MANAGED BY:
MINGGU
22 JULI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 16 Maret 2018 11:44
Melihat Reaktor Sampah Hasil Penelitian 18 Tahun Dosen ULM

Ubah Sampah Plastik jadi Bahan Bakar

REAKTOR SAMPAH: Mahasiswa Fakultas MIPA ULM Jurusan Kimia memindahkan tabung reaktor pengubah sampah plastik menjadi bahan bakar. Tabung ini mampu mengolah 20 kilogram sampah menjadi BBM jenis bensin dan solar.

PROKAL.CO, Sampah plastik selama ini dianggap sebagai masalah. Karena, keberadaannya berdampak buruk bagi lingkungan hidup. Namun siapa sangka dari tangan-tangan kreatif mahasiswa Fakultas MIPA ULM, limbah sulit dibaur itu bisa diolah menjadi bahan bakar.

Sutrisno, Banjarbaru

Para mahasiswa Fakultas MIPA ULM Jurusan Kimia, Rabu (14/3) tadi mempraktikkan temuan tersebut. Didampingi dosen pembimbing mereka Tanto Budi Susilo, berbagai macam sampah plastik terlihat dimasukkan ke dalam tabung reaktor setinggi dua meter dan berdiameter sekitar satu meter.

Setelah itu, sampah yang sudah dimasukkan ke dalam tabung dicampur dengan oli bekas. "Tabung ini yang dapat mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar," kata Qamariah, salah seorang mahasiswi Fakultas MIPA ULM Jurusan Kimia.

Dia mengungkapkan, pembuatan tabung reaktor merupakan ide dari Dosen Pembimbing mereka Tanto Budi Susilo. Ide itu muncul berawal dari rasa keprihatinan mereka melihat sampah yang bertebaran di kawasan Banjarbaru, tanpa ada yang memanfaatkannya. "Apalagi di Kampung Pelangi yang saat ini menjadi destinasi wisata. Sangat sayang jika banyak sampah di sana. Jadi, lebih baik sampahnya kita manfaatkan," ungkapnya.

Sementara itu, Dosen Fakultas MIPA ULM Jurusan Kimia Tanto Budi Susilo menuturkan, untuk membuat tabung reaktor, mereka telah melakukan penelitian selama 18 tahun. Setelah itu, baru diaplikasikan dalam beberapa bulan terakhir. "Saat ini tabung yang kami miliki baru berkapasitas 20 kilogram. Kami masih mengembangkan mesin yang berukuran 1 ton," ujarnya.

Cara kerja tabung berbahan baja tebal itu, ialah memanaskan sampah yang sudah bercampur dengan oli bekas. Setelah itu leburan sampah disalurkan ke tabung penghantar untuk membaginya menjadi dua bahan bakar yaitu bensin dan solar. "Bensin dan solar akan mengalir di selangnya masing-masing, sementara yang tidak mengalir atau sisanya adalah aspal," jelas Tanto Budi Susilo.

Proses pemanasan hingga mengubah sampah menjadi energi membutuhkan waktu hingga dua jam lebih. Bahan bakar yang keluar sendiri masih belum murni, lantaran bercampur dengan air. "Untuk memisahkan airnya, harus melalui proses pengendapan," tambahnya.

Ditanya dalam 20 kilogram sampah dapat menghasilkan berapa liter bahan bakar, dia tidak bisa memastikan. Sebab, tergantung dengan jenis sampah yang diolah. "Tapi yang jelas dalam pengolahan, tiga perempatnya menjadi bahan bakar. Lalu sisanya berupa aspal," ujarnya.

Lalu apakah hasil bahan bakarnya sudah diuji? Dia mengungkapkan, bahan bakar yang dihasilkan sudah mereka coba untuk sepeda motor dan mesin genset. Dan hasilnya, bekerja dengan baik. "Hanya saja yang jenis solar jika dimasukkan ke mesin genset asapnya ngebul seperti asap sate, tapi kalau jenis bensinnya aman," ungkapnya.

Dia berharap, inovasi baru itu nantinya dapat manfaatkan untuk kepentingan masyarakat dan menjadi salah satu alternatif bahan bakar murah. "Mesin ini akan terus kami kembangkan, rencananya ada yang portabel supaya bisa dibawa ke mana-mana," pungkasnya. (by/bin)


BACA JUGA

Jumat, 20 Juli 2018 10:21

Kisah Kehidupan Tak Layak di Kolong Jembatan Antasari

Di bawah kolong Jembatan Antasari, tinggal menetap enam janda dengan keseharian sebagai pengemis. Memiliki…

Rabu, 18 Juli 2018 16:58
Menyaksikan Pementasan Tim Kesenian Taman Budaya Kalsel di Yogyakarta (3-Habis)

Tak Ada Standar Harga

Pasar Kangen menjadi salah satu daya tarik gelaran Seni Tradisi yang digagas Taman Budaya Yogyakarta.…

Selasa, 17 Juli 2018 13:36

Belajar Otodidak, Menangis Melihat Bulan Purnama

Tanggal 1 Desember mendatang, umurnya genap 10 tahun. Umar Ikhsan, menjadi satu-satunya anggota paling…

Senin, 16 Juli 2018 15:52

Perkenalkan Seni Banua dengan Kritik Eksploitasi Lingkungan

Menampilkan seni tari, musik dan teater, Tim Kesenian Taman Budaya Kalsel tampil di panggung sederhana…

Selasa, 10 Juli 2018 14:13

Kisah Buruh Kasur Kapuk Pasar Ujung Murung

Di sebuah gudang bekas toko tua, Guriyah (55) tampak sibuk. Duduk berselonjor, tangannya meraih tumpukan…

Senin, 09 Juli 2018 11:19

Cake Decorator Asal Banjarmasin, Beri Pelajaran Gratis untuk Konsumen

Menghias kue biasanya dilakukan oleh kaum hawa. Berani tampil beda, Ahmad (42) menekuni profesi cake…

Sabtu, 07 Juli 2018 16:07

Begini Proses Produksi Gulali Khas Amuntai yang Terkenal

Gula batu atau gulali merupakan permen tradisional khas Amuntai. Untuk membuatnya, diperlukan keterampilan,…

Kamis, 05 Juli 2018 15:06

WOW, Sebulan Paman Odong-Odong Bisa Nabung Rp 9 Juta

Kebahagiaan anak-anak itu sederhana. Cukup bisa naik odong-odong. Kebahagiaan operatornya tidak sesederhana…

Kamis, 05 Juli 2018 14:21

Sulitnya Kesempatan Kerja untuk Penyandang Disabilitas

Merekrut pekerja difabel bukanlah ide beken. Ongkos kerja yang mahal hingga sempitnya wawasan para pemberi…

Senin, 02 Juli 2018 15:06

Gerakan From Zero To Hero, Bina Anak Jalanan dan Pengamen

Membina anak jalanan dan pengamen bukanlah urusan enteng. Namun, sekelompok pemuda terpelajar memilih…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .