MANAGED BY:
KAMIS
20 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 04 April 2018 14:48
Masyarakat Bingung Menyelamatkan Peninggalan Sejarah di Desa Pipitak Jaya

Desa akan Tenggelam, Angkat Batu Telapak Datu Pakai Apa?

BINGUNG SELAMATKAN BATU: Ahmad Jayadi (kanan) menunjukkan lubang pada batu telapak datu yang dipercayai jejak kaki Datuk Kusan yang ada di Desa Pipitak Jaya Kecamatan Piani.

PROKAL.CO, Desa Pipitak Jaya akan tenggelam karena pembangunan bendungan. Masyarakat bingung ingin menyelamatkan beberapa peninggalan sejarah. Salah satunya adalah batu telapak datu.

RASIDI FADLY, Tapin

Radar Banjarmasin pada Sabtu (31/3) mencoba datang ke batu telapak datu di Desa Pipitak Jaya itu. Dari ibukota Kabupaten Tapin, diperlukan waktu sekitar 1,5 jam naik kendaraan bermotor dari kota Rantau.

Namun, untuk sampai ke lokasi, penulis harus banyak bertanya kepada warga sekitar. Tidak ada plang penunjuk arah menuju situs sejarah itu. Penulis beruntung langsung dibawa oleh Ketua Rt 4 Desa Pipitak Jaya, Ahmad Jayadi ke lokasi.

Tepat, 500 meter dari pemukiman warga, Ahmad Jayadi memarkir kendaraan. Dia mengajak wartawan untuk berjalan kaki sekitar 700 meter menyusuri tepi sungai hingga akhirnya sampai ke batu telapak datu.

Bagaimana legenda batu tersebut?

Ahmad Jayadi menceritakan, batu telapak datu memiliki sejarah yang panjang. "Yang saya tahu, batu ini disinyalir bekas lompatan dari Datu Kusan, yang waktu itu sedang menghadiri acara di perbatasan Tapin dan HSS," ungkapnya.

Setelah selesai acara, Datu kusan kemudian pulang dengan melompat ke Desa Pipitak lalu melompat lagi ke Kabupaten Banjar atau tepatnya di Desa Kusan.

"Hasil lompatan di sini meninggalkan jejak telapak kaki sebelah kanan," ucapnya.

Batu telapak datu dipercaya memiliki khasiat. Para penduduk biasa mengambil airnya untuk daya tahan tubuh, agar tidak mudah sakit. "Cukup ambil air di sana kemudian basuh muka kita dengan air tersebut," ucapnya.

Penulis mencoba untuk mengukur lubang di batu itu. Menggunakan tangan, panjangnya sekitar lima jengkal, sedangkan lebar bawah satu jengkal dan lebar atas dua jengkal. Di sekitar batu terdapat lima lubang.

"Lima lubang itu dipercaya bekas dari tongkatnya," jelas Jayadi.

Karena memiliki sejarah, masyarakat Desa Pipitak Jaya bersepakat untuk menyelamatkan batu telapak datu dari dampak pembuatan bendungan. Selain itu, juga ada batu pertapaan balian dan pemakaman yang dipercaya merupakan jejak tak biasa dari sejarah.

"Daerah ini nantinya akan tenggelam, oleh sebab itulah kami menginginkan untuk diselamatkan," harapnya.

Bagaimana cara mengangkatnya? itulah masalahnya. Jayadi mengatakan dirinya bersama dengan masyarakat masih bingung untuk mengangkatnya.

"Kami berharap pihak perusahaan maupun pemerintah daerah, bisa membantu untuk menyelamatkan beberapa peninggalan sejarah di sini," katanya.

Budayawan Tapin Ibnu Mas'ud mengatakan batu telapak datu bukan situs tapi artefak, yaitu sebagai benda budaya yang asalnya terbentuk dari alam.

"Namun, berdasarkan hikayat atau cerita rakyat batu ini dari batu bincatan, di mana dulunya pemuda suku dayak melakukan lomba untuk mendapatkan gadis suku Dayak," kata Ibnu yang juga bekerja di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tapin.

Budayawan Tapin ini juga juga setuju dengan keinginan masyarakat yang ingin peninggalan sejarah yang ada di Kecamatan Piani diselamatkan.

"Seharusnya ini tanggung jawab dari pihak perusahaan yang mengerjakan bendungan untuk menyelamatkan artefak yang ada," ucapnya.
Pembangunan bendungan di Tapin sendiri masuk dalam proyek strategis nasional (PSN) Kementrian PUPR. Sekarang, pembangunan sudah setengah jalan.

Proyek ini dimulai sejak 2015 lalu dan dan ditargetkan rampung pada akhir tahun 2018.
Pembangunan bendungan tersebut akan menenggelamkan dua desa di sekitar wilayah pembangunan yakni, Desa Pipitak Jaya dan Desa Harakit.(dly/by/ran)


BACA JUGA

Kamis, 13 September 2018 12:05

YS Agus Suseno, Penyair Banjar Yang Berani Menohok Rezim

Meminjam istilah sastrawan Seno Gumira Ajidarma: ketika jurnalisme dibungkam, maka mestinya sastra harus…

Rabu, 12 September 2018 15:23

Kisah Perajin Miniatur Kapal Pinisi dari Sungai Alalak

Salman tak bisa jauh-jauh dari perahu dan sungai. Semasa bujangan, dia menjadi perajin perahu di Pulau…

Sabtu, 08 September 2018 12:51

Menengok Festival Anggrek 2018 di Taman Kamboja

Apa yang dicari-cari dunia jika melancong ke Kalsel? Jawabannya; anggrek. Bukan tanpa alasan, tanaman…

Sabtu, 08 September 2018 12:48

Memanen Kelapa Sawit, Pekebun Malah Menjerit

Memanen kelapa sawit tidak terlalu menggembirakan bagi pekebun di Kotabaru. Bekerja di bawah terik mentari,…

Rabu, 05 September 2018 11:13

Jean, Siswi SMAN 2 Banjarmasin Menang Lomba Monolog di Aceh

Kamera dokumentasi sudah dimatikan. Sebagian penonton juga telah beranjak pulang. Juri pun tampak capek.…

Selasa, 04 September 2018 13:18

Jasa Datu, Perguruan Kuntau yang Sudah Eksis 32 Tahun Lamanya

Pencak silat sedang naik daun di Asian Games 2018. Di Banua, para pendekar silat ternyata sudah lama…

Kamis, 30 Agustus 2018 10:36

"First Love Never Die"

Hermansyah memutuskan tinggal di panti jompo atas pilihannya sendiri. Sebaliknya, Yulia terpaksa minggat…

Kamis, 30 Agustus 2018 10:33

Yulia Minggat karena Merepotkan

Hermansyah boleh dibilang beruntung. Masih bisa berkumpul keluarga. Masuk panti pun juga atas pilihan…

Rabu, 29 Agustus 2018 10:23

Bosan Tidur di Pengungsian, Pengungsi Lombok Mulai Datangi Kalsel

Pengungsi gempa Lombok mulai berdatangan ke Kalimantan Selatan melalui bandar udara Syamsuddin Noor…

Selasa, 28 Agustus 2018 10:18

Malam terakhir Konser Wartawan & Musisi Banua Untuk Palestina dan Lombok

Konser amal bertajuk Wartawan & Musisi Banua Untuk Palestina dan Penggalangan Dana Gempa Lombok,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .