MANAGED BY:
SABTU
22 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 02 Maret 2018 11:04
Noor Salihun, Pedagang Gulali yang Mampu Berbahasa Arab dan Inggris

Habiskan Masa Kecil hingga Remaja di Arab Saudi, Nyambi jadi Penerjemah

SEKADAR SELINGAN: Noor Salihun berjualan gulali keliling menggunakan sepeda pancal, sekaligus menyediakan jasa terjemah bahasan Arab dan Inggris.

PROKAL.CO, Jalan hidup seseorang memang tak bisa diduga. Demikian pula dengan jalan hidup Noor Salihun. Sehari-hari jualan gulali keliling menggunakan sepeda pancal, Salihun ternyata mahir berbahasa Arab dan Inggris. Sembari jualan gulali, Salihun menyediakan jasa sebagai penerjemah dua bahasa populer dunia tersebut.

Fauzan Ridhani, Banjarmasin

Salihun terbiasa wara wiri di jalanan sejak pagi hingga menjelang petang. Mengenakan jaket training dipadu celana panjang berbahan kain, Salihun memang kelihatan lelah usai seharian menggenjot sepeda pancalnya. Dengan sepeda tersebutlah, Salihun berkeliling Banjarmasin menjajakan gulali yang dibungkus plastik transparan. Sebungkus gulali dijualnya seharga Rp5 ribu.

Yang menarik, di bagian boncengan sepedanya ada tulisan berlaminating “Penerjemah Bahasa Arab”. Ketika penulis menyapanya dengan Assalamualaikum dilanjutkan khaifa haluk (apa kabar), responnya cepat. “Wa Alaikum Salam, Ana bi khoir, Alhamdulillah,” ujarnya.

Balasan sapaan tersebut masih belum selesai, Salihun masih menyambung responnya dengan bahasa Arab, bahkan dengan intonasi yang lebih cepat. Sayang, penulis tak mampu berbahasa Arab lebih jauh. “Mohon maaf, Ana kira ente fasih bahasa Arab,” timpalnya sambil senyum.

Salihun rupanya senang akhirnya ada orang yang menanggapi tulisan yang dipasang di boncengan sepedanya. “Ini sebagai sampingan, barangkali ada orang yang memerlukan jasa untuk menerjemahkan artikel atau buku-buku berbahasa Arab. Sementara ini, belum pasang tarif, saya sudah gembira kalau ada orang yang bisa saya bantu. Kalaupun ada yang memberi seikhlasnya, itu bonus rezeki dari Allah buat saya,” ujar pria 35 tahun itu.

Ketika ditanyakan darimana dirinya belajar bahasa Arab, Salihun menuturkan ceritanya panjang. Soalnya, Salihun tak mempelajarinya di bangku pendidikan formal atau sekolah. “Saya sejak umur 9 bulan hidup di Arab Saudi hingga umur 20 tahunan. Kala itu, kedua orangtua memboyong saya dan tiga orang saudara ke Mekkah. Makanya, kami sekeluarga bisa berbahasa Arab, baik yang resmi maupun bahasa Arab kampung (tidak resmi),” ceritanya.
    
Di masa itu, kata Salihun sebutan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) masih belum populer. Kerajaan Arab Saudi bahkan masih membolehkan warga dari luar negeri untuk bekerja di badan-badan pemerintahan. Termasuk ayah Salihun yang bekerja lepas di sebuah lembaga mirip Satuan Pamong Praja. Tugasnya mengatur dan menertibkan pedagang-pedagang dadakan memadati kawasan Mekkah. “Kalau sedang libur bekerja, ayah saya membantu jaga toko apotik milik kawannya, seorang warga Mekkah. Kalau ibu tidak kerja, beliau ibu rumah tangga,” ujarnya memulai cerita.

Bertahun-tahun bekerja sebagai pekerja lepas, pemerintah Kerajaan Arab Saudi akhirnya mulai membatasi warga luar menjadi karyawan di lembaga pemerintahannya. Alhasil, banyak warga non Saudi kemudian dirumahkan, termasuk ayah Salihun. “Karena tak lagi bekerja, Ayah memutuskan membawa kami pulang ke kampung halaman di Margasari. Saya sempat kaget ketika sampai di kampung halaman karena kondisinya sangat bebas, beda jauh dengan di Arab Saudi yang punya aturan lebih ketat,” sambungnya.

Di Banua, Salihun ikut bekerja sebagai tenaga bantu di sebuah perusahaan transportir Bahan Bakar Minyak (BBM) Industri di Kabupaten Batola. Namun, seiring waktu perusahaan tempatnya bekerja tak mampu bertahan, akibatnya Salihun kehilangan pekerjaan. Pasokan penghasilan tersendat, padahal waktu itu Salihun sudah beristri dan memiliki satu putera.

Terdesak memenuhi kebutuhan anak istri, Salihun bertekad kembali ke Arab Saudi untuk mengadu nasib. Jalur TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang penuh risiko ditempuhnya demi bisa bekerja di Arab Saudi. Beruntung, dengan kemampuan fasih berbahasa Arab dan mengemudikan mobil, tak sulit dan tak lama bagi Salihun mendapatkan pekerjaan. “Saya jadi sopir sebuah keluarga di Mekkah. Tak berapa lama setelah kontrak kerja sebagai sopir berakhir, ada yang menawari bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi di Jeddah,” urainya.

Di perusahaan ekspedisi tersebut, ternyata banyak karyawan dari Eropa dan Amerika. Untuk berkomunikasi, para ekspatriat tersebut menggunakan bahasa Inggris. Kondisi ini memaksa Salihun harus mampu menguasai bahasa Inggris. “Ibarat bisa karena terbiasa, ya akhirnya saya bisa juga berbahasa Inggris seperti mereka. Inilah asal mulanya saya juga bisa bahasa Inggris, bukan belajar dari sekolah,” tuturnya.

Sayang, karena persaingan kerja yang berat, Salihun tak bisa bertahan lama di perusahaan ekspedisi tersebut. Salihun pun memutuskan kembali ke Banjarmasin. Nasibnya makin tragis karena di Banjarmasin tak kunjung dapat kerja, ditambah lagi istrinya minta cerai karena dianggap Salihun tak bisa lagi memberikan nafkah ekonomi. “Kondisi saya makin terpuruk, ketika keluarga istri makin mendesak supaya cerai, dengan kesal saya iyakan. Anak saya sekarang sudah SMP dan ikut istri di Banjarbaru,” urainya dengan mata berkaca-kaca.
 
Lantas, kenapa sampai jualan gulali? Salihun hanya tersenyum. Baginya ini sudah cukup untuk sekadar mengisi perut. Baginya, sekarang kerja hanya selingan untuk sekadar menunggu waktu salat wajib. “Makanya, kalau azan berkumandang, saya selalu berusaha salat berjamaah di Masjid. Kalau sore-sore, saya sering salat Asar di Masjid Hassanudin Madjedi bundaran Kayutangi, enak masjidnya sejuk,” tuturnya.

Ketika ditanyakan apakah sudah ada yang pernah menggunakan jasanya menterjemahkan bahasa Arab, Salihun menjawab baru satu orang. “Orang tersebut meminta saya menelpon seseorang di Abu Dhabi. Karena tak bisa bahasa arab, orang tersebut meminta saya yang jadi penerjemahnya. Alhamdulillah dikasih Rp70 ribu,” ujarnya.

Harapan ke depan, Salihun menginginkan dirinya bisa menjadi penerjemah tamu-tamu dari negara timur tengah yang bertandang ke Banjarmasin. “Mungkin ada hotel atau kantor pemerintah yang memerlukan penerjemah, jangan ragu hubungi saya,” tandasnya.(oza/yn/ran) 


BACA JUGA

Kamis, 20 September 2018 09:47

Sebelum Kuliah, Para Tersangka Perusakan Gedung Dewan Lapor Kantor Polisi Dulu

Empat dari tujuh mahasiswa yang menyandang status tersangka mencerutakan pengalaman mereka selepas unjuk…

Sabtu, 08 September 2018 12:51

Menengok Festival Anggrek 2018 di Taman Kamboja

Apa yang dicari-cari dunia jika melancong ke Kalsel? Jawabannya; anggrek. Bukan tanpa alasan, tanaman…

Sabtu, 08 September 2018 12:48

Memanen Kelapa Sawit, Pekebun Malah Menjerit

Memanen kelapa sawit tidak terlalu menggembirakan bagi pekebun di Kotabaru. Bekerja di bawah terik mentari,…

Rabu, 29 Agustus 2018 10:23

Bosan Tidur di Pengungsian, Pengungsi Lombok Mulai Datangi Kalsel

Pengungsi gempa Lombok mulai berdatangan ke Kalimantan Selatan melalui bandar udara Syamsuddin Noor…

Selasa, 28 Agustus 2018 10:18

Malam terakhir Konser Wartawan & Musisi Banua Untuk Palestina dan Lombok

Konser amal bertajuk Wartawan & Musisi Banua Untuk Palestina dan Penggalangan Dana Gempa Lombok,…

Senin, 27 Agustus 2018 11:20

Melihat Eksistensi Komunitas MGR Pasca Ganti Presiden

Meski telah ditinggalkan presiden sekaligus pendirinya Fitri Zamzam, yang telah berpulang pada November…

Senin, 27 Agustus 2018 10:48

Avani, Pemain Biola yang Raih Penghargaan di Asian Pasific Arts Festival

Berawal dari rasa penasaran terhadap instrumen musik, Avani Galuh Zaneta terjun menggeluti alat gesek…

Sabtu, 25 Agustus 2018 12:40

Serba-Serbi Festival Budaya Pasar Terapung 2018

Rakyat Indonesia menamainya Serabi. Orang Banjar menyebutnya Apam Batil. Namanya mungkin terdengar tidak…

Jumat, 24 Agustus 2018 14:24

BAKAL CANTIK..!! Bantaran Sungai Martapura akan Ditata

MARTAPURA – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjar membangun Talud di Sisi kiri dan kanan Jembatan…

Jumat, 24 Agustus 2018 11:08

Disodori Buku Berbahasa Inggris, Incar Generasi milenial

Indonesia punya Najwa Shihab. Kalsel punya Eka Chandra Dewi. Dua-duanya punya kesamaan: dinobatkan menjadi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .