MANAGED BY:
JUMAT
16 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 04 April 2018 14:48
Masyarakat Bingung Menyelamatkan Peninggalan Sejarah di Desa Pipitak Jaya

Desa akan Tenggelam, Angkat Batu Telapak Datu Pakai Apa?

BINGUNG SELAMATKAN BATU: Ahmad Jayadi (kanan) menunjukkan lubang pada batu telapak datu yang dipercayai jejak kaki Datuk Kusan yang ada di Desa Pipitak Jaya Kecamatan Piani.

PROKAL.CO, Desa Pipitak Jaya akan tenggelam karena pembangunan bendungan. Masyarakat bingung ingin menyelamatkan beberapa peninggalan sejarah. Salah satunya adalah batu telapak datu.

RASIDI FADLY, Tapin

Radar Banjarmasin pada Sabtu (31/3) mencoba datang ke batu telapak datu di Desa Pipitak Jaya itu. Dari ibukota Kabupaten Tapin, diperlukan waktu sekitar 1,5 jam naik kendaraan bermotor dari kota Rantau.

Namun, untuk sampai ke lokasi, penulis harus banyak bertanya kepada warga sekitar. Tidak ada plang penunjuk arah menuju situs sejarah itu. Penulis beruntung langsung dibawa oleh Ketua Rt 4 Desa Pipitak Jaya, Ahmad Jayadi ke lokasi.

Tepat, 500 meter dari pemukiman warga, Ahmad Jayadi memarkir kendaraan. Dia mengajak wartawan untuk berjalan kaki sekitar 700 meter menyusuri tepi sungai hingga akhirnya sampai ke batu telapak datu.

Bagaimana legenda batu tersebut?

Ahmad Jayadi menceritakan, batu telapak datu memiliki sejarah yang panjang. "Yang saya tahu, batu ini disinyalir bekas lompatan dari Datu Kusan, yang waktu itu sedang menghadiri acara di perbatasan Tapin dan HSS," ungkapnya.

Setelah selesai acara, Datu kusan kemudian pulang dengan melompat ke Desa Pipitak lalu melompat lagi ke Kabupaten Banjar atau tepatnya di Desa Kusan.

"Hasil lompatan di sini meninggalkan jejak telapak kaki sebelah kanan," ucapnya.

Batu telapak datu dipercaya memiliki khasiat. Para penduduk biasa mengambil airnya untuk daya tahan tubuh, agar tidak mudah sakit. "Cukup ambil air di sana kemudian basuh muka kita dengan air tersebut," ucapnya.

Penulis mencoba untuk mengukur lubang di batu itu. Menggunakan tangan, panjangnya sekitar lima jengkal, sedangkan lebar bawah satu jengkal dan lebar atas dua jengkal. Di sekitar batu terdapat lima lubang.

"Lima lubang itu dipercaya bekas dari tongkatnya," jelas Jayadi.

Karena memiliki sejarah, masyarakat Desa Pipitak Jaya bersepakat untuk menyelamatkan batu telapak datu dari dampak pembuatan bendungan. Selain itu, juga ada batu pertapaan balian dan pemakaman yang dipercaya merupakan jejak tak biasa dari sejarah.

"Daerah ini nantinya akan tenggelam, oleh sebab itulah kami menginginkan untuk diselamatkan," harapnya.

Bagaimana cara mengangkatnya? itulah masalahnya. Jayadi mengatakan dirinya bersama dengan masyarakat masih bingung untuk mengangkatnya.

"Kami berharap pihak perusahaan maupun pemerintah daerah, bisa membantu untuk menyelamatkan beberapa peninggalan sejarah di sini," katanya.

Budayawan Tapin Ibnu Mas'ud mengatakan batu telapak datu bukan situs tapi artefak, yaitu sebagai benda budaya yang asalnya terbentuk dari alam.

"Namun, berdasarkan hikayat atau cerita rakyat batu ini dari batu bincatan, di mana dulunya pemuda suku dayak melakukan lomba untuk mendapatkan gadis suku Dayak," kata Ibnu yang juga bekerja di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tapin.

Budayawan Tapin ini juga juga setuju dengan keinginan masyarakat yang ingin peninggalan sejarah yang ada di Kecamatan Piani diselamatkan.

"Seharusnya ini tanggung jawab dari pihak perusahaan yang mengerjakan bendungan untuk menyelamatkan artefak yang ada," ucapnya.
Pembangunan bendungan di Tapin sendiri masuk dalam proyek strategis nasional (PSN) Kementrian PUPR. Sekarang, pembangunan sudah setengah jalan.

Proyek ini dimulai sejak 2015 lalu dan dan ditargetkan rampung pada akhir tahun 2018.
Pembangunan bendungan tersebut akan menenggelamkan dua desa di sekitar wilayah pembangunan yakni, Desa Pipitak Jaya dan Desa Harakit.(dly/by/ran)


BACA JUGA

Kamis, 15 November 2018 12:03

Jalan Untuk Kaum Difabel di DPRD Jatim

Hak penyandang disabilitas sekarang ini masih kurang, baik sarana maupun prasarana publik maupun pekerjaan.…

Selasa, 13 November 2018 15:04

Event Gowes Untukmu Pahlawanku Meriah dan Banyak Hadiah

WALAU Sempat diguyur hujan, Fun Gowes Untukmu Pahlawanku "Semangat Pahlawan di Dadaku" gelaran Dewan…

Selasa, 13 November 2018 14:47

Unik, Samsat Bergerak Sapu Jagad

BANJARMASIN - Untuk meningkatkan pendapatan di sektor pajak, Badan Keuangan Daerah (Bakeuda) Kalsel…

Senin, 12 November 2018 12:52
Berita Tenaga Kerja Indonesia

Hongkong Paling Banyak, Baru Arab Saudi

September tadi, Kantor Imigrasi Kelas I TPI Banjarmasin bersama BP3TKI Banjarbaru mencegat keberangkatan…

Sabtu, 10 November 2018 11:34

Mengenang Gugurnya Sembilan Syuhada 9 November 1945 di Banua

Abdul Majid, lahir sepuluh tahun setelah penyerangan 9 November 1945. Tiga pamannya gugur dalam penyerangan…

Jumat, 09 November 2018 08:35

Kisah Pengrajin Arang Asal Banjarbaru Ciptakan Alat Musik dari Arang

Lima tahun bergelut sebagai pengrajin dan wirausaha arang, Narwanto berpikir harus ada yang baru dan…

Kamis, 08 November 2018 13:07

Kala Dua Penyandang Tunanetra Raih Juara Literasi Tingkat Nasional

Memiliki keterbatasan, tak menghentikan dua penyandang tunanetra: Ikhsanul Sodikin, 17, dan Muhammad,…

Jumat, 02 November 2018 10:50

Ada yang Jadi Mata Pilot, Ada yang Penjaga Cuaca

BANJARBARU - Bandara adalah sebuah dunia sendiri. Dengan ribuan orang yang bergegas, jadwal yang…

Jumat, 26 Oktober 2018 15:28

Menanti Hujan Turun di Pulau Laut, PDAM Andalkan Empang...Eh Waduk

Doa PDAM minta hujan rupanya masih tertahan di langit. Pulau Laut panas, walau siang kemarin sempat…

Rabu, 24 Oktober 2018 12:32

Lagu "Insya Allah" Fadly Padi Sejukkan Ribuan Napi

Lapangan besar Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Banjarbaru memutih. Ribuan Warga Binaan Pemasyarakatan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .