MANAGED BY:
SENIN
17 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 03 Maret 2018 06:20
Kisah Penerima Beasiswa Sekolah di Wisconsin, USA

Juara Olimpiade, Kenalkan Kain Sasirangan

KE HUTAN: Amira (kiri) bersama Emma dan Tuesday Polo.

PROKAL.CO, “Hernandez, Zoe! Say hi please..”. Begitulah ucapan Amira Hasna Febriyanti kepada dua temannya dalam Instastory. Mereka sedang berada di sebuah ruangan. Tak begitu besar. Terlihat ada papan tulis dan meja berwarna putih berjejer rapi. Menandakan itu adalah ruang kelas. Apa yang berbeda? Interaksi dan orang-orang di dalamnya.

TIA LALITA NOVITRI, Banjarmasin.

Sejak 7 Agustus 2017, Amira berangkat ke Amerika Serikat. Bukan untuk jalan-jalan. Dirinya terpilih menjadi salah satu peserta Kennedy Lugar Youth Exchange dan Study (KL-YES). Yakni program beasiswa penuh yang diberikan oleh pemerintah Amerika kepada siswa SMA sederajat.

Tujuan utama beasiswa untuk menjembatani pemahaman antar negara. Terutama masyarakat Amerika dengan warga dari negara berpopulasi muslim tinggi. Indonesia salah satunya.

Hari ini (3/3) adalah hari ke-203 bagi Amira tinggal di Negeri Paman Sam. Banyak yang sudah dia pelajari. Salah satunya tentang pola belajar.

Begitu tiba di Amerika, Amira terlebih dahulu mengikuti orientasi di Kota Washington DC. Usai pengarahan, dirinya ditempatkan di Fond du Lac, Wisconsin. Sebuah negara bagian Amerika Serikat. Di sana dia tinggal bersama keluarga kecil Klapperich. Host yang memang ditunjuk untuk menyambut kedatangan peserta program tersebut.

Amira kemudian didaftarkan di Fond du Lac High School. Salah satu sekolah terbaik setingkat SMA di kota tersebut. Menampung sekitar 2000 siswa. Berjarak 10 km dari rumahnya. Untuk ke sana, cuma butuh waktu sepuluh menit.

Untuk pergi ke sekolah, Amira diantar oleh ayah angkatnya bernama Scott Klapperich. Melewati jalan tol. Kelas dimulai pukul 7.55 pagi hingga 3.25 sore waktu setempat.

Hari pertama bersekolah, Amira sempat tersesat. Luasnya Area Fond du Lac High School membuat siswi SMAN 1 Banjarbaru itu takjub sekaligus kebingungan. Terutama soal mengingat jalan menuju kelasnya.

Sehari sebelumnya, dia telah dibekali orientasi sistem belajar dan mengenal ruang-ruang kelas. Namun itu belum cukup. Apalagi sekolah itu menerapkan sistem moving class. Berbeda mata pelajaran, berbeda pula ruang yang digunakan.

“Saat kelas pertama dimulai, aku datangnya telat gara-gara tersesat. Beruntung gurunya pengertian,” kenang Amira. Tidak langsung dicekoki tugas apalagi PR. Hari pertama sekolah cuma diisi dengan perkenalan diri.

Enam bulan berjalan, putri pasangan Soufyan Noor dan Rusmiyatie itu semakin menikmati suasana sekolahnya. Para siswa dibebaskan memilih mata pelajaran (mapel) yang disukai.

“Seru dan pastinya bikin siswa tidak merasa dituntut untuk mata pelajaran yang tak diingiinkan,” ujarnya. Dia berharap sistem belajar seperti itu juga diterapkan di Indonesia.

Sekolah tersebut juga memberlakukan cardinal time. Yakni jam konsultasi yang dibuka oleh masing-masing guru. Para siswa bebas bertanya langsung seputar materi pelajaran.

Kebebasan itu juga diberlakukan bagi siswa yang sudah bekerja. Kebanyakan siswa seusia Amira sudah memiliki profesi. Baik menetap maupun paruh waktu. Bukannya membatasi, Fond du Lac High School justru memberikan study hall. Yaitu kelas tambahan diluar jadwal semestinya. “Tidak ada batasan bagi siswa yang ingin mengeksplor kemampuannya di luar sekolah. Selagi bisa mempertanggungjawabkan kebebasannya,” ucap cewek kelahiran Februari tahun 2000 itu.

Jika di Indonesia ada bimbel, di sana dinamakan tutoring after school. Kelas tambahan yang satu ini diadakan setelah semua jam pelajaran usai. Belajarnya asyik dan tidak dipungut biaya sedikitpun. Amira jelas saja tak menyia-nyiakan kesempatan itu.

Ketika berada di ruang kelas, Amira dituntut untuk aktif berpendapat. Melatih para siswa untuk berpikir kritis adalah tujuan utama sekolah. Tak ada istilah saling tunjuk ataupun malu-malu ketika dilontarkan pertanyaan.

Perbedaan sistem belajar itu juga sampai ke mapel di dalamnya. Jika di Indonesia disebut dengan Matematika, IPA dan Kertakes. Maka di Fond du Lac High School dipecah lebih spesifik. Sebut saja seperti Human Anatomy, Physiology, Vertebrae, Invertebrae dan Chemistry untuk mapel IPA. Accounting, Algebra I dan Algebra II untuk mapel Matematika. Begitu pula untuk mapel lainnya.

Accounting adalah mapel yang paling difavoritkan Amira. Dia bahkan sempat ikut olimpade Accounting I beberapa waktu lalu. Berbuah manis, dirinya berhasil meraih juara 3 tingkat regional. “Bulan April nanti aku lanjut ke tingkat state,” bebernya.

Tak kalah menarik baginya, kelas seni yang mengajarkan mapel Art Foundation juga Amira ikuti. Di kelas itu dia belajar banyak tentang teknik menggambar.

Misi utama KL-YES mengenalkan Negara Indonesia sudah dilakukan Amira beberapa waktu lalu. Dia mendatangi salah satu Sekolah Dasar terdekat untuk mempresentasikan Indonesia.

Di kelas Matematika dan cardinal time, dia lakukan hal serupa. Sekitar satu jam, Amira menjelaskan keberagaman Indonesia yang terangkum dalam Bhinneka Tunggal Ika. Meliputi agama, ras, suku, budaya, seni hingga bahasa.

Para siswa begitu antusias. Apalagi ketika dirinya menjelaskan tentang sistem belajar di Indonesia. Peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus juga tak luput dari perhatian mereka. Dia juga mengenalkan kota-kota besar seperti Jakarta, Bali serta Yogyakarta.

Kalsel tentu saja tak ketinggalan. Amira bahkan memutarkan sebuah video singkat. Berisi tentang kehidupan masyarakat perkotaan hingga daerah. Video itu juga menyorot tempat-tempat ikonik di Kalsel. Seperti Menara Pandang, Patung Bekantan di Banjarmasin, Bundaran Besar Banjarbaru, Pasar Terapung Lok Baintan, berbagai wisata alam dan masih banyak lagi.

Tak lupa juga Amira mengenalkan kain Sasirangan. Perhatian mereka tertuju pada Amira. Beberapa diantaranya penasaran dan bertanya. “Mereka lebih takjub lagi ketika aku bilang kalau mal di Banjarmasin punya empat lantai. Maklum, Fon du Lac hanya punya mal berlantai satu,” ceritanya.

Amira juga membagikan uang pecahan Rp2 ribu kepada siswa-siswi yang menyaksikannya presentasi. Sekali lagi, mereka keheranan. Pasalnya lembar Rupiah jauh lebih besar ketimbang Dolar.

Tinggal di negara tersebut memang sudah lama diidam-idamkan cewek kelahiran Banjarmasin itu. Baginya, Amerika adalah negara besar dengan berbagai kemajuan. Baik dari segi pemerintahan, ekonomi, teknologi dan akademik.

“Apa yang membuat negara itu maju?”. Pertanyaan itu selalu terbayang di benaknya. Hingga akhirnya, diputuskan Amira menjadi salah satu siswa yang berhak mendapat beasiswa. Kesempatan emas untuk mencari jawaban atas pertanyaannya.

Prosesnya tentu tak mudah. Dua tahun sebelum itu, persisnya Mei hingga Juni 2016, Amira harus mengikuti seleksi chapter Banjarmasin. Tes dilakukan sebanyak 3 tahap. Pertama, ujian tentang pengetahuan umum dan menulis esai. Kedua, tes wawancara menggunakan bahasa Inggris dan Indonesia. Dinamika kelompok adalah ujian pada tahap ketiga. Kala itu diadakan di gedung Lembaga Bahasa & Pendidikan (LBPP) LIA Banjarmasin.

Ketiga tahapan itu disapu bersih oleh Amira. Dirinya melaju ke tahap nasional untuk program KL-YES. Seleksi itu berlangsung di Desa Wisata, TMII, Jakarta pada tanggal 10-12 November 2016 lalu. Di sana dia berjuang menaklukkan berbagai tes lanjutan. Beberapa diantaranya psikologi, wawancara dan membuat karya tulis. “Tergabung dengan begitu banyak siswa yang cerdas, akupun tak mau kalah,” ucapnya.

Januari 2017, sebanyak 81 siswa dinyatakan lolos program beasiswa KL-YES. Nama Amira Hasna Febriyanti salah satunya. Mengetahui hal itu, dia merasa begitu bahagia. Tak terkecuali kedua orang tua dan teman-teman akrabnya.

“Rela bolak-balik mengantarkanku dari Banjarbaru ke Banjarmasin buat seleksi chapter. Semua ini berkat kerja keras mamah dan papahku,” ucap Amira.


Dihidangkan Daging Halal

7 Agustus menjadi awal perjalanannya. Kedua orang tuanya mengatarkan Amira ke Bandara Syamsudin Noor. Senang akan menuju ke negeri idaman. Namun sempat terkalahkan dengan rasa haru. Walaupun hanya sementara, meninggalkan keluarga dan teman-teman akrab sempat membuat Amira berlinang air mata.

Tiba di Amerika, dia betul-betul tak menyangka. Begitu banyak orang dari berbagai negara tinggal di negeri itu. Dari Arab, India, Cina, Jepang dan masih banyak lagi.

Keluarga Klapperich yang menampungnya sangat baik hati. Mereka dengan ringan tangan memenuhi berbagai kebutuhan Amira. Mulai dari tempat tinggal, peralatan sekolah dan lainnya.

Soal makanan, keluarga baru yang dia sebut dengan ‘hostfam’ itu memperlakukannya spesial. Daging halal yang terbilang langka mereka siapkan khusus untuk Amira. Tak hanya itu, peralatan masaknya pun terpisah. Mexican wedding cake, zucchini bread dan cookies adalah kue yang sering mereka buat bersama.

Tradisi Thanks Giving dan perayaan Natal juga Amira pelajari dari keluarga tersebut. Dia membaur bersama hostfam-nya ketika menjamu seluruh keluarga yang datang untuk makan malam. Amira juga ikut serta Ibu (Tuesday Polo) dan Saudara angkatnya (Emma) ke hutan pinus.

Kala itu, mereka sibuk memilih pohon pinus yang akan ditebang untuk dipajang menjelang Natal. “Pengalaman yang seru. Sebelum pergi ke hutan, kami wajib mengenakan jaket oren. Buat jaga-jaga biar tidak dikira sasaran buruan,” ucap Amira.

Keluarga Klapperich termasuk penyuka olahraga. Amira seringkali diajak menyaksikan pertandingan baseball, football, hockey dan basket.

Pergantian musim pun tak kalah menarik baginya. Dari musim semi ke musim gugur misalnya. Dia melihat langsung bagaimana dedaunan berubah warna. Rontok hingga menyisakan ranting seperti pohon yang mati. Tak berapa lama salju pun berguguran. Tidak sekadar menyaksikan di televisi, kini Amira merasakan langsung sensasinya.

Program beasiswa Amira akan berakhir tiga bulan lagi. Tepatnya 5 Juni 2018 mendatang. Amira akan meninggalkan hostfam-nya dan kembali ke Indonesia. Untuk itu, gadis yang gemar membaca itu tak ingin menyia-nyiakan momennya di sana. “Aktifitas sekolah, harian maupun bersenang-senang dengan teman betul-betul aku nikmati selagi aku di sini. Semoga ini mendatangkan kebaikan bagi siapa saja yang mendengar kisahku kelak,” pungkasnya.


Mandiri dan Periang

Di mata ibunya, Amira anak yang mandiri. Hampir tak pernah menuntut sesuatu yang menyulitkan orang tua. “Anaknya simpel, tidak pernah menuntut yang macam-macam,” ucap Rusmiyatie, bundanya Amira.

Selain itu, anak bungsu dari dua bersaudara itu adalah sosok periang. Canda tawa selalu dilontarkan ketika sedang kumpul keluarga. Sikap itu juga membuat Amira begitu disenangi oleh teman-temannya.

“Sebagai orang tua, saya harus tahu kegiatan Amira,” tegasnya. Tinggal di beda benua lantas tidak membatasi keduanya untuk saling berkomunikasi. Perbedaan waktu mencapai 14 jam bukan jadi halangan. Amira selalu menyempatkan untuk menghubungi keluarga.

“Setiap akhir pekan, kami selalu video call untuk membicarakan apapun yang sudah dia jalani,” tambahnya.

Beberapa waktu lalu, Amira berhasil meraih peringkat tiga dalam olimpiade Accounting I. Kebanggaan luar biasa bagi sang ibu. “April nanti, Amira akan ikut olimpade tingkat state di Washington DC,” sebutnya.

Rusmiyatie jelas tak heran. Sebab, Amira dikenal sebagai anak yang giat belajar sejak kecil. Dia juga aktif terlibat dalam OSIS. Berbagai kegiatan sekolah diikuti tanpa mengenal lelah. “Amira kerap dipercaya berpidato dan menjadi MC untuk acara sekolahnya,” tutupnya. (ma/nur)


BACA JUGA

Sabtu, 15 Desember 2018 12:50

Sisi Lain Pelatih Tinju kalsel, Arbain

Menjadi pelatih tinju rupanya bukan satu-satunya pekerjaan yang digeluti oleh…

Sabtu, 15 Desember 2018 09:55

Berawal Ketiadaan Toilet Buat Kencing, Berdirilah Galeri Unik Ini

Apa yang dilakukan oleh warga RT 05 RW 02 Kelurahan…

Jumat, 14 Desember 2018 14:46

Moses Sulap Puing Kayu Menjadi Seni Bernilai Tinggi

Beri Moses Foresto puing-puing kayu, dia bisa menjadikannya apa saja.…

Kamis, 13 Desember 2018 13:20

Bekali Santri Keterampilan Untuk Hadapi Tantangan Zaman

Nyantri bukan melulu tentang ngaji. Di Pondok Pesantren Nurul Muhibbin,…

Sabtu, 08 Desember 2018 11:45

Tidak Mudah, Honorer Ini Pantau CCTV di Menara Pandang Hingga Larut Malam

Di depan layar monitor yang lebarnya tak lebih lebar dari…

Sabtu, 08 Desember 2018 09:03
Kisah Bocah-bocah Penjual Buku Mewarnai di Banjarmasin

Demi Sesuap Nasi Mereka Sampai Dikejar-Kejar Satpol PP

Mobil partoli Satpol PP Kota Banjarmasin melintas di perempatan Jalan…

Jumat, 07 Desember 2018 11:31

Jejak Laskar Pelangi di Banua (2)

Belajar di gudang kecil kadang membuat siswa SD Dusun Munggu…

Kamis, 06 Desember 2018 13:02

Jejak Laskar Pelangi di Banua

Hanya 12 siswa dan satu gedung kecil. Tapi mereka semangat…

Rabu, 05 Desember 2018 12:25

Gol A Gong Berbagi Motivasi ke Penulis Muda Balangan

Yang mengalami masa remaja di era 80’ dan 90’ an,…

Rabu, 05 Desember 2018 10:10

Wahh!! Rabiul Awal Jadi Bulan Rezeki Pengrajin Mahar Pernikahan

Rabiul Awal atau bulannya Maulid Nabi pada penanggalan Hijriah, menjadi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .