MANAGED BY:
MINGGU
24 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 04 April 2018 14:48
Masyarakat Bingung Menyelamatkan Peninggalan Sejarah di Desa Pipitak Jaya

Desa akan Tenggelam, Angkat Batu Telapak Datu Pakai Apa?

BINGUNG SELAMATKAN BATU: Ahmad Jayadi (kanan) menunjukkan lubang pada batu telapak datu yang dipercayai jejak kaki Datuk Kusan yang ada di Desa Pipitak Jaya Kecamatan Piani.

PROKAL.CO, Desa Pipitak Jaya akan tenggelam karena pembangunan bendungan. Masyarakat bingung ingin menyelamatkan beberapa peninggalan sejarah. Salah satunya adalah batu telapak datu.

RASIDI FADLY, Tapin

Radar Banjarmasin pada Sabtu (31/3) mencoba datang ke batu telapak datu di Desa Pipitak Jaya itu. Dari ibukota Kabupaten Tapin, diperlukan waktu sekitar 1,5 jam naik kendaraan bermotor dari kota Rantau.

Namun, untuk sampai ke lokasi, penulis harus banyak bertanya kepada warga sekitar. Tidak ada plang penunjuk arah menuju situs sejarah itu. Penulis beruntung langsung dibawa oleh Ketua Rt 4 Desa Pipitak Jaya, Ahmad Jayadi ke lokasi.

Tepat, 500 meter dari pemukiman warga, Ahmad Jayadi memarkir kendaraan. Dia mengajak wartawan untuk berjalan kaki sekitar 700 meter menyusuri tepi sungai hingga akhirnya sampai ke batu telapak datu.

Bagaimana legenda batu tersebut?

Ahmad Jayadi menceritakan, batu telapak datu memiliki sejarah yang panjang. "Yang saya tahu, batu ini disinyalir bekas lompatan dari Datu Kusan, yang waktu itu sedang menghadiri acara di perbatasan Tapin dan HSS," ungkapnya.

Setelah selesai acara, Datu kusan kemudian pulang dengan melompat ke Desa Pipitak lalu melompat lagi ke Kabupaten Banjar atau tepatnya di Desa Kusan.

"Hasil lompatan di sini meninggalkan jejak telapak kaki sebelah kanan," ucapnya.

Batu telapak datu dipercaya memiliki khasiat. Para penduduk biasa mengambil airnya untuk daya tahan tubuh, agar tidak mudah sakit. "Cukup ambil air di sana kemudian basuh muka kita dengan air tersebut," ucapnya.

Penulis mencoba untuk mengukur lubang di batu itu. Menggunakan tangan, panjangnya sekitar lima jengkal, sedangkan lebar bawah satu jengkal dan lebar atas dua jengkal. Di sekitar batu terdapat lima lubang.

"Lima lubang itu dipercaya bekas dari tongkatnya," jelas Jayadi.

Karena memiliki sejarah, masyarakat Desa Pipitak Jaya bersepakat untuk menyelamatkan batu telapak datu dari dampak pembuatan bendungan. Selain itu, juga ada batu pertapaan balian dan pemakaman yang dipercaya merupakan jejak tak biasa dari sejarah.

"Daerah ini nantinya akan tenggelam, oleh sebab itulah kami menginginkan untuk diselamatkan," harapnya.

Bagaimana cara mengangkatnya? itulah masalahnya. Jayadi mengatakan dirinya bersama dengan masyarakat masih bingung untuk mengangkatnya.

"Kami berharap pihak perusahaan maupun pemerintah daerah, bisa membantu untuk menyelamatkan beberapa peninggalan sejarah di sini," katanya.

Budayawan Tapin Ibnu Mas'ud mengatakan batu telapak datu bukan situs tapi artefak, yaitu sebagai benda budaya yang asalnya terbentuk dari alam.

"Namun, berdasarkan hikayat atau cerita rakyat batu ini dari batu bincatan, di mana dulunya pemuda suku dayak melakukan lomba untuk mendapatkan gadis suku Dayak," kata Ibnu yang juga bekerja di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tapin.

Budayawan Tapin ini juga juga setuju dengan keinginan masyarakat yang ingin peninggalan sejarah yang ada di Kecamatan Piani diselamatkan.

"Seharusnya ini tanggung jawab dari pihak perusahaan yang mengerjakan bendungan untuk menyelamatkan artefak yang ada," ucapnya.
Pembangunan bendungan di Tapin sendiri masuk dalam proyek strategis nasional (PSN) Kementrian PUPR. Sekarang, pembangunan sudah setengah jalan.

Proyek ini dimulai sejak 2015 lalu dan dan ditargetkan rampung pada akhir tahun 2018.
Pembangunan bendungan tersebut akan menenggelamkan dua desa di sekitar wilayah pembangunan yakni, Desa Pipitak Jaya dan Desa Harakit.(dly/by/ran)


BACA JUGA

Sabtu, 23 Juni 2018 13:06

Kisah Haru Pedagang BBM Eceran Tunanetra di Banjarmasin

Kebutaan tak menghalangi ayah satu anak ini mencari nafkah. Nistam Juhansyah (66) mengais rejeki dengan…

Sabtu, 23 Juni 2018 12:12

Kiprah Youtuber Banua Meraih Silver Play Button dan Sukses dari Youtube

Di era digital sekarang, dunia maya tidak hanya menjadi tempat memanjakan mata, melainkan juga bisa…

Rabu, 20 Juni 2018 11:57

Kisah Petugas Posko Mudik di Simpang Empat Banjarbaru

Bertugas sebagai anggota piket di posko mudik, para petugas di Pos Pengamanan Simpang Empat Banjarbaru…

Selasa, 19 Juni 2018 14:16

Masjid-Masjid ini Tetap Sediakan Buka Puasa Pasca Ramadan

Ramadan 1439 Hijriyah telah berlalu. Bagi umat muslim, dianjurkan berpuasa enam hari di bulan Syawal.…

Selasa, 19 Juni 2018 14:08

Mengenal Dokter Fairuz yang Setia Mengawal Kaum Pemudik

Bagi kebanyakan orang, lebaran bersinonim dengan liburan. Tapi untuk segelintir orang, lebaran artinya…

Rabu, 13 Juni 2018 13:18

Gerakan Literasi dari Balik Jeruji Penjara

Lapas Teluk Dalam punya perpustakaan, tapi isinya buku hukum melulu. Mobil perpustakaan keliling Dinas…

Minggu, 10 Juni 2018 13:21

Tempat Cukur Legendaris Banjarmasin: Layani Bayi Sehari Hingga Manula

Beralamat di Jalan Hassanudin HM, no 23. Ada sebuah ruang berbidang segi tiga. Pangkas Rambut Nasional,…

Jumat, 08 Juni 2018 11:15

Kisah Nanang, Penjual Burung Jalak Keliling di Banjarmasin

Dengan mengayuh ontel tua, Nanang (70) berkeliling Kota Banjarmasin. Menjajakan burung jalak, dikurung…

Senin, 04 Juni 2018 12:54

Melacak Jejak Musyawaratutthalibin, Pergerakan Islam Asli Kalsel

Mempersatukan kaum terpelajar Muslim Kalsel, pergerakan Islam bernama Moesjawaratoetthalibin pernah…

Sabtu, 02 Juni 2018 13:19

Mengenal Transpuan Paling Fotogenik di Tahun 2018

Cap negatif melekat pada diri mereka. Kiky Fadilah, transpuan asal Banjarmasin berusaha semampunya.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .