MANAGED BY:
JUMAT
22 MARET
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Sabtu, 10 Maret 2018 06:26
Ciptakan Terobosan Jengkol Anti Bau, ini Rahasianya
Delicious Jengkol 978

PROKAL.CO, Jengkol hanya punya dua kubu, kubu pencinta dan pembenci. Tak ada kubu netral. Pembenci hanya punya satu argumen, jengkol itu bau. Misi Indah dan Hafid adalah merangkul mereka yang memusuhi jengkol.

Mungkin hanya jengkol atau jering makanan yang patut dikasihani. Jengkol mendapat cap negatif. Dituding pembawa bau tak sedap. Dipandang sebelah mata sebagai makanan kampungan. Jengkol juga sering digunakan sebagai kata ejeken.

Kini, semua itu tinggal masa lalu. Di tangan Indah Maretna Sari, 27 tahun, secara ajaib bau jengkol berhasil dihilangkan. "Banyak yang sebelumnya tak bisa memakan jengkol, setelah saya kenalkan jengkol anti bau ini, jadi tertarik mencoba. Bahkan jadi nyanyat (ketagihan)," ungkapnya.

Kemarin (9/3) sore, Radar Banjarmasin mengunjungi rumah Indah di Jalan Martapura Lama. Persisnya di Sungai Tabuk, perbatasan Banjarmasin dan Kabupaten Banjar. Indah ditemani suaminya, Muhammad Hafid, 28 tahun.

Resep jengkol anti bau ini sebenarnya sudah lama Indah temukan. Tapi hanya tersimpan di dapurnya. Ia mulai terpikir memasarkannya setelah didorong teman-teman sekampusnya. Ceritanya, saat mengerjakan tugas kuliah di rumahnya, Indah menyuguhkan semur jengkol.

Mereka tak percaya sedang menikmati jengkol. Lantaran masakannya bersih, tanpa bau yang aneh-aneh. "Mereka yang memaksa. Akhirnya sejak dua bulan lalu, coba saya pasarkan bersama suami," imbuhnya.

Mereknya Delicious Jengkol 978. Tiga angka terakhir itu tak memiliki makna atau filosofi khusus, hanya sebuah cerita lucu. Menyangkut putri tunggal mereka, Rani, dua tahun. "Rani kalau ditanya berapa harga jengkol buatan mamanya, pasti nyerocos angka 978. Kami pikir, kenapa tak diabadikan saja menjadi merek," kisah mahasiswi Jurusan Akuntansi STIEPAN.

Promosi dan pemasaran mengandalkan Instagram. Pemesanan harus sehari sebelumnya. Ada tiga menu yang disediakan. Semur jengkol, balado jengkol dan oseng-oseng jengkol. Yang disebut pertama adalah yang paling laris.

Hafid yang bekerja di kantor desa, ikut membantu sebagai kurir. Pembelinya sebagian besar dari Banjarmasin. Sepulang kerja, Hafid berkeliling dengan sepeda motornya untuk mengantarkan pesanan.

Lantas, apa rahasianya untuk menyingkirkan bau jengkol tersebut? Jawabnya adalah kopi. Sebelum dimasak, jengkol lebih dulu direndam dalam air. Kemudian ditaburi dengan bubuk kopi hitam dan didiamkan sejenak.

Ide ini muncul secara tak sengaja. "Saya mengamati orang. Sehabis makan jengkol, minumnya kok kopi hitam panas. Katanya buat menyiram mulut dan perut dari bau jengkol," kata Hafid.

Tentu saja, awalnya mereka sangsi. Khawatir kopi akan merusak rasa jengkol. Ternyata dari percobaan pertama, ketakutan itu tidak terbukti. "Sebab jengkol punya kulit yang padat. Jadi kopi takkan meresap dengan mudah ke dalam daging jengkol," imbuhnya.

Setelah dibikin semur atau balado tak berbau, mereka harus melewati ujian kedua. Keesokan paginya, Hafid mengecek bau toiletnya. "Ternyata aman. Benar-benar sukses," ujarnya sembari tertawa.

Mengulik latar belakang Indah, dia memang punya hobi memasak. Apalagi Indah asli orang Tegal. Yang terkenal di Indonesia karena warteg-nya. Jika pada akhirnya Indah berbisnis jengkol, ia merasa ini bukan pilihan, melainkan memang sudah nasib.

"Belakangan orang tua mengetahui kalau saya sekarang berbisnis jengkol. Mereka kemudian bercerita, kalau nenek dulunya juga berjualan jengkol di Jawa. Wah, rupanya saya memang keturunan pedagang jengkol," ujarnya tergelak.

Ditanya rencana ke depan, pertama, Indah dan Hafid ingin menambah peralatan. Terutama untuk pengemasan agar produknya tak lekas basi. Bisa melayani pesanan untuk pembeli dari kota-kota yang jaraknya jauh.

Kedua, menambah jumlah karyawan dan kurir. "Sulitnya, produksi dalam jumlah besar tidaklah mudah. Jengkol di sini sering kosong. Karena sudah dikirim ke Jawa untuk memenuhi permintaan pasar di sana," jelas Hafid.

Pernah mereka mengikuti sebuah pameran kuliner di sebuah hotel berbintang di Banjarmasin. Indah panik, satu hari menjelang pameran, setok jengkol di pasar sedang kosong. Biasanya, mereka mengambil jengkol dari Sungai Lulut.

Sukses merangkul kaum pembenci jengkol, bukan berarti masalah selesai. Mereka kini justru "dimusuhi" kaum pencinta jengkol. "Bagi pencinta jengkol kelas berat, baunya yang khas justru dicari. Mereka malah protes dengan produk kami," pungkas Hafid tergelak.

Hafid adalah orang Yogyakarta yang lahir di kampung transmigran di Paringin, Kabupaten Balangan. Sedangkan Indah merantau ke Banjarmasin sejak empat tahun silam. "Saya diboyong suami kemari," ujarnya tersenyum. Keduanya jatuh cinta setelah berkenalan via Facebook. (fud)


BACA JUGA

Kamis, 24 September 2015 23:03

Ada Presiden, Pengamanan Ketat, Antre Panjang, Ratusan Jemaah Tak Bisa Salat

<p><strong>LANTARAN</strong> dihadiri oleh orang nomor satu di Indonesia pengamanan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*