MANAGED BY:
JUMAT
22 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Senin, 19 Maret 2018 15:55
Tak Diperbaiki, Rumah Bulat di Marabahan Terancam Hancur
Rumah ini terancam rusak karena tak ada kepedulian dari pemerintah untuk memperbaiki salah satu ikon sejarah Marabahan ini.

PROKAL.CO,  

Menjadi saksi sejarah berbagai kejadian di Marabahan, Rumah Bulat kini terancam hancur karena tak terpelihara.

EKA PERTIWI, Marabahan

Tak seperti namanya, rumah ini tak bulat sama sekali. Arsitektur berbentuk rumah Joglo, kebanyakan bergaya ala Jawa Tengah dan Yogyakarta. Bahkan, bentuknya pun tak mirip bangunan bundar atau berbentuk bulat. Namun, warga Bakumpai, khususnya yang tinggal di Kelurahan Marabahan Kota, Kecamatan Bakumpai, Kabupaten Barito Kuala mengenalnya dengan sebutan Rumah Bulat.

Hingga saat ini minim catatan sejarah mengenai penamaan Rumah Bulat. Ahli waris rumah bulat Siti Nurmila, mengatakan penamaan Rumah Bulat karena rumah tersebut banyak perabotan berbentuk bulat. Mulai dari meja, kursi, hingga tempat penyimpanan baju.

Bangunan ini sendiri ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya pada 2011 berdasar UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Bahkan, untuk perawatan sumber dana pun ditanggung Balai Pelestarian Cagar Budaya Samarinda, dan Pemkab Barito Kuala sendiri.

Berdasarkan catatan sejarah yang dimiliki Nurmila, Rumah Bulat diperkirakan dibangun pada tahun 1875 oleh seorang pedagang asli Bakumpai yang kaya raya bernama Abdussyukur. Dari tujuh bersaudara, Abdussyukur merupakan anak laki-laki satu-satunya dari Abdul Azis yang merupakan seorang Wedana Bakumpai di era Kesultanan Banjar.

Sang ayah Abdussyukur juga merupakan Demang atau salah seorang menteri dari hierarki birokrasi Kerajaan Banjar. Layaknya seorang pedagang, Rumah Bulat awalnya digunakan Abdussyukur menjadi gudang sekaligus tempat tinggal. Fungsinya layaknya rumah toko (ruko) sekarang, berfungsi ganda sebagai rumah kediaman dan gudang barang dagangan, terutama hasil bumi dari pedalaman Bakumpai dan Kalimantan.

 Sayang, ketika Abdussyukur meninggal dunia, usaha ini tak diteruskan anak-anaknya. Padahal saat itu, bisnisnya telah menembus Singapura dan Malaysia,  
 
Hingga akhirnya, sang menantu M Japeri seorang ulama terkemuka di Marabahan, menjadikan Rumah Bulat   sebagai majelis ilmu, tempat warga Bakumpai dan sekitarnya belajar agama Islam, seperti salat dan tasawuf.

Kondisi ini bertahan hampir 10 tahun lamanya, dikarenakan surau atau langgar agak jauh jaraknya dari kediaman warga Bakumpai di tepi Sungai Marabahan itu.

Seiring waktu, Rumah Bulat pun bertransformasi menjadi tempat pendidikan bagi para pemuda Marabahan. Mereka menjadikan Rumah Bulat sebagai wadah mengasah bakat seni musik dan lainnya bagi para pemuda Marabahan.

Rumah Bulat juga  menjadi markas pencerahan gerakan nasionalisme. Ini ditandainya dengan terbentuknya Persatuan Pemuda Marabahan (PPM) pada 1 Maret 1929, dengan tokoh-tokoh pergerakan di era penjajahan Belanda itu seperti Rusland sebagai ketua, Suriadi di posisi sekretaris I, dan Mawardi menjabat sekretaris II.

Hingga akhirnya, PPM mengembangkan sayap dengan mendirikan Taman Bacaan dengan nama Family Bond, yang bergabung dengan perkumpulan musik. Tak hanya itu, pemuda Marabahan pun akhirnya mendirikan di sekitar Rumah Bulat, tepatnya sekarang dijadikan langgar sebagai wadah pendidikan bernama Particuliere Hollandsche School (PHTS) pada 1929.

 “Dulu, sebelum piano buatan Jerman itu rusak, dan besi-besinya diambil warga dijadikan perkakas dapur seperti pisau. Alat musik modern ini menjadi wahana pembelajaran bagi para pemuda Marabahan. Ya, setidaknya untuk mengelabui intel atau mata-mata penjajah yang mengawal gerakan nasionalisme di Marabahan,” ceritanya.

Melalui Rumah Bulat, warga Bakumpai pun tak hanya mengenal baca tulis bukan hanya Arab Melayu, namun juga bahasa Belanda dan tulisan latin. “Nyaris, tak ada yang buta huruf di kampung di sekeliling Rumah Bulat. Yang tua-tua di sini bisa membaca semua baik Arab Melayu atau bahasa latin,” bebernya.

Kentalnya aspek sejarah rumah ini menjadikan Rumah Bulat sebagai ikon perkampungan di tepi Sungai Marabahan itu.
 

Sayang, seiring berjalannya waktu, Rumah Bulat sudah mulai rusak. Itu dapat dilihat dari atap sirap yang mulai bolong. Saat hujan melanda Kalimantan Selatan khususnya Marabahan dalam waktu tiga bulan terakhir, rumah bulat sering bocor. Nurmila khawatir, jika tak diperbaiki air hujan bakal merusak bagian rumah yang lain.

Selain itu, Nurmila juga dilanda dilema. Pemerintah melarang mengubah bentuk aslinya. Sedangkan, jika berpedoman dengan rumah asli menggunakan sirap, biaya renovasinya mencapai Rp100 juta.

“Ya kalau tidak ada perbaikan dari pemerintah terpaksa kami akan melakukan perbaikan sendiri. Mungkin dengan menggunakan atap berbahan seng,” keluhnya.

Tahun lalu sebenarnya, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi sudah melihat-lihat  kondisi Rumah Bulat. Namun, hingga sekarang tak ada juga perbaikan. (ay/ran)

 


BACA JUGA

Rabu, 20 Juni 2018 11:57

Kisah Petugas Posko Mudik di Simpang Empat Banjarbaru

Bertugas sebagai anggota piket di posko mudik, para petugas di Pos Pengamanan Simpang Empat Banjarbaru…

Selasa, 19 Juni 2018 14:16

Masjid-Masjid ini Tetap Sediakan Buka Puasa Pasca Ramadan

Ramadan 1439 Hijriyah telah berlalu. Bagi umat muslim, dianjurkan berpuasa enam hari di bulan Syawal.…

Selasa, 19 Juni 2018 14:08

Mengenal Dokter Fairuz yang Setia Mengawal Kaum Pemudik

Bagi kebanyakan orang, lebaran bersinonim dengan liburan. Tapi untuk segelintir orang, lebaran artinya…

Rabu, 13 Juni 2018 13:18

Gerakan Literasi dari Balik Jeruji Penjara

Lapas Teluk Dalam punya perpustakaan, tapi isinya buku hukum melulu. Mobil perpustakaan keliling Dinas…

Minggu, 10 Juni 2018 13:21

Tempat Cukur Legendaris Banjarmasin: Layani Bayi Sehari Hingga Manula

Beralamat di Jalan Hassanudin HM, no 23. Ada sebuah ruang berbidang segi tiga. Pangkas Rambut Nasional,…

Jumat, 08 Juni 2018 11:15

Kisah Nanang, Penjual Burung Jalak Keliling di Banjarmasin

Dengan mengayuh ontel tua, Nanang (70) berkeliling Kota Banjarmasin. Menjajakan burung jalak, dikurung…

Sabtu, 02 Juni 2018 13:19

Mengenal Transpuan Paling Fotogenik di Tahun 2018

Cap negatif melekat pada diri mereka. Kiky Fadilah, transpuan asal Banjarmasin berusaha semampunya.…

Selasa, 29 Mei 2018 15:35

Seniman Clay Dari Banjarmasin

Menyerupai tanah liat, namun kaya warna. Adonan khusus itu kalis dan bisa dibentuk. Itulah clay. Dian…

Kamis, 24 Mei 2018 12:57

Kisah Andra Fathur Rahman, Desainer Spesialis Gaun di Banjarmasin

Gaun menjuntai. Dengan sematan payet dan beberapa ornamen khas kain tile. Pemakainya sudah pasti memesona.…

Rabu, 23 Mei 2018 14:59

Menengok Jumat Kelabu Lewat Kliping Koran

23 Mei 1997. Setelah salat Jumat, Tajuddin hendak menuju Lapangan Kamboja. Mengikuti puncak kampanye…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .