MANAGED BY:
SABTU
21 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Sabtu, 14 April 2018 11:48
Ikan Melimpah di Pesisir Pulau Laut, Tapi Nelayan tak Kunjung Kaya
HASIL: Nelayan di Desa Semaras melepaskan ikan selangat dari rengge.

PROKAL.CO, Pesisir Pulau Laut memang kaya ikan. Tiga jam saja merengge, nelayan di Desa Semaras bisa menangkap setengah kuintal ikan selangat. Ikannya banyak, tapi nelayannya tidak kunjung kaya raya.

Zalyan Shodiqin Abdi, Pulau Laut

Para pria di pertengahan malam itu sedang berbagi tugas membentangkan rengge di atas dermaga Desa Semaras, Kecamatan Pulau Laut Barat. Rengge yang menggulung di atas kapal mereka tarik ke atas dermaga.

Ikan-ikan kecil yang tersangkut di jaring dilepaskan. Berjatuhan menggelepar, air genangan sisa gerimis di dermaga memercik ke atas. Sisiknya berkilauan terkena cahaya lampu.

Rengge terus mereka tarik. Mudah kelihatannya. Ikan rata-rata jatuh sendiri dari jeratan rengge. Sedikit yang mesti dilepaskan manual dengan cara menariknya dari jeratan. Selain melepas ikan, nelayan juga melepas sampah atau ranting yang sangkut di rengge. Angin laut hampir tidak terasa hembusannya. Tenang.

Jumlah ikan selangat yang berserak di lantai dermaga tak terhitung. Apalagi rengge yang dibentangkan bertahap itu panjangnya 30 meter. "Rata-rata kalau musim begini (musim teduh, Red) dapat saja setengah kuintal (50 kilogram, Red)," ujar Ari, salah satu nelayan.

Untuk ukuran kapal kecil dengan satu mesin, hasil 50 kilogram itu dianggap cukup besar. "Tiga jam saja di laut ini," tambah Saripudin.

Ikan-ikan itu dijual ke tengkulak. Harganya Rp3.500 per kilogram. Jadi dapat 50 kilogram hasil jual Rp175.000. Sementara ongkos minyak sekali menangkap selangat tiga liter Rp27 ribu.

Saat asyik berbincang dengan nelayan, datang tengkulak. Melarang nelayan bicara. Tapi, nelayan cuek. Perbincangan tetap dilanjutkan.

Si tengkulak lantas asyik sendiri merokok. Di depan mobil pikapnya yang sudah siap memborong selangat.

Kata Ari dkk, musim selangat tidak lama. Paling hanya sebulan. Kalau selangat habis, jenis ikan lain yang dicari. Kadang juga udang. Udang memang mahal. Tapi, sulit dicari dengan kapal kecil yang jarak tempuhnya terbatas.

Ahmad bercerita, beberapa nelayan suku Banjar melaut karena tidak ada pilihan. Sejak kejayaan zaman kayu puluhan tahun silam runtuh, banyak dari mereka beralih menjadi pelaut.

Ikan memang melimpah. Namun, kesulitan modal. Kapal kecil, mesin kecil. Ikan juga terpaksa dijual murah karena kebutuhan dapur mendesak. "Begini pang sudah kami, begini-gini saja," kata Ahmad yang saat berbincang kerap melontarkan lelucon.

Kondisi ini mendapat tanggapan tokoh di Kecamatan Pulau Laut Barat, Syaripuddin. "Potensi laut kita besar. Sayang kita tidak bersatu mengembangkannya," kata tokoh yang akrab disapa Pudding tersebut.

Pudding menilai andai semua bersatu, pemerintah juga, bisa dilakukan kegiatan industri. "Dulu sering saya dengar mau bikin pabrik pengalengan ikan. Hanya wacana saja. Padahal itu potensial," yakinnya.

Bangsa ini, sebutnya kadang menggelikan. Ikan diekspor, olahannya nanti kembali dibeli rakyat. "Seperti karet, batu bara semua diekspor. Kita beli ban dari luar negeri, padahal karetnya dari kita," keluhnya.(az/dye)


BACA JUGA

Sabtu, 07 April 2018 11:41

Indahnya Pesona Dayak Meratus di Desa Kapul

Akhir Maret tadi, Pesona Dayak Meratus digelar di Desa Kapul, Kecamatan Halong. Ini kali keempat saya…

Rabu, 04 April 2018 14:48

Masyarakat Bingung Menyelamatkan Peninggalan Sejarah di Desa Pipitak Jaya

Desa Pipitak Jaya akan tenggelam karena pembangunan bendungan. Masyarakat bingung ingin menyelamatkan…

Selasa, 03 April 2018 15:03

Sulitnya UNBK di Pelosok Pulau, Puluhan Kilometer Cari Sinyal

Edi Rohaedi mesti menempuh puluhan kilometer mencari sinyal internet. Ujian nasional di SMK pelosok…

Selasa, 03 April 2018 14:54

Mengenal Shintya Subhan, Penerjemah Bahasa Isyarat

Dengan gerakan tangan, bibir dan mata, seorang interpreter bisa membuka jendela wawasan kaum difabel.…

Senin, 02 April 2018 17:27

Menelusuri Kesaktian Orang Mandar di Pesisir Kalsel

Pernah dengar kesaktian orang Mandar? Ternyata kesaktian itu ada yang berasal dari ilmu hitam. Tapi…

Senin, 02 April 2018 16:15

Kisah Perjuangan Kakek Nenek Mengasuh Cucu Yatim Piatu

Di usia senja, Jafar dan Nurbayah harus kehilangan anak satu-satunya dan menantu. Mereka kini mesti…

Sabtu, 31 Maret 2018 08:13

Mengikuti Sebagian Penggarapan Film Dokumenter Hidden Of Tapin

Tak banyak yang tahu tentang Kabupaten Tapin, kecuali soal batu bara. Nah, beberapa pemuda mencoba memperkenalkannya…

Sabtu, 31 Maret 2018 06:46

Bidang Humas Polda Kalsel, Berbaju Polisi, Tugas Bak Wartawan

Penampilan personil Polda Kalsel makin kekinian dan kasual. Tak melulu mengenakan seragam resmi. Terkadang,…

Jumat, 30 Maret 2018 15:40

Pengalaman Saparidi Jadi Sopir BPK Kuripan

Saparidi termasuk senior menjadi sukarelawan Barisan Pemadam Kebakaran di Banjarmasin. Inilah kisah…

Rabu, 28 Maret 2018 10:37

Kisah Kecil Seorang Sopir Mobil Perpustakaan Keliling

Di Dinas Perpustakaan dan Arsip Banjarmasin ada dua Husaini. Yang pertama Ahmad Husaini, sang kepala…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .