MANAGED BY:
SABTU
21 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Senin, 19 Maret 2018 15:55
Tak Diperbaiki, Rumah Bulat di Marabahan Terancam Hancur
Rumah ini terancam rusak karena tak ada kepedulian dari pemerintah untuk memperbaiki salah satu ikon sejarah Marabahan ini.

PROKAL.CO,  

Menjadi saksi sejarah berbagai kejadian di Marabahan, Rumah Bulat kini terancam hancur karena tak terpelihara.

EKA PERTIWI, Marabahan

Tak seperti namanya, rumah ini tak bulat sama sekali. Arsitektur berbentuk rumah Joglo, kebanyakan bergaya ala Jawa Tengah dan Yogyakarta. Bahkan, bentuknya pun tak mirip bangunan bundar atau berbentuk bulat. Namun, warga Bakumpai, khususnya yang tinggal di Kelurahan Marabahan Kota, Kecamatan Bakumpai, Kabupaten Barito Kuala mengenalnya dengan sebutan Rumah Bulat.

Hingga saat ini minim catatan sejarah mengenai penamaan Rumah Bulat. Ahli waris rumah bulat Siti Nurmila, mengatakan penamaan Rumah Bulat karena rumah tersebut banyak perabotan berbentuk bulat. Mulai dari meja, kursi, hingga tempat penyimpanan baju.

Bangunan ini sendiri ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya pada 2011 berdasar UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Bahkan, untuk perawatan sumber dana pun ditanggung Balai Pelestarian Cagar Budaya Samarinda, dan Pemkab Barito Kuala sendiri.

Berdasarkan catatan sejarah yang dimiliki Nurmila, Rumah Bulat diperkirakan dibangun pada tahun 1875 oleh seorang pedagang asli Bakumpai yang kaya raya bernama Abdussyukur. Dari tujuh bersaudara, Abdussyukur merupakan anak laki-laki satu-satunya dari Abdul Azis yang merupakan seorang Wedana Bakumpai di era Kesultanan Banjar.

Sang ayah Abdussyukur juga merupakan Demang atau salah seorang menteri dari hierarki birokrasi Kerajaan Banjar. Layaknya seorang pedagang, Rumah Bulat awalnya digunakan Abdussyukur menjadi gudang sekaligus tempat tinggal. Fungsinya layaknya rumah toko (ruko) sekarang, berfungsi ganda sebagai rumah kediaman dan gudang barang dagangan, terutama hasil bumi dari pedalaman Bakumpai dan Kalimantan.

 Sayang, ketika Abdussyukur meninggal dunia, usaha ini tak diteruskan anak-anaknya. Padahal saat itu, bisnisnya telah menembus Singapura dan Malaysia,  
 
Hingga akhirnya, sang menantu M Japeri seorang ulama terkemuka di Marabahan, menjadikan Rumah Bulat   sebagai majelis ilmu, tempat warga Bakumpai dan sekitarnya belajar agama Islam, seperti salat dan tasawuf.

Kondisi ini bertahan hampir 10 tahun lamanya, dikarenakan surau atau langgar agak jauh jaraknya dari kediaman warga Bakumpai di tepi Sungai Marabahan itu.

Seiring waktu, Rumah Bulat pun bertransformasi menjadi tempat pendidikan bagi para pemuda Marabahan. Mereka menjadikan Rumah Bulat sebagai wadah mengasah bakat seni musik dan lainnya bagi para pemuda Marabahan.

Rumah Bulat juga  menjadi markas pencerahan gerakan nasionalisme. Ini ditandainya dengan terbentuknya Persatuan Pemuda Marabahan (PPM) pada 1 Maret 1929, dengan tokoh-tokoh pergerakan di era penjajahan Belanda itu seperti Rusland sebagai ketua, Suriadi di posisi sekretaris I, dan Mawardi menjabat sekretaris II.

Hingga akhirnya, PPM mengembangkan sayap dengan mendirikan Taman Bacaan dengan nama Family Bond, yang bergabung dengan perkumpulan musik. Tak hanya itu, pemuda Marabahan pun akhirnya mendirikan di sekitar Rumah Bulat, tepatnya sekarang dijadikan langgar sebagai wadah pendidikan bernama Particuliere Hollandsche School (PHTS) pada 1929.

 “Dulu, sebelum piano buatan Jerman itu rusak, dan besi-besinya diambil warga dijadikan perkakas dapur seperti pisau. Alat musik modern ini menjadi wahana pembelajaran bagi para pemuda Marabahan. Ya, setidaknya untuk mengelabui intel atau mata-mata penjajah yang mengawal gerakan nasionalisme di Marabahan,” ceritanya.

Melalui Rumah Bulat, warga Bakumpai pun tak hanya mengenal baca tulis bukan hanya Arab Melayu, namun juga bahasa Belanda dan tulisan latin. “Nyaris, tak ada yang buta huruf di kampung di sekeliling Rumah Bulat. Yang tua-tua di sini bisa membaca semua baik Arab Melayu atau bahasa latin,” bebernya.

Kentalnya aspek sejarah rumah ini menjadikan Rumah Bulat sebagai ikon perkampungan di tepi Sungai Marabahan itu.
 

Sayang, seiring berjalannya waktu, Rumah Bulat sudah mulai rusak. Itu dapat dilihat dari atap sirap yang mulai bolong. Saat hujan melanda Kalimantan Selatan khususnya Marabahan dalam waktu tiga bulan terakhir, rumah bulat sering bocor. Nurmila khawatir, jika tak diperbaiki air hujan bakal merusak bagian rumah yang lain.

Selain itu, Nurmila juga dilanda dilema. Pemerintah melarang mengubah bentuk aslinya. Sedangkan, jika berpedoman dengan rumah asli menggunakan sirap, biaya renovasinya mencapai Rp100 juta.

“Ya kalau tidak ada perbaikan dari pemerintah terpaksa kami akan melakukan perbaikan sendiri. Mungkin dengan menggunakan atap berbahan seng,” keluhnya.

Tahun lalu sebenarnya, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi sudah melihat-lihat  kondisi Rumah Bulat. Namun, hingga sekarang tak ada juga perbaikan. (ay/ran)

 


BACA JUGA

Rabu, 18 April 2018 14:33

HEBAT, Petani di Tapin Berhasil Tanam Padi di Lahan Bekas Tambang

Lahan bekas tambang selalu menjadi permasalahan karena tak produktif.Tapi di Tapin, ada yang berhasil…

Selasa, 17 April 2018 15:17
Kisah Penyiar Cantik RTMC Polda Kalsel

Pilih Jadi Polisi Ketimbang Pramugari

Cantik, tangguh dan berdedikasi tinggi. Itu tercermin dari polwan yang satu ini. Namanya Dharma Setiawati.…

Senin, 16 April 2018 14:26

Suci Paradita Sari, Anggota Satgas Kamtib LP Teluk Dalam

Petugas lembaga pemasyarakatan (lapas) tak melulu pria. Perempuan juga ada. Salah satunya, Suci Paradita…

Sabtu, 14 April 2018 11:48

Ikan Melimpah di Pesisir Pulau Laut, Tapi Nelayan tak Kunjung Kaya

Pesisir Pulau Laut memang kaya ikan. Tiga jam saja merengge, nelayan di Desa Semaras bisa menangkap…

Jumat, 13 April 2018 13:11

Perjuangan Heri Hadi Saputra Keliling Dagang Sule

Heri Hadi Saputra dulu berprofesi sebagai ojek. Penghasilannya pas-pasan. Sekarang pria berusia 38 tahun…

Kamis, 12 April 2018 14:45

Mantan Gubernur Kalsel Terpesona Keindahan Desa Kiram

MANTAN Gubernur Kalimantan Selatan, HM Said, terpesona ketika berkunjung ke Desa Kiram, Kecamatan Karang…

Selasa, 10 April 2018 20:30

Perjuangan Siswa Kotabaru Ikuti UNBK: 10 Jam Arungi Laut, Dihantam Gelombang 2 Meter

Mereka mesti berjibaku arungi ombak dua meter, arungi laut selama 10 jam hanya untuk ikut UNBK. ==========================…

Senin, 09 April 2018 15:36

Beratnya Perjuangan Nurjenah, Bidan Desa Terpencil di Pulau Burung

Nama Nurjenah tidak asing lagi bagi Warga Desa Pulau Burung Kecamatan Simpang Empat Tanah Bumbu. Dia…

Jumat, 06 April 2018 14:10

Gubernur Bantu Modal Usaha Kakek-Nenek yang Asuh Dua Cucu di Kotabaru

Jafar, 50, tidak dapat menyembunyikan isak tangisnya. Rabu (4/4) tadi, Radar Banjarmasin menyerahkan…

Jumat, 06 April 2018 12:03

GEMES..! Radhika Dhafi Pratama, si Model Cilik Berprestasi

Kecil-kecil cabai rawit. Meski masih berusia 5 tahun, Radhika Dhafi Pratama sudah banyak meraih prestasi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .