MANAGED BY:
SENIN
18 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 02 Maret 2018 11:04
Noor Salihun, Pedagang Gulali yang Mampu Berbahasa Arab dan Inggris

Habiskan Masa Kecil hingga Remaja di Arab Saudi, Nyambi jadi Penerjemah

SEKADAR SELINGAN: Noor Salihun berjualan gulali keliling menggunakan sepeda pancal, sekaligus menyediakan jasa terjemah bahasan Arab dan Inggris.

PROKAL.CO, Jalan hidup seseorang memang tak bisa diduga. Demikian pula dengan jalan hidup Noor Salihun. Sehari-hari jualan gulali keliling menggunakan sepeda pancal, Salihun ternyata mahir berbahasa Arab dan Inggris. Sembari jualan gulali, Salihun menyediakan jasa sebagai penerjemah dua bahasa populer dunia tersebut.

Fauzan Ridhani, Banjarmasin

Salihun terbiasa wara wiri di jalanan sejak pagi hingga menjelang petang. Mengenakan jaket training dipadu celana panjang berbahan kain, Salihun memang kelihatan lelah usai seharian menggenjot sepeda pancalnya. Dengan sepeda tersebutlah, Salihun berkeliling Banjarmasin menjajakan gulali yang dibungkus plastik transparan. Sebungkus gulali dijualnya seharga Rp5 ribu.

Yang menarik, di bagian boncengan sepedanya ada tulisan berlaminating “Penerjemah Bahasa Arab”. Ketika penulis menyapanya dengan Assalamualaikum dilanjutkan khaifa haluk (apa kabar), responnya cepat. “Wa Alaikum Salam, Ana bi khoir, Alhamdulillah,” ujarnya.

Balasan sapaan tersebut masih belum selesai, Salihun masih menyambung responnya dengan bahasa Arab, bahkan dengan intonasi yang lebih cepat. Sayang, penulis tak mampu berbahasa Arab lebih jauh. “Mohon maaf, Ana kira ente fasih bahasa Arab,” timpalnya sambil senyum.

Salihun rupanya senang akhirnya ada orang yang menanggapi tulisan yang dipasang di boncengan sepedanya. “Ini sebagai sampingan, barangkali ada orang yang memerlukan jasa untuk menerjemahkan artikel atau buku-buku berbahasa Arab. Sementara ini, belum pasang tarif, saya sudah gembira kalau ada orang yang bisa saya bantu. Kalaupun ada yang memberi seikhlasnya, itu bonus rezeki dari Allah buat saya,” ujar pria 35 tahun itu.

Ketika ditanyakan darimana dirinya belajar bahasa Arab, Salihun menuturkan ceritanya panjang. Soalnya, Salihun tak mempelajarinya di bangku pendidikan formal atau sekolah. “Saya sejak umur 9 bulan hidup di Arab Saudi hingga umur 20 tahunan. Kala itu, kedua orangtua memboyong saya dan tiga orang saudara ke Mekkah. Makanya, kami sekeluarga bisa berbahasa Arab, baik yang resmi maupun bahasa Arab kampung (tidak resmi),” ceritanya.
    
Di masa itu, kata Salihun sebutan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) masih belum populer. Kerajaan Arab Saudi bahkan masih membolehkan warga dari luar negeri untuk bekerja di badan-badan pemerintahan. Termasuk ayah Salihun yang bekerja lepas di sebuah lembaga mirip Satuan Pamong Praja. Tugasnya mengatur dan menertibkan pedagang-pedagang dadakan memadati kawasan Mekkah. “Kalau sedang libur bekerja, ayah saya membantu jaga toko apotik milik kawannya, seorang warga Mekkah. Kalau ibu tidak kerja, beliau ibu rumah tangga,” ujarnya memulai cerita.

Bertahun-tahun bekerja sebagai pekerja lepas, pemerintah Kerajaan Arab Saudi akhirnya mulai membatasi warga luar menjadi karyawan di lembaga pemerintahannya. Alhasil, banyak warga non Saudi kemudian dirumahkan, termasuk ayah Salihun. “Karena tak lagi bekerja, Ayah memutuskan membawa kami pulang ke kampung halaman di Margasari. Saya sempat kaget ketika sampai di kampung halaman karena kondisinya sangat bebas, beda jauh dengan di Arab Saudi yang punya aturan lebih ketat,” sambungnya.

Di Banua, Salihun ikut bekerja sebagai tenaga bantu di sebuah perusahaan transportir Bahan Bakar Minyak (BBM) Industri di Kabupaten Batola. Namun, seiring waktu perusahaan tempatnya bekerja tak mampu bertahan, akibatnya Salihun kehilangan pekerjaan. Pasokan penghasilan tersendat, padahal waktu itu Salihun sudah beristri dan memiliki satu putera.

Terdesak memenuhi kebutuhan anak istri, Salihun bertekad kembali ke Arab Saudi untuk mengadu nasib. Jalur TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang penuh risiko ditempuhnya demi bisa bekerja di Arab Saudi. Beruntung, dengan kemampuan fasih berbahasa Arab dan mengemudikan mobil, tak sulit dan tak lama bagi Salihun mendapatkan pekerjaan. “Saya jadi sopir sebuah keluarga di Mekkah. Tak berapa lama setelah kontrak kerja sebagai sopir berakhir, ada yang menawari bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi di Jeddah,” urainya.

Di perusahaan ekspedisi tersebut, ternyata banyak karyawan dari Eropa dan Amerika. Untuk berkomunikasi, para ekspatriat tersebut menggunakan bahasa Inggris. Kondisi ini memaksa Salihun harus mampu menguasai bahasa Inggris. “Ibarat bisa karena terbiasa, ya akhirnya saya bisa juga berbahasa Inggris seperti mereka. Inilah asal mulanya saya juga bisa bahasa Inggris, bukan belajar dari sekolah,” tuturnya.

Sayang, karena persaingan kerja yang berat, Salihun tak bisa bertahan lama di perusahaan ekspedisi tersebut. Salihun pun memutuskan kembali ke Banjarmasin. Nasibnya makin tragis karena di Banjarmasin tak kunjung dapat kerja, ditambah lagi istrinya minta cerai karena dianggap Salihun tak bisa lagi memberikan nafkah ekonomi. “Kondisi saya makin terpuruk, ketika keluarga istri makin mendesak supaya cerai, dengan kesal saya iyakan. Anak saya sekarang sudah SMP dan ikut istri di Banjarbaru,” urainya dengan mata berkaca-kaca.
 
Lantas, kenapa sampai jualan gulali? Salihun hanya tersenyum. Baginya ini sudah cukup untuk sekadar mengisi perut. Baginya, sekarang kerja hanya selingan untuk sekadar menunggu waktu salat wajib. “Makanya, kalau azan berkumandang, saya selalu berusaha salat berjamaah di Masjid. Kalau sore-sore, saya sering salat Asar di Masjid Hassanudin Madjedi bundaran Kayutangi, enak masjidnya sejuk,” tuturnya.

Ketika ditanyakan apakah sudah ada yang pernah menggunakan jasanya menterjemahkan bahasa Arab, Salihun menjawab baru satu orang. “Orang tersebut meminta saya menelpon seseorang di Abu Dhabi. Karena tak bisa bahasa arab, orang tersebut meminta saya yang jadi penerjemahnya. Alhamdulillah dikasih Rp70 ribu,” ujarnya.

Harapan ke depan, Salihun menginginkan dirinya bisa menjadi penerjemah tamu-tamu dari negara timur tengah yang bertandang ke Banjarmasin. “Mungkin ada hotel atau kantor pemerintah yang memerlukan penerjemah, jangan ragu hubungi saya,” tandasnya.(oza/yn/ran) 


BACA JUGA

Selasa, 05 Juni 2018 14:41

Mengintip Kampung Permainan Tradisonal Pendamai di Teluk Tiram Darat

Bulan Ramadan ini Kampung Permainan Tradisional Pendamai bukannya sepi. Tapi makin ramai dikunjungi.…

Senin, 04 Juni 2018 12:54

Melacak Jejak Musyawaratutthalibin, Pergerakan Islam Asli Kalsel

Mempersatukan kaum terpelajar Muslim Kalsel, pergerakan Islam bernama Moesjawaratoetthalibin pernah…

Minggu, 03 Juni 2018 12:29

Senjakala Sastra Lisan Belamut, Jaya Pada Masanya, Kini Minim Apresiasi

Menjadi seniman lamut sejak puluhan tahun, Gusti Jamhar Akbar akhirnya memutuskan pensiun dari panggung…

Jumat, 01 Juni 2018 11:25

Serunya Sahur Sembari Menyaksikan Mamanda Bersama Taman Budaya Kalsel

Sang Putri dari Kerajaan Malinggam Cahaya tak hanya terkenal cantik, namun juga fasih dalam melantunkan…

Rabu, 30 Mei 2018 15:00
Perayaan Waisak di Banjarmasin

Pesan Jaga Keharmonisan, Panjatkan Doa Untuk Negeri

Winda terlihat penuh hati-hati meletakkan dana makan ke mangkok yang dibawa oleh para Bikhu di Vihara…

Rabu, 23 Mei 2018 14:59

Menengok Jumat Kelabu Lewat Kliping Koran

23 Mei 1997. Setelah salat Jumat, Tajuddin hendak menuju Lapangan Kamboja. Mengikuti puncak kampanye…

Sabtu, 19 Mei 2018 10:38

Menengok Kelahiran Kampung Mural di Jalan Tunjung Maya

Seusai salat tarawih hingga tibanya waktu sahur, warga dan pelukis berkumpul. Membawa teko kopi dan…

Senin, 14 Mei 2018 15:15

Cerita Ketua MUI Tanbu KH Fadli Muis Mendirikan Pondok Pesantren Zaadul Muttaqiin

Saat ini, pondok pesantren mulai digandrungi anak muda putra dan putri. Pondok pesantren (ponpes) mulai…

Minggu, 13 Mei 2018 05:50

Surat Terakhir Erik Petersen Pria Keturunan Bangsa Viking di Banua Anyar

Erik Petersen adalah keturunan Bangsa Viking. Yang memilih meninggal dunia di Banua Anyar. Warisan Erik,…

Sabtu, 12 Mei 2018 14:14

Menengok Kehidupan di Ponpes Dalam Pagar Kandangan

Santri; terpisah dari keluarga, belajar agama atau menghafal ayat-ayat suci Alquran. Kalau dibayangan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .