MANAGED BY:
KAMIS
20 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Senin, 19 Maret 2018 14:09
Terancam Punah, Kesenian Gandut Mesti Dimodifikasi Biar Diterima
DISKUSI: NSA Project Movement menggelar forum diskusi di Taman Budaya Kalsel, Sabtu malam. Mereka membahas soal kesenian Gandut.

PROKAL.CO, Kesenian Gandut sebagai kearifan lokal Kalsel terancam punah. Lantaran dianggap tak bermoral dan melanggar nilai-nilai keyakinan tertentu. Gaung pementasan bahkan tak lagi terdengar.

Untuk mencari jalan keluar, dari problem hilangnya kesenian gandut, NSA Project Movement menggelar forum diskusi. Temanya Gandut di Ambang Kepunahan. Gelaran tersebut berlangsung, Sabtu (17/3) malam, di Taman Budaya Kalsel.

Forum dengan tagline #mariberwakaffikir ini menghadirkan empat pemantik diskusi. Dari kalangan praktisi seni tradisional dan budayawan lokal, ada Abdul Rasyid dan Mukhlis Maman. Ada pula peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kalimantan Barat, Muhammad Natsir.

Lantas, apa sebenarnya Gandut? Jika ditilik dari jejak sejarah, kesenian ini merupakan bagian tari tradisi. Lahir dan tenar sejak awal munculnya pada akhir abad 19.

Tarian ini dimainkan oleh pria dan wanita di lapangan terbuka. Usai hajatan yang digelar masyarakat Banjar, dengan diiringi alunan musik.

Istilah Gandut disematkan untuk sang penari perempuan. Disebut sebagi penggandutan.

Apa yang membuat kesenian ini menarik? Mukhlis Maman alias Julak Larau menyebut tari Gandut memiliki nilai-nilai filosofis. Selain itu, untuk menjadi penggandutan bukan perkara enteng. Tak cuma wajib menguasai tarian, tapi juga mesti pandai bela diri dan menyanyi. "Karena kalau tidak, tangan-tangan usil bakal mengadang penarinya. Harus pandai bersilat," kata saat diskusi.

Dipaparkan Mukhlis, kesenian Gandut juga sering dipentaskan ketika masyarakat Banjar menyambut masa panen.

Selain itu, Tari Gandut juga tenar lantaran menjadi arena pertarungan gengsi lelaki. Yang memberikan sawer kepada para penggandutan.

Bahkan, dalam kesenian Gandut, terdapat istilah manunggul. Sang lelaki hanya duduk dan penggandutan akan menari di hadapannya menunggu untuk disawer.

Sayang, tren inilah yang membuat Gandut mendapatkan pandangan buruk dari masyarakat. Lantaran dianggap amoral dan tak sesuai ajaran agama. Ujung-ujungnya, sejak tahun 1960 kesenian ini mulai jarang dipentaskan.

Menanggapi itu, Peneliti BPNB Kalbar, M Natsir mengatakan kesenian Gandut bisa saja dimodifikasi. Asal tak menghilangkan pakem tertentu. "Kalau manunggul dianggap amoral, bisa saja diubah. Minta penggandutan untuk tak menari secara eksotis," ujarnya.

Natsir menegaskan, kesenian Gandut harus dipertahankan. Sebagai kearifan lokal masyarakat Banjar. "Saya sudah bertemu dengan generasi terakhir penggandutan di Desa Pandahan, Kabupaten Tapin. Beliau bersedia untuk mengajarkan kembali Tari Gandut kepada generasi muda," tukasnya.

Menurutnya, regenerasi pelaku kesenian Gandut merupakan harga mati untuk dilakukan. Betapa tidak, gempuran perkembangan zaman sudah mengadang kalau pementasan dan regenerasi tak dilakukan.

Sementara itu, Founder NSA Movement Project, Novyandi Saputra punya pendapat sendiri. Jarangnya pementasan Gandut, membuat kesenian ini seakan-akan perlahan divakumkan.

"Jadi forum diskusi ini diperlukan. Kita membahasnya dan mempertahankannya dalam konteks kultural atau kebudayaan saja," pungkas Novyandi. (dom/ma/nur)


BACA JUGA

Kamis, 20 September 2018 10:24
Berita Tabalong

PKK Tabalong Dapat 13 Piala di Jambore PKK Kalsel

TANJUNG - Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Tabalong sukses besar…

Kamis, 20 September 2018 09:07

HARUS TEGAS..! Aturan Kawasan Tanpa Rokok Masih Longgar

BANJARMASIN - Penerapan perda tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) banyak pengecualian. Diketuk sejak tahun…

Kamis, 20 September 2018 09:00

Ibnu Terperangah, di Pusat Kota Masih Ada Pemukiman Seperti ini

WALI Kota Banjarmasin, Ibnu Sina terperangah ketika mengunjungi rumah milik Slamet di Gang Kembang Jalan…

Kamis, 20 September 2018 08:58

Kelamaan Menunggu Diangkat PNS, Honorer: Keburu Kami Jadi Almarhum

Formasi honorer K2 untuk Banjarmasin cuma dijatah tiga orang. Forum guru honorer bereaksi. Mengadu ke…

Kamis, 20 September 2018 08:55

Festival Pasar Rakyat Angkat Derajat Pasar Tradisional

BANJARMASIN - Pasar tradisional merupakan jantung perekonomian masyarakat. Sayang sekali, keberadaannya…

Kamis, 20 September 2018 08:50

Tak Cuma Jadi Bandar, Asbullah Juga Sediakan Tempat Hisab Sabu

BANJARMASIN - Bisnis terlarang Asbullah (45) terendus polisi. Pria ini selain menjadi pengedar, juga…

Kamis, 20 September 2018 08:46

WADUH..!! Sambil Gituan, PSK ini Sempat Curi Uang Pelanggannya

BANJARMASIN - Putri Ayu Rahimah alias Putri (18),  warga Jalan Kelayan A Gang 12 Banjarmasin Selatan,…

Kamis, 20 September 2018 08:41

Rokok Ilegal Tanpa Pita Cukai Disita

BANJARMASIN - Puluhan kardus berisikan rokok tanpa dilekati pita cukai disita personel Polsek Kawasan…

Kamis, 20 September 2018 08:29
Pemko Banjarbaru

30 Balita di Posyandu Bunga Tanjung Divaksin MR

BANJARBARU - Ketua TP PKK Banjarbaru Ririen Nadjmi Adhani, didampingi Camat Liang Anggang M Subli dan…

Kamis, 20 September 2018 08:22
Parlementaria

Deklarasi Damai Jangan Hanya Jadi Seremonial

BANJARBARU - Pemerintah Kota Banjarbaru dengan berbagai instansi terkait lainnya baru saja melaksanakan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .