MANAGED BY:
SENIN
18 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 02 Maret 2018 10:52
Perajin Tanggui Kreasi Khas Kuin, Terinspirasi setelah Mengajar Calistung
KREATIF: Dina sedang memasang payet pada tanggui mini. Motifnya beragam dengan berbagai warna yang menawan.

PROKAL.CO, Tanggui. Siapa yang tak tahu. Topi khas petani perempuan ini tak lagi sekadar perlengkapan untuk bertani. Lebih modern, kini dijadikan sebagai hiasan.

ENDANG SYARIFUDDIN, Banjarmasin

Kreasi itu dilakukan oleh Dina Fathiana. Dia warga Jalan Belitung Darat, Gang Pelangi, RT 12, Kelurahan Kuin Cerucuk, Banjarmasin Barat. Bersama Kelompok Usaha Bersama (KUBE), dirinya memodifikasi tanggui menjadi sebuah hiasan yang mempunyai nilai jual.

Rabu (28/2) sore, saat ditemui di rumahnya, Dina sedang sibuk memasang payet di atas tanggui-tanggui berukuran mini. “Tanggui kreasi khas Kuin,” sebut perempuan 41 tahun itu.

Dina lantas memulai cerita. Usaha kreasi itu muncul tanpa sengaja. Kisahnya berawal empat tahun silam, tepatnya 2014. Ketika dia ditugaskan mengajari warga di sekitar tempat tinggalnya untuk membaca, menulis dan menghitung (calistung). Namanya Keaksaraan Fungsional (KF) Anggrek. Khusus bagi mereka yang tak bisa baca tulis.

Agar mudah dalam mengajar, Dina mengolaborasi teknis belajar sambil bekerja. Kebetulan warga yang diajarinya adalah perajin tanggui. “Saya gabung cara belajarnya dengan kerajinan tanggui,” kata istri dari Alpian Noor tersebut.

Cara belajar yang dia terapkan mudah. Misalnya mengeja sambil menulis bahan-bahan untuk membuat tanggui. Sebut saja seperti daun nipah, benang dan sebagainya.

Begitu juga cara berhitung. Warga yang diajari diminta untuk menghitung jumlah lembar daun nipah dalam membuat tanggui.

“Lama-kelamaan, itu menjadi kebiasaan hingga mereka jadi hapal huruf dan angka. Sekarang mereka sudah bisa membaca, menulis maupun menghitung,” tutur Dina yang juga guru honorer di SDN Kuin Cerucuk 4.

Ide membuat tanggui kreasi akhirnya muncul. Lantaran Dina merasa kerajinan tersebut kian berkurang, dia pun bertekad untuk mengenalkannya lagi pada masyarakat luas.

“Saya hanya ingin memperkenalkan kerajinan tangan khas Kuin ini ke tingkat nasional bahkan sampai ke mancanegara,” ucapnya.

Kembali pada pembuatan tanggui kreasi. Dihias dengan beragam motif payet. Mirip kain sasirangan. Seperti kurat kurikit, pucuk rabung, kambang bahambur dan naga balimbur. Layak untuk dijadikan hiasan dinding, penutup lampu meja, properti kesenian atau buah tangan.

Dalam proses pembuatannya, Dina membaginya secara berkelompok. Dibagi menjadi dua kelompok. Enam orang bertugas membuat tanggui, empat orang memasang hiasan. “Kalau membuat tanggui empat hari, memasang air guci sekitar seminggu, kalau rajin kurang dari itu,” tutur ibu dua anak tersebut.

Penjualannya memang belum begitu luas. Namun cukup kreatif. Semula cuma dari mulut ke mulut, sekarang sudah mengandalkan medsos.

“Tiap unit tanggui ukuran mini harganya Rp25 ribu. Untuk ukuran sedang Rp30 ribu dan besar Rp40 ribu. Lumayan bisa menambah penghasilan saya sebagai guru honor,” pungkasnya. (at/nur)


BACA JUGA

Selasa, 05 Juni 2018 14:41

Mengintip Kampung Permainan Tradisonal Pendamai di Teluk Tiram Darat

Bulan Ramadan ini Kampung Permainan Tradisional Pendamai bukannya sepi. Tapi makin ramai dikunjungi.…

Senin, 04 Juni 2018 12:54

Melacak Jejak Musyawaratutthalibin, Pergerakan Islam Asli Kalsel

Mempersatukan kaum terpelajar Muslim Kalsel, pergerakan Islam bernama Moesjawaratoetthalibin pernah…

Minggu, 03 Juni 2018 12:29

Senjakala Sastra Lisan Belamut, Jaya Pada Masanya, Kini Minim Apresiasi

Menjadi seniman lamut sejak puluhan tahun, Gusti Jamhar Akbar akhirnya memutuskan pensiun dari panggung…

Jumat, 01 Juni 2018 11:25

Serunya Sahur Sembari Menyaksikan Mamanda Bersama Taman Budaya Kalsel

Sang Putri dari Kerajaan Malinggam Cahaya tak hanya terkenal cantik, namun juga fasih dalam melantunkan…

Rabu, 30 Mei 2018 15:00
Perayaan Waisak di Banjarmasin

Pesan Jaga Keharmonisan, Panjatkan Doa Untuk Negeri

Winda terlihat penuh hati-hati meletakkan dana makan ke mangkok yang dibawa oleh para Bikhu di Vihara…

Rabu, 23 Mei 2018 14:59

Menengok Jumat Kelabu Lewat Kliping Koran

23 Mei 1997. Setelah salat Jumat, Tajuddin hendak menuju Lapangan Kamboja. Mengikuti puncak kampanye…

Sabtu, 19 Mei 2018 10:38

Menengok Kelahiran Kampung Mural di Jalan Tunjung Maya

Seusai salat tarawih hingga tibanya waktu sahur, warga dan pelukis berkumpul. Membawa teko kopi dan…

Senin, 14 Mei 2018 15:15

Cerita Ketua MUI Tanbu KH Fadli Muis Mendirikan Pondok Pesantren Zaadul Muttaqiin

Saat ini, pondok pesantren mulai digandrungi anak muda putra dan putri. Pondok pesantren (ponpes) mulai…

Minggu, 13 Mei 2018 05:50

Surat Terakhir Erik Petersen Pria Keturunan Bangsa Viking di Banua Anyar

Erik Petersen adalah keturunan Bangsa Viking. Yang memilih meninggal dunia di Banua Anyar. Warisan Erik,…

Sabtu, 12 Mei 2018 14:14

Menengok Kehidupan di Ponpes Dalam Pagar Kandangan

Santri; terpisah dari keluarga, belajar agama atau menghafal ayat-ayat suci Alquran. Kalau dibayangan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .