MANAGED BY:
SENIN
18 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 08 Maret 2018 14:27
JEF Band Garap Album Kedua Berbahasa Banjar

Meneliti Rumah Telok Selong Demi Penulisan Lirik

LAGU BARU: JEF Band saat memainkan lagu baru Lestarikan Bekantan di panggung BSF II Siring Pierre Tendean, kemarin. JEF kini sedang fokus menggarap album kedua

PROKAL.CO, JEF Band sedang menggarap album kedua berbahasa Banjar. Menyusul album pertama, Waja Sampai Kaputing yang sukses besar. JEF menjanjikan karya ini bakal lebih kaya. Hebatnya lagi, tiap lagu punya video klip.

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

JEF BAND manggung pada pembukaan Banjarmasin Sasirangan Festival (BSF) II di Siring Pierre Tendean, kemarin (7/3). Kesempatan ini mereka gunakan untuk mengenalkan lagu baru. Judulnya Lestarikan Bekantan.

"Kami bekerjasama dengan kawan-kawan dari SBI (Sahabat Bekantan Indonesia) untuk pembuatan lagu ini," ungkap Jefry Albari Tribowo, keyboardis JEF Band.

JEF beranggotakan tiga personel. Selain Jefry, ada Eben alias Irwansyah pada gitar. Dan Winda Aldina Kesuma pada vokal. Sementara Anwari Firdaus mengambil posisi manajer band.

Album pertama Waja Sampai Kaputing yang rilis tahun 2016 menuai sukses besar. Hits-nya, Ayo ke Banjarmasin sudah bak mars wajib pada acara-acara Pemko Banjarmasin. Judul lagu yang sama dengan nama album, kemudian dijadikan soundtrack film Perang Banjar besutan sutradara Erwan Siregar. Album ini berisi 10 lagu.

Namun, JEF tak cepat puas. "Album kedua harus menutupi kekurangan album pertama. Materinya harus lebih kaya dan dewasa," imbuh pemuda 25 tahun tersebut.

Untuk pengayaan materi itulah, JEF membuka diri. Tak hanya rajin berdiskusi dengan seniman senior, tapi juga menggandeng komunitas non musisi. Seperti pada lagu Lestarikan Bekantan.

Contoh lain, pada lagu Bubungan Tinggi, mereka bepergian ke Martapura. Mengunjungi rumah cagar budaya di Teluk Selong. Melihat langsung rumah Bubungan Tinggi yang sebenarnya. "Disitulah tantangannya. Anda meneliti dan membaca. Materi-materi yang berat itu kemudian coba dituangkan dalam lirik lagu," sambung Eben.

Kapan kira-kira album ini bisa dirilis? Anwari masih merahasiakan. "Sekarang sudah enam lagu yang rampung," ujarnya. Bukan hanya tema lagu yang lebih beragam, pemuda 21 tahun ini juga menjanjikan konsep yang lebih ambisius.

Bayangkan, per lagu nanti punya video klipnya sendiri. Bahkan band yang sudah mencapai level rock star sekalipun lazimnya cuma punya tiga atau empat video klip untuk hits-nya. "Versi penuh diunggah ke YouTube, cuplikannya di Instagram. Kami memang mengandalkan media sosial untuk promosi band," ujarnya.

Sebenarnya, jika pengayaan materi dan pengerjaan video klip dikesampingkan, tetaplah tak mudah menggarap album berbahasa Banjar. "Kalau menyanyikan mudah saja. Karena saya sendiri orang asli Banjar," kata Winda yang tinggal di Handil Bakti, Kabupaten Barito Kuala.

Tantangannya bukan pada menyanyikannya, melainkan pada penulisan liriknya. Berbeda dengan Bahasa Indonesia yang punya kamus besar, Bahasa Banjar belum punya. Bisa ditemukan di pasaran, tapi terbilang tipis. Kata per kata harus dipelototi sedemikian rupa. Tak jarang harus bertanya kesana-kemari pada orang-orang yang sudah berusia sepuh. "Kadang kan bingung, kata ini atau itu bahasa Banjarnya apa?" tukas Jefry.

Menengok ke belakang, JEF Band berdiri pada tahun 2012. Awalnya menyandang nama Jefry Band and Friends. Personelnya cuma dua orang, Jefry dan Eben. Mereka juga lebih fokus pada kontes-kontes penciptaan lagu jingle.

Kalau pun menyanyikan lagu karya sendiri, masih berbahasa Indonesia. Pertemuan dengan Anwari lah yang mengubah band ini. "Anwari yang mengarahkan kami pada lagu berbahasa Banjar," jelasnya. Sang manajer ternyata punya latar belakang sebagai Nanang Banjar.

Motivasinya, lewat aliran pop etnik, JEF coba menyuguhkan lagu Banjar yang lebih modern. Yang lebih segar dan mengena di telinga anak muda. Bahwa pilihan musik lokal tak lagi melulu pada musik Panting. Eben mengaku tak pernah menyesali keputusan untuk mengubah haluan band. "Prospek lagu Banjar itu cerah. Kami yakin itu," tegasnya.

Yang mengherankan, mengapa JEF tak kunjung merekrut personel tambahan? Sebutlah menambah seorang pemain bass dan drum. Alasannya, format tiga orang inilah yang paling realistis. "Ngeband masih side job, masing-masing punya pekerjaan di luar. Mengumpulkan tiga orang untuk latihan saja susah, apalagi lima atau enam," ujarnya tertawa.

Kesibukan yang ia maksud, Jefry seorang dokter umum. Sementara Winda, masih kuliah di FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) Universitas Lambung Mangkurat. Winda juga masih ketimpuk pesanan menyanyi di sejumlah resepsi perkawinan. Gadis manis ini masuk belakangan, menggantikan vokalis pada album pertama, Niluh Putu Ratna yang beristirahat karena sedang hamil.

Sedangkan dari segi proses kreatif, Jefry dan Eben sudah terbiasa bekerja seperti ini: semakin minimalis semakin bagus. "Pernah dulu main dalam format band lengkap, tapi malah ribet sendiri," pungkas Jefry. (at/nur)


BACA JUGA

Selasa, 05 Juni 2018 14:41

Mengintip Kampung Permainan Tradisonal Pendamai di Teluk Tiram Darat

Bulan Ramadan ini Kampung Permainan Tradisional Pendamai bukannya sepi. Tapi makin ramai dikunjungi.…

Senin, 04 Juni 2018 12:54

Melacak Jejak Musyawaratutthalibin, Pergerakan Islam Asli Kalsel

Mempersatukan kaum terpelajar Muslim Kalsel, pergerakan Islam bernama Moesjawaratoetthalibin pernah…

Minggu, 03 Juni 2018 12:29

Senjakala Sastra Lisan Belamut, Jaya Pada Masanya, Kini Minim Apresiasi

Menjadi seniman lamut sejak puluhan tahun, Gusti Jamhar Akbar akhirnya memutuskan pensiun dari panggung…

Jumat, 01 Juni 2018 11:25

Serunya Sahur Sembari Menyaksikan Mamanda Bersama Taman Budaya Kalsel

Sang Putri dari Kerajaan Malinggam Cahaya tak hanya terkenal cantik, namun juga fasih dalam melantunkan…

Rabu, 30 Mei 2018 15:00
Perayaan Waisak di Banjarmasin

Pesan Jaga Keharmonisan, Panjatkan Doa Untuk Negeri

Winda terlihat penuh hati-hati meletakkan dana makan ke mangkok yang dibawa oleh para Bikhu di Vihara…

Rabu, 23 Mei 2018 14:59

Menengok Jumat Kelabu Lewat Kliping Koran

23 Mei 1997. Setelah salat Jumat, Tajuddin hendak menuju Lapangan Kamboja. Mengikuti puncak kampanye…

Sabtu, 19 Mei 2018 10:38

Menengok Kelahiran Kampung Mural di Jalan Tunjung Maya

Seusai salat tarawih hingga tibanya waktu sahur, warga dan pelukis berkumpul. Membawa teko kopi dan…

Senin, 14 Mei 2018 15:15

Cerita Ketua MUI Tanbu KH Fadli Muis Mendirikan Pondok Pesantren Zaadul Muttaqiin

Saat ini, pondok pesantren mulai digandrungi anak muda putra dan putri. Pondok pesantren (ponpes) mulai…

Minggu, 13 Mei 2018 05:50

Surat Terakhir Erik Petersen Pria Keturunan Bangsa Viking di Banua Anyar

Erik Petersen adalah keturunan Bangsa Viking. Yang memilih meninggal dunia di Banua Anyar. Warisan Erik,…

Sabtu, 12 Mei 2018 14:14

Menengok Kehidupan di Ponpes Dalam Pagar Kandangan

Santri; terpisah dari keluarga, belajar agama atau menghafal ayat-ayat suci Alquran. Kalau dibayangan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .