MANAGED BY:
SELASA
23 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 14 April 2018 11:48
Ikan Melimpah di Pesisir Pulau Laut, Tapi Nelayan tak Kunjung Kaya
HASIL: Nelayan di Desa Semaras melepaskan ikan selangat dari rengge.

PROKAL.CO, Pesisir Pulau Laut memang kaya ikan. Tiga jam saja merengge, nelayan di Desa Semaras bisa menangkap setengah kuintal ikan selangat. Ikannya banyak, tapi nelayannya tidak kunjung kaya raya.

Zalyan Shodiqin Abdi, Pulau Laut

Para pria di pertengahan malam itu sedang berbagi tugas membentangkan rengge di atas dermaga Desa Semaras, Kecamatan Pulau Laut Barat. Rengge yang menggulung di atas kapal mereka tarik ke atas dermaga.

Ikan-ikan kecil yang tersangkut di jaring dilepaskan. Berjatuhan menggelepar, air genangan sisa gerimis di dermaga memercik ke atas. Sisiknya berkilauan terkena cahaya lampu.

Rengge terus mereka tarik. Mudah kelihatannya. Ikan rata-rata jatuh sendiri dari jeratan rengge. Sedikit yang mesti dilepaskan manual dengan cara menariknya dari jeratan. Selain melepas ikan, nelayan juga melepas sampah atau ranting yang sangkut di rengge. Angin laut hampir tidak terasa hembusannya. Tenang.

Jumlah ikan selangat yang berserak di lantai dermaga tak terhitung. Apalagi rengge yang dibentangkan bertahap itu panjangnya 30 meter. "Rata-rata kalau musim begini (musim teduh, Red) dapat saja setengah kuintal (50 kilogram, Red)," ujar Ari, salah satu nelayan.

Untuk ukuran kapal kecil dengan satu mesin, hasil 50 kilogram itu dianggap cukup besar. "Tiga jam saja di laut ini," tambah Saripudin.

Ikan-ikan itu dijual ke tengkulak. Harganya Rp3.500 per kilogram. Jadi dapat 50 kilogram hasil jual Rp175.000. Sementara ongkos minyak sekali menangkap selangat tiga liter Rp27 ribu.

Saat asyik berbincang dengan nelayan, datang tengkulak. Melarang nelayan bicara. Tapi, nelayan cuek. Perbincangan tetap dilanjutkan.

Si tengkulak lantas asyik sendiri merokok. Di depan mobil pikapnya yang sudah siap memborong selangat.

Kata Ari dkk, musim selangat tidak lama. Paling hanya sebulan. Kalau selangat habis, jenis ikan lain yang dicari. Kadang juga udang. Udang memang mahal. Tapi, sulit dicari dengan kapal kecil yang jarak tempuhnya terbatas.

Ahmad bercerita, beberapa nelayan suku Banjar melaut karena tidak ada pilihan. Sejak kejayaan zaman kayu puluhan tahun silam runtuh, banyak dari mereka beralih menjadi pelaut.

Ikan memang melimpah. Namun, kesulitan modal. Kapal kecil, mesin kecil. Ikan juga terpaksa dijual murah karena kebutuhan dapur mendesak. "Begini pang sudah kami, begini-gini saja," kata Ahmad yang saat berbincang kerap melontarkan lelucon.

Kondisi ini mendapat tanggapan tokoh di Kecamatan Pulau Laut Barat, Syaripuddin. "Potensi laut kita besar. Sayang kita tidak bersatu mengembangkannya," kata tokoh yang akrab disapa Pudding tersebut.

Pudding menilai andai semua bersatu, pemerintah juga, bisa dilakukan kegiatan industri. "Dulu sering saya dengar mau bikin pabrik pengalengan ikan. Hanya wacana saja. Padahal itu potensial," yakinnya.

Bangsa ini, sebutnya kadang menggelikan. Ikan diekspor, olahannya nanti kembali dibeli rakyat. "Seperti karet, batu bara semua diekspor. Kita beli ban dari luar negeri, padahal karetnya dari kita," keluhnya.(az/dye)


BACA JUGA

Minggu, 21 Oktober 2018 07:05

Memahami Selera Fashion Leluhur dari Busana Pengantin Banjar Abad 15-19

BANJARMASIN -Mengusung suara dari masa lampau, bukan berarti Kawang Yoedha anti perubahan. Kreasi modern…

Jumat, 19 Oktober 2018 11:17

Mega Proyek Siring Laut, Jaksa Minta Jangan Curang

KOTABARU - Kepala Kejaksaan Negeri Kotabaru, Indah Laila, meminta jangan ada yang curang terkait pekerjaan…

Jumat, 12 Oktober 2018 09:39

Sembilan Pengungsi Palu "Terdampar" di Banjarmasin, Begini Nasibnya

Empat hari bertahan hidup tanpa bantuan. Melihat penjarahan di mana-mana. Sembilan pengungsi berlayar…

Senin, 01 Oktober 2018 11:17

Nobar Film G30S/PKI, Memahami Sejarah Lewat Film

BANJARMASIN - Mengenang dan memahami sejarah. Itulah misi dari nonton bareng film G30S/PKI yang digelar…

Minggu, 30 September 2018 11:18

Perkantoran Pemprov Kalsel Dijadikan Wisata Edukasi

Menjelang Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38, kawasan Perkantoran Setdaprov Kalsel di Banjarbaru, disulap…

Senin, 24 September 2018 09:29

Yurien, Satu-Satunya Anggota Patwal Wanita Dishub Banjarbaru

Pria dan wanita memang beda, tapi soal pekerjaan mungkin kaum Hawa bisa sebanding dengan kaum Adam.…

Sabtu, 22 September 2018 13:31

Menjenguk Rumah Berbasis Lingkungan Milik Perkumpulan Pusaka Tabalong

Mungkin ini bisa menjadi contoh bagi yang ingin membangun rumah atau kantor. Ternyata barang bekas bisa…

Jumat, 21 September 2018 09:15

Kisah Mengharukan Perjuangan Para Honorer di Desa-Desa Terpencil

Benar kata mereka: Tak habis kisah jika menceritakan para guru honorer. Dengan perjuangan itu, layak…

Kamis, 20 September 2018 09:47

Sebelum Kuliah, Para Tersangka Perusakan Gedung Dewan Lapor Kantor Polisi Dulu

Empat dari tujuh mahasiswa yang menyandang status tersangka mencerutakan pengalaman mereka selepas unjuk…

Kamis, 13 September 2018 12:05

YS Agus Suseno, Penyair Banjar Yang Berani Menohok Rezim

Meminjam istilah sastrawan Seno Gumira Ajidarma: ketika jurnalisme dibungkam, maka mestinya sastra harus…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .