MANAGED BY:
SENIN
21 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Kamis, 08 Maret 2018 15:29
Sasirangan Tak Anti Perubahan
SANG PELOPOR: Yurliani Djohan digandeng Ketua Dekranasda Banjarmasin, Siti Wasilah seusai seminar di Rumah Anno 1925, kemarin. Yurliani disebut pelopor Sasirangan sebagai fashion pada era 80-an.

PROKAL.CO,  

BANJARMASIN - Saking semangatnya, apa saja kini diberi motif Sasirangan. Dari pengecatan pagar jembatan, tiang listrik, bak sampah hingga asbak. Pecinta kain khas Banjar ini khawatir, nilai-nilai adiluhung Sasirangan bakal sirna. Gara-gara semangat yang kebablasan tersebut.

Kemarin (7/3) di Rumah Anno 1925, Siring Pierre Tendean, digelar forum diskusi dengan tajuk mereposisi kain Sasirangan. Melibatkan budayawan, perajin dan pengambil kebijakan. Diskusi berlangsung hangat dan seru.

Apalagi pembicaranya bukan orang sembarangan. Seperti Yulian Djohan, tokoh pelopor kain Sasirangan pada tahun 1980-an. Budayawan Mukhlis Maman alias Julak Larau. Dan Ketua Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Banjarmasin, Siti Wasilah.

"Harus ada desain baru di luar yang telah kita temukan sekarang. Jangan sampai motif untuk kemeja sama dengan yang dibuat untuk taplak meja," tegas Mukhlis.

Jauh sebelum menjadi komoditi fashion, dalam kepercayaan Banjar lama, Sasirangan adalah media pengobatan. Dijuluki kain pamintan (dibuat khusus sesuai permintaan) untuk keperluan batatamba (berobat). Misal, ada anak kecil yang sakit-sakitan. Ayunan sang anak kemudian dibuat dari Sasirangan untuk pengobatan.

"Ada ritualnya, nenek saya kalau menenun Sasirangan sambil membaca shalawat. Bahkan ada juga pantangannya. Jangan membuatnya selagi datang bulan," imbuh Mukhlis.

Selain penetapan pakem motif, dia juga meminta perumusan makna. Selama ini, perajin dan pecinta Sasirangan ragu-ragu menjelaskan makna di balik motif-motif tertentu kepada orang luar.

Bukan hanya motif, makna dan pemilihan warna yang didebatkan, teknologi juga. Mengingat selama ini Sasirangan murni produk kerajinan tangan. Nama tekniknya menyirang atau menjelujur.

Secara tradisi memang bagus, tapi ini pula yang membuat Sasirangan kalah bersaing. Katakanlah dengan Batik. Lantaran ongkos produksinya mahal dan tak bisa diproduksi massal.

"Pernah saya kedatangan dosen ITB (Institut Teknologi Bandung) yang sedang menulis disertasi. Dia bertanya, adakah teknik lain selain menyirang? Saya jawab memang tak ada," tukas Mukhlis.

Melihat luasnya tema ini, seabrek pertanyaan di atas takkan tuntas terjawab dengan seminar sehari. Semuanya setuju, perlu dibentuk tim kecil yang intens menggeluti masalah ini. Melibatkan budayawan, perajin, desainer dan peneliti.

"Hasil penelitian ini kemudian ditetapkan pemerintah sebagai standar. Dalam hal ini harus oleh Dekranasda Kalsel. Tanpa acuan kebijakan pemerintah, masalahnya takkan selesai," kata Wasilah.

Jika tidak, istri Walikota Banjarmasin itu khawatir, Sasirangan akan mandek di level usaha kerajinan mikro. "Kalau mau Sasirangan menasional, artinya harus siap memenuhi permintaan pasar dalam jumlah besar. Dari usaha mikro berubah menjadi industri," tukas Wasilah.

Setidak-tidaknya, forum bersepakat, tak perlu ada sikap alergi terhadap motif-motif Sasirangan kontemporer. Yang lahir dari kreativitas kaum muda. Selama ciri khas dan filosofinya tak hilang, Sasirangan menerima hal baru. Kaum muda tak perlu dikekang. (fud/at/nur)

 


BACA JUGA

Kamis, 24 September 2015 23:03

Ada Presiden, Pengamanan Ketat, Antre Panjang, Ratusan Jemaah Tak Bisa Salat

<p><strong>LANTARAN</strong> dihadiri oleh orang nomor satu di Indonesia pengamanan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*