MANAGED BY:
MINGGU
16 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

LIFESTYLE

Rabu, 28 Februari 2018 11:19
Kisah Rahmawati Srikandi yang Memelihara Delapan Ekor Musang
JINAK: Rahmawati memeluk musang yang telah dipeliharanya selama lima tahun.

PROKAL.CO, Tren memelihara hewan liar kian marak. Bikin jinak hewan liar mempunyai tantangan tersendiri. Begitupun dengan menjinakkan musang. Bagaimana menjinakkan musang manjadi hewan yang lucu dan menggemaskan, berikut kisahnya.

WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin.

Selain liar, musang juga terkenal sebagai hewan pemangsa. Bila ia merasa terancam, musang bisa saja mencakar atau menggigit. Namun, hal itu tak berlaku bagi Rahmawati. Perempuan kelahiran 31 Maret ini, bahkan nekat memelihara delapan ekor musang di rumahnya.

Salah satunya adalah Omen. Omen, tampak nyaman berada di pelukan Rahmawati. Sesekali, perempuan yang gemar berburu kuliner ini, tampak mengelus-elus Omen. Yang dielus-elus, asyik menggerak-gerakkan ekornya. Pertanda nyaman, berada di pelukan sang majikan.

Omen, merupakan nama musang peliharaan Rahma, yang dibeli di pasar hewan pada tahun 2013 lalu. Seperti perempuan pada umumnya, Awalnya, Rahma mengaku ketakutan ketika melihat hewan liar itu. Dalam pikirannya, musang adalah hewan yang galak, liar dan suka menggigit.

"Ketika dikenalin, semua pemikiran tentang itu pupus. Yang ada, musang malah kelihatan unyu, lucu dan imut," ungkapnya, kepada Radar Banjarmasin, Selasa (27/2) siang.

Perlahan tapi pasti. Rahma pun tertarik mengadopsi seekor musang berjenis musang pandan yang ia berinama Omen. Untuk menambah pengetahuannya tentang musang, Rahma juga bergabung dengan Komunitas Sahabat Musang (Samba) di Banjarmasin.

"Sejak itu, musang peliharaanku mulai bertambah. Selain mengadopsi, ada pula musang yang kudapatkan dari pemberian teman. Dari yang liar, semi jinak hingga yang jinak," tuturnya. 

Merawat musang, tak sesulit yang dibayangkan. Bagi Rahma, yang terpenting adalah menjaga kebersihan kandang, serta rajin memandikannya. Sementara, bila soal makanan, seperti pada umumnya makanan musang, Rahma memberikan musang peliharaannya dengan buah-buahan serta kepala ayam yang sudah direbus.

"Menangani musang yang sakit juga cukup gampang. Biasanya, musang yang sakit kelihatan dari warna kotoran yang dikeluarkan serta nafsu makannya yang berkurang. Kalau sudah begitu, biasanya kutangani sendiri dengan memberikan obat-obatan herbal seperti kunyit, gula merah, madu serta daun sirih. Bila perlu cepat dan sakitnya perlu perawatan khusus, baru kuserahkan ke dokter hewan," ucapnya.

Memelihara hewan liar, tentu ada suka maupun duka. Rahma mengaku, sudah tak terhitung berapa kali cakaran dan gigitan dirasakannya. Bahkan, tak hanya ia saja yang merasakan, tapi juga semua penghuni rumahnya. Beruntung, hingga sejauh ini tak pernah sampai cedera serius.

"Aku sempat tegang ketika melihat musang peliharaan pertamaku jatuh sakit dan tiba-tiba lumpuh. Karena waktu itu enggak tau apa-apa soal musang. Aku cuma berusaha memijit-mijit saja. Alhamdulillah, ternyata sembuh sampai sekarang," ungkapnya, seraya tersenyum.

Lantas, bagaimana cara membuat musang agar jinak? Rahma memgungkapkan bahwa ia tak pernah dengan sengaja melatih musang peliharaannya agar jinak. Yang ia lakukan, hanya sering mengajak musang-musangnya bermain.

"Makin banyak berinteraksi makin bagus. Makin cepat membuat musang akrab dengan kita dan terbiasa dengan lingkungan sekitar," ungkapnya.

Sementara itu, kabar yang santer terdengar di masyarakat sekarang, musang sering mengganggu ternak warga. Oleh karena itu, keberadaan musang pun tak ayal kerap diburu. Namun, bagi Rahma, hal itu tidak sepenuhnya benar. 

"Musang, makanan pokoknya buah-buahan. Yang paling memungkinkan, yakni mengganggu perkebunan. Bukan ternak. Selain itu, ada alasan tersendiri mengapa musang mengganggu perkebunan. Yakni, kerena hutan yang menjadi tempat musang mencari makan sudah semakin sempit," ujarnya seraya menambahkan bahwa banyak lahan yang dibuka untuk perumahan atau perkebunan secara tak langsung membuat persediaan makanan musang semakin sedikit dan akhirnya musang turun ke kebun, perkampungan, mencari ternak untuk dimangsa. Sehingga, musang dicap sebagai hewan pengganggu.

Terlepas dari hal itu, Rahma juga menuturkan, bahwa sebenarnya, musang juga turut andil dalam menyebarkan bibit tanaman. Banyak dari biji buah-buahan yang dikonsumsi, juga ditebar oleh musang. Namun sayangnya, sebagian masyarakat hanya memandang sisi buruk dari musang saja. Hal itu pula yang menjadikan perburuan musang semakin gencar dilakukan oleh sebagian masyarakat.

"Untuk menjaga agar musang tetap ada, kami di komunitas juga sedang berusaha menernakkan sendiri musang-musang yang kami pelihara. Selain agar musang tetap ada, juga agar stop mengadopsi musang hasil buruan," harapnya. (war)


BACA JUGA

Jumat, 18 September 2015 09:32

Dua Kapal Perang TNI Singgah di Banjarmasin

<p style="text-align: justify;"><strong>BANJARMASIN</strong> &ndash;…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .