MANAGED BY:
SELASA
21 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 10 Maret 2018 06:54
Perajin Hulu dan Kumpang di HSS, Profesi Utama Warga Sarang Halang
TURUN-TEMURUN: Majidi (sebelah kanan) saat membentuk kayu pulantan menjadi kumpang. Dia ditemani beberapa pemuda di Desa Sarang Halang.

PROKAL.CO, Hulu Sungai Selatan (HSS) tak cuma punya tradisi membawa senjata tajam. Di sana juga ada perajinnya. Salah satunya Desa Sarang Halang, Kecamatan Sungai Raya. Mayoritas warganya adalah pembuat hulu dan kumpang.

SALAHUDIN, Kandangan

Desa Sarang Halang terletak di sebelah selatan Kota Kandangan, ibu kota HSS. Jaraknya sekitar 10 km dari kantor bupati. Bisa ditempuh hanya dengan waktu 15 menit, menggunakan motor atau mobil.

Di sana ada empat rukun tetangga (RT). Perajin hulu dan kumpang terdapat di RT 1 dan 2. Sedangkan warga RT lainnya rata-rata adalah petani.

Hulu berarti gagang, atau pegangan. Sementara kumpang adalah sarung alias pembungkus bagian tajam pada senjata. Warga Sarang Halang sudah menggeluti profesi tersebut secara turun-temurun.

Salah satu perajin, bernama Majidi. Usianya 45 tahun. Saat ditemui, dia sedang membuat hulu bersama beberapa pemuda. Mereka berkerja di sebuah pondok yang dibangun dari bantuan Disperindagkop dan UKM HSS (sekarang Disnakerkop UKP) 2008 silam.

“Tamat SMP sudah bisa membuat hulu dan kumpang. Karena sering melihat orang tua dulu,” sebut Majidi sambil bekerja. Dirinya memang sudah punya keahlian itu sejak kecil. Dia belajar otodidak dari sang ayah.

Majidi lantas bercerita soal pembuatan hulu dan kumpang tersebut. Dia menggunakan jenis kayu ringan dan mudah dibentuk. Sebut saja seperti Pulantan.

Harga kayu ini tergolong murah. Per batang kecil cuma Rp2 ribu. Cukup untuk membuat sebuah hulu dan kumpang. “Kayunya beli di wilayah Loksado dan Padang Batung. Ada orang yang mengantar,” katanya.

Khusus untuk pembuatan kumpang, proses cukup panjang. Diawali dengan membelah batangan kayu Pulantan menjadi dua sisi. Kemudian dibentuk hingga menyerupai kumpang.

Masing-masing sisi kemudian diberi rongga. untuk memasukkan bagian tajam parang atau mandau. Sesuai dengan ukurannya.

Selanjutnya, kumpang dihaluskan menggunakan pisau tarah. Pisau kecil yang berpungsi mempertegas bentuk dan meratakan bagian tak rata.

Jika proses menghaluskan selesai, barulah kumpang dikeringkan. Bisa dibakar, atau dijemur. “Kalau dijemur bisa seharian, sedangkan dibakar bisa setengah hari,” sebut Majidi.

Kedua sisi berongga kumpang yang kering, direkatkan menggunakan lem kayu. Setelah itu permukaannya kembali dihaluskan dengan pisau tarah. Jika dirasa cukup, baru diampelas.

Proses akhir, kumpang yang nyaris jadi diberi pernis. Untuk mengilapkan sekaligus melindungi permukaan kayu agar tahan lama. Terakhir, lalu dijemur. Dalam tahap pengerjaan, Majidi juga dibantu sang istri.

“Kumpang selesai dibuat di pondok dibawa pulang ke
rumah dan istri nanti membantu memberi sentuhan akhir seperti mengampelas, menyemprot pernis sampai mengawasi saat dijemur,” tuturnya.

Lalu, bagaimana dengan pembuatan hulu? jawabnya, simpel. Batangan kayu dipotong kecil. Kemudian dibentuk sekepal tangan. Terakhir diberi lubang untuk memasukkan ujung tumpul parang atau mandau.

Di kampung Majidi, profesi membuat hulu dan kumpang sudah menjadi andalan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dalam sepekan Majidi bisa membuat tiga kodi atau 60 buah hulu dan kumpang. Hasilnya dijual ke wilayah Nagara hingga Rantau, Kabupaten Tapin, tetangga HSS.

“Satu hulu dan kumpang parang bungkul ukuran kecil saya jual Rp7 ribu. Sekodinya Rp140 ribu. Sedangkan ukuran besar dijual Rp9 ribu. Satu kodi Rp190 ribu,” tuturnya. Hasilnya, cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari Majidi. Termasuk menyekolahkan kedua anaknya.

Warga lainnya bernama Helmi. Usianya baru 13 tahun. Dia ikut membuat kerajinan bersama Majidi di pondok bantuan pemda tersebut. “Seminggu bisa sekodi membuat hulu dan kumpang parang,” ungkapnya. Bocah ini sudah menjadi perajin sejak kelas 6 SD, tetapnya mulai setahun lalu.

Helmi bekerja untuk membantu orang tuanya. Hasil dari kerajinan tersebut digunakannya untuk uang saku sekolah dan jajan sehari-hari.

Koordinator tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK) HSS, Muhammad Darmawi menyebut, hampir lima puluh persen warga Desa Sarang Halang berprofesi sebagai perajin hulu dan kumpang.

“Dari empat RT di Desa Sarang Halang, dua RT yaitu RT 1 dan 2 perajin hulu dan kumpang berbagai jenis sajam,” ujarnya.

Yang dibuat tentu saja bukan cuma hulu dan kumpang parang atau mandau, tapi juga pisau serta keris. “Para warga biasanya mulai dari pagi sampai sore di depan rumah masing-masing dan di pondok. Mereka membuat berbagai jenis hulu dan kumpang,” pungkas Darmawi. (ma/nur)


BACA JUGA

Senin, 13 Agustus 2018 14:15

Berbincang dengan Komunitas Cosplay Kandangan, Pamerkan Cosplay sambil Silaturrahmi

Tidak semua hobi yang disalurkan berakhir negatif, ada juga yang berakhir dengan kegiatan positif. Seperti…

Rabu, 08 Agustus 2018 12:52

Dari Salat Hajat Sambut HUT Kemerdekaan Bersama Guru Zuhdi

Pembacaan Surah Yasin dan Selawat Nabi Muhammad SAW, terdengar teduh di ruang utama Mahligai Pancasila,…

Sabtu, 04 Agustus 2018 15:11

Berkenalan dengan BPK dan Tim Emergency Landu, Banjarbaru

Memadamkan api, menolong orang kecelakaan, mengevakuasi korban, itulah yang sering dilakukan BPK dan…

Kamis, 02 Agustus 2018 17:32

Kasihannya..!! Ayah Rela Meminta-Minta Demi Biayai Anak di Rumah Sakit

Tetes air mata menetes dari mata Rosila (46) saat bercerita tentang suaminya, Suparyono(50) yang meminta-minta…

Rabu, 01 Agustus 2018 15:12

Cerita Adittya Regas, Penulis Muda Asal Banjarmasin

Patah hati tak lantas melarutkan Adittya Regas (23) dalam kesedihan. Sajak-sajak pilu yang tadi berkecamuk…

Selasa, 31 Juli 2018 15:03

Mengenang Jasa Transportasi Getek, Berawal dari Lima Puluh Perak

Jasa transportasi jukung getek dilindas zaman. Hasan memilih jalan sunyi. Bertahan dengan sampan tua,…

Senin, 30 Juli 2018 18:30

Penderitaan Bayi Adilla Nafisah Akibat Terkena Virus Rubella

Sepekan lagi, Adilla Nafisah genap berusia delapan bulan. Namun, suara tawa belum pernah terdengar dari…

Senin, 30 Juli 2018 18:11

Buku Djadoel, Melawan Arus Lewat Jual-Beli Buku Murah

Kios "Buku Djadoel" mencoba melawan arus. Lewat usaha jual beli buku dan majalah bekas dengan harga…

Senin, 30 Juli 2018 18:00

Antusias Warga Menyambut Salat Gerhana Bulan di Masjid Istiqomah

Warga Kota Banjarbaru turut menyambut peristiwa astronomi langka, gerhana bulan terlama abad ini, dengan…

Minggu, 29 Juli 2018 16:25

Berkenalan dengan Pratiwi Juliani, Penulis asal Lokpaikat yang Terpilih dalam Festival Literasi Internasional di Bali

Namanya masuk sebagai salah satu dari lima penulis Emerging Ubud Writer & Reader Festival (UWRF)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .