MANAGED BY:
MINGGU
22 JULI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 14 April 2018 11:48
Ikan Melimpah di Pesisir Pulau Laut, Tapi Nelayan tak Kunjung Kaya
HASIL: Nelayan di Desa Semaras melepaskan ikan selangat dari rengge.

PROKAL.CO, Pesisir Pulau Laut memang kaya ikan. Tiga jam saja merengge, nelayan di Desa Semaras bisa menangkap setengah kuintal ikan selangat. Ikannya banyak, tapi nelayannya tidak kunjung kaya raya.

Zalyan Shodiqin Abdi, Pulau Laut

Para pria di pertengahan malam itu sedang berbagi tugas membentangkan rengge di atas dermaga Desa Semaras, Kecamatan Pulau Laut Barat. Rengge yang menggulung di atas kapal mereka tarik ke atas dermaga.

Ikan-ikan kecil yang tersangkut di jaring dilepaskan. Berjatuhan menggelepar, air genangan sisa gerimis di dermaga memercik ke atas. Sisiknya berkilauan terkena cahaya lampu.

Rengge terus mereka tarik. Mudah kelihatannya. Ikan rata-rata jatuh sendiri dari jeratan rengge. Sedikit yang mesti dilepaskan manual dengan cara menariknya dari jeratan. Selain melepas ikan, nelayan juga melepas sampah atau ranting yang sangkut di rengge. Angin laut hampir tidak terasa hembusannya. Tenang.

Jumlah ikan selangat yang berserak di lantai dermaga tak terhitung. Apalagi rengge yang dibentangkan bertahap itu panjangnya 30 meter. "Rata-rata kalau musim begini (musim teduh, Red) dapat saja setengah kuintal (50 kilogram, Red)," ujar Ari, salah satu nelayan.

Untuk ukuran kapal kecil dengan satu mesin, hasil 50 kilogram itu dianggap cukup besar. "Tiga jam saja di laut ini," tambah Saripudin.

Ikan-ikan itu dijual ke tengkulak. Harganya Rp3.500 per kilogram. Jadi dapat 50 kilogram hasil jual Rp175.000. Sementara ongkos minyak sekali menangkap selangat tiga liter Rp27 ribu.

Saat asyik berbincang dengan nelayan, datang tengkulak. Melarang nelayan bicara. Tapi, nelayan cuek. Perbincangan tetap dilanjutkan.

Si tengkulak lantas asyik sendiri merokok. Di depan mobil pikapnya yang sudah siap memborong selangat.

Kata Ari dkk, musim selangat tidak lama. Paling hanya sebulan. Kalau selangat habis, jenis ikan lain yang dicari. Kadang juga udang. Udang memang mahal. Tapi, sulit dicari dengan kapal kecil yang jarak tempuhnya terbatas.

Ahmad bercerita, beberapa nelayan suku Banjar melaut karena tidak ada pilihan. Sejak kejayaan zaman kayu puluhan tahun silam runtuh, banyak dari mereka beralih menjadi pelaut.

Ikan memang melimpah. Namun, kesulitan modal. Kapal kecil, mesin kecil. Ikan juga terpaksa dijual murah karena kebutuhan dapur mendesak. "Begini pang sudah kami, begini-gini saja," kata Ahmad yang saat berbincang kerap melontarkan lelucon.

Kondisi ini mendapat tanggapan tokoh di Kecamatan Pulau Laut Barat, Syaripuddin. "Potensi laut kita besar. Sayang kita tidak bersatu mengembangkannya," kata tokoh yang akrab disapa Pudding tersebut.

Pudding menilai andai semua bersatu, pemerintah juga, bisa dilakukan kegiatan industri. "Dulu sering saya dengar mau bikin pabrik pengalengan ikan. Hanya wacana saja. Padahal itu potensial," yakinnya.

Bangsa ini, sebutnya kadang menggelikan. Ikan diekspor, olahannya nanti kembali dibeli rakyat. "Seperti karet, batu bara semua diekspor. Kita beli ban dari luar negeri, padahal karetnya dari kita," keluhnya.(az/dye)


BACA JUGA

Jumat, 20 Juli 2018 10:21

Kisah Kehidupan Tak Layak di Kolong Jembatan Antasari

Di bawah kolong Jembatan Antasari, tinggal menetap enam janda dengan keseharian sebagai pengemis. Memiliki…

Rabu, 18 Juli 2018 16:58
Menyaksikan Pementasan Tim Kesenian Taman Budaya Kalsel di Yogyakarta (3-Habis)

Tak Ada Standar Harga

Pasar Kangen menjadi salah satu daya tarik gelaran Seni Tradisi yang digagas Taman Budaya Yogyakarta.…

Selasa, 17 Juli 2018 13:36

Belajar Otodidak, Menangis Melihat Bulan Purnama

Tanggal 1 Desember mendatang, umurnya genap 10 tahun. Umar Ikhsan, menjadi satu-satunya anggota paling…

Senin, 16 Juli 2018 15:52

Perkenalkan Seni Banua dengan Kritik Eksploitasi Lingkungan

Menampilkan seni tari, musik dan teater, Tim Kesenian Taman Budaya Kalsel tampil di panggung sederhana…

Selasa, 10 Juli 2018 14:13

Kisah Buruh Kasur Kapuk Pasar Ujung Murung

Di sebuah gudang bekas toko tua, Guriyah (55) tampak sibuk. Duduk berselonjor, tangannya meraih tumpukan…

Senin, 09 Juli 2018 11:19

Cake Decorator Asal Banjarmasin, Beri Pelajaran Gratis untuk Konsumen

Menghias kue biasanya dilakukan oleh kaum hawa. Berani tampil beda, Ahmad (42) menekuni profesi cake…

Sabtu, 07 Juli 2018 16:07

Begini Proses Produksi Gulali Khas Amuntai yang Terkenal

Gula batu atau gulali merupakan permen tradisional khas Amuntai. Untuk membuatnya, diperlukan keterampilan,…

Kamis, 05 Juli 2018 15:06

WOW, Sebulan Paman Odong-Odong Bisa Nabung Rp 9 Juta

Kebahagiaan anak-anak itu sederhana. Cukup bisa naik odong-odong. Kebahagiaan operatornya tidak sesederhana…

Kamis, 05 Juli 2018 14:21

Sulitnya Kesempatan Kerja untuk Penyandang Disabilitas

Merekrut pekerja difabel bukanlah ide beken. Ongkos kerja yang mahal hingga sempitnya wawasan para pemberi…

Senin, 02 Juli 2018 15:06

Gerakan From Zero To Hero, Bina Anak Jalanan dan Pengamen

Membina anak jalanan dan pengamen bukanlah urusan enteng. Namun, sekelompok pemuda terpelajar memilih…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .