MANAGED BY:
MINGGU
21 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 17 Maret 2018 05:00
Kehidupan Tenang Warga Pulau Kerasian di Kotabaru

Masih Pro Kontra Jadi Kawasan Wisata

PULAU KECIL: Pulau Kerasian di selatan Kotabaru berpotensi menjadi objek wisata.

PROKAL.CO, Tinggal di pulau kecil, luasnya tidak sampai enam kilometer persegi ada suka dan susahnya. Itu dirasakan di Pulau Kerasian, sebuah pulau kecil di gugusan Pulau Laut.

Zalyan Shodiqin Abdi, Pulau Kerasian

Pulau Kerasian berada di arah selatan Pulau Laut, Kotabaru. Kalau ditempuh dari pesisir Teluk Aru Kecamatan Pulau Laut Kepulauan, perjalanan di laut bisa ditempuh sekitar setengah jam.

Dari Teluk Aru, rumah-rumah dan kapal nelayan di Pulau Kerasian jelas terlihat di seberang. Jika pakai speedboat, kata warga di Teluk Aru, ke pulau hanya sekitar 15 menit saja.

Sampai di Pulau Kerasian, penulis disuguhkan pemandangan menawan. Dari pinggir pulau, pesisir Pulau Laut terlihat hijau dengan perbukitannya. Di samping pulau, juga ada ada dua pulau kecil tampak berpenghuni.

Ditengok dari dermaga, terlihat banyak rumah berdiri di Pulau Kerasian. Bangunan rumah sebagian masih berbentuk panggung, dengan tiang tinggi. Ada dua jalan sejajar dari dermaga ke arah tengah pulau. Jalan-jalan itu dibuat dari semen.

Sejauh mata memandang, tidak ada pohon besar. Hanya ada pohon kelapa, pohon mangga, termasuk beberapa tanaman kayu keras yang diameter batangnya berukuran biasa.

Saat dikunjungi, musim sedang teduh. Angin berembus biasa. Laut tenang. "Beda kalau musim barat, anginnya kencang sekali di sini. Kadang ada yang atapnya terbang dibawa angin," kata Aswar, pemuda di Pulau Kerasian.

Meski rumah banyak di sana, suasananya tidak bising. Hanya terdengar suara pria di tepi pulau bekerja memperbaiki kapal. Suara tukang memperbaiki rumah. Juga suara anak-anak main kelereng. "Begini di sini tiap hari. Tenang," kata Aswar.

Beberapa warga bercerita saat dulu listrik belum masuk. Siang begini warga biasanya hanya kumpul-kumpul habiskan waktu. Main musik, main kartu, atau saling mengisahkan banyak hal. "Kami di sini semuanya saling mengenal, dari ujung ke ujung tahu namanya," ujar Suparmin, warga asal Sulawesi Barat.

Menurutnya, kehidupan di pulau dari dulu sampai sekarang tidak banyak berubah. Meski internet sudah lama masuk, anak-anak tetap bermain di luar. Hanya orang tua yang biasa menghabiskan waktu menonton TV, itu pun hari Jumat dan Minggu. Selain dua hari itu listrik hanya menyala malam hari.

Mereka suka tinggal di pulau karena suasananya tenang. Hampir tidak ada masalah. "Cuma dulu anak muda biasa mabuk. Sekarang tidak lagi, sudah banyak sekolah," timpal Aswar.

Biaya hidup juga murah. Ikan tinggal melaut atau memancing. Jika beras tidak ada, mereka makan ubi rebus atau jepa, makanan tradisional suku Mandar yang berbahan dasar ubi dengan kelapa.

Kondisi itu membuat warga terus bertahan di sana. "Sebenarnya dulu katanya pulau ini kosong. Nelayan dari Sulawesi Barat ke sini merantau, menetap akhirnya beranak cucu," kata Syaripuddin, warga lainnya.

Perasaan bosan tinggal di pulau justru dialami anak-anak muda di sana. "Setengah jam saja naik sepeda motor sudah selesai keliling pulau," kata Aswar. Itulah alasan beberapa anak muda lebih memilih merantau kerja ke luar pulau.

Ditanya soal rencana pemerintah menjadikan Pulau Kerasian dan sekitarnya sebagai objek wisata, tanggapan mereka beragam. Ada yang setuju karena membuat pulau ramai. Ada yang juga tidak, dengan alasan keamanan warga pulau. "Sebenarnya sudah banyak yang berkunjung ke sini. Kami juga sudah ada objek wisata, namanya Tangga Permai," ujar Kades Pulau Kerasian, Damri.

Wanita yang dulu berprofesi sebagai tenaga pengajar itu yakin jika pulau menjadi kawasan wisata maka ekonomi warga akan meningkat. "Kapal-kapal nelayan juga dapat tambahan pekerjaan, mengantar orang," bandingnya.

Damri mengungkapkan, pulau luasnya hanya 5,75 kilometer, dihuni 2.542 jiwa. "Ada enam ratusan kepala keluarga di sini. Mayoritas nelayan," paparnya.

Menurut Damri, selama ini warga mandiri menyelesaikan berbagai masalah di pulau. Seperti kesulitan air minum saat kemarau, diatasi dengan membuat sumur bor atau mengambil air minum dari pulau tetangga, Pulau Keramputan dan Pulau Kerayaan.(az/dye)


BACA JUGA

Minggu, 21 Oktober 2018 07:05

Memahami Selera Fashion Leluhur dari Busana Pengantin Banjar Abad 15-19

BANJARMASIN -Mengusung suara dari masa lampau, bukan berarti Kawang Yoedha anti perubahan. Kreasi modern…

Jumat, 19 Oktober 2018 11:17

Mega Proyek Siring Laut, Jaksa Minta Jangan Curang

KOTABARU - Kepala Kejaksaan Negeri Kotabaru, Indah Laila, meminta jangan ada yang curang terkait pekerjaan…

Jumat, 12 Oktober 2018 09:39

Sembilan Pengungsi Palu "Terdampar" di Banjarmasin, Begini Nasibnya

Empat hari bertahan hidup tanpa bantuan. Melihat penjarahan di mana-mana. Sembilan pengungsi berlayar…

Senin, 01 Oktober 2018 11:17

Nobar Film G30S/PKI, Memahami Sejarah Lewat Film

BANJARMASIN - Mengenang dan memahami sejarah. Itulah misi dari nonton bareng film G30S/PKI yang digelar…

Minggu, 30 September 2018 11:18

Perkantoran Pemprov Kalsel Dijadikan Wisata Edukasi

Menjelang Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38, kawasan Perkantoran Setdaprov Kalsel di Banjarbaru, disulap…

Senin, 24 September 2018 09:29

Yurien, Satu-Satunya Anggota Patwal Wanita Dishub Banjarbaru

Pria dan wanita memang beda, tapi soal pekerjaan mungkin kaum Hawa bisa sebanding dengan kaum Adam.…

Sabtu, 22 September 2018 13:31

Menjenguk Rumah Berbasis Lingkungan Milik Perkumpulan Pusaka Tabalong

Mungkin ini bisa menjadi contoh bagi yang ingin membangun rumah atau kantor. Ternyata barang bekas bisa…

Jumat, 21 September 2018 09:15

Kisah Mengharukan Perjuangan Para Honorer di Desa-Desa Terpencil

Benar kata mereka: Tak habis kisah jika menceritakan para guru honorer. Dengan perjuangan itu, layak…

Kamis, 20 September 2018 09:47

Sebelum Kuliah, Para Tersangka Perusakan Gedung Dewan Lapor Kantor Polisi Dulu

Empat dari tujuh mahasiswa yang menyandang status tersangka mencerutakan pengalaman mereka selepas unjuk…

Kamis, 13 September 2018 12:05

YS Agus Suseno, Penyair Banjar Yang Berani Menohok Rezim

Meminjam istilah sastrawan Seno Gumira Ajidarma: ketika jurnalisme dibungkam, maka mestinya sastra harus…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .