MANAGED BY:
KAMIS
20 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 07 April 2018 11:41
Indahnya Pesona Dayak Meratus di Desa Kapul
MEMESONA: Salah satu penari ini tampil memukau dalam gelaran Pesona Dayak Meratus, di Desa Kapul, Kecamatan Halong, beberapa waktu lalu. | Foto: Wahyudi/Radar Banjarmasin.

PROKAL.CO, Akhir Maret tadi, Pesona Dayak Meratus digelar di Desa Kapul, Kecamatan Halong. Ini kali keempat saya menengok gelaran tersebut. Berikut catatan singkatnya.

WAHYUDI, Balangan

Desa Kapul adalah desa wisata budaya. Biasa juga sebut dengan nama Wadian Tambai. Letaknya tak jauh dari Paringin, ibu kota kabupaten. Untuk mencapainya cuma butuh waktu sejam.

Jalanannya? Jangan ditanya; mulus beraspal. Sebagian lagi dicor dengan semen. Layaknya kawasan perbukitan, jalan yang dilalui turun naik. Menanjak dan menurun.

Seperti biasa. Setiap menengok gelaran Pesona Dayak Meratus, saya selalu menginap. Kali ini di rumah Lelu Dinata. Pria 43 tahun itu adalah seorang guru yang sudah lama mengabdi di sana. Istrinya bernama Sri Urani Dewi (38). Anaknya ada tiga; Succini (19), Uen (13) serta Sumedha Lio (1).

Pak Lelu, begitulah saya memanggilnya. Ayah tiga anak itu ramah. Bahasa gaulnya; welcome banget. Dia selalu mempersilakan jika ada tamu yang ingin menginap di rumahnya.

Dia juga humoris. Pandai membanyol dan bikin lawan bicara terkekeh. “Biar halus tapi kada ganal (Walau kecil, tapi tidak besar),” guyon Pak Lelu saat menyambut saya.

Ucapan Pak Lelu ditujukan pada dirinya sendiri. Badannya yang kecil dia jadikan sebagai lelucon. Agar orang lain, atau lawan mengobrol tak merasa canggung, malu, apalagi tegang.

Tapi bukan itu inti ceritanya. Saya ingin berbagi sedikit pengalaman berharga. Sekalil lagi, cuma sedikit. Soal toleransi antar umat beragama.

Keluarga Pak Lelu adalah gambaran sederhana bentuk toleransi itu. Dia menganut Budha. Tapi dirinya mengerti soal tamu Muslim.

Di ruang tamu rumah Pak Lelu, terpampang jelas patung Budha. Lengkap dengan lilin kecil yang mengelilinginya. Tapi Anda takkan menyangka. Di sana juga ada ruang khusus bagi tamu Muslim untuk menunaikan ibadah salat.

Pak Lelu bahkan menghamparkan sajadah untuk salat. Terbuat dari anyaman purun. Dia mengaku sudah sering menerima tamu Muslim. "Kala ingin salat, sudah saya siapkan," ucapnya kala itu.

Rumah Pak Lelu berada di sebelah gereja Katolik. Persis di sebelah kanan rumahnya. Desa Kapul memang dihuni oleh warga dengan beragam agama.

Pertama kali menginap di sana, saya sempat sedikit canggung saat ditawari makan. Rupanya Pak Lelu mengerti. Dia lantas memberi tahu bahwa tak ada makanan haram. "Kami sudah lama tidak makan babi," katanya, meyakinkan saya.

Ucapan tersebut akhirnya meyakinkan saya. Untuk menyantap makan malam kala itu. Maklum saja, kebetulan saya memang sedang lapar.

"Saat saya bergaul dengan muslim, saya sangat menjaga diri dari sesuatu yang haram bagi muslim. Jadi saya sudah mempelajari apa-apa saja yang diharamkan dalam islam, termasuk makanan," tuturnya sambil menyantap makanan.

Selepas makan, obrolan kami terus mengalir. Membahas seputar kehidupan Suku Sayak, hingga kehidupannya. "Saat tamu beda agama menginap di rumah, kami tidak pernah merasa risih. Justru kami takut tamu kami yang risih," sebutnya.

Singkat cerita, malam makin larut. Kalau dipaksa terus mengobrol, waktunya takkan cukup. Saya harus menyiapkan tenaga untuk mendokumentasikan setiap atraksi yang dilakukan esok hari. Karena, itulah sebenarnya misi saya ke Desa Kapul.

Nah, pada bagian ini, saya hanya akan bercerita sekilas. Keindahannya bisa Anda lihat pada foto yang tampil bersama tulisan ini.

Ya, gelaran Pesona Dayak Meratus kali ini tak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Ada atraksi menumbuk padi. Membuat anyaman (arangan). Menyumpit hingga perlombaan permainan tradisional. Seperti bagasing, mutuu, balogo serta kenje. Dan tentu saja ada pertunjukkan tari kreasi Dayak Meratus dan lainnya.

Yang berbeda tahun ini ada pada antusias warganya. Karena lebih banyak yang terlibat. Ikut merepotkan diri agar gelaran tersebut berlangsung meriah. Dengan satu tujuan; melestarikan kearifan lokal dan warisan nenek moyang.

Kepala Dewan Adat Dayak (DAD) Balangan, Mandan menyebut warga sudah mulai menyadari arti dari pelestarian budaya. Sehingga mau berpartisipasi.

“Anak-anak disibukkan dengan latihan menari dan main permainan tradisional. Pelestarian budaya jalan, pergaulan negatif terhindarkan,” ucap ketua pelaksana kegiatan tersebut.

Ada satu misi penting dari gelaran tersebut. Menunjukkan keramahan Suku Dayak kepada orang banyak.

Begitulah sekilas catatan kecil saya. Toleransi dan harmoni kehidupan tergambar jelas di kaki pegunungan Meratus. (ma/nur)


BACA JUGA

Kamis, 13 September 2018 12:05

YS Agus Suseno, Penyair Banjar Yang Berani Menohok Rezim

Meminjam istilah sastrawan Seno Gumira Ajidarma: ketika jurnalisme dibungkam, maka mestinya sastra harus…

Rabu, 12 September 2018 15:23

Kisah Perajin Miniatur Kapal Pinisi dari Sungai Alalak

Salman tak bisa jauh-jauh dari perahu dan sungai. Semasa bujangan, dia menjadi perajin perahu di Pulau…

Sabtu, 08 September 2018 12:51

Menengok Festival Anggrek 2018 di Taman Kamboja

Apa yang dicari-cari dunia jika melancong ke Kalsel? Jawabannya; anggrek. Bukan tanpa alasan, tanaman…

Sabtu, 08 September 2018 12:48

Memanen Kelapa Sawit, Pekebun Malah Menjerit

Memanen kelapa sawit tidak terlalu menggembirakan bagi pekebun di Kotabaru. Bekerja di bawah terik mentari,…

Rabu, 05 September 2018 11:13

Jean, Siswi SMAN 2 Banjarmasin Menang Lomba Monolog di Aceh

Kamera dokumentasi sudah dimatikan. Sebagian penonton juga telah beranjak pulang. Juri pun tampak capek.…

Selasa, 04 September 2018 13:18

Jasa Datu, Perguruan Kuntau yang Sudah Eksis 32 Tahun Lamanya

Pencak silat sedang naik daun di Asian Games 2018. Di Banua, para pendekar silat ternyata sudah lama…

Kamis, 30 Agustus 2018 10:36

"First Love Never Die"

Hermansyah memutuskan tinggal di panti jompo atas pilihannya sendiri. Sebaliknya, Yulia terpaksa minggat…

Kamis, 30 Agustus 2018 10:33

Yulia Minggat karena Merepotkan

Hermansyah boleh dibilang beruntung. Masih bisa berkumpul keluarga. Masuk panti pun juga atas pilihan…

Rabu, 29 Agustus 2018 10:23

Bosan Tidur di Pengungsian, Pengungsi Lombok Mulai Datangi Kalsel

Pengungsi gempa Lombok mulai berdatangan ke Kalimantan Selatan melalui bandar udara Syamsuddin Noor…

Selasa, 28 Agustus 2018 10:18

Malam terakhir Konser Wartawan & Musisi Banua Untuk Palestina dan Lombok

Konser amal bertajuk Wartawan & Musisi Banua Untuk Palestina dan Penggalangan Dana Gempa Lombok,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .