aksesoris. Ditegaskan lelaki 62 tahun itu, tiap-tiap bentuk memiliki makna. Membawa doa berbeda yang hendak dipanjatkan si pembakar. "Misal kapal, maknanya adalah keselamatan," ujarnya.

Sementara teratai mewakili kesucian. Gunung bermakna kekayaan, memohon rejeki yang berlimpah. Dan buah nanas sebagai simbol kemuliaan. "Sebenarnya, membakar uang berbentuk kapal sudah cukup untuk kehidupan kita. Terkadang ada yang tidak mengerti, menginginkan keselamatan tapi malah membakar teratai," imbuhnya.

Namun, adapula yang membakar uang emas tanpa bentuk khusus, hanya dalam lembaran-lembaran terikat. Bentuk paling biasa ini pun ternyata juga membawa doa khusus kepada dewa. "Lembaran-lembaran panjang itu untuk berkah panjang umur," tukas warga Pasar Lama ini.

Pembakaran uang kertas ini dilakukan pada tahapan akhir sembahyang. Ho Tjiang bersedia merunutnya. Pertama, umat Tionghoa berdiri memegang dupa pada detik-detik jelang pukul 00.00.

Begitu waktunya tiba, pengurus kelenteng memukul kencang beduk kecil di tiang kiri kelenteng. Bunyi ini menjadi tanda dimulainya sembahyang. "Sebagai tanda dibukanya langit," ujarnya.

Sedangkan di tiang kanan kelenteng, bergantung lonceng. Lonceng itu dibunyikan untuk mengakhiri ritual sembahyang. Sebagai tanda langit kembali ditutup. Kadang-kadang, beduk dan lonceng ini dibunyikan secara bersamaan.

Kedua, dilanjutkan dengan persembahan minyak untuk dituangkan pada kuali lampu kelenteng. Minyak ini boleh dibawa dari rumah, bisa pula diambil dari lapak yang telah disediakan kelenteng. Imbalannya, umat memberi derma secara sukarela pada kelenteng.

Kuali ini menyalakan sumbu lilin kecil berbentuk bunga teratai. Ada tiga lampu, yakni lampu langit, lampu bumi dan lampu manusia. Ketiganya dijaga agar jangan pernah padam. Pemberian minyak ini mengandung doa, agar jalan hidup si pemberi senantiasa disoroti cahaya terang.

Ho Tjiang punya cerita unik di balik minyak ini. Pernah ada orang Hulu Sungai Tengah, bukan peranakan Tionghoa, datang kemari memohon izin mengambil sedikit minyak untuk dibawa pulang. "Dia menunjukkan kulit tubuhnya yang terkena penyakit. Katanya buat batatamba (pengobatan). Kami izinkan selama bisa membantu," kisahnya.

Ketiga, barulah menyalakan sepasang lilin untuk bumi dan manusia. Membakar dupa untuk sembahyang. Dan terakhir, keempat, mempersembahkan uang kertas emas untuk dibakar.

"Terkadang, ada yang keliru memahami urutan ini. Menyalakan lilin dan dupa dulu, baru menuangkan minyak. Sulit dicegah karena sudah menjadi kebiasaan," tukasnya.

Mendekati jam satu dini hari, semua ritual sembahyang telah tuntas ditunaikan. Sebagian beranjak pulang ke rumah, sebagian lagi bertahan di kelenteng sembari menahan kantuk. Padahal udara Banjarmasin sedang dingin-dinginnya lantaran terus diguyur hujan deras.

Ini rupanya tradisi, bukan sekadar begadang untuk ngopi atau ngobrol. "Orang Tionghoa percaya pada malam Imlek dewa rejeki telah turun ke bumi. Kami begadang untuk menyambutnya," pungkas Ho Tjiang. (fud/at/nur)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 22 September 2018 19:36

Batulicin Digelar Minggu

BATULICIN - Kegiatan Senam Minggu Pagi Ceria (SMPC) Batulicin, kembali digelar Minggu (23/9), pagi.…

Sabtu, 22 September 2018 19:32

Memperbaiki Kesejahteraan Penyandang Disabilitas

BATULICIN - Pemkab Tanbu bekerja sama dengan Dinas Sosial Provinsi Kalsel menggelar pertemuan Unit Pelayanan…

Sabtu, 22 September 2018 19:30
Pemkab Tanah Bumbu

Tahun Introspeksi Diri

BATULICIN - Peringatan Tahun Baru Islam di Kabupaten Tanah Bumbu turut disemarakkan dengan Tablik Akbar…

Sabtu, 22 September 2018 12:34

Pembebasan Tugas Banjarmasin dan Banjar

BANJARMASIN - Lama terkatung-katung dan jadi biang kemacetan, nasib Jembatan Sungai Lulut mulai cerah.…

Sabtu, 22 September 2018 11:58

Bisa Bermanfaat Bagi Masyarakat

BANJARMASIN – Puluhan alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Cahaya Bangsa tampak sumringah,…

Sabtu, 22 September 2018 11:18

Asesor LSP Kementan Berikan Apresiasi Pelaksanaan Uji Kompetensi di SMKPP Banjarbaru

Banjarbaru, (21/9/2018) – Setelah dilaksanakan pembukaan uji sertifikasi bidang pengolahan hasil…

Jumat, 21 September 2018 09:09

Raih Predikat Kota Pintar Tapi Masih Banyak yang Buta Huruf

BANJARMASIN - Menyandang predikat kota pintar, penduduk Kota Banjarmasin masih ada yang buta huruf.…

Jumat, 21 September 2018 09:05

Anang: Pemko Memancing Kami Memasuki Zona Perang

BANJARMASIN - Sidang sengketa informasi publik antara Pemko Banjarmasin versus warga berlanjut. Komisi…

Jumat, 21 September 2018 09:01

Baru Dibangun 2017, Siring dan Jalan Beton di Desa Dalam Pagar Ulu Ambruk

MARTAPURA – Jalan cor beton dan siring di Desa Dalam Pagar, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten…

Jumat, 21 September 2018 08:36
Pemko Banjarbaru

Gelar Pawai Budaya Islami Menyambut Tahun Baru Islam

BANJARBARU – Masih dalam momen menyambut tahun baru Islam 1 Muharam 1440 H, Pemerintah Kota Banjarbaru…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .