MANAGED BY:
MINGGU
24 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 07 April 2018 11:41
Indahnya Pesona Dayak Meratus di Desa Kapul
MEMESONA: Salah satu penari ini tampil memukau dalam gelaran Pesona Dayak Meratus, di Desa Kapul, Kecamatan Halong, beberapa waktu lalu. | Foto: Wahyudi/Radar Banjarmasin.

PROKAL.CO, Akhir Maret tadi, Pesona Dayak Meratus digelar di Desa Kapul, Kecamatan Halong. Ini kali keempat saya menengok gelaran tersebut. Berikut catatan singkatnya.

WAHYUDI, Balangan

Desa Kapul adalah desa wisata budaya. Biasa juga sebut dengan nama Wadian Tambai. Letaknya tak jauh dari Paringin, ibu kota kabupaten. Untuk mencapainya cuma butuh waktu sejam.

Jalanannya? Jangan ditanya; mulus beraspal. Sebagian lagi dicor dengan semen. Layaknya kawasan perbukitan, jalan yang dilalui turun naik. Menanjak dan menurun.

Seperti biasa. Setiap menengok gelaran Pesona Dayak Meratus, saya selalu menginap. Kali ini di rumah Lelu Dinata. Pria 43 tahun itu adalah seorang guru yang sudah lama mengabdi di sana. Istrinya bernama Sri Urani Dewi (38). Anaknya ada tiga; Succini (19), Uen (13) serta Sumedha Lio (1).

Pak Lelu, begitulah saya memanggilnya. Ayah tiga anak itu ramah. Bahasa gaulnya; welcome banget. Dia selalu mempersilakan jika ada tamu yang ingin menginap di rumahnya.

Dia juga humoris. Pandai membanyol dan bikin lawan bicara terkekeh. “Biar halus tapi kada ganal (Walau kecil, tapi tidak besar),” guyon Pak Lelu saat menyambut saya.

Ucapan Pak Lelu ditujukan pada dirinya sendiri. Badannya yang kecil dia jadikan sebagai lelucon. Agar orang lain, atau lawan mengobrol tak merasa canggung, malu, apalagi tegang.

Tapi bukan itu inti ceritanya. Saya ingin berbagi sedikit pengalaman berharga. Sekalil lagi, cuma sedikit. Soal toleransi antar umat beragama.

Keluarga Pak Lelu adalah gambaran sederhana bentuk toleransi itu. Dia menganut Budha. Tapi dirinya mengerti soal tamu Muslim.

Di ruang tamu rumah Pak Lelu, terpampang jelas patung Budha. Lengkap dengan lilin kecil yang mengelilinginya. Tapi Anda takkan menyangka. Di sana juga ada ruang khusus bagi tamu Muslim untuk menunaikan ibadah salat.

Pak Lelu bahkan menghamparkan sajadah untuk salat. Terbuat dari anyaman purun. Dia mengaku sudah sering menerima tamu Muslim. "Kala ingin salat, sudah saya siapkan," ucapnya kala itu.

Rumah Pak Lelu berada di sebelah gereja Katolik. Persis di sebelah kanan rumahnya. Desa Kapul memang dihuni oleh warga dengan beragam agama.

Pertama kali menginap di sana, saya sempat sedikit canggung saat ditawari makan. Rupanya Pak Lelu mengerti. Dia lantas memberi tahu bahwa tak ada makanan haram. "Kami sudah lama tidak makan babi," katanya, meyakinkan saya.

Ucapan tersebut akhirnya meyakinkan saya. Untuk menyantap makan malam kala itu. Maklum saja, kebetulan saya memang sedang lapar.

"Saat saya bergaul dengan muslim, saya sangat menjaga diri dari sesuatu yang haram bagi muslim. Jadi saya sudah mempelajari apa-apa saja yang diharamkan dalam islam, termasuk makanan," tuturnya sambil menyantap makanan.

Selepas makan, obrolan kami terus mengalir. Membahas seputar kehidupan Suku Sayak, hingga kehidupannya. "Saat tamu beda agama menginap di rumah, kami tidak pernah merasa risih. Justru kami takut tamu kami yang risih," sebutnya.

Singkat cerita, malam makin larut. Kalau dipaksa terus mengobrol, waktunya takkan cukup. Saya harus menyiapkan tenaga untuk mendokumentasikan setiap atraksi yang dilakukan esok hari. Karena, itulah sebenarnya misi saya ke Desa Kapul.

Nah, pada bagian ini, saya hanya akan bercerita sekilas. Keindahannya bisa Anda lihat pada foto yang tampil bersama tulisan ini.

Ya, gelaran Pesona Dayak Meratus kali ini tak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Ada atraksi menumbuk padi. Membuat anyaman (arangan). Menyumpit hingga perlombaan permainan tradisional. Seperti bagasing, mutuu, balogo serta kenje. Dan tentu saja ada pertunjukkan tari kreasi Dayak Meratus dan lainnya.

Yang berbeda tahun ini ada pada antusias warganya. Karena lebih banyak yang terlibat. Ikut merepotkan diri agar gelaran tersebut berlangsung meriah. Dengan satu tujuan; melestarikan kearifan lokal dan warisan nenek moyang.

Kepala Dewan Adat Dayak (DAD) Balangan, Mandan menyebut warga sudah mulai menyadari arti dari pelestarian budaya. Sehingga mau berpartisipasi.

“Anak-anak disibukkan dengan latihan menari dan main permainan tradisional. Pelestarian budaya jalan, pergaulan negatif terhindarkan,” ucap ketua pelaksana kegiatan tersebut.

Ada satu misi penting dari gelaran tersebut. Menunjukkan keramahan Suku Dayak kepada orang banyak.

Begitulah sekilas catatan kecil saya. Toleransi dan harmoni kehidupan tergambar jelas di kaki pegunungan Meratus. (ma/nur)


BACA JUGA

Sabtu, 23 Juni 2018 13:06

Kisah Haru Pedagang BBM Eceran Tunanetra di Banjarmasin

Kebutaan tak menghalangi ayah satu anak ini mencari nafkah. Nistam Juhansyah (66) mengais rejeki dengan…

Sabtu, 23 Juni 2018 12:12

Kiprah Youtuber Banua Meraih Silver Play Button dan Sukses dari Youtube

Di era digital sekarang, dunia maya tidak hanya menjadi tempat memanjakan mata, melainkan juga bisa…

Rabu, 20 Juni 2018 11:57

Kisah Petugas Posko Mudik di Simpang Empat Banjarbaru

Bertugas sebagai anggota piket di posko mudik, para petugas di Pos Pengamanan Simpang Empat Banjarbaru…

Selasa, 19 Juni 2018 14:16

Masjid-Masjid ini Tetap Sediakan Buka Puasa Pasca Ramadan

Ramadan 1439 Hijriyah telah berlalu. Bagi umat muslim, dianjurkan berpuasa enam hari di bulan Syawal.…

Selasa, 19 Juni 2018 14:08

Mengenal Dokter Fairuz yang Setia Mengawal Kaum Pemudik

Bagi kebanyakan orang, lebaran bersinonim dengan liburan. Tapi untuk segelintir orang, lebaran artinya…

Rabu, 13 Juni 2018 13:18

Gerakan Literasi dari Balik Jeruji Penjara

Lapas Teluk Dalam punya perpustakaan, tapi isinya buku hukum melulu. Mobil perpustakaan keliling Dinas…

Minggu, 10 Juni 2018 13:21

Tempat Cukur Legendaris Banjarmasin: Layani Bayi Sehari Hingga Manula

Beralamat di Jalan Hassanudin HM, no 23. Ada sebuah ruang berbidang segi tiga. Pangkas Rambut Nasional,…

Jumat, 08 Juni 2018 11:15

Kisah Nanang, Penjual Burung Jalak Keliling di Banjarmasin

Dengan mengayuh ontel tua, Nanang (70) berkeliling Kota Banjarmasin. Menjajakan burung jalak, dikurung…

Senin, 04 Juni 2018 12:54

Melacak Jejak Musyawaratutthalibin, Pergerakan Islam Asli Kalsel

Mempersatukan kaum terpelajar Muslim Kalsel, pergerakan Islam bernama Moesjawaratoetthalibin pernah…

Sabtu, 02 Juni 2018 13:19

Mengenal Transpuan Paling Fotogenik di Tahun 2018

Cap negatif melekat pada diri mereka. Kiky Fadilah, transpuan asal Banjarmasin berusaha semampunya.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .